Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga
Jakarta, pukul 06.47 pagi.
Cahaya temaram menyelinap lewat celah jendela kamar kos yang lapuk, menerpa wajah Ferdy Wicaksono. Ia mengerjapkan mata, menatap langit-langit kamar berukuran 3x4 meter itu yang dihiasi retakan-retakan seperti peta tak dikenal.
Plafonnya mengelupas di sudut, membentuk gumpalan seperti awan kotor. Bau apek campur bau tinta printer dan kopi basi memenuhi ruangan sempit itu.
Ferdy mengusap wajahnya, merasakan jenggot tiga hari yang mulai kasar. Dari tempat tidur lipatnya, ia bisa melihat seluruh "kerajaannya": meja kayu lapuk penuh dengan cetakan foto yang belum rapi, dua unit lampu studio bekas yang satu diantaranya kedip-kedip, kamera DSLR Canon 80D yang body-nya sudah penuh lecet, dan laptop ASUS yang kipasnya mendengung seperti pesawat mau lepas landas.
Di dinding, poster-poster foto hitam putih ditempel tak beraturan—sebagian adalah karyanya, sebagian lagi karya idolanya seperti Henri Cartier-Bresson.
Freelance photographer. Kata-kata yang ia tulis dengan bangga di bio Instagram, LinkedIn, dan profil semua platform media sosialnya. Di dunia maya, ia terlihat keren: seorang seniman visual, pemburu momen, pencerita melalui lensa.
Kenyataan? Hidup dari job ke job, makan mie instan tiga kali seminggu, dan terus-terusan mengecek rekening bank dengan harapan ada transfer dari klien yang seringkali telat bayar.
HP Xiaomi-nya bergetar di bantal. Grup WhatsApp bernama "FOTOgraFER JAKARTA (FFJ)" sudah ramai sejak subuh. Ferdy membuka mata lebar-lebar, membaca percakapan yang berjalan cepat.
Rendra (Food Photographer): "Bro, ada yang punya koneksi klien produk minuman? Lagi desperate nih. Bayaran telat 3 bulan, kontrakan mau disegel."
Sari (Wedding Photographer): "Aku lagi butuh second shooter akhir bulan ini. Fee 800k all-in. Siapa yang free?"
Bayu (Product Photographer): "Klien kecap minta revisi ketujuh, padahal cuma ganti background dari putih ke off-white. Udah mau nangis gue."
Dimas (Street Photographer): "Yang ikut pameran kolektif di Kemang bulan depan? Biaya sewa dinding 2 juta per meter. HAHAHA. Mending beli kamera baru."
Anita (Editor): "AI sekarang makin gila. Dalle-3 bisa bikin foto produk instant. Client gw udah pada nawarin harga separoh. Kita makin tergusur."
Ferdy menghela napas panjang, mengusap kedua pelipisnya. Ia bangun, tubuhnya yang tinggi (180 cm) harus menunduk agar tidak membentur lampu gantung murah yang tergantung di tengah kamar.
Ia memakai kaos oblong abu-abu yang sudah pudar bertuliskan "BANDUNG PHOTO FEST 2019" dan celana pendek basket hitam. Kakinya telanjang menapak lantai keramik yang dingin.
Dia berjalan ke meja kecil di sudut yang berfungsi sebagai dapur mini, menuang sisa kopi kemarin ke dalam gelas bekas selai, lalu memanaskannya di microwave kecil yang bunyinya seperti dentuman.
Sambil menunggu, matanya tertuju pada laptop yang masih menyala. Di layar, galeri fotonya terbuka—ratusan, mungkin ribuan gambar yang belum pernah dilihat mata selain matanya sendiri.
Ada foto pernikahan yang ceria, tapi kliennya menolak karena "terlalu jujur" (maksudnya, menangkap mempelai wanita sedang marah-marah ke makeup artist). Ada foto produk skincare yang menurutnya bagus, tapi klien bilang "kurang aesthetik".
Ada landscape dari road trip ke Jawa Tengah setahun lalu—Gunung Merapi, Candi Borobudur saat fajar, pantai-pantai sepi.
Matanya tertahan pada satu foto: Candi Prambanan di sore hari, dengan siluet pengunjung yang samar. Ada sesuatu dalam foto itu—sesuatu yang terasa abadi, misterius, dan penuh cerita. Seperti ada jiwa dalam batu-batu itu.
Jarinya mengetik cepat di grup.
Ferdy: "Temen-temen, gimana kalau kita bikin project sampingan? Foto tempat-tempat bersejarah atau yang dianggap angker. Yang punya aura kuat. Bisa kita jual sebagai limited print signed, atau bikin konten eksklusif buat platform premium. Ada yang minat?"
Ia menekan send, lalu meneguk kopinya yang masih terlalu panas. Lidahnya terbakar sedikit.
