Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permata dari Rahim Istri Setia
Di tengah kemelut yang menghantam nama baiknya di Istanbul, pikiran Adam Al-Fatih tak pernah sedetik pun lepas dari tiga permata hatinya di Jakarta. Baginya, anak-anaknya bukan sekadar penerus nama besar Al-Fatih Group, melainkan amanah langit yang harus dijaga kesuciannya. Di rumah Menteng yang asri, Khadijah tengah mengumpulkan ketiga buah hatinya di ruang perpustakaan keluarga yang dindingnya dipenuhi ribuan kitab dan buku literatur dunia. Ia ingin memastikan bahwa apa pun yang mereka dengar di sekolah atau media sosial tentang ayah mereka, tidak akan melunturkan kekaguman mereka pada sosok lelaki yang mereka panggil "Bapak".
Anak sulung mereka, Zaidan Al-Fatih, kini berusia 17 tahun. Zaidan adalah cerminan sempurna dari masa muda Adam; bertubuh jangkung, dengan rahang tegas dan tatapan mata yang dalam dan tenang. Ia adalah siswa kelas akhir di sebuah SMA internasional Islam ternama di Jakarta, namun prestasinya melampaui kurikulum sekolah. Zaidan adalah seorang hafiz sepuluh juz dan kapten tim robotika yang baru saja memenangkan kompetisi tingkat Asia. Karakternya sangat dewasa, pendiam namun observatif. Sore itu, Zaidan duduk di samping ibunya, tangannya yang kokoh menggenggam jemari Khadijah yang gemetar. Ia sudah melihat berita itu, namun tak ada keraguan sedikit pun di wajahnya.
"Ibu, Zaidan tahu Bapak sedang berjihad di sana. Orang yang tangannya selalu kasar karena bekas las di masa muda dan dahinya hitam karena sujud, tidak mungkin berkhianat pada cinta Ibu," ucap Zaidan dengan nada suara bariton yang sangat mirip dengan Adam. Kalimat itu menjadi kekuatan instan bagi Khadijah. Zaidan bukan tipe anak yang manja dengan fasilitas miliarder ayahnya; ia lebih memilih pergi ke sekolah mengendarai sepeda motor tua hasil restorasi sendiri daripada menggunakan mobil mewah.
Di sisi lain, putri kedua mereka, Maryam Al-Fatih, yang berusia 14 tahun, menunjukkan karakter yang berbeda. Maryam adalah perpaduan kelembutan Khadijah dan kecerdasan taktis Adam. Ia bersekolah di sebuah madrasah putri berasrama yang sangat ketat di pinggiran Jakarta, namun sedang pulang karena libur semester. Maryam dikenal sebagai penulis esai yang tajam dan aktivis kemanusiaan muda. Di usianya yang masih belia, ia sudah mengelola sebuah gerakan donasi buku untuk anak-anak di pelosok Indonesia. Maryam memiliki mata yang jernih dan tutur kata yang sangat santun, namun jiwanya pemberani. Ia tidak menangis saat melihat foto-foto ayahnya dipelintir media; ia justru sibuk di depan laptopnya, menulis surat terbuka untuk teman-temannya agar tidak mudah termakan hoaks.
"Bapak selalu bilang, Maryam, kebenaran itu seperti matahari. Ia mungkin tertutup awan untuk sementara, tapi ia tidak akan pernah padam. Sekarang, biarkan awan itu lewat, Bu," ujar Maryam sambil memeluk lengan ibunya. Khadijah mengelus kepala putrinya yang tertutup jilbab rapi. Ia bersyukur, di tengah gemerlap harta, anak-anaknya tidak tumbuh menjadi generasi yang rapuh.
