NovelToon NovelToon
Universe Network

Universe Network

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Zombie / Fantasi
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: Candra S

Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Camping

Sang manager restoran tiba tak lama kemudian. Sebagai manager kelas atas di restoran mewah seperti ini, wajar baginya untuk berpengetahuan luas dan mengenali salah satu pemilik tidak hanya restoran ini, melainkan juga tiga gedung dibawahnya.

"Selamat siang pak Robenyo. Apa ada yang bisa saya bantu?"

Yuni ternganga melihat sikap aneh sang manager. Ada apa dengan manager ini? Dialah yang membutuhkan bantuan. Meski begitu, mengapa manager ini bersikap sangat sopan terhadap pria itu?

"Manager, siapa nama ayah gadis ini?"

Robenyo menunjuk Yuni dengan dagunya.

"Dia adalah Yuni pak Robenyo. Anak perempuan pak Gilbert."

"Oho, jadi Gilbert ya. Berarti kamu benar-benar tidak bohong nak."

Setelah itu Robenyo mengeluarkan ponselnya dan mencari kontak Gilbert.

Merasa ada sesuatu yang aneh, Yuni berjalan mendekati manager dan diam-diam bertanya.

"Pak manager, siapa orang itu?"

Namun sebelum manager membalas pertanyaan Yuni, suara menggelegar Robenyo yang dipenuhi amarah menghentikan semua suara di restoran.

"Gilbert, datang ke bagian atas restoran kapal terbang, sekarang juga!"

"Hahahaha, kenapa kamu begitu kesal? Apakah dia salah satu bawahanmu?"

"Benar. Aku sangat kesal melihat dia memiliki putri yang manja seperti gadis ini."

Percakapan Robenyo dan Leon membuat Yuni emosi. Kemudian setelah Yuni memikirkan lebih dalam kalimat mereka, itu membuatnya menjadi cemas. Bawahan? Ayahku adalah bawahan pria ini?

Butuh waktu cukup lama untuk Gilbert datang ke restoran. Dia bingung mengapa pak Robenyo terdengar marah. Apakah dia melakukan sesuatu yang salah dalam pekerjaannya?

Ketika Gilbert tiba di restoran, dia melihat Robenyo di suatu meja dan segera tersenyum memasang ekspresi menghisap atasan.

"Selamat siang pak Robenyo. Ada yang bisa saya bantu?"

"Lihat siapa gadis itu!"

Robenyo menunjuk Yuni yang sudah bersembunyi di balik tubuh temannya sejak tadi. Melihat putrinya ternyata ada disini, Gilbert menjadi bingung.

Kemudian Gilbert memikirkan sesuatu dan menjadi cukup cemas. Mungkinkah putrinya bertindak sombong menggunakan namanya dan membuat masalah dengan bos ayahnya seperti yang terjadi dalam drama-drama cina?

"Di-dia adalah anak perempuan saya pak Robenyo."

Robenyo lalu berteriak kepada Gilbert dengan suara yang dipenuhi amarah.

"Bagaimana caramu mendidik seorang anak? Anakmu yang manja menghina adik perempuan dan pacar dari sahabat baikku dengan kata-kata yang tidak sopan! Bagaimana sikapmu terhadap hal ini?"

"Ma-maafkan saya pak Robenyo."

Kemudian Gilbert membalikkan tubuhnya. Ekspresi berangsur-angsur memburuk. Dia berteriak ke arah putrinya itu.

"Yuni, kemari!"

Secara perlahan, dengan ekspresi ketakutan, Yuni berjalan mendekati ayahnya yang tegas itu.

"Apa hinaan yang kamu lontarkan terhadap kenalan pak Robenyo?"

"A-aku menyebut mereka sebagai lacur pa."

Plak!!!

Tamparan kedua mengenai Yuni. Membuatnya terjatuh untuk yang kedua kali.

"Siapa yang mengajarimu untuk bersikap tidak sopan seperti itu! Selama enam bulan ini, aku akan menyita mobilmu dan mengurangi uang bulananmu. Paham? Minta maaf kepada orang yang kamu hina tadi!"

Mendengar amarah ayahnya, Yuni yang sudah menangis sejak tadi perlahan berdiri. Kemudian dia meminta maaf kepada Wilona dan Elisa.

Gilbert kemudian berbalik dan meminta maaf kepada Robenyo.

"Maafkan saya karena tidak mendidik putri saya dengan baik, pak Robenyo. Saya akan memastikan putri saya tidak melakukan hal seperti itu lagi."

"Pastikan itu terjadi! Jangan manjakan anakmu terlalu jauh, atau dia akan menjadi benar-benar sombong."

"Saya akan mengingatnya, pak Robenyo."

Kemudian Gilbert menarik anaknya menuruni restoran. Tentu saja diikuti enam orang dari anak-anak geng kaya sebelumnya.

"Yahh, karena kita sudah mengganggu suasana di restoran, bagaimana jika kita pergi ke tempat lain?"

"Hahahaha, sepertinya kamu sangat menikmati situasi tadi pak Robenyo."

Leon tertawa melihat ekspresi puas di wajah Robenyo.

"Benar. Seperti yang terjadi di novel-novel cina bukan? Itu cukup seru."

Pengunjung di meja lain yang mendengar itu ikut tertawa mendengar percakapan mereka.

Karena Leon berkata dia sudah memiliki rencana hari ini, Leon dan para gadis akhirnya berpisah dengan kelompok Robenyo setelah mengambil kendaraan di basement.

Di rumah, Wilona menanyakan pertanyaan yang sejak tadi membuatnya penasaran.

"Kakak, bagaimana kamu mengenal bisa pak Robenyo? Bukankah tadi dia berkata bahwa kamu adalah sahabat baiknya?"

