Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29: Taring Sang Naga
Angin pagi di bawah Bukit Harimau mendadak berhenti berembus, seolah alam sedang menahan napas menyaksikan drama maut yang akan segera memuncak.
Mayat-mayat pengikut Partai Tengkorak Hitam dan Serigala Merah masih berserakan, membasahi rumput dengan darah yang masih hangat.
Di tengah lingkaran kesunyian itu, Tetua Tian Kin berdiri dengan angkuh, menggenggam Tombak Dewa Bulan Sabit yang memancarkan pendar perak kebiruan yang dingin.
“Siapa dulu yang ingin mencicipi dinginnya perak bulan ini?” ejeknya pelan, matanya menyapu ketiga lawannya.
Sin Yin melangkah maju tanpa suara. Pedang tipisnya bergetar pelan di tangan kanan, seolah haus akan pertarungan.
“Jangan ceroboh, Sin Yin. Hawa tombak itu mampu memengaruhi aliran darah,” ujar Wang Long memperingatkan.
“Aku hanya ingin mengukur sedalam apa lumpur yang menelan harga diri tetua ini,” balas Sin Yin dingin tanpa menoleh.
Tian Kin tertawa pendek, sebuah tawa yang sarat akan kebencian. “Baik. Bidadari Maut lebih dulu. Mari kita lihat apakah tarianmu seindah namamu!”
Sring!
Pedang Sin Yin melesat keluar dari sarungnya, menciptakan garis cahaya putih yang membelah kabut fajar. Langkahnya begitu ringan, hampir tak meninggalkan jejak di atas rumput yang basah.
Jurus Pertama: Bayangan Mengurai Kabut.
Dalam satu hentakan kaki, tubuh Sin Yin seolah terbelah menjadi tiga. Tiga bayangan pedang menyambar serentak dari arah kiri, kanan, dan atas secara presisi.
Tian Kin tetap bergeming. Ia memutar tombaknya dengan satu tangan, menciptakan pusaran energi berbentuk lingkaran sabit.
Tang! Tang! Tang!
Tiga bayangan pedang itu terpantul saat beradu dengan dinding hawa murni tombak.
Sin Yin tidak menyerah. Ia berputar di udara, memanfaatkan momentum pantulan untuk melakukan tusukan lurus yang mengincar titik jantung lawan.
Namun, Tian Kin merendahkan tubuhnya dan menyodorkan tombak seperti naga perak yang menukik tajam.
Clang!
Percikan bunga api meledak di antara keduanya.
“Cepat! Kau memang pantas menyandang gelar itu,” puji Tian Kin sembari tersenyum miring. “Tapi seranganmu terlalu ringan untuk menembus takdir!”
Pada jurus ketujuh, Tian Kin mengubah pola serangannya. Ia menghantamkan ujung tumpul tombak ke tanah hingga debu dan kerikil terangkat ke udara.
Secepat kilat, mata sabit peraknya menyapu rendah ke arah kaki Sin Yin. Bidadari Maut itu melompat tinggi untuk menghindar, namun di sinilah jebakannya.
Tian Kin memutar gagang tombaknya di udara dan menghantamkan bagian tumpulnya tepat ke bahu Sin Yin yang sedang melayang.
Duk!
Tubuh Sin Yin terpental mundur tiga langkah. Ia mendarat dengan posisi berlutut, napasnya sedikit berat dan bahu kirinya bergetar menahan perih. Belum genap sepuluh jurus, ia sudah merasakan betapa beratnya tenaga dalam sang pengkhianat.
Wang Long menatap tajam, tangannya mengepal. “Sin Yin?”
“Aku... belum mati,” balasnya pelan, matanya masih menatap Tian Kin dengan penuh tantangan.
Yue Liang Shu maju tanpa sepatah kata pun. Wajahnya yang biasa kaku kini tampak sangat tenang, seolah ia sudah menerima apa pun akhir dari hari ini.
“Aku pernah hidup lama dalam kegelapan yang sesungguhnya. Kau hanyalah pengecut yang baru saja mencoba bersembunyi di baliknya,” ucap Yue Liang Shu datar.
