Pembalasan Item Surgawi
"Sampah tidak berguna." Itulah julukan bagi Tian Feng. Di saat murid lain bertaruh nyawa demi setetes energi kultivasi, Feng justru memilih tidur malas sebagai pelayan di Paviliun Pengobatan.
Namun, dunia tidak tahu bahwa Feng menyembunyikan rahasia besar: Ia adalah keturunan terakhir Aliran Tao Terlarang yang diburu seluruh dunia.
Dengan bantuan Perkamen Alkimia Arus Balik, Feng mengambil jalan pintas mematikan. Ia bisa menjadi kuat dalam semalam tanpa latihan! Tapi, surga tidak memberi cuma-cuma. Setiap kekuatan instan menciptakan Hutang Karma—sebuah "penagihan" nyawa yang datang dalam bentuk petir bencana dan musuh-musuh haus darah.
Demi menyembunyikan identitasnya, Feng rela difitnah sebagai "Kelinci Percobaan Medis" yang sekarat. Namun, saat segel giok di dadanya retak dan para Tetua mulai mengincarnya, si pemalas ini terpaksa bangun.
Satu pil untuk menghancurkan pedang jenius. Satu teknik untuk membungkam langit.
Mampukah Tian Feng melunasi hutang karmanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raden Saleh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EKSODUS PARA PELAYAN
Puncak Awan Putih tidak lagi terlihat seperti sekte kultivasi yang agung; ia terlihat seperti bangkai raksasa yang sedang dikerubungi oleh ribuan lalat hitam. Armada Istana Karma Terlarang—ribuan kapal perang kayu hitam dengan layar yang memancarkan aura kematian—telah memblokade cakrawala. Langit yang biasanya biru kini tertutup oleh bayangan raksasa lambang Mata Berdarah.
Feng berdiri di gerbang dermaga rahasia, memanggul Xuelan yang masih pingsan. Di belakangnya, Guru Lin gemetar hebat, memeluk tas tanaman obatnya seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah badai. Namun, mereka tidak sendirian.
Suara langkah kaki yang kacau terdengar dari lorong-lorong gunung. Ratusan, bahkan ribuan murid rendahan—para pelayan medis, tukang sapu, penjaga gudang, dan murid luar yang selama ini dianggap sampah—berlarian menuju dermaga. Mereka telah melihat arena yang hancur, mereka telah melihat Kepala Sekte berlutut di depan pria bertopeng, dan mereka tahu bahwa malam ini, siapa pun yang tidak memiliki darah bangsawan akan dikorbankan.
"Feng! Kau hidup!" teriak Zhao, asisten senior yang tadi pagi tangannya dilumpuhkan oleh Feng. Ia muncul dengan napas tersengal, memimpin sekelompok pelayan dapur. "Mereka membantai semua orang di dermaga utama! Kapal-kapal terbang dihancurkan bahkan sebelum lepas landas! Hanya dermaga belakang ini yang tersisa!"
Feng menatap kerumunan manusia yang ketakutan itu. Di garis waktu sebelumnya, mereka semua mati. Mereka menjadi tumbal energi untuk memperkuat formasi pertahanan terakhir Mu Yun.
“Lihatlah mereka, Feng,” suara Yue Er kembali muncul, lemah namun tajam, beresonansi dari tato teratai di dadanya. “Ribuan nyawa yang tak berharga di mata Surga. Jika kau membawa mereka, kecepatan pelarianmu akan berkurang sembilan puluh persen. Kau akan mati bersama mereka.”
"Diam, Yue Er," gumam Feng.
Ia menurunkan Xuelan dan menyandarkannya di bahu Guru Lin. Feng melangkah ke tepi dermaga kayu yang menjorok ke jurang awan. Di bawah sana, hanya ada kegelapan yang tak berujung. Hanya ada satu kapal logistik tua yang tersisa di dermaga ini—sebuah kapal pengangkut pupuk yang lambat dan berkarat.
"Semuanya, naik!" perintah Feng, suaranya menggelegar melampaui kebisingan ledakan di puncak gunung.
"Tapi Feng, kapal ini tidak akan muat untuk dua ribu orang!" teriak Guru Lin. "Dan kecepatannya... kita akan tertangkap oleh armada Istana Karma dalam hitungan menit!"
"Naik saja!" Feng menghantamkan tinjunya ke tiang kapal.
Insting Bendahara Surga-nya bekerja. Ia tidak lagi memiliki Kitab Karma fisik, namun tato di dadanya mulai berpendar panas. Ia mulai melihat garis-garis "beban" pada setiap orang yang naik. Ketakutan mereka, harapan mereka, sisa energi Chi mereka—semuanya berubah menjadi angka-angka yang melayang di matanya.
Saat dua ribu pelayan itu berdesakan masuk ke dalam kapal logistik hingga deknya hampir menyentuh permukaan air awan, armada Istana Karma mulai menyadari pelarian ini. Tiga kapal perang kecil memisahkan diri dari formasi utama dan meluncur turun menuju dermaga belakang.
"Mereka datang!" teriak para murid dalam kepanikan.
