NovelToon NovelToon
Putri Yang Dicuri Takdir

Putri Yang Dicuri Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / CEO
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Finda Pensiunawati

Kita akan mulai perjalanan novel panjang ini perlahan, dengan emosi yang dalam, masa lalu yang kelam, dan takdir yang kelak berubah menjadi cahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finda Pensiunawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 – Di Ambang Keajaiban

Lorong di depan ruang rawat intensif malam itu tidak pernah terasa sepanjang ini.

Lampu putih menggantung tanpa ampun, memantulkan bayangan orang-orang yang berdiri dalam diam, masing-masing memeluk kecemasan dengan cara mereka sendiri.

Di balik pintu tertutup itu, Valeria sedang diperiksa.

Sadar.

Kata itu masih terdengar seperti mimpi.

Alexander berdiri paling dekat dengan pintu. Seragam pilotnya masih melekat di tubuhnya—sedikit kusut, dasinya longgar, rambutnya tak lagi serapi biasanya. Wajahnya basah oleh sisa tangis, tapi matanya… matanya hidup kembali.

Daniel berdiri tak jauh darinya.

Ia tidak berhenti tersenyum sejak Alexander mengatakan kalimat itu.

Dia membuka mata.

Kalimat sederhana yang mengubah dunia mereka dalam hitungan detik.

Setiap beberapa detik Daniel menoleh pada Alexander, memastikan pria itu nyata. Memastikan ia tidak salah dengar. Memastikan ini bukan harapan palsu yang terlalu indah.

Alexander membalas tatapan itu dengan anggukan kecil setiap kali.

Ya. Ini nyata.

Beberapa menit kemudian, langkah cepat terdengar dari ujung lorong.

Isabella datang lebih dulu, napasnya memburu. Di belakangnya, suaminya menyusul dengan wajah tegang namun berusaha tenang.

“Apa benar?” suara Isabella bergetar saat mendekat.

Daniel langsung memeluk ibunya.

“Dia membuka mata, Mom.”

Isabella terisak pelan. Tangannya gemetar saat menutup mulutnya.

“Ya Tuhan…”

Tak lama kemudian, langkah lain yang lebih berat terdengar.

Vincenzo.

Pria yang selalu tampak kokoh dan berwibawa itu kini berjalan dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. Istrinya menggenggam lengannya erat, seolah takut jika kabar ini kembali direnggut.

“Kami baru mendarat,” ucap Vincenzo dengan suara berat. “Daniel, apa yang terjadi?”

Daniel menoleh, lalu melihat Alexander.

Alexander yang menjawab.

“Dia sadar,” katanya pelan namun tegas.

Untuk pertama kalinya, wajah Vincenzo kehilangan kendali.

Pria yang dikenal dingin, penuh perhitungan, dan tak pernah menunjukkan kelemahan itu menutup matanya beberapa detik.

Istrinya menangis dalam diam.

Miguel dan istrinya tiba tak lama kemudian. Wajah mereka cemas sejak menerima kabar dari Daniel bahwa sesuatu terjadi di ICU.

Miguel mendekat pada Alexander.

“Bagaimana kondisinya?”

“Masih diperiksa,” jawab Alexander.

Miguel mengangguk pelan. “Dia kuat.”

Tak jauh dari sana, Brian berdiri bersama Camille.

Camille masih mengenakan pakaian pasien dengan jaket tipis menutupi perban di lengannya. Lebam di wajahnya mulai memudar, tapi sorot matanya kini dipenuhi harap.

“Dia benar-benar sadar?” bisiknya pada Daniel saat mendekat.

Daniel tersenyum lebar. “Iya.”

Camille menutup matanya, menahan air mata.

Brian merangkul bahunya erat.

“Dia akan baik-baik saja,” katanya lembut.

Camille mengangguk pelan.

Di antara mereka semua—

Profesor Eduardo berdiri lebih tenang dibanding yang lain.

Sebagai dokter yang menangani Valeria selama dua bulan terakhir, ia tahu perjuangan yang telah dilalui tubuh gadis itu.

Sebagai ayah Alexander, ia juga tahu apa arti malam ini bagi putranya.

Eduardo melangkah mendekati Alexander.

“Kau yang pertama melihatnya?” tanyanya pelan.

Alexander mengangguk.

“Dia menggenggam tanganku,” bisiknya. “Lalu membuka mata.”

Eduardo menepuk bahu putranya dengan bangga.

“Kau memberinya alasan untuk kembali.”

Alexander menggeleng pelan. “Tidak, Dad. Dia sendiri yang memilih kembali.”

Keheningan menyelimuti mereka lagi.

Detik demi detik terasa seperti jam.

Setiap kali terdengar suara alat bergerak dari dalam ruangan, semua kepala terangkat bersamaan.

Daniel berdiri bersandar di dinding, senyumnya belum pudar. Sesekali ia mengusap wajahnya sendiri, memastikan air mata yang sempat jatuh tidak terlihat.

Ia menoleh pada Alexander.

“Aku hampir pingsan tadi,” akunya pelan.

Alexander tersenyum tipis. “Aku juga.”

