Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Di Bali
"Halo, bukankah kamu pria yang waktu itu? Hmm.... Leon bukan?"
"Itu benar. Ada hal yang ingin kutanyakan. Apa kamu punya waktu luang?"
Keesokan harinya, Leon pergi ke lokasi tempat dia pernah beradu panco dengan sekumpulan orang di kampus adiknya. Alasan kedatangannya adalah untuk menemui Frank, pria dari komunitas mahasiswa Buddha Universitas Bandung.
"Tentu saja."
Kemudian Frank berbalik dan memberitahu teman-temannya yang lain.
"Hei, aku akan pergi. Kalian duluan saja tanpaku nanti!"
Keduanya pergi menuju taman terdekat tanpa keberadaan orang lain disekitar.
"Jadi apa yang ingin kamu tanyakan Leon?"
"Aku hanya penasaran dengan keberadaan kultivator lainnya. Apakah kamu tahu komunitas kultivator tertentu?"
"Tentu saja. Tapi aku tidak mengetahui lokasi keberadaan mereka. Ada suatu pulau kecil di luar sana yang dipenuhi banyak kultivator, namun mereka adalah teman-temanku. Jadi aku tidak ingin mengungkapkan lokasi keberadaan mereka."
"Tidak masalah jika kamu tidak ingin mengatakan lokasinya. Tapi suatu pulau yang dipenuhi kultivator ya... Apakah mereka seperti sekte tertentu atau sesuatu?"
"Tepat! Namun pulau itu tidak berada di negara ini. Jadi kurasa kamu tidak akan bertemu salah satu diantara anggota sekte tersebut."
"Apakah kamu dari luar negeri Frank?"
"Hahahaha, apa aku terlihat seperti orang Indonesia?"
"Tidak terlalu. Tapi sulit untuk mengetahuinya jika kamu tidak memberi tahu langsung."
Frank kemudian bertanya kepada Leon.
"Lalu apakah kamu tidak berada dalam sekte tertentu atau sesuatu seperti itu?"
"Tidak, aku hanya berlatih dengan seorang guru. Setelah guruku, kamu adalah kultivator kedua yang pernah kutemui."
"Kalau begitu kita tidak jauh berbeda. Aku hanya berlatih melalui buku yang telah diberikan seorang teman kepadaku. Jadi aku tidak tergabung dalam sebuah sekte."
"Jadi begitu ya..."
"Para kultivator umumnya bersembunyi dalam masyarakat. Jadi akan sulit untuk menemukan keberadaan mereka kecuali kamu mengungkapkan keberadaanmu sendiri. Tapi aku sarankan kamu untuk berhati-hati. Sama seperti manusia biasa, ada kultivator yang baik dan yang melakukan hal-hal buruk."
Leon mengangguk setuju mendengar saran Frank. Kemudian sebagai ungkapan terimakasih, Leon mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.
"Apakah kamu tahu apa ini?"
"Ohhh bukankah ini batu esensi qi? Itu berisi limpahan energi qi yang murni. Jika kamu menjualnya kepada para kultivator, kamu akan memperoleh banyak uang!"
Jadi dinamakan batu esensi qi ya?
"Aku akan memberikannya padamu sebagai rasa terimakasih karena sudah berbagi informasi."
"Hahahaha, aku tidak membutuhkannya. Aku tidak berniat untuk melanjutkan kultivasi dan hanya menjalani kehidupan dengan normal. Jika kamu memang ingin berterimakasih, bagaimana dengan mentraktirku makan siang? Teman-temanku tadi sudah pergi ke kantin duluan. Jadi aku tidak memiliki teman lain untuk makan siang ini."
"Baiklah jika itu yang kamu mau."
Karena ukuran kampus tidak begitu luas, Leon menghubungi Wilona dan Elisa menuju kantin yang ditentukan Frank. Kebetulan mereka bertemu di tengah jalan. Jadi keempatnya berjalan bersama-sama menuju kantin tersebut.
