Vallerie tidak pernah menyangka bahwa menutup mata setelah membaca bab terakhir sebuah novel akan membawanya terbangun di tubuh seorang figuran dengan nama yang sama. Namun, ia tidak punya waktu untuk bingung. Sebilah belati tak kasat mata kini tergantung di atas kepala sahabatnya, sang Antagonis, yang ditakdirkan mati mengenaskan di tangan Protagonis Pria demi membalas dendam kekasihnya
Demi mengubah naskah kematian tersebut, Vallerie harus memainkan peran yang berbahaya. Di mata dunia, ia adalah kaki tangan yang setia, ikut tertawa saat sang antagonis merencanakan kejahatan, dan terlihat sama busuknya. Namun, di balik bayang-bayang, Vallerie-lah yang diam-diam memotong tali jebakan, dan memastikan rencana jahat sahabatnya selalu gagal .
Berada di antara pedang Protagonis Pria dan obsesi gelap sahabatnya sendiri, satu-satunya teman bicara Vallerie hanyalah sebuah Sistem super cerewet dan berisik di dalam kepalanya. Terkadang Vallerie merasa kesal, tapi hanya dia yang bisa membantu V
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lailararista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbangun dari sisi yang salah
Vallerie melempar asal buku novelnya yang baru selesai dia baca, dia kesal dengan antagonis di cerita tersebut, bagaimana tidak, hanya karena cinta yang tidak terbalaskan, menghalalkan segala cara agar pria yang dia cinta jatuh ke tangannya. Alih-alih mendapatkan cintanya, dia malah mati tragis karena dibunuh oleh pameran utama pria. Dia dibunuh dengan sangat tragis, dimana Dominic si pameran utama pria meminta anak buahnya untuk memperkosa Eleanor si antagonis secara bergilir, dan setelah membuat mentalnya hancur lalu Dominic menembak tepat di kepalanya.
Sebenarnya Eleanor memiliki tunangan, Vernandes. Tapi tunangannya tidak peduli dengan Eleanor, karena sejak awal memang tidak ada cinta, Eleanor dan Vernandes hanya dijodohkan karena urusan bisnis kelurga, ditambah kelakuan Eleanor yang selalu mengejar Dominic sahabat masa kecilnya yang dia cintai dari dulu. Karena alasan itu juga kedua orang tua Eleanor menjodohkannya dengan rekan kerjanya. Dialur ceritanya, sejak kecil mereka berteman bertiga, termasuk Vallerie, sebab itu mereka bekerja di tempat yang sama, perintah orang tua mereka. Diantara mereka bertiga, keluarga Dominic lah yang paling berkuasa, bahkan Dominic mampu membangun perusahaannya sendiri, tapi tentu dengan bantuan dua sahabatnya itu.
"Vallerie mati tragis juga gara-gara Eleanor? Jangan sampai aku juga mengalami hal yang sama, nama juga sama lagi."gumam Vallerie, setelah baca novel itu dia menjadi merinding, karena pameran figuran yang merupakan sahabat antagonis juga ikut mati tragis dibunuh Dominic, dimana dia di hajar habis-habisan oleh pria bertubuh besar hingga meregang nyawa.
Vallerie memilih membaringkan tubuhnya diranjang kecil miliknya, Vallerie memiliki orang tua yang lumayan berkuasa, tapi karena kedua orang tuanya mengekang hidupnya, Vallerie memilih hidup sendiri, hingga akhirnya orang tuannya mencabut semua fasilitas yang membuat Vallerie harus bekerja banting tulang. Kalau dipikir-pikir dia menyesal kabur dari rumahnya, tapi untuk kembali lagi dia merasa gengsi.
Kantuk mulai menjalar, Vallerie memejamkan mata dan mulai tertidur lelap, meninggalkan beban berat dalam hidupnya yang harus membiayai dirinya sendiri.
★★★
Cahaya matahari yang terlalu terang memaksa masuk melalui celah gorden sutra setinggi langit-langit, menusuk langsung ke kelopak mata Vallerie. Ia mengerang, mencoba menarik selimut untuk menutupi kepala, namun tangannya justru menyentuh sesuatu yang terlalu halus. Bukan selimut flanel murahnya yang berbulu, melainkan duvet bulu angsa dengan kelembutan yang tidak masuk akal.
Vallerie tersentak bangun. Matanya membelalak menatap sekeliling. Ia tidak berada di kamar kostnya yang kecil dan sempit. Ia berada di sebuah kamar luas yang lebih mirip suite hotel bintang lima. Furnitur bergaya neoklasik, cermin raksasa dengan bingkai emas, dan aroma lilin aromaterapi mahal memenuhi ruangan.
"Aku belum bangun?" bisiknya mengira ia masih di alam mimpi, suaranya terdengar sedikit berbeda lebih jernih dan feminin.
