Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BELAJAR MENJADI AYAH
Rosa tersenyum tipis, sebuah senyum yang tampak tulus meski terselip sedikit kegugupan di sana. Ia menunduk, menatap wajah bayi yang kini mulai mendengkur halus di pelukannya, seolah makhluk kecil itu sudah merasa aman di bawah atap yang tadinya hampir runtuh karena kesedihan.
"Anggap saja kita orang tuanya untuk sementara ini, Sen," ucap Rosa dengan nada suara yang menenangkan.
Arsen terpaku. Kata 'orang tua' terdengar begitu berat, namun anehnya, kata itu juga memberikan rasa hangat yang sudah dua tahun tidak ia rasakan. Selama ini ia merasa seperti orang asing di rumahnya sendiri, seorang pria yang kehilangan arah karena ditinggalkan. Kini, predikat itu—meski hanya sementara—memaksanya untuk kembali berdiri tegak.
"Orang tua..." Arsen mengulangi kata itu dengan sangat pelan, seolah sedang mencoba mengecap rasanya di lidah. Ia menatap Rosa yang duduk dengan tenang, lalu beralih ke bayi kecil itu. "Aku tidak tahu apakah aku sanggup, Ros. Tapi kalau kamu ada di sini, mungkin... mungkin aku tidak akan sebodoh itu dalam mengurusnya."
Rosa terkekeh pelan, kali ini tanpa nada menyindir. "Kita akan belajar, Sen. Tidak ada orang tua yang langsung pintar di hari pertama. Lagipula, bayi ini sepertinya sudah memilihmu. Dia berhenti menangis begitu kamu gendong tadi, kan?"
Arsen mengangguk pelan. Ia menyandarkan sapunya di dinding, lalu mendekat ke arah sofa. Ia melihat Rosa yang begitu telaten, dan ia menyadari bahwa malam ini bukan hanya soal menyelamatkan seorang bayi, tapi juga soal bagaimana ia dan Rosa saling menyelamatkan dari rasa sepi yang berbeda.
"Terima kasih, Ros," ucap Arsen tulus. "Aku akan selesaikan bersih-bersihnya secepat mungkin. Kamar tamu itu akan menjadi tempat yang layak untukmu dan dia sebelum fajar tiba."
Rosa kembali membetulkan posisi tidurnya, berusaha tidak mengusik bayi yang kini sudah terlelap nyenyak. Ia menatap Arsen yang tampak lelah namun mulai menunjukkan tanda-tanda "hidup" kembali.
"Sen, kalau bersih-bersihnya sudah selesai, tolong belikan dia susu dan pampers di minimarket depan," ucap Rosa sambil memberikan instruksi dengan nada keibuan. "Kalau kamu lagi nggak ada uang, pakai uangku dulu saja. Jangan dipikirkan sekarang."
Arsen terdiam, meraba saku celananya yang tipis. Ia memang sudah lama tidak memperhatikan kondisi keuangannya sejak berhenti peduli pada dunia. Namun, sebelum ia sempat menjawab, Rosa kembali menyela.
"Beli makanan juga buat kamu. Jangan cuma beli buat si kecil," tambah Rosa dengan senyum tipis yang hangat. "Ayahnya juga harus kuat, kan? Kalau ayahnya sakit, siapa yang mau jagain kita di rumah besar ini?"
Mendengar kata "ayah" disebut lagi, Arsen merasakan dadanya sedikit bergejolak. Ada rasa tanggung jawab yang mendadak menyeruak, mengalahkan rasa malas dan duka yang selama dua tahun ini membelenggunya.
"Aku masih ada uang simpanan sedikit," jawab Arsen akhirnya, mencoba terdengar tegar. Ia meletakkan kain pelnya dan segera mengambil jaket yang sudah lama tergantung di balik pintu. "Aku pergi sebentar. Tolong jaga dia ya, Ros. Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku."
"Siap, Pak Ayah. Hati-hati di jalan, hujan masih rintik-rintik," sahut Rosa bercanda untuk mencairkan suasana.
Arsen melangkah keluar menembus udara malam yang dingin. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun, ia berjalan menuju minimarket bukan untuk membeli minuman keras atau mi instan, melainkan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah masa depan kecil yang menunggunya di rumah.
Setibanya kembali dari minimarket dengan kantong plastik berisi susu dan popok di tangan, Arsen menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu. Pemandangan di hadapannya membuat napasnya tertahan sejenak. Di atas sofa yang kini sudah jauh lebih bersih, ia melihat Rosa tertidur dalam posisi duduk, sementara bayi mungil itu meringkuk damai di dalam dekapannya.
Hati Arsen bergetar hebat. Ada rasa teduh yang luar biasa merayap masuk ke dalam dadanya, mengusir sisa-sisa kegelapan yang selama dua tahun ini ia pelihara. Pikirannya bukan lagi soal bagaimana cara menutup diri dari dunia atau meratapi masa lalu yang telah hancur. Baginya, bayi kecil yang tak berdosa itu adalah cahaya baru yang dikirimkan Tuhan untuk menuntunnya keluar dari kegelapan.
