Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manusia Serakah
Zurra sudah menyelesaikan masakannya untuk keluarganya sesuai dengan kesukaan mereka masing masing. Begitu juga dengan apa yang di lakukan Valen juga sudah selesai di lakukan.
Mereka makan dengan tenang, tanpa ada percakapan karena memang itu kebiasaan yang di terapkan Altezza dan Zurra di keluarga mereka.
Mereka semua pindah ke ruang tengah untuk sekedar mengobrol karena memang Valen dan Ale masih sedikit bingung dengan apa yang akan di lakukan mereka nantinya di perusahaan eyang di berikan Altezza dan Zurra nantinya.
Iseng Dean menyalakan televisi yang ada di sana, tapi berita yang ada di siaran televisi itu membuat mereka mematung seketika. Di dalam siaran berita itu ada berita tentang pembantaian banyak mahasiswa yang ada di kampus Valen dan Arlo.
"Apa-apaan ini? Siapa yang berani melakukannya?" teriak Valen langsung berdiri seketika.
Tempo hari sewaktu ada masalah di kampus saat penyambutan mahasiswa baru semuanya terlihat baik baik saja dan apa ini kenapa ada pembantaian berantai. Dan bahkan korbannya malah semua mahasiswa yang sudah senior bukan malah mahasiswa yang baru.
"Kemarin bukannya nggak ada apa apa ya? Terus motifnya apaan dah?"
Arlo ikutan membuka suaranya melihat semua berita itu. Dia bahkan masih tak menyangka jika ada pembantaian itu di saat mereka tahu jika di kampus itu banyak alumni dari orang yang berkedudukan dan tak bisa di sentuh.
"Kalian ngrasa aneh nggak sih sama kejadian ini? Kemarin nggak ada apa apa dan sekarang kejadian heboh gini apa nggak mikir mereka kalau kita bakal ikut campur atau turun tangan gitu?" tanya Arlo pada yang lainnya.
Dean nampak berpikir begitu juga dengan Valen, mereka lebih memikirkan motif di balik ini semua kenapa semua menjadi kebetulan atau kah ini hanya niat orang orang iseng atau orang yang ingin memancing mereka keluar saja.
"Kalau di bilang aneh ini juga aneh, tapi kemungkinan sebenarnya ini kejadian udah lama dan baru terkuak sekarang. Ada kemungkinan kemarin itu hanya untuk menutupi hal ini."
Akhirnya Valen membuka suaranya tentang kejadian di kampusnya yang bahkan pihak kepolisian tidak bisa menangkap pelakunya.
Altezza dan Zurra masih diam mengamati semua obrolan anak anaknya itu. Tapi otak mereka juga berselancar ke berita yang ada di kampus yang sekarang menjadi tempat kuliah Valen dan Arlo.
"Apa kalian mencurigai seseorang?" tanya Zurra tiba tiba.
Valen menggelengkan kepalanya, "Kemarin memang ada yang cari masalah, tapi Valen sama Arlo juga nggak kenal begitu juga dengan kak Dean. Dan kemarin pun nggak ada masalah lain mi. Baru ini ada kejadian yang begini, dan jujur aja feeling Valen juga nggak jauh jauh pelakunya dari pihak kampus," sahut Valen santai.
Altezza menaikkan sebelah alisnya mendengar pernyataan Valen yang malah mengarah kepada semua pihak kampus.
"Apa yang menjadi pemikiranmu sampai berpikir jika itu pihak kampus yang melakukannya?" pancing Altezza pada putrinya.
"Ale... lo udah dapat kan nama semua korbannya itu?" tanya Valen yang malah bertanya kepada adik kembarnya itu.
Ale menyerahkan tablet yang sejak tadi di bawanya kepada sang kakak, dan Valen langsung memeriksanya dengan detail.
Di sana Valen melihat kelima orang yang menjadi korban adalah mahasiswa senior yang ternyata semua adalah mahasiswa beasiswa yang berprestasi dan bulan ini adalah waktunya mereka menerima pembayaran beasiswa itu yang anehnya mereka semua adalah orang yang mampu tapi prestasinya tidak seberapa.
"Papi, Valen ragu jika papi nggak tahu data ini?
Sedangkan papi dan mami adalah salah satu donatur terbesar di sana dan juga pemilik saham yang terbesar di sana barengan sama ayah Roy," ucap Valen curiga pada Altezza.
Altezza langsung tersenyum lebar saat mendengar analisa dari putri sulungnya itu dan juga semua data yang di dapat oleh anak bungsunya yang ternyata secepat itu mereka berdua bertindak.
Valen yang melihat gerak gerik sang papi menyipitkan matanya ke arah Altezza dan akhirnya Altezza jujur dengan apa yang di katakan oleh Valen tadi.