Ding!
[Selamat pagi, Tuan Putri! Sinkronisasi kesadaran telah mencapai 100%. Selamat datang di kehidupan baru yang sangat merepotkan!]
Vallerie hampir melompat dari tempat tidur saat sebuah suara mekanis yang ceria meledak di dalam kepalanya. Suara itu tidak berasal dari telinga, tapi menggema langsung di saraf pusatnya.
"Siapa itu?! Di mana ini?!"
[Perkenalkan, aku adalah Sistem Pendamping Karakter. Saat ini kamu berada di kediaman Vallerie, dalam dunia novel 'The CEO’s Frozen Heart'. Kamu baru saja membaca bab terakhirnya semalam, ingat?]
Ingatan itu menghantamnya. Vallerie, si tokoh figuran yang ikut terkena batunya akibat ulah sih antagonis, dia adalah sahabat Vallerie. Eleanor yang dimana sudah memiliki tunangan tapi mencintai teman masa kecilnya. Dia selalu menganggu kekasih dari pria tersebut.
"Aku... Vallerie? Didunia novel?"ujar Vallerie dengan pandangan tidak percaya.
[Tepat sekali! Kamu adalah Vallerie, sahabat karib Eleanor von Astred. Dalam dunia ini, peran kamu sangat krusial, kamu adalah HRD Manager di Astrea Group, sementara Eleanor adalah Sekretaris Pribadi CEO. Intinya, kamu adalah orang yang membersihkan semua kekacauan yang dibuat Eleanor demi mengejar cintanya, Bapak Dominic tercinta.]
Vallerie memijat pelipisnya yang berdenyut. "Jadi, aku harus menjadi penjahat juga?"
[Secara teknis, iya. Di mata dunia, kamu adalah anjing penjaga Eleanor. Tapi ingat, Tuan Putri, jika kamu terus mengikuti naskah asli dan membiarkan Eleanor melakukan kejahatan tanpa kendali, kamu akan mati karena semua orang tahu, kamu dan Eleanor cukup dekat, jadi bukan hanya Eleanor yang mati tragis, kamu juga. Jadi mari kita ubah itu, ya?]
Drrt... Drrt...
Sebuah ponsel pintar model terbaru di atas nakas bergetar. Vallerie melihat nama pemanggil di layarnya, 'Eleanor Kesayanganku'. Melihat nama yang tertera rasanya Vallerie ingin muntah, ternyata Vallerie dinovel sangat norak sepeti itu.
[Itu dia! Si Antagonis kesayangan kita sudah bangun. Peringatan, Eleanor sedang dalam mode obsesi gelap. Dia baru saja tahu kalau Aleta, sang protagonis wanita yang bekerja sebagai anak magang, tidak sengaja menabrak Bapak Dominic di lift kemarin.]
Vallerie menarik napas panjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Wajahnya tetap wajahnya, namun dengan kulit yang lebih terawat dan tatapan mata yang tampak lebih tajam.
"Jadi tugasnya adalah... mendukungnya di depan, tapi menyabotase rencananya di belakang?" bisik Vallerie pada dirinya sendiri.
[Benar sekali! Cepat angkat teleponnya, atau dia akan datang ke sini dan menghancurkan pintu kamar kamu yang mahal ini.]
Dengan tangan sedikit gemetar, Vallerie menggeser tombol hijau. Sebelum ia sempat mengucap kata halo, suara melengking yang penuh amarah sudah memenuhi gendang telinganya.
"Vallerie! Kamu tidak akan percaya apa yang dilakukan jalang itu kemarin! Aku ingin dia keluar dari perusahaan hari ini juga. Kamu cari alasan apa pun, pelanggaran kode etik, pencurian, apa pun! Aku ingin surat pemecatannya ada di mejaku secepatnya!"
Vallerie menjauhkan ponsel dari telinganya, sementara Sistem di kepalanya mulai mengeluarkan tabel data dan grafik risiko yang berkedip merah.
"Tenanglah, Eleanor," ujar Vallerie, mencoba meniru nada bicara Vallerie yang asli. "Aku akan siap-siap, dan kita akan bicarakan ini di kantor. Serahkan padaku."
Begitu telepon tertutup, Vallerie merosot ke lantai marmer yang dingin.
"Sistem... berikan aku daftar peraturan perusahaan. Aku perlu mencari celah agar si anak magang itu tetap aman tanpa membuat Eleanor mencurigaku."
[Melaksanakan perintah! Mengunduh data protokol perusahaan, Oh, dan satu tips, Tuan Putri, Jangan lupa pakai lipstik merahmu. Vallerie yang asli itu sama dengan Eleanor, suka berdandan sedikit berlebihan agar terlihat tegas.]