Demi menyelamatkan perusahaan ayahnya, Alina menerima pernikahan kontrak dengan pewaris konglomerat yang dingin dan kejam. Di mata semua orang, ia hanyalah wanita murahan yang menikah demi uang.
Tak ada yang tahu, Alina sebenarnya pewaris keluarga finansial terbesar yang sengaja menyembunyikan identitasnya.
Saat kontrak hampir berakhir dan rahasianya terbongkar, sang suami justru jatuh cinta. Kini, ketika kebenaran terungkap siapa yang sebenarnya sedang mempermainkan siapa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laskar Bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taruhan Pribadi
Pagi itu, pasar bereaksi lebih keras dari perkiraan.
Grafik saham Wijaya Group bergerak naik-turun dengan tajam sebelum akhirnya stabil di angka yang lebih rendah dari minggu lalu. Media ekonomi mulai berspekulasi. Beberapa analis menyebut keputusan Arsen mempertaruhkan saham pribadinya sebagai langkah berani. Yang lain menyebutnya nekat.
Di ruang kerjanya, Arsen berdiri menghadap jendela kaca besar, kedua tangannya di saku celana. Kota di bawah tampak kecil, tapi tekanannya terasa besar.
Di sofa dekat jendela, Alina membaca laporan terbaru yang dikirim tim keuangan. Ia bisa merasakan perubahan ritme permainan. Dewan Altera memang memperlambat tekanan sesuai instruksinya, tapi dampak keputusan Arsen sudah terlanjur menyebar.
“Kau tidak terlihat panik,” ucap Alina pelan tanpa mengangkat wajah.
“Aku jarang panik,” jawab Arsen singkat.
“Jarang bukan berarti tidak pernah.”
Arsen menoleh. Tatapannya tidak tajam seperti kemarin, tapi lebih… menilai. “Kau tampak terlalu tenang untuk seseorang yang suaminya baru saja mempertaruhkan sepuluh persen saham pribadinya.”
Alina menutup laporan itu dan berdiri. “Mungkin karena aku percaya kau tahu apa yang kau lakukan.”
Arsen berjalan mendekat, berhenti beberapa langkah di depannya. “Atau mungkin karena kau tahu sesuatu yang tidak kuketahui.”
Kalimat itu tidak terdengar seperti tuduhan. Lebih seperti observasi.
Alina menahan tatapannya. “Jika aku tahu sesuatu, aku tidak akan membiarkanmu mengambil risiko besar.”
“Menarik,” gumam Arsen. “Kau mulai terdengar seperti istri sungguhan.”
Jantung Alina berdetak sedikit lebih cepat.
Ia tidak menyukai arah percakapan ini. Bukan karena curiga melainkan karena jaraknya terasa semakin tipis.
Pintu diketuk.
Asisten Arsen masuk dengan wajah serius. “Tuan, ada pergerakan dari pihak Livia. Perusahaan ayahnya membeli sebagian kecil saham kita pagi ini.”
Arsen menyipitkan mata. “Berapa persen?”
“Dua persen. Tapi pembelian itu cukup untuk memberi sinyal pada pasar.”
Alina langsung memahami maksudnya.
Itu bukan investasi.
Itu pernyataan.
Livia sedang menunjukkan bahwa ia siap masuk jika Altera benar-benar keluar.
“Dia cepat,” ucap Alina tanpa sadar.
Arsen meliriknya. “Kau terdengar terkesan.”
“Dia tahu membaca momentum,” jawab Alina tenang.
Arsen tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. “Dan kau?”
“Aku lebih suka menciptakan momentum.”
Asisten itu terdiam, jelas bingung dengan percakapan mereka yang terasa seperti duel tak kasatmata.
“Siapkan pertemuan dengan tim hukum,” perintah Arsen akhirnya. “Aku ingin tahu dampak pembelian saham itu dalam jangka panjang.”
“Baik, Tuan.”
Begitu pintu tertutup, Arsen kembali menatap Alina.
“Kau tidak terkejut?”
“Seharusnya?”
“Biasanya istri akan merasa tidak nyaman melihat wanita lain ikut campur dalam urusan suaminya.”
Alina tersenyum kecil. “Aku tidak merasa terancam.”
“Karena kau percaya padaku?”
“Karena aku tahu aku tidak mudah digantikan.”
Tatapan mereka terkunci.
Ada keheningan yang berbeda di antara mereka sekarang bukan dingin, bukan juga tegang. Lebih seperti pengakuan diam-diam bahwa masing-masing bukan lawan yang bisa diremehkan.
Siang itu, Alina menerima panggilan dari nomor yang sudah ia hafal di luar kepala.
“Nona,” suara Adrian terdengar rendah dan stabil. “Pasar bereaksi cukup tajam. Dewan terkesan dengan keberanian Tuan Wijaya.”
Alina berdiri di balkon kecil ruang istirahat kantor, memastikan tidak ada yang mendengar. “Kesan bukan tujuan kita.”
“Kami hanya ingin memastikan Anda tidak berubah pikiran.”