Feng berdiri di buritan kapal. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar.
"Aku, Tian Feng, atas nama hutang yang kalian berikan pada hidupku..." Feng memejamkan mata. "Aku menyita berat kalian! Aku menyita gravitasi tempat ini!"
Tato Teratai Hitam di dadanya meledak dalam cahaya emas yang pekat.
Seketika, kapal logistik yang berat dan berkarat itu terasa seringan bulu. Ia tidak lagi tenggelam oleh beban dua ribu orang, melainkan melambung naik dengan kecepatan yang mustahil.
"Apa yang terjadi?!" Zhao terbelalak melihat kapal itu melesat membelah awan.
"Aku mengalihkan beban kalian ke arah pengejar kita," ucap Feng, wajahnya pucat karena tekanan mental yang luar biasa.
Di belakang mereka, tiga kapal perang Istana Karma yang mencoba mendekat tiba-tiba mengalami anomali. Kayu-kayu kapal mereka mulai berderak patah, seolah-olah berat mereka mendadak bertambah seribu kali lipat. Kapal-kapal itu jatuh menghujam ke dasar jurang bahkan sebelum sempat melepaskan tembakan meriam sihir.
Namun, harga yang harus dibayar Feng sangat mahal. Ia merasakan meridiannya seperti ditarik oleh ribuan kuda. Darah mulai merembes dari pori-pori kulitnya.
Xuelan terbangun di tengah guncangan kapal. Ia melihat Feng yang berdiri tegak di buritan, tubuhnya gemetar menahan "berat" dari dua ribu nyawa.
"Feng!" Xuelan berlari dan memeluk pinggangnya dari belakang, menyalurkan energi es abadi miliknya untuk mendinginkan suhu tubuh Feng yang membara. "Jangan lakukan ini sendirian! Gunakan aku sebagai penopang!"
"Xuelan... jangan..."
"Diamlah dan terima ini!" Xuelan menggertakkan gigi, wajahnya memucat saat ia merasakan beban gravitasi yang sedang dikelola Feng.
Bersama-sama, mereka membentuk harmoni yang aneh. Energi es Xuelan menstabilkan gejolak karma Feng, sementara otoritas Feng memberikan perlindungan bagi Xuelan. Kapal logistik tua itu terus melesat menjauhi Puncak Awan Putih yang kini perlahan tenggelam dalam api hitam.
Saat fajar mulai menyingsing di cakrawala, kapal mereka telah mencapai perbatasan wilayah Sekte Kunci Langit. Di bawah mereka terhampar Hutan Kematian yang luas, tempat yang tidak berani dimasuki oleh armada besar karena gangguan magnetik yang kuat.
"Kita akan mendarat di sana," Feng menunjuk ke arah lembah tersembunyi.
Saat kapal perlahan turun, Guru Lin mendekati Feng. "Kita selamat, Feng. Tapi ke mana kita akan pergi sekarang? Seluruh benua ini akan dikuasai oleh Istana Karma dalam hitungan hari."
Feng menatap dua ribu pelayan yang kini menatapnya dengan pandangan penuh harap—pandangan yang sama yang diberikan oleh pengikut kaisar kepada pemimpin mereka.
"Kita tidak akan lari selamanya, Guru," ucap Feng sambil menatap tato di tangannya yang kini telah berubah menjadi lambang Sekte Tanpa Hutang. "Kita akan membangun tempat di mana tidak ada orang yang dipaksa meminjam takdir demi hidup. Kita akan menjadi bankir dari nasib kita sendiri."
Feng menatap Xuelan, yang masih menggenggam tangannya erat. Gadis itu tersenyum, meski tubuhnya masih lemah. Kenangan tentang masa depan yang hancur kini terasa jauh, digantikan oleh kemungkinan baru yang belum tertulis di kitab mana pun.
Namun, jauh di dalam batin Feng, Yue Er memberikan peringatan terakhir.
“Feng... lihat ke langit utara.”
Feng menoleh. Di sana, di antara awan yang memerah, ia melihat sebuah kapal emas tunggal yang tidak memiliki lambang Istana Karma. Kapal itu diam, hanya mengamati.
"Itu adalah utusan dari Kekaisaran Pusat," bisik Feng. "Mereka tidak datang untuk membantu. Mereka datang untuk memastikan bahwa reinkarnasi Yan Ling telah benar-benar berhenti."
Feng tahu, meski ia baru saja menyelamatkan dua ribu nyawa, ia baru saja menyatakan perang terhadap dua kekuatan terbesar di dunia: Istana Karma yang ingin menguasai takdir, dan Kekaisaran Pusat yang ingin menjaga agar takdir tidak pernah berubah.
"Yah," Feng menyeringai tipis, rasa malasnya yang khas kembali muncul meski hanya sedikit. "Setidaknya aku sudah punya cukup banyak modal untuk memulai bisnis baru."
Kapal mendarat dengan dentuman halus di tanah lembah. Eksodus telah selesai, namun legenda tentang Pelayan Medis yang menyita berat dunia baru saja dimulai.