Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Matahari baru saja naik setinggi galah, menyinari halaman posko yang masih lembap. Di teras, suasana sedang memanas. Bukan karena cuaca, tapi karena perdebatan sengit antara Mika dan Arga yang tak kunjung usai. Mika berdiri dengan tangan berkacak pinggang, sementara Arga duduk tenang di kursi kayu sambil memegang buku catatan teknisnya, wajahnya sedatar papan tulis.
"Gak bisa gitu dong, Ga! Data debit air yang lo masukin itu pake perhitungan manual, sedangkan Pak Alvaro minta yang berdasarkan sensor digital yang baru kita pasang semalem!" protes Mika dengan nada suara yang naik dua oktav.
Arga mendongak, menatap Mika dengan pandangan kaku yang menyebalkan. "Metodologi manual itu untuk verifikasi, Mik. Lo terlalu percaya sama teknologi. Kalau sensornya error karena badai kemarin gimana? Pak Kades juga pasti setuju sama pemikiran gue yang lebih rigid."
"Duh, denger ya robot kaku! Gue koordinatornya, dan gue tahu apa yang Pak Kades mau!" Mika menghentakkan kakinya ke lantai teras. Ia tidak sadar bahwa menyebut nama "Pak Kades" berkali-kali di depan Arga yang sudah tahu rahasianya adalah langkah yang sangat berisiko.
Sementara itu, di dalam posko, Asia dan Siti sedang bermalas-malasan di atas kasur lipat. Suasana di dalam cukup tenang sampai sebuah benda di atas meja kayu di tengah ruangan bergetar hebat.
Bzzzt... Bzzzt... Bzzzt...
Layar ponsel Mika menyala. Sebuah notifikasi pesan WhatsApp muncul di layar yang tidak terkunci. Asia, yang posisinya paling dekat dengan meja, refleks menjulurkan lehernya. Matanya yang tajam langsung menangkap nama kontak yang tertera di sana.
"Dari siapa, As?" bisik Siti sambil menyikut lengan Asia, rasa keponya sudah mencapai ubun-ubun.
Asia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan tawa yang hampir meledak. "Dari 'King' pake emoji lope-lope dua biji, Haha!"
Siti langsung bangkit dari posisi rebahannya. "Serius lo? 'King'? Wah, si Mika bener-bener ya. Sejak kapan seleranya jadi kerajaan begini? Coba liat isinya!"
Asia membaca sekilas baris pertama pesan yang muncul di pop-up notifikasi.
King 💖💖: "Neng, jangan lupa sarapan. Dosen pembimbing kamu sudah di jalan, kemungkinan sampai satu jam lagi. Hati-hati."
Wajah Asia yang tadinya penuh tawa mendadak berubah pucat. Ia menoleh ke arah Siti dengan tatapan horor. "Sit... gawat. Bukan soal 'King'-nya, tapi isi pesannya. Dosen pembimbing kita dateng hari ini!"
Kepanikan Massal
"APA?!" Siti berteriak refleks.
Mika yang sedang asyik beradu argumen dengan Arga di teras langsung menoleh ke arah dalam. "Kenapa lo teriak-teriak, Sit? Ada ular lagi?!"
Asia langsung berlari keluar teras sambil membawa ponsel Mika. "Ular apaan! Ini liat! Dosen pembimbing kita, Pak Hendra, udah di jalan! Satu jam lagi sampe sini buat sidak projek filter kita!"
Mika merebut ponselnya dari tangan Asia. Matanya membelalak bukan hanya karena berita kedatangan dosen, tapi karena ia sadar nama kontak "King" baru saja terlihat oleh sahabatnya. Namun, rasa panik soal dosen jauh lebih mendominasi.
"Mampus! Gue belum rapiin laporan akhir! Alat di sungai juga belum dibersihin dari sisa sampah badai semalem!" Mika panik luar biasa. Ia mondar-mandir di teras seperti ayam kehilangan induk.
