Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Langit di atas Gunung Lin keluarga mulai mendung sore itu. Awan hitam bergulung-gulung, seolah alam sendiri merasakan gejolak yang sedang terjadi di paviliun utama.
Berita tentang kejadian di halaman pagi tadi menyebar seperti api liar. Dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh keluarga Lin sudah tahu: Tuan Muda Sampah yang kemarin dihina habis-habisan kini membakar pohon sakura suci dan mematahkan tangan Lin Hao hanya dengan satu telapak tangan.
Di aula utama keluarga, Patriark Lin Tianhao duduk di kursi singgasana kayu hitam berukir naga sembilan kepala. Wajahnya gelap, urat di pelipisnya berdenyut. Di depannya berlutut Lin Hao—tangan kanannya dibalut kain putih yang sudah merembes darah hitam karena luka bakar dalam. Lin Mei berdiri di samping, wajahnya pucat, tapi matanya penuh amarah.
“Ceritakan lagi,” suara Lin Tianhao dingin seperti angin musim dingin. “Dari awal.”
Lin Hao menelan ludah, suaranya gemetar. “Ayah… dia… Lin Feng tiba-tiba muncul di paviliun utama. Dia bilang mau mengambil apa yang menjadi miliknya. Lalu dia… dia membakar pohon sakura Lin Mei hanya dengan setitik api. Aku menyerangnya dengan Tinju Angin Badai Langit, tapi… tapi tanganku seperti terbakar dari dalam. Tulangnya patah sebelum tinjuku menyentuh dadanya.”
Lin Tianhao menatap lengan Lin Hao yang menghitam. Luka itu bukan luka bakar biasa. Kulit di sekitarnya retak-retak seperti tanah kering yang terbakar matahari, dan di dalamnya masih terasa panas samar.
“Ini… bukan teknik keluarga kita,” gumam salah satu tetua yang berdiri di sisi aula.
Lin Mei maju selangkah. “Patriark, ini pasti ada yang salah. Lin Feng kemarin bahkan tidak bisa menyerap qi. Bagaimana mungkin dia tiba-tiba memiliki kekuatan seperti ini? Mungkin… dia mendapat bantuan dari luar. Atau… racun terlarang.”
Lin Tianhao menghela napas panjang. Matanya penuh campuran emosi yang sulit dibaca—marah, kecewa, tapi juga… sedikit ketakutan yang ia sembunyikan dalam-dalam.
“Panggil dia ke sini,” perintahnya pada seorang pelayan. “Sekarang.”
Beberapa menit kemudian, pintu aula terbuka lebar.
Lin Feng melangkah masuk.
Ia tidak lagi mengenakan baju compang-camping. Entah dari mana, ia mendapatkan jubah hitam sederhana dengan bordir api kecil di lengan—mungkin dari gudang tua di paviliun belakang. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tenang, tapi auranya membuat udara di aula terasa lebih panas. Beberapa lilin di dinding aula berkedip-kedip seolah takut.
Ia berhenti di tengah aula, menatap ayahnya tanpa menunduk.
“Lin Feng,” suara Lin Tianhao menggelegar. “Apa yang kau lakukan pagi ini? Kau berani melukai saudara sendiri dan menghancurkan harta suci keluarga?”
Lin Feng tersenyum tipis—senyum yang dingin, tanpa kehangatan.
“Ayah bilang aku tidak lagi mendapat jatah sumber daya keluarga. Aku tidak lagi bagian dari garis utama. Jadi… pohon itu bukan lagi harta keluarga. Itu hanya pohon. Dan Lin Hao… dia hanya saudara yang suka menghina. Aku hanya membalas apa yang dia berikan kemarin.”
Lin Hao bangkit setengah berdiri, tapi langsung meringis kesakitan. “Ayah! Jangan dengarkan dia! Dia sudah gila! Bunuh saja dia!”
Lin Tianhao mengangkat tangan, menyuruh diam.
Ia berdiri dari singgasana, melangkah turun. Aura qi kelas surgawi tingkat tinggi langsung menekan seluruh aula. Bahkan tetua-tetua lain mundur selangkah.
“Lin Feng,” katanya pelan tapi mengandung tekanan maut. “Kau tahu hukuman bagi yang melawan aturan keluarga. Apalagi jika kau benar-benar mendapat kekuatan terlarang dari luar.”
Lin Feng tidak bergeming. Ia justru melangkah maju satu langkah.
“Ayah ingin mengujiku? Silakan.”
Lin Tianhao mengangguk pelan. Matanya menyipit.
“Baik. Jika kau benar-benar sudah bisa kultivasi… buktikan di sini. Hadapi satu serangan dariku. Jika kau bisa bertahan tanpa mati, aku akan mengakui bahwa kau masih bagian dari keluarga Lin. Jika tidak… kau akan diusir selamanya, dan nama Lin akan dihapus dari dirimu.”