Terakhir, ada si bungsu yang menjadi penghibur lara, Yusuf Al-Fatih, yang baru menginjak usia 8 tahun. Yusuf masih duduk di sekolah dasar Islam terpadu. Ia adalah anak yang paling manja dan paling mirip Adam dalam hal fisik—wajahnya sangat tampan dengan lesung pipit yang dalam. Yusuf mungkin belum mengerti konspirasi bisnis di Paris atau fitnah di Istanbul, namun ia merasakan kesedihan ibunya. Ia membawakan segelas air putih dan sekuntum bunga melati yang ia petik dari taman depan untuk Khadijah.
"Ibu jangan sedih, nanti kalau Yusuf sudah besar dan jadi CEO seperti Bapak, Yusuf akan belikan pedang untuk jaga Ibu dan Bapak dari orang jahat," celetuk Yusuf dengan polosnya, membuat tawa kecil akhirnya pecah dari bibir Khadijah di tengah isak tangisnya.
Zaidan, Maryam, dan Yusuf adalah alasan mengapa Adam Al-Fatih begitu menjaga integritasnya. Di sekolah, mereka dikenal bukan karena uang saku yang banyak, melainkan karena kesahajaan mereka. Adam selalu menanamkan bahwa sekolah adalah tempat menimba ilmu, bukan tempat pamer kekayaan. Zaidan bahkan sering terlihat membantu petugas kebersihan sekolah setelah jam pelajaran usai, sebuah kebiasaan yang ia pelajari dari ayahnya yang selalu menghargai kerja keras orang kecil.
Sore itu, Khadijah mengajak mereka salat Maghrib berjemaah di musala rumah. Zaidan maju menjadi imam, menggantikan posisi ayahnya. Suara Zaidan saat melantunkan Surah Ar-Rahman begitu merdu, menggetarkan setiap sudut ruangan dan menenangkan jiwa-jiwa yang sedang gundah. Khadijah merasa bahwa meskipun suaminya berada ribuan mil jauhnya dan sedang dikelilingi wanita-wanita cantik serta fitnah yang kejam, ia telah berhasil membangun "benteng" yang sesungguhnya di rumah ini.
Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang Menteng. Seorang pengacara dari firma hukum ternama turun membawa dokumen yang harus ditandatangani Khadijah sebagai komisaris perusahaan. Dokumen itu berisi klausul darurat tentang pengalihan aset jika terjadi sesuatu pada Adam di luar negeri. Zaidan melihat dokumen itu dan menyadari bahwa ancaman terhadap ayahnya bukan hanya sekadar fitnah di media, melainkan ancaman fisik dan finansial yang sangat nyata.
"Ibu, jangan tanda tangani apa pun tanpa seizin Bapak. Zaidan merasa ada yang tidak beres dengan orang-orang kantor ini," bisik Zaidan tajam, menunjukkan insting bisnisnya yang mulai terasah. Ia berdiri di depan pintu, menghalangi sang pengacara masuk dengan tatapan yang seolah berkata bahwa rumah ini adalah wilayah kedaulatan yang tak boleh diganggu.
Di Istanbul, Adam yang sedang memantau kondisi rumahnya melalui CCTV tersembunyi, melihat pemandangan di lobi rumahnya melalui layar ponsel. Ia meneteskan air mata haru. Ia melihat Zaidan yang berdiri gagah melindungi ibunya, Maryam yang tenang, dan Yusuf yang polos. Ia sadar bahwa ia harus segera menyelesaikan badai di Istanbul ini demi mereka. Ia tidak boleh kalah oleh permainan kotor musuh-musuhnya.
"Khadijah, anak-anakku... tunggu Bapak pulang. Bapak akan membawa kebenaran sebagai oleh-oleh terindah untuk kalian," bisik Adam pada layar ponselnya yang menampilkan wajah anak-anaknya yang luar biasa.
Malam itu di Menteng, keluarga Al-Fatih tidak tidur dalam kemewahan yang tenang, melainkan dalam penjagaan doa-doa yang paling khusyuk. Mereka adalah bukti bahwa didikan agama dan kasih sayang yang tulus bisa menciptakan anak-anak yang kuat, bahkan saat ayah mereka sedang diuji di ujung dunia.