"Minuman apa yang kalian berdua inginkan? Aku akan memesannya."
Leon bertanya kepada para gadis.
"Aku es jeruk!"
"Kalau begitu aku sama dengan Wilona."
Leon dan Frank pergi untuk memilih makanan yang disediakan di kantin tersebut. Sementara Wilona dan Elisa membawa bekal, Leon juga membawa beberapa potong ayam goreng sebagai tambahan. Jika para gadis tidak bisa menghabiskannya, dia bisa memakannya sendiri.
"Waaah, kamu tidak segan-segan memilih yang mahal ya Frank?"
Wilona melihat sejumlah piring dan mangkuk yang di bawa Frank ke atas meja. Ada cumi saus tiram, rendang, sup ayam, dan juga capcay.
"Hahahaha, karena Leon disini sudah berbaik hati mentraktirku, aku akan memanfaatkannya sebaik mungkin!"
"Baiklah, ayo kita makan saja."
"""Selamat makan!"""
*****
Leon tiba di Bali lima hari sebelum hari pelelangan besar terjadi. Setelah pesawatnya mendarat, Leon memesan taksi untuk mengantarnya ke hotel.
"Kita sudah sampai pak."
Leon sudah lama ingin mencoba hal ini. Sebelum dia turun dari taksi, dia memberi seratus ribu sebagai tip kepada sang sopir.
"Terimakasih."
"Wah, terimakasih banyak pak. Semoga bapak menikmati waktu yang indah selama berada di Bali."
Leon tersenyum kepada sang sopir. Sopir itu cukup pintar untuk menebak Leon sebagai wisatawan. Namun jika sopir tidak menjemput Leon dari bandara dan mengantarkannya ke hotel, maka sopir itu tidak akan mengira Leon sebagai wisatawan.
Bagaimana tidak? Selain wajahnya yang tampan, Leon hanya membawa tas pinggang berisi ponsel dan dompetnya!
Kamarnya berada cukup dekat dari pantai. Jadi setelah check in, Leon berjalan menuju pantai sambil mengirup aroma asin yang ditawarkan oleh lautan.
Ada restoran di tepi pantai, yang merupakan satu bagian dari hotel. Jadi, Leon memesan minuman di tempat itu.
"Ahhh, bir bulan ini sangat nikmat."
Karena masih jam tiga sore, Leon bersantai dengan lima botol bir dingin dan porsi sayap ayam di atas meja, sambil menikmati pemandangan para gadis di pantai.
Ketika Leon sedang menikmati sepotong sayap ayam, Leon mendengar bisikan suara feminim yang ingin bergabung di mejanya. Cukup wajar, karena meja lain sudah penuh, mereka harus menggelar tikar untuk menikmati makanan di luar, atau kembali ke meja di dalam restoran.
Karena itu, dengan trik yang rapi, Leon mengalihkan matanya perlahan dari memandangi para gadis di pantai ke arah langit senja lautan.
"Halo tampan, keberatan kami bergabung di mejamu?"
"Silahkan. Minumanku akan menjadi lebih enak dengan gadis cantik seperti kalian."
Keempat gadis cantik itu terkikik mendengar rayuan gombal Leon.
"Waaah, kamu sangat hebat ya bisa minum sebanyak itu."
"Hahahaha, ini bukan apa-apa bagiku. Apakah kalian ingin minum juga? Aku akan memesannya jika kalian mau."
Leon telah menghabiskan tiga botol bir bulan, menyisakan satu yang masih tertutup, dan satu yang sedang berada di tangannya. Kandungan alkohol di dalamnya tidak terlalu tinggi. Karena Leon memiliki toleransi yang tinggi terhadap alkohol, dia bahkan tidak merasa pusing sedikitpun.
Bahkan jika dia benar-benar mabuk, dia dapat menjalankan teknik kultivasi yin-yang untuk menghilangkan perasaan mabuk tersebut!