Pedangnya bergerak lebih langsung dan mematikan. Tak seanggun teknik Sin Yin, namun setiap sabetannya penuh dengan pengalaman bertempur hidup dan mati. Jurus demi jurus dilontarkan dengan kecepatan tinggi, mengincar titik-titik saraf yang mematikan.
Tian Kin menyipitkan mata, mulai serius. “Teknik kotor pembunuh bayaran... sungguh menjijikkan.”
Dua puluh jurus berlalu dalam waktu singkat. Pertarungan berlangsung makin keras. Tanah di bawah mereka mulai terbelah oleh tebasan tombak, dan batu-batu besar di sekitar mereka retak akibat benturan energi. Yue Liang Shu berhasil menemukan celah kecil dan menggores lengan Tian Kin, meski hanya tipis.
Namun, amarah Tian Kin memuncak. Ia memutar tombaknya dengan dua tangan, mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi.
“Lengkung Bulan Menghancurkan Gunung!”
Blaaarr!
Gelombang tenaga berwarna biru perak menghantam dada Yue Liang Shu. Darah segar muncrat dari bibirnya. Tubuhnya terpental jauh dan menghantam sebuah batu besar hingga batu itu hancur berantakan.
Yue Liang Shu jatuh berlutut, napasnya kacau, dan tulang rusuknya terasa patah.
“Masih ingin bicara soal menebus dosa di hadapan maut?” sindir Tian Kin dingin. Ia mengangkat tombaknya tinggi-tinggi, ujung sabit tajam itu mengarah tepat ke leher Yue Liang Shu. “Orang murtad sepertimu tidak layak melihat matahari esok hari.”
Sin Yin mencoba bangkit meski menderita luka dalam, namun sebuah sosok tiba-tiba melesat melewati dirinya.
Wang Long kini berdiri tegak di hadapan Tian Kin, melindungi Yue Liang Shu. Tatapannya sangat tenang—sebuah ketenangan yang menakutkan, seperti kedalaman samudera yang tak teraba.
“Kau sudah cukup bermain-main dengan nyawa orang lain, Tetua.”
Tian Kin tertawa terbahak-bahak, tawanya bergema di Bukit Harimau. “Akhirnya! Naga kecil yang malang ini menunjukkan taringnya!”
Tanpa peringatan, Tian Kin menusukkan tombaknya sekuat tenaga ke dada Wang Long. Namun, pemuda itu tidak menghindar. Ia membiarkan ujung tajam itu menghantam dadanya.
Clang!
Bunyi nyaring logam membentur baja terdengar sangat jelas. Tian Kin terbelalak. Tombaknya tertahan oleh tubuh Wang Long, seolah ia baru saja menusuk gunung besi.
“Ilmu kebal?! Bagaimana mungkin?!”
Wang Long hanya menggeser kakinya satu langkah ke depan. “Ini adalah Tiga Puluh Jurus Dasar Naga Tanah. Sederhana, namun mematikan bagi mereka yang congkak.”
Wang Long mulai bergerak. Jurus-jurusnya terlihat sangat mendasar. Lurus, tanpa hiasan bunga silat yang indah, namun setiap langkahnya mengandung tekanan yang luar biasa berat, seolah ia membawa beban seluruh gunung di pundaknya.
Jurus Pertama: Telapak Menekan Bumi.
Tian Kin mencoba menangkis, namun tangannya bergetar hebat menerima benturan tenaga itu.
Jurus Kedua: Siku Mematahkan Akar.
Tombak beradu dengan lengan Wang Long yang sekeras karang, namun senjata itu sama sekali tak sanggup meninggalkan luka.
Jurus demi jurus mengalir. Pada jurus kedua puluh lima, tanah di bawah kaki mereka mulai retak membentuk lingkaran sempurna akibat tekanan hawa murni Wang Long. Tian Kin mulai panik, serangannya menjadi liar dan tak beraturan.
Hingga pada jurus ketiga puluh, Tian Kin berteriak histeris, mengerahkan sisa seluruh tenaga dalamnya ke arah mata tombak.
