NovelToon NovelToon
From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

From Debt To Riches: An Unexpected Marriage

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: WesternGirl10

Kevin adalah definisi pekerja korporat yang malang: terjepit di antara makian bos yang toksik dan tumpukan dokumen yang tak ada habisnya. Pelariannya hanyalah dunia anime dan manga di sela waktu lembur yang menyiksa.
​Namun, hidupnya berubah total saat sang ayah kalah judi dan terlilit hutang raksasa pada rentenir. Sebagai penebusan dosa finansial ayahnya, Kevin "dijual" dalam sebuah pernikahan kontrak kepada Ashley—pewaris konglomerat yang dingin, perfeksionis, dan terobsesi pada kemewahan.
​Kevin mengira hidupnya akan menjadi neraka di bawah telapak kaki Ashley. Namun, kenyataannya justru terbalik.
​Di mansion megah itu, Kevin menemukan surga bagi seorang wibu introvert. Tanpa tekanan kantor, tanpa bos yang marah, dan didukung uang bulanan yang melimpah, ia resmi menjadi "pengangguran kaya" yang dilayani 24 jam. Di balik dinding marmer dan kemewahan Ashley, Kevin bebas menikmati hobi dan kemalasannya.
​Tapi, apakah Ashley benar-benar hanya butuh suami pajangan, atau ada harga mahal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WesternGirl10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

07

Aroma kertas baru dan tinta segar menjadi teman setia Kevin dalam beberapa hari terakhir. Sejak momen belanja pertamanya bersama Ashley waktu itu, hidup Kevin seolah berputar 180 derajat. Ia kini disibukkan dengan berbagai persiapan untuk memulai masa kuliahnya. Toko buku menjadi destinasi favorit barunya; ia sering terlihat membolak-balik literatur berat di antara rak-rak kayu yang menjulang.

​Tak hanya pikiran, penampilan fisiknya pun mulai ia perhatikan. Untuk pertama kalinya setelah setahun membiarkan rambutnya tumbuh berantakan tak terurus, Kevin memutuskan untuk kembali ke salon langganannya dulu. Sentuhan tangan penata rambut profesional membuat wajahnya terlihat lebih segar dan tajam, mempertegas garis rahangnya yang selama ini tersembunyi di balik poni yang panjang.

​Bukan hanya itu, Kevin kini menggenggam simbol status baru di tangannya: sebuah ponsel model terbaru dari Giotech Titan. Ponsel itu merupakan mahakarya teknologi yang bahkan belum dirilis resmi di pasaran. Desainnya revolusioner—bisa dilipat tiga kali namun tetap memiliki ketebalan yang super tipis, hampir seperti selembar kaca masa depan.

​"Kudengar dari Neena kalau pagi ini kau tak meminum jamunya," seru Ashley tiba-tiba, memecah keheningan yang menyelimuti meja makan malam itu.

​Suasana di aula makan yang megah itu mendadak tegang. Suara denting garpu Kevin yang beradu dengan piring porselen terdengar lebih nyaring dari biasanya. Kevin menghentikan kegiatannya, merasa tertangkap basah.

​"Ah... itu karena rasanya..." jawab Kevin sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal, mencoba mencari alasan yang masuk akal.

​Ashley meletakkan alat makannya, menatap Kevin dengan tatapan menyelidik. "Rasanya? Ada yang salah dengan itu? Menurutku rasanya biasa saja."

​"Itu kan menurutmu." Kevin menghela napas panjang, bahunya merosot. "Padahal Neena bilang akan membicarakannya dengan kepala koki agar rasanya lebih ringan, tapi menurut lidahku, rasanya justru malah semakin buruk." Kevin menggerutu pelan sambil menusuk potongan wortel di piringnya dengan garpu, seolah sayuran itu adalah musuh bebuyutannya.

​"Dan juga, harus ya aku makan sayur setiap hari? Aku mulai bosan, Ash. Lidahku rasanya sudah berubah jadi hijau," sambungnya dengan nada merajuk.

​Ashley tidak bergeming. "Jangan mengeluh. Kita harus menjalani diet ketat ini demi kesehatan kita berdua. Kau tahu tujuannya, bukan?"

