NovelToon NovelToon
SURAT HATI

SURAT HATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah langit California yang selalu cerah, keluarga Storm adalah simbol kesempurnaan. Namun, di dalam kediaman megah mereka, dua badai yang berbeda sedang bergolak.
Luna Storm adalah anak emas. Cantik, lembut, dan selalu menempati peringkat tiga besar dalam daftar pesona konglomerat kota. Hidupnya adalah rangkaian jadwal ketat antara balet dan piano, sebuah pertunjukan tanpa henti untuk memuaskan ambisi sang ayah. Di balik senyum porselennya, Luna menyimpan rahasia patah hati dari masa SMA dengan Zayn Karl Graciano, satu-satunya lelaki yang pernah membuatnya merasa hidup, namun pergi karena Luna lebih memilih tuntutan keluarga daripada cinta.
Di sisi lain, ada Hera Storm. Kembaran tidak identik Luna yang mewarisi fitur wajah tajam ibunya dan jiwa pemberontak sejati. Hera adalah antitesis dari Luna, ia jomblo sejati, penunggang motor sport, dan lebih suka bergaul di bengkel daripada di aula dansa. Ia bebas, sesuatu yang sangat dicemburui oleh Luna.
.
.
SELAMAT BACA DEAR 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#7

Angin malam di pesisir Malibu membawa aroma garam dan kebebasan yang kontras dengan udara steril di mansion keluarga Storm. Di sebuah area terbengkalai yang dikenal dengan sebutan The Pit, sebuah lahan luas di pinggir tebing yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik, suasananya tampak riuh.

Cahaya api unggun besar menari-nari di tengah lingkaran motor custom dan mobil jip yang terparkir sembarangan. Musik rock alternatif berdentum rendah dari speaker mobil Arlo, menciptakan atmosfer yang liar namun intim.

Luna turun dari boncengan motor Hera dengan kaki yang sedikit gemetar. Ia mengenakan jaket denim hitam milik Hera yang kebesaran dan celana kulit yang membalut kaki jenjangnya. Rambutnya yang biasa disanggul rapi kini terurai berantakan tertiup angin laut.

"Jangan terlihat seperti kelinci yang ketakutan, Luna. Busungkan dadamu," bisik Hera sambil melepas helmnya.

Di sudut area itu, di atas sebuah sofa usang yang diletakkan di dekat tebing, Zayn duduk dengan gaya yang sangat dominan. Ia mengenakan kaus hitam yang memperlihatkan tato-tato abstrak di lengannya. Di sampingnya, Arlo sedang sibuk memanggang daging di atas api kecil sambil sesekali tertawa keras, sementara Ben dan Clark sedang beradu penalti dengan botol minuman kosong.

Zayn tampak sangat berbeda di sini. Dia bukan lagi pemuda yang dulu merengek meminta waktu Luna. Setelah kematian ayahnya, yang meskipun meninggalkan warisan properti melimpah di California namun tetap tak mampu menyentuh kasta keluarga Storm—Zayn telah membangun dunianya sendiri. Ayahnya mungkin hanya pengusaha menengah, dan ibunya kini adalah ratu butik di London yang sukses setelah perceraian mereka, namun di The Pit, Zayn adalah rajanya.

Langkah Luna terhenti saat mata kelabu Zayn menemukannya di tengah kerumunan. Tiba-tiba, ingatan soal ucapan ayah dan ibunya terngiang di kepalanya.

"Ingat posisi kita, Luna," ucap Alexander. "Keluarga Storm tidak berteman dengan sampah. Terutama jika sampah itu bernama Graciano."

"Dia putra dari Sebastian Graciano," kata ibunya, Eleanor. "Pria yang hampir membuat perusahaan ayahmu bangkrut sepuluh tahun lalu. Meskipun ibunya memiliki jaringan butik ternama di London, darah yang mengalir di tubuh Zayn adalah darah musuh kita. Jangan pernah lupakan itu."

"Wah, wah... sepertinya ada tamu agung yang tersesat," celetuk Arlo, membuat semua mata tertuju pada Luna.

Zayn tidak tertawa. Ia hanya menyesap minumannya, matanya menatap Luna dengan dingin dari kejauhan. Ia meletakkan botolnya, lalu berdiri perlahan. Tinggi badannya yang 188 cm tampak begitu mengintimidasi di bawah cahaya api unggun.

