NovelToon NovelToon
Wanita Bercadar Dan CEO

Wanita Bercadar Dan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Di balik cadar itu, tersimpan surga yang tak pernah Adrian bayangkan.
​Aisha tahu, mencintai seorang CEO seperti Adrian adalah mengundang badai ke dalam hidupnya yang tenang. Ia dicaci, difitnah, bahkan diuji dengan kehilangan. Namun, keteguhan hati Adrian membuatnya bertahan. Adrian bukan lagi pria sombong yang mengejar dunia; ia adalah pria yang rela menjadi kuli demi menebus dosa masa lalu.
​Jalan menuju penebusan ini panjang dan berliku. Saat restu ibu menjadi dinding penghalang yang tinggi, dan masa lalu kembali menagih janji, mereka belajar bahwa satu-satunya cara untuk tetap bersama adalah dengan melibatkan Sang Pemilik Hati. Karena bagi Adrian, Aisha bukan sekadar pilihan, ia adalah takdir yang ingin ia bawa hingga ke surga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

BAB 32

TEMBOK YANG TAK TERLIHAT

​Fajar baru saja sempurna menyingsing, menyisuhkan warna keemasan yang memantul di genangan air hujan semalam. Adrian berdiri di teras rumah kayu itu dengan napas yang masih teratur selepas sholat Subuh berjamaah di masjid. Ia merasa telah melewati gerbang pertama. Ia merasa, setelah sujud yang panjang dan permohonan maaf yang tulus, jalan di depannya akan sedikit lebih rata.

​Namun, ia lupa satu hal: luka dua puluh tahun tidak bisa sembuh hanya dengan satu kali permintaan maaf, dan kepercayaan yang telah hancur menjadi debu tidak bisa direkatkan kembali hanya dalam satu malam yang emosional.

​Aisha baru saja masuk ke dalam untuk mengambilkan air minum, meninggalkan Adrian berdua dengan Zulkifli di teras. Suasana yang tadinya tenang mendadak berubah mencekam. Zulkifli, yang tadi tampak melunak saat disentuh pundaknya oleh Adrian, kini menatap lurus ke arah jalanan dengan rahang yang mengeras.

​"Fikri," suara Zulkifli parau namun tajam. "Bawa kursi rodaku masuk. Dan kau, Adrian... ikutlah. Ada hal yang harus kita luruskan sebelum matahari terlalu tinggi."

​Adrian merasakan firasat buruk. Ia mengikuti kursi roda itu masuk ke ruang tamu yang sempit. Di sana, aroma minyak kayu putih dan kayu tua menyeruak. Aisha muncul dari dapur membawa nampan, namun langkahnya terhenti saat melihat raut wajah ayahnya yang berubah menjadi sedingin es.

​"Duduk," perintah Zulkifli.

​Adrian duduk di kursi rotan, berhadapan langsung dengan pria tua yang separuh tubuhnya adalah saksi hidup kekejaman masa lalu.

​"Kau sudah mengembalikan harta kami. Kau sudah meminta maaf. Aku sudah memaafkanmu secara lahiriah sebagai sesama manusia," Zulkifli memulai, matanya kini menatap Adrian dengan kilat yang menyakitkan. "Tapi jika kau berpikir itu adalah tiket untuk mengambil putriku... maka kau sangat keliru."

​Adrian tertegun. "Pak Zulkifli, saya sungguh-sungguh ingin berubah. Saya ingin memantaskan diri—"

​"Memantaskan diri?" Zulkifli tertawa getir, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu. "Kau ingin memantaskan diri dengan apa? Dengan kemeja koko baru itu? Dengan gerakan sholat yang masih kaku? Atau dengan sisa-sisa kekayaanmu yang kau anggap bisa membeli restuku?"

​"Ayah..." Aisha mencoba menyela, suaranya bergetar.

​"Diam, Aisha!" bentak Zulkifli, membuat seluruh ruangan tersentak. Ini adalah pertama kalinya Zulkifli membentak putri kesayangannya di depan orang asing. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau pikir aku buta? Aku melihat caramu menatapnya. Aku melihat caramu membela dia di depan dewan direksinya yang busuk itu. Kau hampir mempertaruhkan nyawamu untuk pria yang darahnya mengalir dosa penghancur keluargamu!"

​Zulkifli memutar kursi rodanya hingga tepat berada di depan Adrian. Jarak mereka hanya beberapa senti. Napas Zulkifli yang memburu terasa di wajah Adrian.

​"Dengar, Adrian Aratama. Aku tidak akan pernah menyerahkan putriku kepada seseorang yang hanya menjadikan agama sebagai topeng untuk mendapatkan cintanya. Kau mencintai Aisha karena dia hebat, karena dia suci, karena dia berbeda dari wanita-wanita di duniamu yang palsu. Tapi kau tidak pernah memikirkan bagaimana perasaanku."

​"Setiap kali aku melihatmu," lanjut Zulkifli dengan suara yang kini merendah namun penuh dengan duka yang mendalam, "aku melihat pria yang membuat istrimu—ibunya Aisha—harus menjual semua perhiasannya hanya untuk membelikanku obat saat aku pertama kali stroke. Aku melihat wajah pria yang membuat putriku harus kehilangan masa mudanya karena harus menjadi tulang punggung keluarga saat teman-temannya sedang bersenang-senang. Kau adalah pengingat dari setiap tetes air mata yang jatuh di rumah ini selama dua dekade."