​Kevin meletakkan garpunya dengan sedikit hentakan. "Ugh... jujur saja, bukankah tanpa diet ataupun air muntahan beruang itu juga kemungkinannya besar untukmu hamil, kan? Maksudku, lihat orang lain di luar sana. Mereka bahkan sering merokok dan minum alkohol secara gila-gilaan, tapi tetap saja bisa hamil dengan mudah."

​Udara di ruangan itu seakan membeku. Ashley memberikan tatapan tajam yang bisa mengiris baja. Perasaannya sedikit terluka mendengar perbandingan itu. "Hah? Kau membandingkanku dengan para jalang jalanan itu?"

​Kevin tersentak. Ia menyadari pilihan katanya sedikit ceroboh. "Maksudku bukan begitu, Ash. Tolong jangan salah paham. Maksudku, mereka yang hidupnya tidak sehat saja bisa mudah memiliki keturunan, apalagi kau. Kau tidak merokok, tidak menyentuh alkohol, dan menjaga tubuhmu dengan sangat baik. Seharusnya kesempatanmu bisa dua kali lipat lebih cepat dari mereka tanpa perlu menyiksa lidah dengan jamu itu."

​Ashley menghela napas panjang, mencoba meredam emosinya. Ia mengambil serbet kain sutra di pangkuannya dan menyeka mulutnya dengan gerakan elegan yang kaku.

​"Aku mengerti maksudmu, Kevin. Tapi apa salahnya menjalani hidup sehat sebagai bentuk ikhtiar?" Ashley menatap Kevin dari atas ke bawah, memberikan penilaian jujur. "Justru aku lebih khawatir dengan kesehatanmu. Selama ini aku tak pernah melihatmu berolahraga atau sekadar menginjakkan kaki di gym mansion ini, padahal fasilitasnya sangat lengkap."

​Kalimat itu seolah menjadi pukulan pamungkas yang telak bagi Kevin. Ia terdiam, tak mampu membalas. Di antara mereka berdua, Kevin memang harus mengakui bahwa gaya hidupnya adalah yang paling berantakan. Keripik kentang dalam kemasan besar, soda yang tinggi gula, serta tumpukan makanan cepat saji adalah sahabat karibnya. Dan setelah itu? Tidur. Tidak ada waktu yang ia luangkan untuk menggerakkan otot. Semua waktu kosongnya dihabiskan hanya untuk tenggelam dalam dunia imajinasi membaca manga dan menonton anime berjam-jam.

​"Ugh, iya, iya... aku tidak akan mengeluh lagi soal sayur," gumam Kevin akhirnya menyerah. "Tapi tetap saja, tolong beritahu kepala koki untuk mengubah rasa 'air muntahan beruang' itu sedikit saja. Setidaknya agar tidak membuatku ingin mual setiap pagi."

​"Akan kusampaikan padanya nanti," jawab Ashley singkat, meski ada secercah senyum tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya melihat suaminya mengalah.

​Malam pun semakin larut, menyisakan keheningan di dalam mansion besar itu. Di dalam kamar yang sejuk, Kevin dan Ashley akhirnya tertidur dalam pelukan hangat. Kelelahan setelah 'aktivitas' rutin yang belakangan ini mereka lakukan sebagai bagian dari program kehamilan—sebuah rutinitas yang meski melelahkan, secara perlahan mulai menumbuhkan ikatan emosional yang lebih dalam di antara keduanya.

​Keesokan paginya, ketika cahaya matahari mulai merangkak naik di ufuk timur dan menyusup di celah gorden beledu, Kevin menggeliat pelan. Gerakan kecil itu rupanya cukup untuk membuat Ashley terjaga. Ashley melirik jam digital di meja nakas; masih pukul 06:17 pagi.

​Tiba-tiba, suara dering ponsel memecah kesunyian kamar. Alunan melodi lembut namun nyaring terputar secara repetitif, memicu cahaya terang dari layar ponsel yang tergeletak di meja kayu tersebut.

​"Kevin..." suara Ashley terdengar serak, khas seseorang yang baru terbangun dari tidur lelap. Ia menepuk dada suaminya pelan untuk membangunkannya. "Ponselmu..."

​"Mmm... lima menit lagi, Sayang..." gumam Kevin sambil menarik selimut lebih tinggi.