Notifikasi berdering satu per satu.
Andika: "Gue minat. Lagi bosen foto wedding. Duitnya oke, tapi jiwa gue menderita."
Roni: "Wih, seru nih. Gue ikut buat bahan konten YouTube. Tapi jangan yang terlalu angker ya, takut."
Lainnya diam. Beberapa membacakan tapi tidak merespon. Ferdy menghela napas. Hanya dua orang. Tapi lebih baik daripada nol.
Ferdy: "Oke, kita tiga. Weekend ini? Museum Pusaka Taman Mini mungkin? Katanya banyak koleksi keris tua."
Andika: "Gue lebih prefer yang agak sepi. Ada museum kecil di daerah Jagakarsa, koleksi pusaka kerajaan-kerajaan Nusantara. Tempatnya angker katanya."
Roni: "Waduh, makin serem. Tapi oke lah. Sabtu siang?"
---
Sabtu siang, pukul 14.23.
Museum "Pusaka Nusantara" di Jagakarsa terlihat seperti rumah tua yang terlupakan. Bangunan kolonial Belanda dengan cat putih yang mengelupas, jendela-jendela tinggi dengan kaca patri buram, dan pagar besi berkarat.
Tidak ada papan nama yang jelas—hanya tulisan kecil di samping pintu.
Ferdy datang dengan motor Honda Beat tua warna merah yang knalpotnya sudah berisik. Ia memakai celana cargo coklat, kaos hitam polos, dan kamera tergantung di leher. Andika sudah menunggu di depan, dengan peralatan lengkap: tripod carbon fiber, lensa-lensa dalam tas khusus, bahkan light meter.
"Lo bawa perlengkapan perang ya, Dik?" tanya Ferdy sambil turun dari motor.
"Kalo mau serius, ya harus siap," jawab Andika, pria bertubuh sedang dengan kacamata tebal. Ia memakai vest fotografer penuh saku.
"Roni bilang telat, lagi macet di TB Simatupang."
Mereka membeli tiket masuk—hanya sepuluh ribu rupiah—dari penjaga tua yang duduk di kursi plastik sambil mendengarkan radio transistor.
Ruangan dalam gelap, hanya diterangi oleh lampu sorot kecil yang mengarah ke etalase-etalase kaca. Udara terasa dingin, lembab, dan berdebu.
"Tempat ini... atmospherik banget," bisik Andika, mulai memasang tripod di sudut ruangan utama.
"Lo yakin ini ide bagus, Fer?" tanya Andika lagi, suaranya bergetar sedikit. "Tempat ini aja udah bikin merinding. Aura-nya berat."
"Justru itu yang dicari," jawab Ferdy, matanya sudah berbinar. Cahaya sore yang jingga menyelinap lewat jendela kaca patri di barat, menciptakan garis-garis cahaya yang memotong ruangan penuh debu.
Satu sorot cahaya tepat menerpa sebuah keris tua dalam etalase—bilahnya berkelok, berkelap-kelip dalam cahaya redup, seperti hidup.
Ferdy mengangkat kamera, mengatur aperture ke f/2.8. Klik. Klik. Suara rana memecah kesunyian.
Di sudut ruangan paling gelap, di balik sebuah meriam kuno peninggalan Portugis yang sudah berkarat, sesosok perempuan membuka mata.
Dasima.
Rambut hitam bergelombangnya yang panjang hingga ke pinggang seolah bergerak sendiri dalam udara diam, seperti tenggelam dalam air. Ia memakai kain kebaya Jawa kuno berwarna biru tua dengan motif parang rusak yang samar, meski tak seorang pun bisa melihatnya.
Matanya—warna madu tua dengan semburat emas di sekitar pupil—membesar. Jantungnya yang sudah lima abad tak berdetak, tiba-tiba berdebar kencang sekali.
Dhag-Dhug. Dhig-Dhug. Dhag-Dhug. Dhig-Dhug
Itu... wajahnya.
Hidungnya yang mancung dengan ujung sedikit melengkung ke bawah. Alis tebal yang bertemu di tengah ketika ia sedang fokus.
Bibir bawah yang ia gigit ketika berkonsentrasi—kebiasaan kecil yang dulu selalu membuat Dasima tersenyum. Bahkan cara ia berdiri, dengan berat badan bertumpu pada kaki kanan, sedikit condong ke depan.
Raden Wijaya.
Tapi... pakaiannya aneh. Celana pendek berwarna coklat, kaos hitam yang ketat memperlihatkan bentuk tubuhnya yang atletis, dan alat aneh di tangannya yang ia arahkan ke berbagai benda. Dan rambutnya—pendek! Raden Wijaya selalu memelihara rambutnya panjang, diikat rapi di belakang kepala.