NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Hujan dan Kartu Nama

Ada hal-hal yang tidak pernah kamu bayangkan akan kamu alami di hari Senin.

Misalnya — kehilangan tunangan dan sahabat dalam waktu yang bersamaan, di ruangan yang sama, dengan posisi yang tidak perlu aku deskripsikan lebih jauh karena sudah cukup menyakitkan untuk diingat.

Aku berdiri di depan pintu kantor yang masih setengah terbuka selama mungkin tiga detik penuh. Tiga detik yang terasa seperti tiga tahun. Otakku memproses gambar di depannya dengan sangat lambat — seperti koneksi internet warnet di tahun 2009 yang memuat halaman web terlalu berat.

Bagas. Tunanganku. Di atas sofa ruang kerja pribadinya.

Dengan Tiara. Sahabatku sejak SMA.

Kemeja Bagas tergantung di sandaran kursi. Sepatu hak Tiara ada di dekat pintu. Dan keduanya — keduanya bahkan belum sadar ada yang membuka pintu itu.

Aku menutupnya pelan.

Bukan membanting. Bukan berteriak. Bukan melempar apapun yang ada di dekatku.

Aku menutupnya pelan, berbalik, dan berjalan keluar kantor dengan langkah yang sangat teratur — melewati meja resepsionis, melewati ruang rapat yang kacanya transparan, melewati printer yang selalu macet di lantai tiga — sampai aku keluar dari pintu gedung dan langit langsung menumpahkan semua isinya ke atas kepalaku.

Jakarta dan hujannya. Tidak pernah salah waktu.

Aku tidak punya payung. Dompetku hampir kosong karena tadi pagi aku mentransfer sisa tabungan bulan ini untuk cicilan yang sudah telat dua bulan. Ponselku ada di tangan dengan layar yang masih menampilkan chat terakhir dari Tiara — "Ri, nanti makan siang bareng ya, aku kangen!" — dikirim pukul 09.47 pagi ini.

Aku menghapus chat itu.

Lalu aku berjalan. Tidak ke mana-mana yang jelas. Hanya berjalan karena berdiri diam terasa lebih menyiksa.

Warung kopi itu namanya tidak terlalu penting. Yang penting dia buka, tidak terlalu ramai, dan harga kopinya masih dalam batas kemampuan dompetku yang menyedihkan. Aku menemukannya di gang kecil antara dua gedung besar — tempat yang sepertinya sengaja ada untuk orang-orang yang sedang tidak ingin ditemukan.

Aku masuk dengan kondisi rambut basah, blazer yang menempel tidak nyaman di badan, dan ekspresi yang mungkin terlihat seperti orang baru selesai berperang. Ibu pemilik warung menatapku sebentar tapi tidak bertanya apa-apa. Dia langsung membuatkan kopi susu panas tanpa aku pesan — mungkin sudah hafal wajah jenis manusia seperti aku.

Aku duduk di sudut paling belakang. Meja kayu kecil dengan satu kursi plastik menghadap tembok. Sempurna.

Kopi itu tiba. Aku memeluk gelasnya dengan kedua tangan, membiarkan panasnya menjalar ke telapak tangan, dan berpikir tentang hal-hal yang seharusnya tidak aku pikirkan dalam urutan ini:

Pertama — aku baru saja kehilangan tunangan.

Kedua — aku baru saja kehilangan sahabat.

Ketiga — karena Bagas adalah bosnya sekaligus yang menandatangani kontrak freelance-ku, kemungkinan besar aku baru saja kehilangan sumber penghasilan utama juga.

Keempat — cicilan utang almarhum Bapak masih ada tujuh belas bulan lagi.

Kelima — aku basah kuyup dan tidak punya uang cukup untuk naik taksi pulang.

Aku menyesap kopi itu pelan. Pahit. Pas.

Hujan di luar semakin keras. Suara derasnya memenuhi warung kecil itu seperti white noise yang mahal — persis yang dijual di aplikasi meditasi seharga delapan puluh ribu per bulan yang selalu aku batalkan subscribe-nya karena tidak mampu.

Dan aku tidak menangis.

Itu yang paling aneh. Aku menunggu — menunggu mataku panas, menunggu tenggorokanku tercekat, menunggu apapun yang biasanya datang setelah momen seperti ini. Tapi yang ada hanya rasa lelah yang sangat besar dan keinginan untuk duduk di sini sampai hujan selesai atau sampai aku punya rencana yang masuk akal, mana yang lebih dulu.

Itulah mengapa aku tidak langsung sadar ada seseorang yang duduk di hadapanku.

Aku mengangkat mata.

Pria itu duduk di kursi seberang mejaku dengan cara yang sangat tidak sesuai dengan konteks warung kopi ini. Jasnya hitam, potongannya terlalu rapi untuk tempat seperti ini. Rambutnya tersisir sempurna meski di luar sedang hujan badai — entah dia tidak terkena hujan atau rambutnya memang tidak berani berantakan. Wajahnya... aku tidak akan berbohong. Wajahnya sangat tidak adil untuk dimiliki seseorang yang juga tampaknya punya segalanya dari cara dia duduk.

Tapi yang paling mengganggu adalah matanya.

Dia menatapku seperti orang yang sedang membaca laporan keuangan. Dingin, sistematis, dan seperti sudah sampai pada kesimpulan sebelum aku sempat berkata apa-apa.

"Ini meja kosong," kataku. Bukan karena warungnya penuh — jelas tidak, ada empat meja lain yang kosong. Tapi aku tidak dalam suasana hati untuk berbasa-basi dengan orang asing berbaju mahal.

"Aku tahu," jawabnya. Suaranya rendah. Datar. Seperti seseorang yang sudah lama tidak merasa perlu menjelaskan dirinya kepada siapapun.