Arga berdiri dengan tenang, meski raut wajahnya juga sedikit menegang. "Gue bilang juga apa, data manual itu penting. Pak Hendra itu tipikal dosen yang bakal nanyain hal sekecil apa pun soal akurasi."
Di tengah kepanikan itu, suara motor dinas meluncur masuk ke halaman posko. Itu Alvaro. Ia turun dari motor dengan langkah terburu-buru, wajahnya kembali ke mode "Kepala Desa" yang sangat formal, namun matanya langsung mencari keberadaan Mika.
"Kalian sudah tahu?" tanya Alvaro tanpa basa-basi begitu sampai di teras.
"Baru aja, Pak," jawab Arga mewakili teman-temannya.
Alvaro menatap Mika sejenak, ada sorot perlindungan yang sangat kuat di sana. "Pak Hendra sudah masuk perbatasan desa. Saya akan menyambutnya di Balai Desa dulu untuk mengulur waktu. Kalian punya waktu empat puluh menit untuk membersihkan area sungai dan merapikan presentasi."
Mika menatap Alvaro, bibirnya bergerak tanpa suara membentuk kata "Makasih, Al".
Alvaro mengangguk tipis, lalu menoleh ke arah Arga. "Arga, bantu Mika siapkan data fisik. Siti, Asia, pastikan posko ini bersih. Jangan sampai dosen kalian melihat tempat ini berantakan seperti kapal pecah."
"Siap, Pak Kades!" sahut mereka serempak.
Begitu Alvaro memacu motornya pergi, Mika langsung berteriak memberikan instruksi. "Arga, lo ikut gue ke sungai sekarang! Bawa alat pembersih! Siti, Asia, beresin dalem, jangan ada celana dalam yang nyangkut di jemuran depan! Cepet!"
Sambil berlari menuju sungai dengan membawa cangkul dan sepatu bot, Arga berlari di samping Mika dengan kecepatan yang stabil.
"Bagus juga ya nama kontaknya, 'King'," sindir Arga sambil tetap menatap lurus ke depan.
Mika hampir tersandung akar pohon. "Diem lo, Ga! Jangan dibahas sekarang!"
"Gue nggak bahas, gue cuma muji. Tapi hati-hati, Pak Hendra itu temen lama bokapnya Pak Kades kalau nggak salah. Kalau dia liat 'King' lo itu terlalu perhatian, nilai A lo bisa berubah jadi surat panggilan orang tua," tambah Arga dengan gaya kakunya yang minta ampun.
"Arga! Fokus ke sungai atau gue ceburin lo ke filter sekarang juga?!" ancam Mika dengan wajah merah padam.
Sesampainya di sungai, mereka bekerja seperti orang kesurupan. Mika mencabuti lumut yang menempel di pipa dengan tangan kosong, tidak peduli lagi kalau kuku-kukunya yang cantik harus patah. Ia harus menunjukkan bahwa projek ini berhasil, bukan hanya karena bantuan Alvaro, tapi karena kerja keras timnya.
Di sela-sela kesibukan itu, Mika sesekali melirik ke arah jalan desa, menantikan mobil Pak Hendra muncul. Ia menyadari bahwa hari ini adalah ujian sesungguhnya. Bukan hanya ujian akademik soal filter air, tapi ujian untuk menjaga rahasia besarnya bersama sang 'King' agar tidak meledak di depan semua orang.
"Tuhan, tolong lancarin hari ini," bisik Mika sambil mengelap keringat dengan punggung tangan yang berlumpur. "Dan tolong... jangan biarin Siti nanya-nanya soal nama kontak itu lagi."
Namun, jauh di lubuk hatinya, Mika tahu bahwa setelah badai kedatangan dosen ini mereda, ia harus siap menghadapi "badai" interogasi dari kedua sahabatnya yang sudah mulai mencium aroma asmara di balik jabatan Kepala Desa.