"Aku tidak tahu fakultas kedokteran mengadakan darmawisata ke tempat sampah seperti ini, Nona Storm," suara Zayn berat, terbawa angin hingga tepat ke telinga Luna.

Luna melangkah maju, melewati Arlo yang sedang menyeringai nakal. "Aku tidak sedang darmawisata, Zayn. Aku mencarimu."

"Untuk apa?" Zayn berjalan mendekat, langkahnya tenang namun mematikan. Ia berhenti tepat di depan Luna, membuat gadis itu harus mendongak. "Ingin meminta maaf lagi soal piano itu? Atau ingin memamerkan betapa sempurnanya hidupmu sekarang?"

"Aku hanya ingin tahu kenapa kau menjadi seperti ini," suara Luna bergetar. "Aku tahu kau pewaris tunggal ayahmu. Kau punya segalanya untuk tetap menjadi Zayn yang dulu. Kenapa kau harus menutupi dirimu dengan tato dan geng urakan ini?"

Zayn tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa rasa humor. Ia menarik lengan jaketnya sedikit, memperlihatkan garis-garis hitam yang rumit itu tepat di depan mata Luna.

"Zayn yang dulu sudah mati di samping peti mati ayahnya saat dia menunggu seseorang yang tidak pernah datang," bisik Zayn, membungkuk hingga wajahnya sejajar dengan Luna. "Tato ini bukan untuk menutupi diriku, Luna. Ini untuk melindungi sisa-sisa hatiku agar tidak ada lagi orang manis sepertimu yang bisa masuk dan menghancurkannya."

Clark dan Ben saling melirik, menyadari tensi yang semakin memanas. Sementara itu, Hera hanya bersandar di motornya sambil bersedekap, tersenyum miring melihat kakaknya mulai terpojok namun tetap bertahan.

"Zayn, aku..." Luna menyentuh lengan Zayn secara spontan. Kulit Zayn terasa hangat dan keras.

Zayn tersentak seolah terkena aliran listrik. Ia menarik tangannya dengan kasar. "Jangan sentuh aku dengan tangan yang selalu memuja piano itu, Luna. Pergilah pulang. Tempatmu di mansion, bukan di sini bersama kami yang berbau aspal."

Zayn berbalik menuju motornya, namun ia sempat melirik ke arah Arlo. "Arlo, berikan dia minum. Setelah itu, pastikan dia pulang sebelum ayahnya mengirim polisi ke sini."

Zayn menaiki motornya dan menghidupkan mesin dengan raungan yang memecah malam. Ia melesat pergi menuju jalanan Malibu yang gelap, meninggalkan Luna yang hanya bisa menatap kepulan debu dengan air mata yang mulai jatuh.

****

Kenangan mereka saat di SMA tiba-tiba berputar seperti kaset rusak di ingatan Luna dalam perjalanan pulang ke mansion.

"Zayn, airnya sangat dingin," goda Luna sambil melepas pakaiannya.

"Tapi aku akan membuatmu merasa terbakar, Sayang," balas Zayn.

Mereka melakukannya di tepi kolam dengan adrenalin yang memuncak karena takut pelayan Zayn, Bibi Martha lewat. Benar saja, suara nampan jatuh terdengar saat mereka sedang di puncak penyatuan, memaksa mereka menyelam ke dalam air dengan tawa yang tertahan.

Namun, di balik semua kesenangan itu, ada satu malam yang membuat Zayn panik luar biasa. Di dalam mobil di pinggir tebing Malibu, saat badai sedang mengamuk, Zayn tiba-tiba berhenti.

"Brengsek!" umpat Zayn.

"Ada apa?" Luna bertanya dengan napas tersengal.

"Karetnya... sobek, Luna. Benda ini sobek!" Zayn menatap alat pengaman itu dengan wajah pucat pasi. Ia langsung memakai celana dan mengemudi seperti orang gila di tengah badai mencari apotek, takut merusak masa depan Luna yang ingin menjadi dokter.

Flashback Off

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
durrotul aimmsh
i just can say...wow
shabiru Al
apa yang akan terjadi ya jika ayahnya luna tau kehamilan ini
shabiru Al
mampir ya thor,, kayaknya menarik nih ceritanya
ros 🍂: Happy Reading 🥰
total 1 replies
Nurhasanah
ini fl nya luna apa hera ?? lebih suka hera sih badas nggak menye2 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!