NovelToon NovelToon
Tante Sasa

Tante Sasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Tante / Fantasi
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Dutta Story_

Tentang Sasa yang jatuh cinta dengan Arif Wiguna,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dutta Story_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

-

Hari berlalu.

Di dalam kamar, Arif masih tertidur. Semalam, dia tidak menyadari kepulangan orang tuanya.

Dari arah pintu kamar, terdengar suara ketukan keras.

Tok, tok, tok.

"Arif, sudah bangun belum?" Suara wanita dari luar pintu terdengar lembut.

Di atas ranjang, Arif perlahan membuka mata. Dia merasa asing dengan suara di luar kamar.

Perlahan, dia duduk sambil bergumam, "Siapa, sih, yang bangunin pagi-pagi?" Dia menggeser diri ke pinggir ranjang.

Kaki mulai diturunkan ke lantai, lalu memakai sandal rumah. Tatapannya tertuju pada jam yang menunjukkan pukul 5:43.

Dari arah pintu, suara ketukan masih terdengar. Arif berdiri dan melangkah ke depan pintu kamar.

Perlahan, dia membuka pintu sampai terlihat Bu Yuli berdiri sambil berkata, "Kamu sudah bangun? Papa sudah memanggil, kita makan bareng ya," ucap Yuli sambil tersenyum.

Arif terdiam, memperhatikan, bahkan dia melupakan bahwa kemarin orang tuanya menikah, dan di hadapannya saat ini adalah ibu barunya,

"Arif," panggil Yuli, sambil menatapnya.

"Iya, Tante," Arif sedikit tersenyum.

"Jangan panggil Tante. Panggil Mama saja, Arif, biar enak," Yuli tersenyum lembut.

Arif mulai mengingat, kemarin adalah pernikahan orang tuanya. Dia pun mengangguk. Bu Yuli langsung melangkah pergi menuju ruang dapur. Arif lalu mengikuti dari belakang.

Di ruang dapur, Pak Gunawan menatap Yuli yang baru saja masuk, sampai terlihat Arif mengikutinya dari belakang. Pak Gunawan berbicara, "Arif, ayo makan. Hari ini kamu masuk sekolah, kan?" tanyanya.

"Iya, Pa," Arif melangkah ke depan kursi, lalu duduk. Tatapannya tertuju ke makanan di atas meja. Arif kembali berbicara, "Ini siapa yang masak, Pa?"

"Mama kamu lah yang masak. Coba dulu, Rif, ada masakan yang kamu suka, loh," Pak Gunawan memberikan piring berisi masakan.

Arif menatap Bu Yuli, lalu mengalihkan tatapannya ke masakan di depannya. Arif hanya terdiam.

"Ngapain bengong begitu? Papa tahu kamu tidak biasa, kan, sama Mama baru kamu. Jangan sungkan, Rif, anggap saja Mama kandung kamu," Pak Gunawan tersenyum memperhatikan Arif.

Arif menghela napas kasar. "Papa, aku enggak bisa, Pa," ucapnya kesal, karena ibunya tidak bisa digantikan, walaupun sudah tiada.

"Sudah, Arif, kamu makan dulu," Pak Gunawan menatap Arif.

Arif pun mengambil nasi sedikit, dan mengambil ikan, lalu dia makan.

***

Di sisi lain, Sasa sedang memasak bersama Bu Ani di ruang dapur, sampai beberapa masakan terhidang. Dia membawanya ke meja makan.

Dari arah pintu, terlihat Laras melangkah memasuki ruangan itu. Sasa yang melihatnya langsung berbicara,

"Kamu sudah rapi, sayang. Kita makan dulu, ya," Sasa menatap Laras yang melangkah lalu duduk di kursi meja makan.

"Iya, Mama," jawab Laras. Dia pun kembali berbicara, "Oh, iya, Ma, kemarin pulangnya ko malam, sih?" tanya Laras.

"Mama kemarin menemani teman ke acara ulang tahun keponakannya," jawab Sasa sambil mengambil nasi dan masakan.

"Ish, pantesan. Mama anterin aku ke sekolah, ya. Hari ini aku harus masuk sekolah pagi pagi, biar enggak terlambat," Laras menyuapkan makanan.

"Iya, Mama anterin kamu ke sekolah, sayang."

Sementara itu, Arif sedang berada di dalam kamarnya. Dia sudah rapi mengenakan pakaian sekolah. Dia pun mengambil tas dan menggendongnya.

Dia langsung melangkah keluar kamar dan berlalu pergi keluar rumah.

Saat melangkah ke depan pintu keluar rumah, Pak Gunawan memanggil, "Rif," panggilnya sambil melangkah mendekat.

"Kenapa, Pa?" jawab Arif, langkahnya terhenti dan mengalihkan tatapannya ke Pak Gunawan.

"Nanti siang, Papa sama Mama mau pergi liburan," Pak Gunawan menatap Arif.

"Ya sudah, Pa, tapi aku minta uang jajan," Arif menatap lekat ke arahnya.