"Huum, kamu benar. Masalah pembagian beasiswa itu yang papi ingin kalian selidiki tapi papi nggak tahu jika ada pembantaian berantai di sana. Dan berita tadi juga sebenarnya belum sampai di papi bagaimana situasi di sana dan seperti apa. Mungkin ada petinggi lainnya yang menutupinya mengingat saat ini Roy tak ada di sini, dan yang mereka tahu hanya Roy yang menjadi pemilik saham dan donatur di sana. Meskipun papi juga mengeluarkan dana tapi papi tak pernah menyebutkan nama papi dan mami. Jadi semua di wakilkan oleh Roy dan juga Rossa, untuk semua dana yang mengalir dan keluar di sana papi dan Roy hanya sebatas mengawasi. Tapi jika ada kejadian seperti ini mungkin papi yang akan ambil alih kampus itu dan mengganti semua jajaran dosen yang ada di sana." jelas Altezza panjang lebar.
Zurra masih nampak diam tapi matanya terus menatap layar televisi yang ada di depannya saat ini.
"Dean, terjunlah langsung besok sebagai perwakilan dari Roy ayahmu. Dengan begitu itu akan memudahkan kalian menyelidiki semua yang terjadi. Karena jika kalian hanya berstatus orang luar, kalian tidak akan pernah bisa memasuki semua area kampus secara menyeluruh."
Zurra memberi intruksi pada Dean dan anak anaknya yang lain, tapi tidak untuk Ale.
"Ale nggak akan terjun langsung ke lokasi tapi Ale akan mengurusi semua data dan informasi yang di butuhkan nantinya," ucap Zurra lagi.
Mereka berempat saling pandang saat mendapati semua intruksi yang tertata dari Zurra tapi meskipun begitu tak menutup kemungkinan akan ada kejadian lagi yang tak mereka sangka nantinya.
"Baiklah, jika itu yang papi dan mami mau. Tapi ini benar benar di luar dugaan kenapa ada orang biasa yang bisa menghabisi orang lain jika hanya ada iri sesama mahasiswa atau hanya karena uang dan juga bukan orang dunia bawah." ucap Ale pelan.
Zurra yang mendengar perkataan anak bungsunya yang ada di sebelahnya mengusap pelan puncak kepala putrinya itu.
"Sayang, akan ada banyak tipe manusia yang akan kamu temui nanti semakin kamunya bertambah usia. Jadi pesan mami buat kamu dan semuanya, berhati hati lah dalam memilih teman dan juga bergaul. Ingat nggak akan pernah ada orang yang tulus. Dan ingat juga orang yang jahat biasanya tercipta dari orang baik yang teraniaya dan tersakiti," jelas Zurra panjang lebar,
"Jadi jika memang masalah di kampus ini hanya karena orang iri mungkin kalian akan lebih gampang menemukan pelakuya, tapi jika ada ikut campur dari orang yang berkuasa kalian harus lebih berhati hati lagi. Ingat semua orang akan menggunakan topengnya masing masing ketika tahu identitas kalian yang sebenarnya," ucap Zurra lagi.
Mereka berempat mengangguk mengerti dan memang benar adanya yang di bicarakan Zurra tadi. Banyak hal yang belum mereka tahu dan mereka masih harus terus belajar mengenai dunia yang lainnya. Mereka nampak terdiam mengamati berita yang terus berlanjut tanpa melakukan apa apa termasuk Altezza yang belum menerima berita dan info dari anggotanya.
Tapi tak berselang lama ponselnya bergetar dan itu dari Roy. Terlihat sekali jika Roy sedang meradang mendengar semua berita itu. Dan pada akhirnya Altezza menjelaskan semuanya pada Roy jika masalah itu akan di serahkan kepada anak anak mereka sekalian mereka belajar menangani masalah yang ada di sekitar mereka.
Awalnya Roy dan Rosa khawatir tapi Zurra memberikan penjelasan yang masuk akal kepada orang tua Dean begitu juga orang tua Arlo yang ikut bergabung dengan panggilan telfon itu. Mereka bahkan sudah merencanakan untuk bertemu di mansion Altezza keesokan harinya.
Malam itu Zurra segera menyuruh anak anak untuk beristirahat dengan cepat agar besok mereka sudah segar dna freh kembali.
Begitu juga dengan dirinya dan Altezza yang memutuskan untuk beristirahat.
Di sisi lain di sebuah ruangan yang gelap terdengar jeritan kesakitan dari beberapa orang wanita yang entah meraung dan mengeluarkan suara mereka. Tapi tak ada satu pun yang bisa membantu mereka.
Di sudut ruangan ada orang yang tertawa puas melihat itu semua.
"Hahah, kalian bukan yang awalnya membully gue tapi sekarang kalian juga yang ketakutan. Hahaha, dasar manusia serakah!!!"
to be continued...