Seluruh aula terdiam.
Lin Mei tersenyum kecil—senyum penuh keyakinan. Ia tahu kekuatan ayah mertuanya yang sebenarnya. Lin Tianhao adalah salah satu dari tiga ahli terkuat di wilayah Selatan. Satu serangan darinya, bahkan bagi kultivator kelas langit pun bisa berakhir fatal.
Lin Feng mengangguk.
“Silakan, Ayah.”
Lin Tianhao mengangkat tangan kanannya. Qi langit dan bumi di sekitar aula langsung berputar ganas, membentuk pusaran biru keemasan di telapak tangannya. Teknik keluarga Lin tingkat tinggi: **Telapak Naga Langit Menindih Gunung**.
“Jika kau punya nyali, bertahanlah!”
Telapak itu menghantam ke depan.
Bukan pukulan fisik, tapi gelombang qi murni berbentuk cakar naga raksasa yang mengaum, mengarah tepat ke dada Lin Feng.
Semua orang menahan napas.
Tapi Lin Feng tidak mundur.
Ia malah menutup mata sejenak.
Di dalam dadanya, Tungku Api Abadi berdenyut. Bara kebencian yang selama ini ia pendam—terhadap hinaan, terhadap pembatalan pertunangan, terhadap tatapan kecewa ayahnya—meledak menjadi nyala yang lebih ganas.
“Napas Api Jiwa… aktif.”
Saat cakar naga qi itu tinggal beberapa senti dari dadanya—
WHOOSH!
Api merah gelap meledak dari seluruh pori-pori tubuh Lin Feng. Api itu tidak menyebar sembarangan. Ia membentuk perisai berbentuk bola api hitam-merah di depan tubuhnya, lalu… menelan.
Ya, menelan.
Cakar naga qi yang seharusnya menghancurkan segalanya itu disedot masuk ke dalam api Lin Feng seperti air yang ditarik pusaran. Dalam hitungan detik, seluruh serangan Patriark lenyap, diserap habis oleh Tungku Api Abadi.
Ruangan kembali sunyi.
Lin Tianhao membelalak. Tangan kanannya gemetar.
Lin Feng membuka mata. Di pupil matanya, ada nyala api kecil yang berputar pelan.
“Ayah… serangan itu enak sekali. Panasnya… pas untuk membakar dendamku.”
Ia mengangkat tangan kanannya.
Sekarang giliran dia.
“Terima balasan pertamaku.”
**Telapak Api Menghancurkan Tulang – Bentuk Kedua: Api Menelan Jiwa.**
Telapak tangannya menyala merah gelap. Ia melangkah maju satu langkah, lalu menampar ke udara di depan Lin Tianhao.
Tidak ada benturan fisik.
Tapi tiba-tiba, Patriark merasakan sesuatu yang mengerikan.
Di dalam dantiannya—tungku qi yang selama puluhan tahun ia bangun dengan susah payah—mulai terasa panas. Seperti ada bara kecil yang tiba-tiba menyala di dalamnya, dan bara itu… mulai membakar qi-nya sendiri.
Lin Tianhao terhuyung mundur dua langkah. Wajahnya pucat. Ia buru-buru menekan dada dengan tangan kiri, memaksa qi-nya berputar untuk memadamkan bara itu.
Bara itu akhirnya padam, tapi keringat dingin sudah membasahi punggungnya.
Seluruh aula terdiam. Tak ada yang berani bernapas terlalu keras.
Lin Feng menurunkan tangannya. Api di telapaknya meredup.
“Aku tidak membunuhmu, Ayah. Bukan karena aku takut. Tapi karena… aku masih ingin kau hidup cukup lama untuk melihat apa yang akan kulakukan selanjutnya.”
Ia berbalik, hendak pergi.
Tapi sebelum keluar pintu, ia berhenti dan berkata tanpa menoleh.
“Mulai besok, aku akan tinggal di paviliun utama lagi. Kamar lamaku. Dan jatah sumber daya… kembalikan semuanya. Jika tidak… paviliun ini bisa jadi abu besok pagi.”
Ia melangkah keluar.
Di belakangnya, Lin Tianhao jatuh duduk kembali ke singgasana. Matanya kosong, tapi di dalamnya ada nyala baru—nyala yang bernama ketakutan bercampur rasa hormat yang terpaksa.
Lin Hao dan Lin Mei hanya bisa menatap punggung Lin Feng yang menjauh dengan mulut ternganga.
Dan di dalam kesadaran Yan Di Shen Zun yang mengamati dari gua, tawa pelan terdengar lagi.
“Bagus sekali, pewarisku… sekarang dunia akan tahu, api yang pernah padam… kini menyala lebih ganas dari sebelumnya.”