Demi melunasi hutang ayahnya, Aluna Maheswari terpaksa menandatangani kontrak pernikahan dengan Arkan Wijaya — CEO muda yang terkenal dingin, kejam, dan tak tersentuh wanita mana pun. Pernikahan itu hanya sandiwara selama satu tahun. Tanpa cinta. Tanpa sentuhan. Tanpa perasaan. Namun siapa sangka, di balik sikap dinginnya, Arkan menyimpan luka masa lalu yang kelam. Dan Aluna… adalah satu-satunya wanita yang perlahan mencairkan hatinya. Masalahnya, mantan tunangan Arkan kembali. Dan rahasia besar tentang kematian ibu Arkan mulai terungkap. Kontrak mereka mungkin hanya satu tahun. Tapi perasaan? Tidak ada tanggal kedaluwarsa.
Pria yang Seharusnya Mati
Ruangan itu membeku.
Aluna bisa mendengar detak jantungnya sendiri saat pria berjas abu-abu itu melangkah masuk sepenuhnya ke dalam cahaya lampu darurat.
Wajahnya.
Garis rahangnya.
Sorot matanya.
Semua sama seperti foto mendiang ayah Arkan yang pernah ia lihat di ruang kerja suaminya.
Arkan berdiri kaku.
“Ayah…” suaranya serak.
Pria itu tersenyum tipis.
“Kau tumbuh menjadi pria yang jauh lebih keras dari yang kubayangkan.”
Kevin mundur selangkah.
Surya terlihat tegang, tapi tidak terkejut.
Itu yang pertama kali disadari Aluna.
“Jadi Paman tahu?” tanya Arkan tanpa mengalihkan pandangannya.
Surya tidak menjawab.
Pria itu—yang seharusnya sudah mati—berjalan santai menuju meja kerja tua.
“Aku tidak pernah mati,” katanya tenang. “Aku hanya menghilang.”
Aluna merasakan dunia seperti runtuh di bawah kakinya.
“Berita kecelakaan itu?” bisiknya.
“Direkayasa,” jawab pria itu.
Arkan akhirnya bergerak.
Satu langkah.
Dua langkah.
Berhenti tepat beberapa meter di depan pria itu.
“Kenapa?” suaranya bergetar tipis—bukan karena takut, tapi karena pengkhianatan.
Pria itu menatapnya dalam.
“Karena keluarga ini sedang dibangun di atas fondasi yang rapuh. Dan aku harus memastikan hanya yang terkuat yang bisa memimpinnya.”
“Dengan memalsukan kematianmu?” suara Arkan meninggi.
“Dengan menguji semua orang.”
Kevin menunduk pelan.
Aluna menyadari sesuatu.
“Kamu tahu,” katanya pada Kevin.
Kevin tidak membantah.
“Saya mengetahuinya setahun setelah kejadian.”
Arkan menoleh tajam.
“Kau bekerja untuknya?”
“Saya bekerja untuk kelangsungan perusahaan.”
Jawaban yang diplomatis.
Namun tak cukup.
Pria tua itu—ayah Arkan—tersenyum tipis.
“Kevin adalah orang yang paling loyal di ruangan ini.”
“Loyal pada siapa?” bentak Arkan.
“Pada kekuatan.”
Keheningan menekan.
Aluna akhirnya maju satu langkah.
“Dan Ayah saya?” tanyanya dengan suara yang lebih stabil dari yang ia rasakan. “Apakah kematian beliau juga bagian dari ujian Anda?”
Tatapan pria itu beralih padanya.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda di matanya.
“Tidak,” katanya pelan.
“Jangan bohong!” Aluna tidak bisa lagi menahan emosinya. “Dia meninggal di lokasi proyek yang dipenuhi manipulasi keuangan!”
Pria itu menghela napas.
“Ayahmu berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.”
Jawaban itu membuat darah Aluna mendidih.
Arkan menoleh pada ayahnya.
“Kau tahu tentang manipulasi dana?”
“Aku memerintahkannya.”
Dunia berhenti.
Kevin menutup mata sesaat.
Surya terlihat semakin gelisah.
“Kau…” suara Arkan berubah dingin. “Kau sengaja mengalihkan dana proyek?”
