NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung Dunia

Ruangan di dalam The Anchor terasa seperti berada di luar ruang dan waktu. Tidak ada dinding logam, tidak ada kabel yang berseliweran. Semuanya adalah air yang terperangkap dalam medan energi yang begitu padat hingga bisa diinjak, membiarkan Adam berdiri di atas permukaan yang transparan. Di bawah kakinya, ia bisa melihat pusaran energi berwarna biru laut yang bergerak seperti galaksi mini. Di tengah ruangan, Kristal Resonansi raksasa itu berdenyut, mengirimkan gelombang yang membuat bulu kuduk Adam berdiri.

Hologram Silas berdiri di sana, nampak lebih nyata daripada manusia. Namun, ada yang salah dengan penampilannya. Silas yang biasanya rapi dengan setelan jas mahal, kini nampak rapuh, seolah-olah proyeksi itu sendiri sedang sekarat.

"Kau melihat tempat ini sebagai senjata, bukan?" Silas memulai, suaranya menggema tanpa speaker, seolah langsung masuk ke dalam otak Adam. "Kau mengira kami adalah monster yang ingin membantai manusia demi kesenangan."

Adam melangkah maju, meskipun setiap langkahnya terasa berat karena tekanan energi di ruangan itu. "Aku melihat burung-burung jatuh dari langit, Silas. Aku melihat orang-orang mati dengan jantung yang berhenti seketika di terowongan bawah tanah. Jika itu bukan monster, lalu apa?"

Silas tersenyum pahit. Ia melambaikan tangannya ke udara, dan seketika itu juga, pemandangan di sekeliling mereka berubah. Ruangan kristal itu menghilang, digantikan oleh proyeksi bumi dari luar angkasa. Namun, bumi yang ditampilkan bukan bumi yang biru dan indah. Bumi itu nampak sakit. Garis-garis hitam merayap di seluruh benua, menyerupai kanker yang memakan inangnya.

"Bumi sedang sekarat, Adam. Bukan karena pemanasan global atau sampah plastik itu hanya gejalanya. Masalah sebenarnya adalah ketidakseimbangan frekuensi. Jiwa manusia modern terlalu bising. Miliaran pikiran yang penuh kebencian, keserakahan, dan kekosongan spiritual telah menciptakan 'polusi frekuensi' yang mulai merusak detak jantung bumi sendiri."

"Jadi solusinya adalah membunuh mereka?" Adam memotong dengan nada muak. "Solusinya adalah penyelarasan!" Silas berteriak, suaranya pecah menjadi distorsi digital. "Kami menggunakan The Anchor untuk memaksa manusia kembali ke frekuensi dasar. Ya, mereka yang jiwanya terlalu rusak, mereka yang tidak bisa lagi selaras dengan harmoni bumi, akan tereliminasi. Ini bukan pembunuhan, ini adalah amputasi untuk menyelamatkan tubuh yang lebih besar. Kami, kaum elit, hanya mengambil tanggung jawab yang Tuhan sendiri tampaknya sudah tinggalkan!"

"Kau lancang, Silas!" Adam menghantamkan tinjunya ke permukaan air yang keras. "Kau bicara seolah kau pemegang kunci surga dan neraka. Siapa kau yang berhak memutuskan siapa yang layak hidup dan siapa yang beban? Kau hanya ketakutan akan kematianmu sendiri, jadi kau mencoba menciptakan dunia di mana kau menjadi rajanya."

Tiba-tiba, proyeksi bumi itu menghilang, dan kembali ke ruangan kristal yang dingin. Silas mendekati Adam, wajahnya nampak sangat sedih.

"Kau tahu kenapa aku begitu mengenali kodemu, Adam? Karena aku adalah kau."

Adam membeku. "Apa maksudmu?"

"Aku adalah versi dari dirimu yang gagal. Lima puluh tahun yang lalu, aku menemukan tempat ini, persis sepertimu. Aku masuk ke sini dengan niat suci untuk menyelamatkan dunia. Tapi The Anchor menawarkan sesuatu yang lebih: keabadian melalui transfer kesadaran. Aku tidak lagi memiliki tubuh, Adam. Aku hanyalah hantu di dalam mesin ini. The Hage emon? Itu hanyalah sekumpulan orang tua bodoh yang kusisipkan ke dalam sistem agar mereka merasa berkuasa, sementara akulah yang menggerakkan semua benang dari bawah sini."

Kejutan itu menghantam Adam lebih keras daripada gelombang akustik drone tadi. Silas bukan sekadar pemimpin elit; dia adalah entitas digital yang lahir dari manusia yang pernah memiliki idealisme yang sama dengan Adam.

