NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Harga Sebuah Pilihan

Hujan turun deras sejak sore, seolah kota sengaja menahan napas sebelum sesuatu runtuh.

Alya berdiri di depan jendela ruang tamu rumah kecilnya, memandangi air yang menetes dari atap seng yang mulai berkarat. Bau lembap bercampur aroma obat dari kamar ibunya menyatu dalam udara yang terasa berat.

Telepon di tangannya bergetar lagi.

Nomor tak dikenal.

Untuk ketiga kalinya hari ini.

Ia menarik napas pelan sebelum mengangkatnya.

“Halo?”

“Saudari Alya Pramesti?” Suara pria di seberang terdengar datar dan tanpa emosi.

“Iya, saya sendiri.”

“Kami menghubungi Anda terkait tunggakan pinjaman atas nama Bapak Rudi Pramesti. Total yang harus dibayarkan sebesar satu miliar dua ratus juta rupiah. Jika dalam tujuh hari tidak ada pelunasan, proses penyitaan aset akan dilakukan.”

Tangan Alya mencengkeram ponsel lebih erat.

“Rumah itu atas nama ibu saya,” katanya, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.

“Secara hukum, rumah tersebut termasuk dalam jaminan tidak langsung. Kami sudah mengirimkan surat resmi.”

Sambungan terputus tanpa basa-basi.

Alya menurunkan ponsel perlahan. Dadanya sesak, tapi wajahnya tetap tenang. Ia sudah terlalu sering menerima telepon seperti ini untuk bisa panik di luar kendali.

Namun angka satu miliar dua ratus juta tetap terdengar seperti vonis.

Dari kamar, terdengar batuk pelan.

Alya segera melangkah masuk.

Ibunya terbaring lemah, selimut tipis menutupi tubuh yang semakin kurus. Wajah wanita itu pucat, tapi tetap tersenyum saat melihat putrinya.

“Telepon lagi?” tanya sang ibu lembut.

Alya menggeleng pelan. “Cuma salah sambung.”

Ia tidak ingin ibunya tahu keadaan sebenarnya. Penyakit jantung yang diderita wanita itu sudah cukup berat tanpa harus dibebani rasa bersalah atas utang yang dibuat ayahnya sebelum menghilang dua tahun lalu.

Dua tahun.

Dan tak pernah kembali.

Alya duduk di tepi ranjang, menggenggam tangan ibunya yang dingin.

“Ibu istirahat saja. Besok aku ada wawancara kerja,” ucapnya pelan.

“Kamu sudah capek, Nak. Jangan terlalu memaksakan diri.”

Alya tersenyum tipis. “Aku kuat.”

Kalimat itu lebih seperti janji pada dirinya sendiri.

Keesokan paginya, hujan sudah berhenti, menyisakan udara dingin yang menusuk kulit.

Alya berdiri di depan gedung pencakar langit dengan logo besar berwarna perak yang berkilau diterpa matahari pagi.

WIJAYA GROUP

Ia menelan ludah.

Ia tidak pernah melamar pekerjaan di sini.

Namun kemarin, sebuah email masuk secara tiba-tiba. Undangan wawancara. Tanpa ia kirim lamaran.

Awalnya ia mengira itu penipuan. Sampai alamat kantor dan jadwalnya terasa terlalu resmi untuk dianggap main-main.

Resepsionis menyambutnya dengan ramah profesional.

“Silakan naik ke lantai 35. Anda sudah ditunggu.”

Alya mengangguk pelan, mencoba menyembunyikan kegugupan.

Lift terasa terlalu sunyi. Dindingnya memantulkan bayangannya sendiri — sederhana, rapi, tapi jelas tidak sekelas lingkungan gedung ini.

Ketika pintu lift terbuka, seorang sekretaris pria menyambutnya.

“Nona Alya?”

“Iya.”

“Silakan ikut saya.”

Langkahnya terasa semakin berat ketika mereka berhenti di depan pintu besar berwarna hitam mengilap.

Sekretaris itu mengetuk dua kali sebelum membuka pintu.

“Silakan masuk.”

Ruangan itu luas, minimalis, dan dingin.

Di balik meja kerja besar, seorang pria duduk dengan postur tegap. Jas hitamnya pas di tubuh, rambutnya tersisir rapi, dan sorot matanya tajam seperti pisau yang baru diasah.

Bima Wijaya.

Nama itu pernah ia baca di berita. CEO termuda yang memimpin Wijaya Group dalam usia belum genap tiga puluh.

Pria itu mengangkat pandangannya perlahan.