Elisa juga penasaran dengan hal ini. Dia menunjukkan ekspresi penasaran dan melihat ke arah Leon.

"Bukankah aku hebat? Aku bisa bersahabat dengan siapapun!"

Leon membusungkan dadanya dengan bangga. Melihat kakaknya berusaha menghindari pertanyaan tersebut, Wilona hanya memutar mata sementara Elisa tertawa manis.

Disisi lain di mobil yang ditumpangi Robenyo, Joe, asisten, dan pengawal yang memegang kendali supir, Robenyo bertanya kepada Joe dengan penasaran.

"Joe, apakah Leon lebih kuat darimu?"

"Tentu saja pak. Dia bahkan menunjukkan kemudahan padaku ketika bersalaman sebelumnya."

"Kalau begitu apakah dia sudah bisa menahan peluru seperti yang pernah kamu ceritakan itu?"

"Aku tidak yakin. Tapi jika dia benar-benar bisa melakukannya, maka dia akan menjadi seorang kultivator jenius."

"Sungguh pertemuan yang baik. Oh benar, Leon memberikan ini padaku."

Dari balik saku jasnya, Robenyo mengeluarkan tabung ramuan pemulihan kecil. Kemudian dia menjelaskan apa yang telah diberitahukan Leon kepadanya, lalu memberikannya kepada Joe.

"Simpan ini dengan hati-hati Joe. Jika aku terkena racun mematikan atau situasi berbahaya lainnya, tuangkan ramuan itu ke dalam mulutku."

"Oke pak Robenyo."

*****

"Ahhh....."

Kaki Elisa terpeleset pada tumpuan dan terjatuh di arena panjat tebing. Tali pengaman menahan tubuh Elisa yang telah gagal, dan tubuhnya turun secara perlahan-lahan.

Sesuai janjinya kemarin, Leon membawa Elisa ke sebuah lokasi camping di Bandung. Keduanya menyewa dua buah tenda yang berdiri berdampingan. Karena ada banyak hiburan di tempat itu, Leon dan Elisa mencoba berbagai permainan satu demi satu.

"Hahahaha, kamu kurang gesit."

Elisa menggembungkan pipinya. Membuatnya semakin terlihat imut.

"Kalau begitu sekarang giliran kak Leon!"

"Oke. Lihat saja."

Sesuai harapan, Leon dengan mudah memanjat dinding arena tersebut. Kemudian dia menuruni arena, berjalan ke arah Elisa sambil membusungkan dadanya.

"Hebat bukan?"

"Itu karena aku adalah perempuan!"

"Iya-iya..."

Leon menepuk-nepuk kepala Elisa, kemudian dia melanjutkan.

"Ayo kita ke sana."

Karena Elisa sudah terlihat cukup lelah mencoba berbagai permainan, Leon mengajak Elisa ke sebuah pondok dan memesan minuman serta makanan ringan.

"Pemandangannya indah."

Elisa melihat ke kejauhan dan menikmati angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.

"Benar. Oh iya, mari kita bernyanyi bersama seperti waktu itu. Aku akan meminjam sebuah gitar."

"Ayo kak Leon."

Leon berjalan ke warung-warung dan menemukan sebuah gitar. Meskipun itu tidak disewakan, dia memberikan sedikit uang kepada pemilik warung sebagai ungkapan terima kasih.

Saying i love you

Is not the words

I want to hear from you...

...

...

...

...

Keduanya bernyanyi bersama-sama sambil menikmati pemandangan sunset. Pengunjung disekitar juga terlihat menikmati lagu karena suara mereka tidak menggangu telinga. Terutama suara Elisa yang benar-benar murni dan merdu.

Setelah matahari terbenam, Leon meletakkan gitar dan bertanya kepada Elisa.

"Hah... Itu sungguh menyenangkan. Aku sudah cukup lapar, bagaimana denganmu?"

"Aku juga kak Leon."

"Kalau begitu aku akan mengembalikan gitar ini dulu."

"Mm..."

Setelah Leon mengembalikan gitar, Leon menggenggam tangan Elisa dan membawanya ke restoran terdekat. Restoran itu cukup ramai karena banyak pengunjung yang datang ke lokasi camping ini pada akhir pekan. Setelah keduanya menemukan meja yang kosong, Leon melihat menu dan memesan sate domba, sementara itu Elisa memesan soto betawi.

"Mmm... Ini coba, satenya sangat enak."

Leon mengambil tusuk sate dan mengarahkannya ke mulut Elisa. Elisa menarik helaian rambut ke belakang telinga, kemudian dia membuka mulutnya dan menarik sebagian daging dari tusuk sate yang disodorkan Leon. Karena dagingnya bagus, Elisa tidak kesulitan melepaskan daging itu dari tusuk sate.

"Bagaimana, enak kan?"

"Iya. Dagingnya lembut dan enak. Ini kak Leon juga coba soto betawinya."

Elisa menyendok daging dan sayuran kemudian mengarahkan ke mulut Leon.

"Rasanya sangat gurih, tidak kalah dari yang di jakarta. Tuangkan kuahnya sedikit ke nasiku ya?"

"Iya kak Leon."

Keduanya saling berbagi hidangan dan menikmati makanan yang disajikan.

Setelah menikmati makan malam, mereka duduk bersama di depan tenda Elisa. Tikar kecil telah dibentangkan, dan Elisa bersandar pada bahu kiri Leon sambil menggenggam tangannya. Mereka menikmati kehangatan api unggun kecil yang telah dibuat Leon tidak jauh di depan mereka.

Keduanya sudah tahu perasaan satu sama lain. Namun karena Leon masih belum menyatakan perasaannya, Elisa tidak menekankan status hubungan mereka dan bersedia menunggu Leon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!