Alina menatap jalanan di bawah. Mobil-mobil bergerak seperti potongan kecil dalam papan catur raksasa.
“Perlambat tekanan lagi,” katanya pelan. “Jangan beri ruang pada Livia untuk masuk terlalu dalam.”
“Kami bisa menghentikan seluruh pengujian ini jika Anda menginginkannya.”
Alina terdiam sesaat.
Ia memikirkan wajah Arsen semalam cara ia menjawab tanpa ragu, cara ia menerima risiko tanpa menyalahkan siapa pun.
“Belum,” jawabnya akhirnya. “Aku masih ingin melihat sampai di mana batasnya.”
Di ujung sana, Adrian terkekeh pelan. “Anda mulai menikmati ini.”
Alina tidak menjawab.
Karena mungkin… ada sedikit kebenaran dalam kalimat itu.
Malamnya, rumah utama Wijaya terasa lebih ramai dari biasanya.
Beberapa anggota keluarga besar datang tanpa pemberitahuan. Topik pembicaraan hanya satu: saham.
“Sepuluh persen itu bukan angka kecil,” ujar paman Arsen dengan nada khawatir. “Kau terlalu cepat mengambil keputusan.”
“Aku tidak melihat ada yang lebih baik,” jawab Arsen datar.
“Dan bagaimana jika Altera benar-benar mundur?” desak yang lain.
“Kalau begitu kita cari cara lain.”
Ibu Arsen duduk diam, mengamati.
Tatapannya akhirnya beralih pada Alina yang duduk sedikit terpisah.
“Kau tidak mengatakan apa pun,” katanya.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Alina tersenyum tipis. “Karena ini keputusan suami saya.”
Jawaban yang tepat. Diplomatis.
Tapi ibu Arsen tidak terlihat puas. “Kau cukup vokal di kantor kemarin.”
Arsen memotong sebelum Alina menjawab. “Karena aku memintanya.”
Ruangan kembali hening.
Alina menoleh padanya sekilas. Ia tidak tahu apakah itu bentuk perlindungan atau hanya refleks.
Tapi satu hal pasti Arsen tidak membiarkannya berdiri sendirian.
Pertemuan keluarga itu berakhir tanpa kesimpulan baru. Ketegangan tetap menggantung di udara seperti awan sebelum badai.
Di dalam kamar, Alina berdiri di depan cermin, melepas antingnya perlahan.
Arsen keluar dari kamar mandi, rambutnya masih sedikit basah.
“Kau tidak tertekan?” tanyanya tiba-tiba.
Alina menatap bayangannya sendiri. “Haruskah?”
“Situasi ini tidak ringan.”
Alina berbalik menghadapnya. “Aku tahu.”
Arsen berjalan mendekat, berhenti tepat di depannya.
“Jika semuanya gagal,” katanya pelan, “kau tidak perlu menanggung akibatnya. Ini bukan urusanmu.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi ada sesuatu di dalamnya.
Perlindungan.
Alina menatapnya dalam.
“Kita menikah, bukan?” tanyanya lembut.
“Kontrak,” koreksi Arsen.
“Kontrak juga tetap pernikahan.”
Arsen terdiam.
Jarak mereka terlalu dekat sekarang. Napasnya bisa dirasakan di kulit.
“Aku tidak butuh kau melindungiku,” lanjut Alina pelan. “Tapi… terima kasih.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi Arsen benar-benar berubah.
Bukan dingin.
Bukan sinis.
Melainkan sesuatu yang lebih manusiawi.
“Alina,” ucapnya pelan.
Ponsel Alina bergetar.
Mereka sama-sama meliriknya.
Pesan masuk dari Adrian.
“Beberapa anggota dewan ingin mempercepat keputusan akhir. Apakah Anda ingin mengungkap identitas Anda sekarang?”
Jantung Alina berdetak lebih cepat.
Mengungkap identitasnya sekarang berarti mengakhiri semua ini.
Tidak ada lagi permainan. Tidak ada lagi ujian.
Ia menatap Arsen yang masih berdiri di depannya.
Pria yang mempertaruhkan sepuluh persen saham tanpa ragu.
Pria yang tidak pernah memintanya menjelaskan masa lalunya.
Pria yang mulai terasa… terlalu nyata.
Ia mengetik balasan singkat.
“Tidak. Tunggu.”
Ia mengunci layar.
“Siapa?” tanya Arsen pelan.
Alina menatapnya.
“Rekan lama,” jawabnya lagi, tapi kali ini suaranya lebih lembut.
Arsen tidak mendesak.
Ia hanya menatapnya lebih lama dari biasanya, seolah menyadari bahwa di balik ketenangan wanita ini ada sesuatu yang jauh lebih besar dari yang terlihat.
Dan untuk pertama kalinya, Alina merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rencanakan.
Bukan takut.
Bukan ragu.
Tapi kemungkinan bahwa taruhan terbesar dalam permainan ini… bukan saham.
Melainkan hati.
(BERSAMBUNG)