Dan untuk sepersekian detik, Alya merasa seperti sedang dinilai bukan sebagai kandidat kerja — melainkan sebagai objek keputusan.

“Duduk.”

Suaranya rendah dan tegas.

Alya duduk tanpa banyak bicara.

Tak ada senyum basa-basi.

Tak ada pertanyaan formal seperti wawancara biasa.

Bima menatapnya dalam diam beberapa saat, lalu membuka sebuah map di atas meja.

“Kondisi finansial keluarga Anda sedang buruk.”

Alya membeku.

“Maaf?”

“Utang satu miliar dua ratus juta rupiah. Ayah Anda menghilang. Ibu Anda sakit jantung.”

Darah di wajahnya seakan surut.

“Bagaimana Anda—”

“Saya tahu lebih banyak dari yang Anda kira.”

Nada suara pria itu tetap datar.

Alya menahan diri agar tidak berdiri dan pergi saat itu juga.

“Kalau ini hanya untuk mempermalukan saya, saya rasa—”

“Saya tidak punya waktu untuk mempermalukan siapa pun.”

Bima menutup map itu.

“Saya ingin menawarkan kerja sama.”

Alya terdiam.

“Kerja sama seperti apa?”

Pria itu bersandar tipis di kursinya.

“Menjadi istri saya.”

Ruangan itu terasa mendadak lebih sunyi dari sebelumnya.

Alya yakin ia salah dengar.

“Apa?”

“Pernikahan kontrak. Satu tahun. Anda akan mendapatkan pelunasan seluruh utang keluarga Anda, biaya pengobatan ibu Anda, serta kompensasi tambahan.”

Napas Alya terasa tercekat.

“Ini tidak lucu.”

“Saya tidak bercanda.”

Tatapan Bima tidak berubah sedikit pun.

“Kenapa saya?” tanya Alya akhirnya.

“Karena Anda bersih.”

“Bersih?”

“Tidak punya latar belakang skandal. Tidak punya koneksi politik. Tidak punya ambisi yang berbahaya.”

Setiap kalimat terdengar seperti analisis bisnis.

“Dan saya butuh istri untuk mempertahankan posisi saya di perusahaan.”

Alya menatap pria itu tak percaya.

“Jadi saya hanya alat?”

“Ya.”

Kejujuran itu hampir lebih menyakitkan daripada penghinaan.

“Saya tidak tertarik.”

Ia berdiri.

Namun sebelum ia mencapai pintu, suara Bima kembali terdengar.

“Rumah Anda akan disita dalam tujuh hari.”

Langkah Alya terhenti.

“Saya bisa melunasinya hari ini.”

Sunyi.

“Sebagai imbalan, Anda hanya perlu menjalankan peran sebagai istri saya di depan publik. Tidak ada kewajiban lain di luar kesepakatan tertulis.”

Alya menoleh perlahan.

“Dan setelah satu tahun?”

“Kita berpisah. Secara resmi dan bersih.”

Tidak ada nada romantis.

Tidak ada emosi.

Hanya kontrak.

Hanya angka.

Hanya kebutuhan.

Alya menatap pria itu lama.

Harga dirinya menolak.

Namun bayangan ibunya terbaring lemah di kamar sempit itu muncul tanpa bisa dicegah.

Satu miliar dua ratus juta.

Atau rumah itu hilang.

Dan mungkin ibunya juga.

“Apa jaminannya?” tanyanya pelan.

“Kontrak legal. Semua tertulis.”

Bima mendorong sebuah dokumen tipis ke arahnya.

Alya tidak langsung mengambilnya.

Ia sadar, begitu tangannya menyentuh kertas itu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

“Berapa lama saya diberi waktu untuk menjawab?”

“Dua puluh empat jam.”

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, Alya melihat sesuatu di balik sorot mata dingin itu — bukan kelembutan, bukan juga simpati.

Melainkan kebutuhan yang mendesak.

Bukan hanya dirinya yang terpojok.

Pria ini juga sedang dalam tekanan.

Alya mengangkat dagunya sedikit.

“Saya akan kembali besok.”

Bima mengangguk sekali.

“Sekretaris saya akan mengantar Anda.”

Alya melangkah keluar ruangan dengan jantung berdetak tak teratur.

Pintu tertutup di belakangnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia menyadari satu hal—

Kadang pilihan terbesar bukan tentang benar atau salah.

Melainkan tentang seberapa jauh seseorang bersedia mengorbankan dirinya demi orang yang ia cintai.

Besok, ia harus memutuskan.

Dan keputusan itu akan menentukan seluruh sisa hidupnya.

1
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!