Ia menatap Rosa dengan pandangan yang jauh lebih dalam. Gadis itu selalu ada untuknya, tetap berdiri kokoh di sampingnya saat semua orang menjauh karena sikap apatisnya. Rosa tidak pernah menyerah pada Arsen, bahkan saat Arsen sudah menyerah pada dirinya sendiri.
Arsen melangkah mendekat dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Ia menyelimuti kaki Rosa yang kedinginan dengan kain bersih, lalu berbisik sangat lirih, seolah takut merusak keheningan yang suci itu. "Terima kasih, Ros. Terima kasih sudah tetap di sini."
Malam itu, di tengah rumah yang mulai terasa hangat kembali, Arsen menyadari bahwa luka hatinya mungkin belum sepenuhnya sembuh, tapi ia akhirnya punya alasan yang kuat untuk mulai mencoba.
Rosa terbangun perlahan saat telinganya menangkap suara denting botol dan gemericik air dari arah dapur. Ia mengerjapkan mata, menyadari bahwa Arsen sedang bergelut dengan botol susu di tengah keremangan lampu dapur yang baru saja dinyalakan.
Sambil merenggangkan otot lehernya yang kaku karena tidur terduduk, Rosa bangkit berdiri. Ajaibnya, kali ini bayi itu hanya menggeliat kecil tanpa terbangun, seolah sudah merasa cukup aman di atas bantalan sofa yang empuk.
"Sini, biar aku saja yang buat susunya. Bayinya sudah bisa dilepas sepertinya," ucap Rosa lembut sambil melangkah menghampiri Arsen. Ia mengambil alih botol bayi itu dari tangan Arsen yang tampak kikuk menakar bubuk susu.
Rosa melirik kantong belanjaan yang tergeletak di meja dapur, lalu menatap Arsen dengan tatapan menyelidik. "Kamu belum makan dari tadi, kan? Wajahmu pucat sekali. Biar aku masakkan sesuatu setelah ini. Kamu beli bahan apa saja?"
Arsen tertegun, tangannya masih terasa kaku setelah mencoba memahami instruksi di balik kemasan susu. "Aku tadi cuma beli telur, nasi, dan beberapa bumbu instan. Aku tidak tahu apa yang kamu suka, jadi aku beli yang ada saja."
Rosa tersenyum tipis, sebuah senyuman yang seolah menyapu sisa-sisa kesuraman di dapur itu. "Telur dadar dan nasi hangat sudah lebih dari cukup, Sen. Yang penting perutmu terisi. Ayah baru tidak boleh tumbang di hari pertama, kan?"
Arsen hanya bisa terdiam, memperhatikan Rosa yang begitu cekatan menyiapkan susu sekaligus mulai memecahkan telur. Ada rasa haru yang mendesak di dadanya. Rumah ini, yang selama dua tahun hanya berisi bau debu dan kesunyian, tiba-tiba saja dipenuhi aroma masakan dan kehadiran sosok yang peduli.
Arsen menyandarkan tubuhnya di pinggiran meja dapur, memperhatikan setiap gerak-gerik Rosa yang begitu tenang dan teratur. Ada rasa kagum yang menyeruak melihat bagaimana sahabatnya itu dengan satu tangan menakar air panas, sementara tangan lainnya menyiapkan wajan untuk menggoreng telur.
"Kamu bahkan belum menikah, sama sepertiku, tapi kenapa bisa telaten banget?" ucap Arsen pelan, matanya tidak lepas dari cara Rosa mengocok susu hingga tidak ada gumpalan yang tersisa.
Rosa tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah di tengah keheningan dapur. "Aku ini punya banyak keponakan, Sen. Menjaga bayi bukan hal baru buatku. Lagipula, telaten itu bukan soal status pernikahan, tapi soal seberapa besar kamu peduli pada makhluk yang ada di depanmu."
Ia meletakkan botol susu yang sudah siap di atas meja, lalu beralih fokus pada nasi yang mulai mengepul. "Dua tahun ini kamu terlalu sibuk mengurusi lukamu sendiri sampai lupa kalau di luar sana, hidup terus berjalan. Belajar mengurus bayi itu jauh lebih mudah daripada belajar memaafkan masa lalu, tahu."
Arsen terdiam, tersindir namun sekaligus merasa disadarkan. Ia menerima piring berisi nasi dan telur dadar hangat yang disodorkan Rosa. Uap panasnya mengenai wajahnya, memberikan sensasi nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan dari makanan rumah.
"Makanlah, mumpung bayinya belum bangun lagi," sambung Rosa lembut. "Setelah ini, kita bagi tugas. Aku urus susunya, kamu urus dirimu sendiri. Kamu butuh energi untuk menghadapi hari esok, karena besok hidupmu tidak akan pernah sama lagi."
Arsen menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya. Rasanya sederhana, namun di matanya yang mulai berkaca-kaca, ini adalah makanan paling nikmat yang pernah ia santap dalam dua tahun terakhir.