​"Ponselmu berdering terus, cepat angkat... berisik sekali," desak Ashley lagi.

​Dengan mata yang masih lengket dan terpejam, Kevin meraba permukaan kasur hingga tangannya mencapai meja nakas. Tanpa melihat siapa nama si penelepon yang tertera di layar, ia langsung menggeser ikon hijau dan menempelkan perangkat tipis itu ke telinganya.

​"Halo?" suara Kevin parau.

​"Nyonya Ashley Giovano?" balas seorang suara pria di ujung telepon dengan nada formal.

​Kevin mengernyitkan alis. Ia segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan melihat layarnya dengan mata menyipit. Pantas saja suaranya asing, ternyata itu adalah ponsel milik Ashley yang tertukar posisinya.

​"Ash... ini ponselmu. Ada telepon," ucap Kevin sambil mengguncang bahu Ashley pelan.

​Tak ada respon berarti. Ashley sepertinya sudah kembali menyelam ke alam bawah sadar. Karena tidak enak hati membiarkan si penelepon menunggu, Kevin memutuskan untuk melanjutkan pembicaraan.

​"Ya, ini suaminya. Ini siapa?"

​"Ah, maaf mengganggu pagi-pagi, Pak. Saya dari Kilat Express. Saya ingin mengantarkan paket untuk Nyonya Ashley, tapi sepertinya saya sedikit tersesat karena sinyal GPS di sini agak tidak stabil. Bisa diberitahukan alamat pastinya di mana?"

​Kevin menguap lebar sebelum menyebutkan alamat lengkap mansion yang sebenarnya cukup terkenal di daerah itu.

​"Hm, alamat di sistem saya sebenarnya sudah benar," ujar kurir itu terdengar bingung. "Boleh saya tahu detail patokannya? Saat ini saya berada di kaki bukit, tepat di depan kantor pemadam kebakaran."

​"Ah, saya tahu posisi Anda," jawab Kevin yang mulai sadar sepenuhnya. "Dari sana, Anda tinggal berkendara naik terus mengikuti jalan utama ke atas bukit. Jangan belok ke mana pun. Di puncak nanti, Anda pasti akan melihat gerbang besi hitam yang sangat besar di antara dahan-dahan pohon pinus yang tinggi. Itu rumah kami."

​"Oh, baiklah, terima kasih informasinya, Pak. Segera meluncur."

​Sambungan terputus seketika. Kevin meletakkan kembali ponsel canggih itu di samping bantal Ashley. Ia kemudian kembali merapat ke arah istrinya, memeluk pinggangnya dari belakang.

​"Ash, kau memesan paket? Pagi-pagi begini kurirnya sudah sampai bawah bukit," tanya Kevin lembut sambil mencium puncak kepala Ashley berkali-kali, menghirup aroma sampo apel yang menenangkan.

​"Hmm...." Ashley hanya menjawab dengan gumaman tak jelas, masih enggan membuka mata.

​"Tak bisakah kau bolos kerja hari ini saja? Temani aku di rumah," rayu Kevin. "Rasanya aku malas sekali meninggalkan kasur yang hangat ini."

​Ashley akhirnya membuka matanya sedikit, memberikan senyum kecil yang terlihat lelah. "Tidak bisa, Kevin. Aku ada rapat penting dengan klien utama hari ini. Jadwalnya sudah diatur sejak sebulan lalu."

​"Kalau begitu, jam berapa kau pulang? Jangan lembur lagi seperti kemarin," keluh Kevin.

​"Jam lima sore, seperti biasa. Aku usahakan tepat waktu."

​Kevin teringat jadwalnya sendiri. "Hari ini aku berencana pergi ke kampus untuk melihat-lihat lingkungan sekitar dan mengurus beberapa dokumen administrasi. Bisakah kau sempatkan waktumu untuk makan siang denganku? Di dekat kantor C&T pun tidak masalah, aku yang akan menyusul ke sana."

​Mendengar ajakan itu, Ashley tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Oke, nanti aku akan memberitahu Sarah untuk mengosongkan jadwal makan siangku."

​Mendengar jawaban itu, Kevin tersenyum puas. Ia mengeratkan pelukannya sejenak sebelum akhirnya mereka berdua benar-benar harus beranjak untuk menghadapi dunia nyata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!