Arkan, seorang pemuda yang dianggap sampah kultivasi, ternyata menyimpan kekuatan terlarang di telapak tangannya. Saat 5 elemen bersatu dengan kehampaan Void, satu galaksi pun harus tunduk. Saksikan perjalanan Arkan
Body Tempering
Qi Gathering
Qi Foundation
Core Formation
Soul Realm 2 pengikut nya
Earth Realm
Sky Realm cici
Nirvana Realm arkan
Dao Initiate
Dao Master Dao arkan& cici
Sovereign
Divine
Universal (Kaisar Drak)
Eternal Ruin (Puncak Arkan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon roni alex saputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keajaiban di balik kehancuran
Asap hitam masih mengepul dari reruntuhan Desa Anggrek Putih, namun ada sesuatu yang janggal di tengah kehancuran itu. Seekor burung bangau putih raksasa turun dari langit, membelah awan dengan kepakan sayap yang memancarkan cahaya perak. Di atas punggungnya, berdiri seorang pria tua dengan jubah putih bersih yang melambai ditiup angin.
Dia adalah Leluhur Sekte Awan Putih, sosok yang telah hidup selama ratusan tahun dan jarang sekali menampakkan diri di dunia fana.
"Aura apa ini?" gumam sang Leluhur. Alis putihnya berkerut. "Tekanan gravitasi di tempat ini... seolah-olah ruang dan waktu telah terpelintir."
Leluhur itu melompat turun. Kakinya tidak menyentuh tanah, melainkan melayang beberapa inci di atas lumpur yang berlumuran darah. Matanya yang tajam langsung terpaku pada sebuah kawah raksasa di tengah desa. Itu bukan lubang ledakan biasa. Pinggiran lubang itu rata dan halus, seolah-olah sepotong dunia telah dihapus secara paksa.
Di dasar kawah itu, ia melihat seorang remaja laki-laki tergeletak pingsan. Tubuhnya kecil, jubahnya compang-camping, namun di tangan kanannya masih tersisa percikan listrik ungu yang memudar.
"Anak ini..." Sang Leluhur mendekat. Ia mencoba melepaskan sedikit energi suci untuk memeriksa denyut nadi Arkan.
DEG!
Saat energi suci sang Leluhur menyentuh kulit Arkan, sebuah pusaran hitam kecil muncul di telapak tangan bocah itu. Energi sang Leluhur terhisap masuk seketika, hilang tanpa bekas ke dalam tubuh Arkan yang sedang tidak sadar.
Sang Leluhur tersentak mundur satu langkah. Matanya terbelalak kaget. "Dia... dia menelan energiku? Seorang bocah tanpa kultivasi sanggup menelan energi tingkat Nirvana?!"
Leluhur itu terdiam sejenak, menoleh ke kiri dan kanan pada mayat para prajurit zirah hitam yang hancur berkeping-keping. Ia menyadari satu hal: bocah ini baru saja melakukan sesuatu yang bahkan para jenius di sektenya tidak sanggup lakukan.
Arkan perlahan membuka matanya. Pandangannya kabur. Hal pertama yang ia rasakan adalah rasa haus yang membakar tenggorokan.
"Minumlah," sebuah suara berat namun tenang terdengar di dekatnya.
Sebuah botol giok melayang di depan wajah Arkan. Arkan meraihnya dengan tangan gemetar dan meminum air di dalamnya. Rasa dingin yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuhnya, menyembuhkan otot-ototnya yang nyaris hancur karena ledakan gravitasi tadi malam.
Arkan duduk dengan susah payah, menatap pria tua di depannya dengan waspada. "Siapa... siapa kau? Apakah kau bagian dari pasukan Jenderal itu?"
Sang Leluhur terkekeh pelan. "Jenderal itu? Dia sudah menjadi debu di dalam lubang yang kau buat sendiri, Nak. Namaku adalah Penguasa Awan Putih. Aku datang karena merasakan 'getaran langit' di tempat ini."
Arkan menunduk, menatap tangannya sendiri. Ingatan tentang pembantaian orang tuanya kembali menghantamnya seperti palu godam. Matanya memerah, penuh dengan dendam yang tertahan.
Aku butuh kekuatan," bisik Arkan, suaranya parau. "Aku tidak peduli siapa kau. Jika kau bisa memberiku kekuatan untuk membantai seluruh pasukan Kaisar Drak... aku akan mengikutimu."
Sang Leluhur menatap Arkan dengan pandangan mendalam. Ia melihat kegelapan yang tak berujung di mata ungu bocah itu. "Sekte Awan Putih bukan tempat untuk pembunuh, Arkan. Tapi... jika kau ingin menjadi cukup kuat untuk menentukan takdirmu sendiri, ikutlah denganku. Aku akan mengajarimu cara mengendalikan 'lubang' di dalam dirimu itu sebelum ia memakan nyawamu."
Arkan terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Aku akan ikut. Tapi suatu hari nanti, aku akan pergi untuk mengambil kepala mereka."
"Kita lihat saja nanti, Bocah," Leluhur itu melambaikan lengannya.
Seketika, angin puyuh berwarna putih membungkus tubuh mereka berdua. Dalam sekejap mata, bumi di bawah kaki Arkan menghilang. Mereka melesat menembus awan, menuju puncak gunung tertinggi yang puncaknya tertutup salju abadi
Sekte Awan Putih telah menanti, namun Arkan tidak tahu bahwa di sana, dia bukan disambut sebagai pahlawan, melainkan sebagai "sampah" yang membawa kutukan tersembunyi.