“Untuk menghindari penyelidikan internasional,” jawab pria itu tanpa rasa bersalah. “Jika dana itu tidak dipindahkan, perusahaan kita akan dibekukan.”
“Dengan menghancurkan hidup orang lain?” bentak Arkan.
“Itu harga kekuasaan.”
Kalimat itu menggema di seluruh ruangan.
Aluna merasa tubuhnya gemetar.
“Dan ketika Ayah saya menemukan itu?”
Pria itu menatapnya tanpa emosi.
“Dia mengancam akan melapor.”
“Lalu?”
“Aku mencoba membujuknya.”
“Dan ketika dia menolak?”
Keheningan.
Arkan merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungnya.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya pelan.
Pria itu tidak langsung menjawab.
Sebaliknya, ia berjalan mendekati jendela, menatap halaman gelap di luar.
“Kecelakaan bukanlah sesuatu yang selalu bisa dikendalikan.”
Itu bukan pengakuan.
Tapi juga bukan penyangkalan.
Aluna merasakan air mata menggenang.
“Kau membunuhnya.”
“Aku tidak pernah menyentuhnya.”
“Jawabannya sama saja!” teriak Aluna.
Arkan berdiri di antara mereka.
Matanya kini tidak lagi penuh kebingungan.
Melainkan kemarahan murni.
“Kenapa kembali sekarang?”
Pria itu tersenyum tipis.
“Karena kau sudah siap.”
“Siap untuk apa?”
“Untuk mengambil alih sepenuhnya.”
Arkan tertawa pendek, pahit.
“Kau pikir setelah semua ini aku masih peduli pada kursi itu?”
“Kau peduli,” jawab pria itu tenang. “Karena kau membangun hidupmu untuk membuktikan bahwa kau lebih baik dariku.”
Kalimat itu seperti pukulan langsung ke dada.
Dan Arkan tahu—
Itu benar.
Sejak kecil, ia selalu berusaha membuktikan diri.
Menjadi lebih kuat.
Lebih cerdas.
Lebih tak tergoyahkan.
“Semua ini hanya permainan bagimu?” suaranya menurun satu nada.
“Ini seleksi.”
Kevin akhirnya berbicara.
“Pak… ini sudah terlalu jauh.”
Pria itu menoleh padanya.
“Kau mulai goyah?”
Kevin mengangkat kepala.
“Saya setuju melindungi perusahaan. Bukan menghancurkan keluarga.”
Surya tertawa getir.
“Akhirnya ada yang sadar.”
Pria itu menyipitkan mata.
“Kalian terlalu emosional.”
“Dan Anda terlalu dingin,” balas Aluna tajam.
Tatapan pria itu kembali padanya.
“Kau berbeda dari yang lain.”
“Itu bukan pujian.”
“Tidak, itu ancaman.”
Arkan langsung berdiri di depan Aluna.
“Jangan sentuh dia.”
Pria itu tersenyum samar.
“Aku tidak perlu menyentuhnya.”
Suasana kembali tegang.
Lalu suara sirene polisi terdengar samar dari kejauhan.
Semua orang membeku.
Arkan menoleh pada Kevin.
“Kau memanggil mereka?”
Kevin menggeleng cepat.
“Bukan saya.”
Surya juga terlihat terkejut.
Pria tua itu tersenyum kecil.
“Kalian pikir hanya kalian yang bisa membuat rencana cadangan?”
Lampu halaman tiba-tiba menyala terang.
Beberapa mobil berhenti di depan gerbang.
Namun itu bukan mobil polisi.
Itu mobil media.
Lampu kamera mulai menyala-nyala.
Aluna merasakan napasnya tercekat.
“Bagaimana mereka tahu?” bisiknya.
Pria itu melangkah menuju pintu.
“Karena malam ini… dunia akan tahu bahwa Arkan Wijaya adalah satu-satunya pewaris sah keluarga ini.”
“Apa?” Arkan tertegun.
“Aku akan menyerahkan perusahaan secara resmi. Di depan publik.”
Dengan skandal belum selesai.
Dengan kasus manipulasi belum terungkap.
Dengan kematian yang belum jelas.
“Kau ingin menjadikanku tameng,” kata Arkan perlahan.
“Tidak,” jawab pria itu. “Aku ingin melihat apakah kau mampu bertahan ketika semua sorotan mengarah padamu.”
