NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20: Kedatangan Ibu Mertua

Jakarta kembali diguyur hujan. Sudah seminggu ini langit tak pernah benar-benar cerah. Awan kelabu menggantung, sesekali menumpahkan airnya dengan deras. Jalanan macet, genangan di mana-mana, dan orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.

Tapi di dalam apartemen The Rosewood, suasana hangat. Aira duduk di sofa ruang tamu, perutnya kini mulai terlihat membesar. Usia kehamilannya memasuki bulan kelima. Janin sehat, aktif bergerak, dan menurut dokter, jenis kelaminnya perempuan.

Raka senang bukan main. Ia sudah membayangkan punya putri kecil yang manis. Arka juga senang, tapi sedikit kecewa karena tadinya ingin adek laki-laki untuk main mobil-mobilan.

"Enggak apa-apa, Dek. Nanti kakak ajarin main mobil-mobilan juga," katanya pada perut Aira.

Aira tertawa. "Ark, adeknya masih di perut. Belum bisa diajak main."

"Tapi kan nanti udah lahir, bisa."

"Iya, nanti."

Pagi itu, Aira sedang menikmati sarapan ketika ponsel Raka berdering. Raka melihat layar, wajahnya berubah.

"Aira, sebentar ya. Aku angkat telepon."

Ia pergi ke balkon. Aira mengernyit heran. Biasanya Raka tak pernah sembunyi-sembunyi kalau telepon.

Beberapa menit kemudian, Raka kembali. Wajahnya rumit. Campuran antara senang, cemas, dan bingung.

"Aira, ada yang mau aku omongin."

Aira meletakkan sendoknya. "Ada apa?"

Raka duduk di sampingnya. "Ibuku... mau ke Jakarta."

Aira terkejut. "Ibumu? Tapi katanya ibu sudah meninggal?"

Raka menghela nafas. "Maaf, Aira. Aku selama ini bilang orang tuaku sudah meninggal. Tapi... itu cuma tentang ayahku. Ibuku... masih hidup."

Aira diam. Menunggu penjelasan.

Raka menatapnya dengan mata penuh penyesalan. "Aku minta maaf. Seharusnya dari dulu aku cerita. Tapi ini berat."

"Ceritakan, Raka. Aku di sini."

Raka menarik nafas panjang. Mulai bercerita.

---

Ibunya bernama Rosmini. