NovelToon NovelToon
Cinta Kontrak Seorang CEO

Cinta Kontrak Seorang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ana Sutiana

Ketika hidupmu dipenuhi dengan rutinitas dan kesibukan, tiba-tiba sebuah kontrak cinta muncul di depan mata. Sakira Anindya, seorang wanita muda yang mandiri, harus menjalani perjanjian unik dengan seorang CEO tampan dan misterius, Rafael Pratama. Awal dari perjanjian itu hanyalah formalitas, tapi hati tak pernah bisa diajak kompromi.

bisakah Sakira menjaga jarak tanpa terjerat perasaan? Ataukah kontrak ini justru membuka jalan bagi cinta yang tak pernah ia duga? Drama, romansa, dan rahasia CEO menanti untuk mengubah hidup Sakira selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Sutiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 19. masa lalu yang menuntut jawaban

Hujan turun sejak pagi, membasahi kota dengan ritme yang konstan, seolah menandai sesuatu yang belum selesai. Sakira berdiri di depan jendela apartemennya, secangkir kopi dingin di tangannya. Pikirannya melayang pada satu hal yang terus mengusik sejak beberapa hari terakhir.

Rafael berubah.

Bukan menjauh—melainkan menahan diri.

Ia tetap hadir. Tetap peduli. Namun ada jarak yang tak kasatmata. Senyum yang lebih singkat. Tatapan yang sering menerawang. Seolah ada bagian hidupnya yang kembali mengetuk, meminta dibuka.

Sakira tahu, setiap orang punya masa lalu.

Namun ia juga tahu—masa lalu Rafael bukanlah bayangan kecil.

Hari itu, Rafael dipanggil ke rumah keluarga besarnya. Undangan yang tidak bisa ia tolak. Sudah bertahun-tahun ia menjaga jarak dari tempat itu—rumah besar dengan dinding dingin, penuh kenangan yang tak pernah benar-benar sembuh.

Di ruang tamu yang luas, ibunya duduk tegak, wajahnya tetap anggun seperti dulu. Di sampingnya, seorang perempuan lain berdiri.

Cantik. Tenang. Terlalu rapi.

“Sofia,” kata ibunya singkat. “Dia kembali.”

Satu nama itu cukup membuat Rafael menegang.

Sofia.

Perempuan yang pernah dijodohkan dengannya.

Perempuan yang hampir menjadi istrinya—bukan karena cinta, tapi karena kewajiban.

“Ayahmu ingin kalian berbicara,” lanjut sang ibu. “Bisnis keluarga membutuhkan stabilitas.”

Rafael menarik napas panjang.

“Aku tidak akan mengulang masa lalu.”

Ibunya menatapnya tajam.

“Masa lalu itu belum selesai, Rafael.”

Sementara itu, Sakira menerima pesan yang membuat dadanya menghangat sekaligus cemas.

Rafael:

Aku mungkin akan sibuk beberapa hari ke depan.

Jika aku terlihat menjauh, tolong jangan salah paham.

Sakira membaca pesan itu lama sebelum membalas.

Sakira:

Aku di sini. Tapi aku juga butuh kejujuran.

Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan.

Hari-hari berikutnya menjadi berat.

Media kembali mengangkat isu lama—kali ini bukan tentang Sakira, melainkan tentang keluarga Rafael. Tentang hubungan bisnis, politik internal, dan rumor perjodohan lama yang diungkit kembali.

Nama Sofia muncul di beberapa artikel gosip.

Sakira membacanya tanpa sengaja. Dan untuk pertama kalinya, rasa takut itu nyata.

Ia tidak cemburu.

Ia merasa terancam oleh dunia yang terlalu besar.

Malam ketiga, Rafael akhirnya datang ke apartemen Sakira. Wajahnya lelah. Matanya menyimpan konflik yang belum terucap.

“Aku minta maaf,” katanya begitu masuk. “Aku seharusnya bicara lebih cepat.”

Sakira mengangguk pelan. “Aku tidak butuh penjelasan yang sempurna. Aku butuh kejujuran.”

Rafael duduk di sofa, menunduk sejenak sebelum berbicara.

“Sofia adalah bagian dari hidup yang ingin aku tutup,” ucapnya. “Ia bukan mantan kekasih. Ia adalah masa depan yang pernah dipaksakan.”

Sakira terdiam.

“Keluargaku percaya pernikahan adalah strategi,” lanjut Rafael. “Aku pernah hampir menyerah… sampai aku sadar, hidup tanpa pilihan bukan hidup.”

“Dan sekarang?” tanya Sakira lirih “Sekarang mereka ingin membukanya kembali,” jawab Rafael jujur. “Dengan alasan stabilitas perusahaan.”

Kata-kata itu jatuh berat di antara mereka.

“Apa kamu akan menuruti mereka?” tanya Sakira.

Rafael menatapnya—dalam, sungguh-sungguh.

“Tidak.”

Jawaban itu cepat. Tegas.

Namun Sakira tahu, penolakan tidak selalu mengakhiri tekanan.

Beberapa hari kemudian, Sakira dipanggil secara tidak resmi ke sebuah kafe oleh seseorang yang tidak ia kenal.

Sofia.

Perempuan itu tersenyum sopan saat Sakira datang. Tidak ada sikap bermusuhan. Justru itulah yang membuatnya berbahaya.

“Aku tidak datang untuk mengancam,” kata Sofia tenang. “Aku hanya ingin kamu tahu… dunia Rafael tidak mudah.”

Sakira menatapnya tanpa gentar.

“Aku sudah tahu.”

Sofia tersenyum tipis.

“Apakah kamu siap menjadi titik lemahnya?”

Pertanyaan itu menusuk.

“Aku tidak ingin menjadi siapa pun selain diriku sendiri,” jawab Sakira. “Dan aku tidak memintanya memilih aku di atas segalanya.”

“Pilihan itu tidak sesederhana itu,” kata Sofia pelan. “Kadang cinta bukan soal keberanian, tapi soal pengorbanan.”

Sakira berdiri.

“Jika pengorbanan berarti menghilangkan diri sendiri, itu bukan cinta.”

Ia pergi dengan langkah mantap, meski dadanya gemetar.

Malam itu, Sakira menangis—bukan karena Sofia, melainkan karena kenyataan yang akhirnya jelas.

Mencintai Rafael berarti siap berhadapan dengan dunia yang tidak adil.

Dan ia harus memutuskan—apakah ia siap.

Di sisi lain, Rafael akhirnya berdiri melawan keluarganya.

Dalam rapat keluarga yang dingin, ia berbicara tanpa ragu.

“Aku tidak akan menikah demi bisnis katanya. “Dan aku tidak akan meninggalkan hidup yang aku pilih.”

Ayahnya menggebrak meja.

“Kamu CEO karena keluarga ini!”

Rafael menatapnya lurus.

“Dan aku manusia karena pilihanku.”

Keheningan menyelimuti ruangan.

“Jika perusahaan harus memilih antara integritas dan kontrol,” lanjut Rafael, “maka aku siap kehilangan jabatanku.”

Itu bukan ancaman.

Itu keputusan.

Malamnya, Rafael berdiri di depan apartemen Sakira. Ia mengetuk pintu dengan tangan gemetar—bukan karena takut ditolak, melainkan karena akhirnya jujur sepenuhnya.

“Sakira,” katanya ketika pintu terbuka. “Aku tidak tahu bagaimana akhir cerita ini.”

Sakira menatapnya lama.

“Aku juga tidak,” jawabnya pelan. “Tapi aku tahu satu hal—aku tidak ingin mencintai setengah-setengah.”

Rafael mengangguk. “Aku memilihmu. Bukan sebagai pelarian. Bukan sebagai pemberontakan. Tapi sebagai hidup yang ingin aku jalani.”

Sakira menarik napas panjang.

“Dan aku memilih tetap tinggal—selama kita tidak saling menghilangkan.”

Rafael memeluknya. Pelukan pertama yang benar-benar tanpa ragu.

Di luar, hujan mulai reda.

Masa lalu belum sepenuhnya selesai.

Dunia belum sepenuhnya diam.

Namun untuk pertama kalinya, mereka berdiri di sisi yang sama—

bukan melawan satu sama lain,

melainkan melawan ketakutan mereka sendiri.

Dan cinta itu—meski diuji oleh masa lalu—

tetap memilih untuk hidup.

Pelukan itu tidak berlangsung lama, namun cukup untuk menyampaikan sesuatu yang tak mampu diucapkan kata-kata. Ketika Rafael melepaskan Sakira, ia melihat mata perempuan itu berkaca-kaca—bukan karena ragu, melainkan karena memahami betapa besar harga dari pilihan yang baru saja diucapkan.

“Kamu yakin?” tanya Sakira pelan.

Rafael mengangguk tanpa ragu. “Aku tidak pernah seyakin ini.”

Mereka duduk berdampingan di sofa. Tidak ada percakapan ringan. Tidak ada upaya mengalihkan suasana. Yang ada hanya kejujuran yang akhirnya dibiarkan bernapas.

“Aku mungkin akan kehilangan segalanya,” kata Rafael. “Jabatan, dukungan keluarga, bahkan sebagian kepercayaan publik.”

Sakira menatapnya lekat-lekat. “Dan aku mungkin akan terus disalahkan, apa pun yang aku lakukan.”

Mereka saling memahami. Cinta ini tidak menawarkan keselamatan—ia menawarkan keberanian.

“Aku tidak ingin kamu bertahan karena kasihan,” lanjut Rafael. “Atau karena takut dianggap menyerah.”

Sakira tersenyum tipis. “Aku bertahan karena aku memilih. Untuk pertama kalinya, aku tidak merasa dipaksa oleh keadaan.”

Keheningan kembali turun, namun kali ini terasa lebih ringan.

Keesokan harinya, badai benar-benar datang.

Dewan komisaris memanggil Rafael untuk rapat tertutup. Rumor tentang kemungkinan pengunduran diri CEO menyebar cepat. Harga saham berfluktuasi. Media mulai berspekulasi lebih liar.

Sakira mengetahui kabar itu dari notifikasi yang memenuhi ponselnya.

Ia ingin menelepon Rafael. Namun ia menahan diri. Untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menjadi distraksi. Ia ingin menjadi sandaran—dengan caranya sendiri.

Di kantor, Sakira bekerja seperti biasa. Fokus. Tegas. Tenang. Saat seorang rekan bertanya dengan nada menyelidik, ia hanya menjawab, “Aku di sini untuk bekerja.”

Dan itu cukup.

Rapat Rafael berlangsung berjam-jam.

Ia berdiri sendirian menghadapi tekanan, pertanyaan, dan peringatan. Namun kali ini, ia tidak goyah.

“Aku tidak meminta perusahaan mengubah prinsipnya demi aku,” katanya tenang. “Aku hanya meminta hak untuk jujur pada hidupku sendiri.”

Keputusan belum diumumkan hari itu. Namun satu hal jelas—tidak ada jalan kembali.

Malamnya, Rafael datang dengan wajah letih, namun langkah mantap. Sakira menyambutnya tanpa banyak bicara. Ia hanya menyiapkan teh hangat dan duduk di sampingnya.

Apa pun hasilnya,” kata Rafael lirih, “terima kasih karena tidak pergi.”

Sakira menoleh. “Aku tidak menjanjikan aku akan selalu kuat.”

Rafael tersenyum kecil. “Aku tidak mencintaimu karena kekuatanmu. Aku mencintaimu karena kejujuranmu.”

Sakira bersandar di bahunya. Untuk sesaat, dunia di luar boleh berisik. Mereka memilih diam bersama.

Karena terkadang, keberanian terbesar bukanlah melawan dunia—

melainkan tetap tinggal,

saat pergi terasa jauh lebih mudah.

Bersambung...

1
Ana Sutiana
bagus dan menarik ceritanya untuk di baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!