"Nanti Papa transfer ke rekening kamu. Papa enggak lama kok, cuma tiga hari doang."

"Ya sudah, kalau begitu aku berangkat sekolah dulu."

"Hati-hati di jalan."

Arif membuka pintu dan melangkah pergi keluar dari rumah. Dia pun langsung menuju kendaraan yang terparkir di halaman rumah.

Di depan kendaraan itu, dia membuka pintu dan masuk. Di dalam, Arif menyalakan kendaraan itu lalu melajukannya untuk pergi dari halaman rumah.

Sementara Laras, dia sedang duduk bersampingan dengan Sasa yang mengemudikan mobil. Sampai di depan gerbang sekolah, Sasa memberhentikan kendaraannya di pinggir jalan.

"Mama, sampai sini ya," ucap Sasa sambil menatap Laras.

"Iya, Ma, makasih ya. Oh, iya, Ma, nanti pulang Mama jemput, enggak?" tanya Laras dengan tangan terhenti untuk membuka pintu.

"Gimana nanti saja, kalau enggak sibuk nanti Mama telepon kamu."

"Ya sudah deh, Ma, kalau begitu aku masuk kelas dulu ya, soalnya hari ini aku harus pagi untuk berkenalan dengan teman sekelas," Laras membuka pintu dan keluar.

Pintu mobil kembali ditutup oleh Laras. Sasa menatapnya sampai terhenti melangkah di pinggir jalan. Perlahan, Sasa melajukan kendaraannya untuk pergi.

Laras menatap kepergian mamanya sampai tidak terlihat. Dia membalikkan diri dan berlalu pergi untuk masuk ke sekolah.

Saat dia melangkah, tatapannya tertuju ke lapangan dan sekitarnya. Dari pinggir jalan dia melangkah, tiba-tiba dia terhenti saat seorang wanita berdiri di depannya.

"Hey," panggil Diana, sambil menyodorkan tangan untuk bersalaman.

Laras memperhatikan, tatapannya tertuju pada tangan. "Hey juga," sambil bersalaman.

"Aku Diana, salam kenal ya," ucapnya sambil mengayunkan tangan lalu melepaskan tangan Laras.

"Aku Laras, kamu kelas berapa?" tanya Laras.

"11A."

"Sama dong, aku juga masuk ke kelas 11A," Laras tersenyum. Tiba-tiba, obrolan mereka terhenti saat melihat kendaraan Ferrari biru melaju cepat ke arah parkiran.

"Kebiasaan, kaya gitu untung saja enggak ada orang," ucap Diana, sambil mengalihkan tatapannya ke Laras.

"Maksudnya gimana?" Laras merasa bingung dengan pembicaraan Diana.

"Enggak ada kok, sudah kita ke kelas."

"Ayo."

Diana bersama Laras pun melangkah pergi menuju kelas, di teras sekolah.

Saat mereka berdua melangkah bersama, dari arah belakang, tiba-tiba Arif memanggil, "Laras."

Diana dan Laras terhenti, mereka langsung membalikkan diri. Dari depan mata Diana, Arif melangkah mendekat dengan wajah tersenyum-senyum.

"Laras, kamu kenal sama Arif?" bisik Diana pelan, tatapannya begitu lekat ke arah Laras, sampai Arif berdiri di depan Diana dan Laras.

Laras terdiam, tanpa berbicara sama sekali. Arif yang berdiri di depan mereka berdua pun langsung berbicara,

"Kok kalian pada natapin kayak gitu sih?" tanya Arif merasa penasaran.

Dari belakang Arif, seorang pria menepuk bahu dan berbicara, "Ayo, pada ngapain?" sambil tersenyum memperhatikan Arif.

"Jir lah, ngagetin saja. Tumben lo baru nyampe ke sekolah," tanya Arif sambil menatap Ryuken.

"Sudah-sudah, ayo ke kelas," Ryuken mendorong Arif.

Mereka pun bersama-sama melangkah pergi menuju ruang kelas 11A, sampai masuk ke dalam ruang kelas.

Laras terhenti langkahnya, dia berdiri di depan. Tatapannya tertuju ke setiap orang yang berada di kelas.

Arif yang terhenti melangkah, dia mengalihkan tatapannya ke Laras. Arif langsung mendekat dan menarik Laras untuk menuju kursi meja kosong.

"Ngapain bengong di situ sih?" tanya Arif sambil memegang tangan Laras. Di depan kursi kosong, dia terhenti langkahnya.

"Bingung saja. Ruangan di sini bersih, rapi, indah juga," Laras melihat sekeliling, lalu berbicara pelan, "Apalagi cewek-ceweknya cantik-cantik," bisik Laras sambil tersenyum.

1
sitanggang
sahabatnya me inggal malah pergi kencan dan hak ada mellow2nya, ini jalan ceritanya kok jelek bgt yaa🤣🤣🤣👎👎
DuttaStory_: Banyak ke Potong, 😭😭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!