“Bulan Sabit Meminum Darah!”
Sabit perak itu berkilau menyilaukan mata, menghantam tepat ke ulu hati Wang Long dengan dentuman yang menggelegar.
DUAARR!
Debu dan tanah membumbung tinggi menutupi pandangan. Sin Yin menahan napasnya, jantungnya berdegup kencang. Yue Liang Shu menatap dengan mata nanar. Saat debu perlahan turun, sosok Wang Long masih berdiri di sana. Tak bergeming. Tanpa goresan sedikit pun di kulitnya.
Tombak pusaka itu... benar-benar tak mampu menembus perlindungan ilmu pewaris Pedang Naga Sembilan Langit.
Tian Kin gemetar hebat, seluruh tubuhnya berkeringat dingin. “Mustahil... ini ilmu setan!”
Wang Long mengangkat telapak tangannya perlahan, aura emas mulai berpendar dari tubuhnya. “Sekarang, giliranku.”
Aura emas itu tidak meledak secara liar, melainkan memadat dengan sangat berat. Langit seolah meredup sejenak saat Wang Long merapal jurusnya.
“Naga Langit Mengitari Awan.”
Di belakang tubuh Wang Long, sesosok bayangan naga emas raksasa muncul, berputar perlahan mengelilingi dirinya. Sin Yin berbisik dengan suara lirih yang gemetar, “Tingkat lima... dia sudah mencapai tingkat lima Tenaga Naga Langit.”
Wang Long hanya menggunakan separuh tenaganya. Telapak tangannya mendorong ke depan dengan gerakan yang sangat lambat, namun tak mungkin dihindari.
Plakk!
Telapak itu menyentuh lembut dada Tian Kin. Tak ada ledakan besar yang menghancurkan tubuh, hanya suara napas yang terhenti seketika. Namun di dalam tubuh Tian Kin, gelombang tenaga naga menyusup ganas ke dalam jalur meridiannya, menghancurkan inti tenaga dalamnya hingga menjadi debu dan memutus akar kekuatannya selamanya.
Tian Kin menjerit melengking. “TIDAAAK—!”
Tombak Dewa Bulan Sabit terlepas dari tangannya, jatuh berdenting ke tanah. Aura perkasa yang tadinya menyelimuti sang tetua lenyap seketika seperti asap yang ditiup badai. Ia roboh berlutut, tubuhnya mendadak tampak sangat renta dan ringkih.
“Aku... aku tidak bisa merasakan... tenaga dalamku... semuanya hilang!” rintihnya dengan tangan gemetar.
Wang Long berdiri diam di depannya, menatap dengan iba yang dingin. “Aku tidak membunuhmu, Tian Kin.”
“Kenapa...? Kenapa kau tidak menghabisiku saja?!”
“Karena kematian terlalu mudah bagimu. Hidup sebagai orang biasa tanpa kekuatan setelah semua kejahatanmu... itulah hukuman yang paling pantas.”
Yue Liang Shu menatap pemandangan itu dengan mata berat, ada sedikit rasa lega di sana. “Nasib yang memang pantas untuk seorang pengkhianat.”
Sin Yin berjalan mendekat, menyeka sedikit keringat di dahinya. “Kau menahan diri lagi, Wang Long. Kau terlalu baik.”
Wang Long menatap matahari yang kini telah sepenuhnya terbit, menyinari lembah yang penuh darah itu. “Masih banyak rahasia yang harus kita korek darinya tentang markas pusat mereka.”
Angin pagi kembali berembus pelan. Di bawah Bukit Harimau, Tombak Dewa Bulan Sabit tergeletak tak bertuan di tanah. Tetua Tian Kin telah kehilangan segalanya—kekuatan, kehormatan, dan masa depannya.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, dunia persilatan akan mulai berbisik dengan penuh ketakutan dan rasa hormat: Sang Naga bukan lagi sekadar legenda atau dongeng pengantar tidur. Ia nyata, ia ada di sini, dan kini... ia telah menampakkan taringnya yang sesungguhnya.
Bersambung...