"Bagaimana? Kita hanya memesan makanan ringan saja tadi."
"Tapi bukankah kita ingin bermain-main di pantai setelah ini?"
"Mungkin sedikit saja?"
Setelah para gadis berdiskusi, mereka setuju dengan tawaran Leon.
Ternyata keempatnya baru lulus dari sekolah. Untuk merayakan kelulusan, mereka melakukan perjalanan ke Bali dan bersenang-senang. Leon terkejut ketika mendengar keempatnya tidur di hotel yang sama dengannya. Meskipun Leon mengambil ruangan terbaik, harga kamar lain juga cukup untuk menguras isi dompet pegawai biasa! Sepertinya mereka berasal dari keluarga yang kaya.
"Halo teman-teman, ingin bermain voli pantai?"
Ketika Leon dan para gadis berbincang-bincang, tiga pria mendekati meja sambil membawa bola voli pantai. Karena para gadis sudah menganggap Leon sebagai kakak yang baik, mereka memandang Leon untuk meminta saran.
"Aku tidak masalah. Aku sudah ingin menggerakkan tubuhku sejak tadi."
Leon mengangguk menyetujui ajakan bermain voli pantai.
"Awww, tapi aku tidak jago main voli..."
"Hahahaha tenang saja, ini bukan perlombaan. Kita hanya bermain-main!"
Gadis lain menarik gadis yang cemberut di sampingnya.
Setelah puas bermain voli, Leon bertanya kepada tiga pria itu apakah mereka jago berselancar. Meskipun mereka warga lokal, hanya satu yang hebat dalam melakukannya.
"Kalau begitu ayo kita melakukannya. Aku akan menyewa papan untuk semua orang!"
"""Hore!"""
Tiga pria itu mulai mengajari Leon dan para gadis. Meskipun dua lainnya tidak begitu hebat, tentu mereka tetap dapat bermain. Arahan ketiganya tidak sebegitu detail dibandingkan dengan peselancar yang biasa disewa untuk mengajar. Namun sambil mempraktekkannya di pantai, Leon dan yang lain akhirnya mulai terbiasa.
"Ombaknya akan datang, siap-siap!"
Ketika ombak yang cukup besar mulai bergulung, semua orang mulai mempersiapkan diri.
"Ahhh...."
"Itu sulit!"
Dua gadis langsung terjatuh begitu menaiki papan. Sementara itu, satu gadis setidaknya berhasil bertahan selama dua detik dalam terjangan ombak. Gadis terakhir sudah mulai terbiasa dan bisa menaiki ombak cukup jauh.
Namun disisi lain, Leon terlihat seolah-olah dia adalah seorang profesional!
"Kamu sangat hebat kawan. Apakah ini benar-benar pertama kalinya kamu bermain?"
Pria yang paling jago itu sungguh bingung dengan kemampuan Leon beradaptasi. Memang terlihat di awal bahwa Leon tidak bisa bermain dengan baik, seperti seorang pemula pada umumnya. Namun hanya dalam beberapa kali percobaan, bagaimana kemampuan bermainnya jadi lebih mahir dibandingkan dua teman bodohnya ini?
"Hahahaha ya. Ini sungguh seru!"
"Leon sungguh tidak adil!"
Salah satu gadis berteriak dari kejauhan. Dia adalah salah satu dari dua gadis yang langsung terjatuh tadi.
"Belajarlah lebih giat untuk menyamai kemampuanku. Hahahaha...."
Pada pukul lima, mereka semua berkumpul untuk beristirahat.
"Apa yang enak untuk dimakan sekarang?"
Leon bertanya khususnya kepada tiga pria yang merupakan warga lokal.
"Bagaimana kalau kita mengadakan barbeque?"
"Aku mau."
"Mmm, sepertinya seru."
"Kalau begitu ayo kita lakukan. Aku akan membayar semuanya."
"Hore... Leon yang terbaik!"