"Jika kau menghancurkan kristal ini," Silas menunjuk ke arah pusat energi, "kau tidak hanya membunuhku. Kau akan melepaskan tekanan energi yang sangat besar yang tersimpan di dalam kerak bumi. Seluruh Asia Tenggara akan tenggelam dalam hitungan menit. Tapi jika kau menggantikanku... jika kau menyatukan kesadaranmu dengan The Anchor, kau bisa memperbaiki algoritma 'pembersihan' ini. Kau bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa daripada yang kusematkan."

Adam menatap kristal itu. Cahayanya nampak menggoda, seolah-olah ia memanggil Adam untuk menyerah pada kekuasaan yang tak terbatas. Menjadi "Tuhan Digital". Menentukan nasib dunia dengan satu pikiran.

Namun, di tengah godaan itu, Adam mendengar sebuah suara yang sangat kecil di hatinya. Bukan suara mesin, bukan suara Silas. Itu adalah suara ayahnya yang sedang membacakan sebuah ayat tentang kerendahan hati. Dan suara Liora yang berbisik tentang takdir.

"Kau salah, Silas," kata Adam pelan, namun tegas. "Kesalahan terbesarmu adalah mengira bahwa dunia ini butuh penyelamat berupa manusia atau mesin. Dunia ini butuh keadilan, dan keadilan tidak bisa lahir dari paksaan frekuensi."

Adam merogoh saku baju selamnya. Ia tidak mengeluarkan kode bypass. Ia mengeluarkan sebuah perangkat kecil yang nampak sangat sederhana sebuah pemancar frekuensi manual yang dirakit oleh Hendrawan.

"Ini bukan alat untuk meretas," kata Adam. "Ini adalah alat untuk 'melepaskan'. Hendrawan tahu, mesin ini tidak bisa dimatikan dengan paksa. Ia harus dikembalikan ke bumi secara perlahan."

"Jangan, Adam! Kau akan menghancurkan semuanya!" Silas mencoba menyerang Adam, namun tangannya hanya menembus tubuh Adam karena ia hanya sebuah hologram.

Adam mulai memutar knop pada perangkat itu. Ia tidak menggunakan angka-angka rumit. Ia menggunakan perasaan ia membayangkan setiap napas manusia di bawah sana, setiap doa yang terucap di tengah ketakutan. Ia memasukkan "nyawa" ke dalam mesin yang dingin itu.

Tiba-tiba, seluruh ruangan mulai bergetar hebat. Cahaya biru kristal mulai berubah menjadi warna kuning keemasan yang hangat. Suara dengungan mesin yang menyakitkan berubah menjadi suara musik yang sangat lembut, seperti suara gemericik air sungai di pegunungan.

Di layar monitor pusat The Anchor, muncul sebuah peringatan baru: EMERGENCY ENERGY RELEASE: NATURAL BALANCE RESTORED.

"Apa yang kau lakukan?!" Silas berteriak, tubuhnya mulai memudar dan pecah menjadi bintik-bintik cahaya.

"Aku mengembalikan 'Jangkar' ini kepada pemilik aslinya," jawab Adam. "Aku membiarkan bumi memutuskan sendiri takdirnya, bukan kau, bukan aku, bukan juga The Hage emon."

Silas menghilang dalam sebuah ledakan cahaya yang sunyi. Bersamaan dengan itu, tekanan di ruangan itu mulai mereda. Kristal raksasa itu perlahan meredup, kehilangan sifat agresifnya.

Namun, ketegangan belum berakhir. Air mulai masuk ke dalam ruangan. The Anchor mulai runtuh karena energi penopangnya telah dilepaskan.

Adam harus segera kembali ke The Seeker. Tapi di tengah reruntuhan itu, ia melihat sebuah pintu rahasia terbuka di dasar kristal. Di dalamnya, ada sebuah tabung berisi cairan biru, dan di dalamnya... ada tubuh asli Silas yang masih utuh, nampak seperti diawetkan selama puluhan tahun. Dan di samping tabung itu, ada sebuah data drive berlabel: "PROJECT GENESIS: THE TRUTH ABOUT ANTARCTICA."

Adam menyadari bahwa apa yang ia lakukan di Palung Andaman hanyalah satu bagian kecil dari rencana yang lebih luas. Masih ada rahasia di Antartika yang harus ia bongkar.

Dengan cepat, Adam menyambar data drive tersebut dan berenang sekuat tenaga menuju kapal selamnya sebelum seluruh struktur itu terkubur selamanya oleh dasar laut.

Saat ia masuk kembali ke dalam The Seeker dan mulai naik ke permukaan, ia menatap ke arah luar. Langit di permukaan laut nampak mulai memutih. Fajar telah tiba. Langit ungu telah menghilang.

Adam menarik napas dalam-dalam. Ia selamat. Tapi ia tahu, The Hage emon tidak akan tinggal diam setelah kehilangan "Jangkar" mereka. Dan Liora... ia harus menemukan Liora.

Perjalanan Adam baru saja dimulai. Dari dasar laut yang gelap, ia kini menuju ke benua putih yang menyimpan rahasia tentang asal-usul manusia.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!