NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Etalase

Luka Di Balik Etalase

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:237
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Dua jiwa yang terjepit di antara tuntutan menjadi "Pria Baja" dan "Wanita Porselen" bertemu dalam sebuah kepura-puraan yang menghancurkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Melampaui Batas Kontrak

Sabotase material gagal, tapi Jenderal langsung membalas dengan "serangan medis" yang tidak bisa dihindari. Konsistensi mereka sebagai mitra kini benar-benar diuji secara fisik dan emosional.

Arka dengan martabat yang rapuh namun protektif, dan Laras dengan keteguhan hatinya yang seperti baja. Kita masuk ke paling emosional, di mana kontrak bukan lagi sekadar kertas, melainkan sebuah pilihan hidup.

Malam itu, rumah di selatan terasa seperti kotak kaca yang siap pecah. Suster Lastri sudah tertidur di kamarnya, namun bayangannya seolah masih mengawasi dari balik dinding. Di dalam kamar utama, Arka dan Laras berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh kesunyian yang berat.

Berita tentang kedatangan tim medis besok pagi adalah vonis. Jika mereka tidak bisa memberikan bukti biologis yang konsisten dengan "program kehamilan" mereka, Jenderal akan menghancurkan segalanya karier Arka, reputasi Laras, dan benteng yang susah payah mereka bangun "Arka..." Laras memulai, suaranya sedikit gemetar. Ia masih mengenakan jaket lapangan yang kotor, kontras dengan seprai sutra di tempat tidur itu. "Kita selalu bilang kita akan melakukan apa saja untuk menang. Tapi... apa kita siap untuk ini?"

Arka melepaskan jam tangannya dengan gerakan lambat, matanya menatap tajam ke arah jendela yang gelap. "Selama ini, aku selalu berlari, Laras. Berlari dari ekspektasi Ayahku, berlari dari bayang-bayang Nadia, dan berlari dari kenyataan bahwa aku butuh seseorang. Aku tidak ingin melakukannya karena perintah Jenderal."

Arka melangkah mendekati Laras. Jarak di antara mereka menghilang. "Tapi jika besok mereka datang dan mereka melihat bahwa kita hanya orang asing yang berbagi kasur... kamu akan kehilangan pekerjaanmu, dan aku akan kembali menjadi boneka tanpa nyawa. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi padamu."

Laras menengadah. Di bawah cahaya temaram, ia melihat Arka yang sebenarnya. Bukan Kapten, bukan ahli waris, melainkan seorang pria yang sedang memohon untuk tidak dibiarkan sendirian. "Ini bukan lagi soal pasal dalam kontrak, kan?" bisik Laras. Tangannya yang kasar karena debu proyek menyentuh kerah kemeja Arka.

"Kontrak itu sudah hangus sejak malam aku melihatmu menantang Doni di butik itu," jawab Arka parau. "Aku mencintaimu, Laras. Bukan sebagai mitra konspirasi, tapi sebagai wanita yang membuatku ingin berhenti bersembunyi."

Laras tertegun. Kata-kata itu lebih tajam dari ancaman Jenderal. Selama ini ia membentengi hatinya dengan Pasal 4, namun di depan kejujuran Arka, benteng itu runtuh tanpa suara. "Aku juga, Arka," Laras mengaku, air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Aku takut mengakuinya karena aku pikir cinta hanya akan membuat kita lemah di depan mereka. Tapi ternyata, berbohong pada diri sendiri adalah yang membuat kita lemah."

Arka menunduk, menyatukan keningnya dengan kening Laras. Napas mereka menyatu. Malam itu, di tengah kepungan musuh yang mengintai, mereka memutuskan untuk melampaui batas kontrak yang mereka buat sendiri. Bukan karena takut pada tim medis Jenderal, tapi karena mereka menyadari bahwa satu- satunya hal yang nyata di tengah sandiwara ini adalah perasaan mereka satu sama lain.

Keesokan paginya, pukul delapan tepat, bel rumah berbunyi.

Tiga orang pria berseragam medis putih dan seorang dokter senior yang merupakan tangan kanan Jenderal berdiri di depan pintu. Suster Lastri menyambut mereka dengan wajah penuh kemenangan.

"Silakan masuk, Dok. Pak Arka dan Mbak Laras sudah menunggu di atas," ujar Lastri. Tim medis itu masuk ke kamar utama. Arka sedang duduk di kursi santai, sementara Laras masih berada di atas tempat tidur, tampak baru terbangun dengan rambut yang sedikit berantakan. Suasananya berbeda. Tidak ada ketegangan yang kaku seperti biasanya. Ada sebuah ketenangan yang dalam, sebuah aura yang tidak bisa dipalsukan oleh akting mana pun.

Dokter senior itu melakukan pemeriksaan. Pengambilan sampel darah, pemeriksaan tanda vital, dan sesi wawancara pribadi.

Setelah satu jam yang menegangkan, sang Dokter melepaskan stetoskopnya. Ia menatap Arka dan Laras bergantian, lalu beralih ke Suster Lastri yang menunggu di sudut ruangan.

"Suster Lastri," ujar Dokter itu dengan suara berat. "Anda bisa berhenti mengirimkan laporan yang meragukan kepada Jenderal."

Lastri terkesiap. "Maksud Dokter?"

"Hasil awal menunjukkan semuanya selaras. Secara fisiologis dan hormonal, mereka adalah pasangan yang sangat aktif Tidak ada tanda-tanda sandiwara atau jarak emosional yang Anda curigai," Dokter itu mengangguk hormat pada Arka. "Saya akan melaporkan pada Jenderal bahwa program ini berjalan dengan sangat baik. Kalian hanya butuh waktu dan ketenangan. Tanpa pengawasan yang berlebihan."

Begitu tim medis dan Suster Lastri yang dipaksa angkat kaki hari itu juga pergi dari rumah, Arka menutup pintu depan dan menguncinya. Ia kembali ke ruang tamu di mana Laras sedang duduk lemas di sofa, memegang gelas air putih. Mereka saling pandang, lalu secara serentak, mereka tertawa. Tawa yang lepas, tawa yang menang.

"Kita berhasil, Laras," Arka duduk di sampingnya, merangkul bahunya erat.

"Kita nggak cuma berhasil bohong, Arka," Laras menyandarkan kepalanya di bahu Arka. "Kita berhasil jujur."

Namun, di kediaman Baskoro, Jenderal sedang menatap laporan medis yang dikirimkan lewat surel. Ia tersenyum dingin "Bagus. Jika mereka sudah mulai saling terikat, maka mereka punya titik lemah baru. Sekarang, saatnya menggunakan titik lemah itu untuk memastikan mereka tidak akan pernah berani meninggalkanku."

Perang belum berakhir. Jenderal Baskoro baru saja menemukan cara baru untuk mengendalikan mereka , dengan menggunakan perasaan yang baru saja mereka temukan sebagai sandera. Pasal 4 resmi dilanggar, dan mereka kini benar-benar suami-istri. Tapi Jenderal justru melihat ini sebagai peluang baru untuk memanipulasi mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!