​Air mata Adrian mulai jatuh. Bukan karena ia takut kehilangan kekuasaan, tapi karena ia baru menyadari betapa dalamnya lubang yang telah digali oleh keluarganya. "Saya tahu saya tidak pantas, Pak. Saya tahu itu."

​"Jika kau tahu kau tidak pantas, maka menjauhlah!" Zulkifli memukul sandaran tangan kursi rodanya. "Jangan beri kami harapan palsu. Jangan seret Aisha kembali ke duniamu yang penuh intrik. Dia sudah cukup menderita. Dia pantas mendapatkan pria seperti Salman—pria yang akarnya jelas, yang imannya bukan baru tumbuh kemarin sore karena terdesak cinta, pria yang tidak akan membuatku teringat pada hari-hari di mana aku ingin mengakhiri hidupku sendiri karena malu!"

​Aisha jatuh terduduk di lantai, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangisnya pecah, mengisi ruangan kecil itu dengan kesedihan yang menyayat. Fikri hanya bisa berdiri di sudut, matanya merah menahan tangis, terjepit antara rasa hormat pada ayahnya dan rasa iba pada Adrian.

​"Pak Zulkifli," suara Adrian serak, nyaris tak terdengar. "Saya mencintainya. Dan saya bersedia menghapus semua ingatan buruk itu dengan pengabdian saya."

​"Kau tidak bisa menghapus sejarah, Adrian!" Zulkifli menunjuk ke arah pintu dengan tangan yang bergetar hebat. "Pergilah. Ambil kembali map permintaan maafmu. Kami tidak butuh belas kasihanmu. Aku lebih baik mati dalam kemiskinan daripada melihat putriku bersanding dengan putra dari orang yang merampas kehormatanku. Pergi dari sini dan jangan pernah kembali!"

​Adrian berdiri. Tubuhnya terasa lemas, seolah seluruh tulangnya telah dicabut. Ia menatap Aisha yang masih terisak di lantai, lalu menatap Zulkifli yang dadanya naik turun karena emosi yang meluap.

​"Saya akan pergi, Pak," ucap Adrian pelan. "Tapi saya tidak akan mengambil kembali permohonan maaf itu. Itu adalah hak Bapak. Dan saya juga tidak akan berhenti mencintai Aisha. Karena bagi saya, mencintainya bukan lagi soal memilikinya, tapi soal memperbaiki diri saya agar dunia tidak perlu lagi menderita karena orang-orang seperti saya."

​Adrian berjalan menuju pintu. Langkahnya terasa berat, setiap langkah seperti menginjak pecahan kaca. Saat ia sampai di ambang pintu, ia mendengar suara Aisha memanggilnya.

​"Adrian!"

​Adrian berhenti, namun ia tidak berani menoleh.

​"Jangan menyerah pada dirimu sendiri," bisik Aisha di tengah tangisnya.

​Zulkifli mendengus keras, memalingkan wajahnya. Adrian melangkah keluar ke jalanan. Matahari kini sudah tinggi, namun bagi Adrian, dunia baru saja menjadi sangat gelap. Ia berjalan menyusuri gang sempit itu, sendirian, tanpa arah.

​Di ujung gang, ia jatuh terduduk di bawah sebuah pohon besar. Ia menutupi wajahnya dengan tangan dan menangis sejadi-jadinya. Tangis seorang pria yang menyadari bahwa uang, kekuasaan, dan kecerdasan tidak berguna di depan sebuah luka hati yang teramat dalam.

​Ia telah kehilangan kerajaannya tempo hari, dan hari ini, ia kehilangan harapannya.

​Namun, di tengah isak tangisnya, Adrian teringat satu hal. Ia teringat bagaimana Aisha tetap berdiri tegak meski dunia menghimpitnya. Ia teringat bagaimana Aisha tetap sujud meski ayahnya menderita.

​Adrian menghapus air matanya dengan kasar. Ia berdiri, menatap kembali ke arah rumah hijau yang kini terasa seperti benteng yang tak tertembus.

​"Jika aku harus menunggu dua puluh tahun lagi untuk membuktikan bahwa aku berbeda dari ayahku, maka aku akan melakukannya," gumamnya pada angin. "Aku tidak akan pergi, Pak Zulkifli. Aku akan berada di sini, di sekitar kalian, sampai Bapak melihat bahwa Tuhan benar-benar telah mengubah hatiku."

​Adrian tidak pulang ke apartemen mewahnya. Ia berjalan menuju masjid kecil tempat ia sholat Subuh tadi. Ia duduk di selasar masjid, memperhatikan anak-anak yang mulai mengaji pagi. Ia memutuskan satu hal: Jika ia ditolak di rumah manusia, ia akan meminta di rumah Tuhan.

1
Fittar
mantap...
victoria harus diberi pelajaran
Fittar
bersatu pasti kalian kuat adrian aisha
Fittar
good job adrian
Fittar
semangat adrian dan aisha
Fittar
semangat adrian
Fittar
bagus ceritanya
Pat imah
Ceritanya menarik, tapi itu belum ada endiingnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!