Dia tidak bergerak.

Aku menatapnya. Dia menatapku balik. Ibu pemilik warung muncul sebentar, meletakkan kopi hitam di depannya tanpa ditanya, lalu pergi lagi seolah semua ini normal.

"Kamu kelihatan seperti orang yang baru kehilangan sesuatu," katanya akhirnya.

"Bukan urusanmu."

"Bukan," dia setuju dengan mudah. "Tapi aku punya tawaran yang mungkin relevan."

Aku mengerutkan kening. "Kamu tidak kenal aku."

"Ariana Dewi. Dua puluh empat tahun. Desainer grafis freelance. Kontrak terakhirmu dengan Citra Kreasi Design baru saja — atau akan segera — berakhir." Dia mengangkat cangkir kopinya, minum satu teguk, lalu meletakkannya kembali dengan presisi yang menjengkelkan. "Ayahmu meninggal dua tahun lalu meninggalkan utang yang masih kamu cicil sendirian tanpa sepengetahuan ibumu. Rumah ibumu di Depok masuk dalam daftar aset yang bisa disita jika cicilan tidak dibayar dalam empat belas hari ke depan."

Keheningan.

Hujan di luar terdengar sangat keras tiba-tiba.

"Kamu siapa?" suaraku keluar lebih pelan dari yang aku inginkan.

Dia merogoh saku jasnya dan meletakkan sebuah kartu nama di atas meja — didorong pelan ke arahku dengan satu jari telunjuk.

Revano Aldrich. CEO. Aldrich Group.

Aku menatap kartu itu. Lalu menatapnya lagi. Logo Aldrich Group — salah satu konglomerat terbesar di Indonesia, yang gedungnya bahkan punya nama sendiri di peta Jakarta — tercetak timbul di sudut kanan bawah.

"Kamu butuh uang," katanya. "Dan aku butuh istri."

Keheningan kedua. Lebih panjang dari yang pertama.

Aku meletakkan gelas kopiku pelan. "Kamu waras?"

"Sangat." Tidak ada senyum. Tidak ada tanda-tanda bahwa ini candaan. "Aku tidak punya banyak waktu untuk penjelasan malam ini. Tapi jika kamu mau mendengarkan, aku akan jelaskan semuanya besok. Jam sembilan pagi. Lantai dua puluh delapan, Aldrich Tower."

Dia berdiri. Merapikan jasnya dengan satu gerakan yang terlalu terlatih untuk terlihat natural.

"Pikirkan sampai besok," katanya. "Nomor di kartu itu aktif dua puluh empat jam."

Dan dia pergi — berjalan keluar ke arah hujan, masuk ke dalam mobil hitam yang sepertinya sudah menunggu tepat di depan gang, dan hilang dalam hitungan detik.

Aku menatap kartu nama itu di atas meja.

Lalu menatap hujan.

Lalu menatap kartu nama itu lagi.

Istri.

Kata itu terlalu besar untuk diproses bersamaan dengan semua hal lain yang sudah terjadi hari ini. Aku menyelipkan kartu itu ke dalam saku blazerku yang basah, menghabiskan sisa kopi susu yang sudah mulai dingin, dan memutuskan bahwa aku tidak akan memikirkan ini malam ini.

Aku bohong pada diri sendiri. Aku memikirkannya sepanjang malam.

— Revano —

Mobilku melaju keluar dari gang itu dalam diam.

Kenzo, sekretarisku, melirik dari kursi depan tapi tidak bertanya apa-apa. Dia sudah bekerja denganku tujuh tahun — dia tahu kapan harus bicara dan kapan cukup mengemudi.

Aku membuka laptopku. Laporan kuartal ketiga yang belum selesai aku baca menunggu di layar. Angka-angka yang sudah aku hapal tapi tetap harus aku proses ulang karena situasinya berubah setiap hari.

Tapi pikiranku tidak ke laporan itu.

Ariana Dewi.

Aku sudah membaca profilnya tiga hari lalu — tim riset mengirimkan daftar kandidat yang memenuhi kriteria, dan namanya ada di urutan pertama setelah penyaringan terakhir. Latar belakang bersih. Tidak punya koneksi ke pihak manapun yang bisa menjadi konflik kepentingan. Cukup cerdas untuk memahami situasi. Cukup mandiri untuk tidak menjadi beban.

Di atas kertas, dia sempurna untuk posisi ini.

Yang tidak ada di laporan tim riset adalah cara dia menutup pintu kantor itu tadi — aku tidak sengaja melihatnya dari lobi gedung ketika aku memastikan waktu yang tepat untuk mendekatinya. Pelan. Terlalu terkontrol untuk situasinya. Seperti orang yang sudah sangat terbiasa menyimpan sesuatu supaya tidak tumpah di tempat yang salah.

Aku menutup laptop.

Empat belas hari. Itu waktu yang tersisa sebelum situasinya benar-benar tidak bisa ditawar lagi. Dan aku sendiri tidak punya lebih dari dua minggu sebelum Kakek memaksa keputusan yang tidak ingin aku biarkan terjadi.

Dua orang dengan deadline yang sama. Secara logika, ini masuk akal.

"Kenzo."

"Ya, Pak?"

"Siapkan draft kontrak untuk besok pagi."

"Sudah selesai sejak kemarin, Pak."

Aku tidak menjawab. Di luar, Jakarta terus hujan — tidak peduli dengan apapun yang sedang direncanakan manusia di dalamnya.

Aku menatap lampu-lampu kota yang memantul di jendela mobil yang basah dan memastikan satu hal kepada diri sendiri, seperti yang selalu aku lakukan setiap kali membuat keputusan besar:

Ini hanya bisnis.

Tidak lebih dari itu.

— Selesai Bab 1 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!