“Ketika para medis berlari, aku pikir—”

“Kritis lagi?” potong Alexander.

Daniel mengangguk.

“Untuk sepersekian detik,” lanjut Alexander pelan, “aku juga takut. Tapi matanya… Daniel, matanya menatapku. mata yang telah lama ku rindukan”

Suara Alexander melemah.

“Itu bukan refleks. Itu sadar.”

Daniel menarik napas panjang.

“Dia kembali.”

Miguel yang berdiri tak jauh dari mereka menunduk, mengusap wajahnya.

“Kalau hasil DNA itu keluar…” gumamnya pelan pada istrinya, “dan dia benar putri Vincenzo…”

Istrinya menggenggam tangannya erat. “Malam ini, kita hanya bersyukur dia hidup.”

Vincenzo berdiri sedikit terpisah dari yang lain. Tatapannya terpaku pada pintu.

Bertahun-tahun ia hidup dengan bayangan seorang bayi yang hilang dalam kekacauan dan darah.

Bertahun-tahun ia menanggung rasa bersalah.

Dan kini—

Seorang gadis yang mungkin adalah darah dagingnya sedang berjuang di balik pintu itu.

Istrinya menyentuh lengannya lembut.

“Kalau dia benar Valentina…” suaranya lirih.

Vincenzo menatapnya.

“Dia sudah cukup menderita,” katanya berat. “Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi.”

Di sisi lain lorong, Camille menatap Alexander.

“Dia memanggilnya apa?” bisiknya pada Brian.

Brian mengernyit. “Siapa?”

“Valeria… saat sadar.”

Brian menggeleng.

Alexander mendengar pertanyaan itu.

“Dia belum bicara,” jawabnya lembut. “Hanya menatap.”

Camille tersenyum kecil.

“Itu sudah cukup.”

Waktu terasa lambat.

Lima belas menit.

Dua puluh menit.

Tiga puluh menit.

Setiap detik adalah ujian kesabaran.

Akhirnya—

Pintu itu terbuka.

Semua berdiri bersamaan.

Dokter yang keluar melepas maskernya perlahan.

Wajahnya lelah, tapi tidak tegang.

Profesor Eduardo melangkah maju.

“Bagaimana?”

Dokter itu tersenyum kecil.

“Pasien sadar penuh. Respons neurologis baik. Tekanan darah stabil.”

Isabella langsung menangis.

Daniel memejamkan mata, mengucap syukur dalam hati.

Alexander hampir tidak bisa berdiri tegak.

“Dia masih lemah,” lanjut dokter itu. “Kami akan memindahkannya ke ruang rawat intensif biasa. Satu atau dua orang bisa masuk sebentar.”

Semua saling berpandangan.

Hening sejenak.

Lalu tanpa dikomando, tatapan mereka tertuju pada Alexander.

Vincenzo mengangguk pelan.

“Kau dulu,” katanya.

Alexander terdiam.

“Ayahnya belum tentu aku,” lanjut Vincenzo dengan suara berat, “tapi kau… kau alasan dia membuka mata.”

Daniel tersenyum dan menepuk bahu Alexander.

“Pergilah.”

Alexander menelan ludahnya.

Langkahnya terasa berat sekaligus ringan.

Ia membuka pintu perlahan.

Dan di sana—

Valeria terbaring dengan mata terbuka.

Masih lemah.

Masih pucat.

Tapi sadar.

Matanya bergerak pelan ketika melihatnya masuk.

Alexander mendekat, suaranya gemetar.

“Hai…”

Bibir Valeria bergerak sedikit.

Tidak ada suara.

Namun sudut matanya menghangat.

Alexander menahan tangisnya.

“Jangan coba-coba tidur lagi,” bisiknya.

Valeria berkedip pelan.

Di luar ruangan, semua menunggu dengan napas tertahan.

Daniel berdiri di samping ibunya.

Brian menggenggam bahu Camille.

Miguel memeluk istrinya.

Vincenzo menatap pintu itu tanpa berkedip.

Dan untuk pertama kalinya dalam dua bulan—

Harapan tidak lagi terasa seperti doa kosong.

Ia nyata.

Ia bernapas.

Ia membuka mata.

Dan malam itu, di lorong rumah sakit yang dingin dan panjang—

Semua orang belajar satu hal:

Cinta, doa, dan kesetiaan tidak pernah sia-sia.

Karena kadang—

Keajaiban benar-benar datang.

Bukan dengan suara gemuruh.

Tapi dengan gerakan kecil jemari yang membalas genggaman.

1
Forta Wahyuni
jgn jd lelaki murahan ya alex, tegas jgn mudah luluh dan ksh celah. aq jijik klu lelakinya murahan, mau peluk2, cium2 or lbh dr itu n menyesal minta maaf n balikan lg. jgn mau valeria klu si alex model bgitu, hempaskan buang jauh krn lelaki bukan alex doank. kau seorang putri, jenius n mendekati sempurna, lelaki yg lbh dr alex bnyk n klu dia plin plan tinggalkan tdk ada kata beri kesempatan.
Finda Pensiunawati
love love 😍
Septriani Margaret
kk lanjut doang seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!