Pintu depan dibuka.
Suara wartawan langsung menyerbu.
“Pak Arkan! Apakah benar Anda mengetahui manipulasi dana proyek lima tahun lalu?”
“Apakah Anda terlibat dalam kecelakaan yang menewaskan kontraktor lokal?”
Aluna membeku.
Itu nama ayahnya.
Berita sudah bocor.
Seseorang sengaja membocorkannya malam ini.
Arkan menatap ayahnya.
“Kau merencanakan ini.”
Pria itu tersenyum.
“Aku menciptakan panggung. Kau tinggal memainkan peranmu.”
Arkan merasakan sesuatu di dalam dirinya retak.
Semua kebohongan.
Semua manipulasi.
Semua pengorbanan.
“Tidak,” katanya pelan.
Semua menoleh.
“Aku tidak akan memainkan permainanmu.”
Pria itu berhenti melangkah.
“Lalu apa yang akan kau lakukan?”
Arkan meraih tangan Aluna.
“Menjadi berbeda darimu.”
Ia berjalan menuju pintu.
Kevin terlihat ragu, tapi akhirnya mengikuti.
Surya hanya tersenyum samar.
Ketika Arkan berdiri di depan para wartawan yang berteriak-teriak, kamera langsung mengarah padanya.
Lampu kilat menyilaukan mata.
“Pak Arkan! Apakah Anda akan mengambil alih perusahaan malam ini?”
Arkan menatap lurus ke kamera utama.
“Saya memang pewaris keluarga Wijaya.”
Semua terdiam.
“Tapi saya juga orang yang akan membuka kembali kasus proyek Sentral Park.”
Keributan langsung pecah.
“Termasuk semua manipulasi dana dan kecelakaan yang terjadi saat itu.”
Aluna menatapnya tak percaya.
Itu berarti—
Ia siap menyeret ayahnya sendiri.
Pria tua itu berdiri di balik pintu, ekspresinya berubah untuk pertama kalinya.
Bukan marah.
Bukan kecewa.
Melainkan—
Tertarik.
Arkan melanjutkan dengan suara tegas.
“Mulai besok, saya akan bekerja sama dengan pihak berwenang untuk menyelidiki ulang semuanya. Tidak ada yang akan ditutup-tutupi.”
Kevin menutup mata sesaat.
Surya tersenyum puas.
Aluna merasakan dadanya sesak oleh campuran takut dan bangga.
Tapi saat Arkan hendak kembali masuk—
Salah satu wartawan berteriak:
“Pak Arkan! Bagaimana dengan bukti baru bahwa tanda tangan digital Anda digunakan dalam transfer ilegal?”
Arkan membeku.
“Bukti apa?”
Wartawan itu mengangkat tablet.
Di layar terpampang dokumen baru.
Dokumen yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
Dengan tanda tangan Arkan.
Dan cap waktu—
Baru tiga hari lalu.
Aluna menoleh cepat.
“Tidak mungkin…”
Kevin terlihat pucat.
Surya mengernyit.
Pria tua itu perlahan tersenyum lagi.
“Permainan baru saja dimulai, Arkan.”
Arkan menatap layar itu dengan jantung berdetak keras.
Jika tanda tangan itu asli—
Maka ada seseorang yang masih memiliki akses penuh ke identitas digitalnya.
Dan itu berarti…
Pengkhianatan belum selesai.
Seseorang di antara mereka—
Masih bermain di dua sisi.
Lampu kamera terus menyala.
Suara pertanyaan semakin kacau.
Dan di tengah kekacauan itu—
Aluna menyadari satu hal yang membuat darahnya dingin.
Pesan masuk baru muncul di ponselnya.
Nomor tak dikenal.
Hanya satu kalimat:
“Ayahmu bukan satu-satunya yang mati malam itu.”
Tangannya gemetar.
Karena di bawah pesan itu—
Ada foto lama.
Foto lokasi proyek lima tahun lalu.
Dan di sudut gambar—
Terlihat jelas seseorang yang selama ini mereka percaya.
Seseorang yang tidak pernah dicurigai.
Seseorang yang berdiri tepat di belakang ayahnya malam itu.
Aluna menatap wajah itu dengan napas tercekat.
Karena orang itu—
Adalah dirinya sendiri.
END BAB 10 🔥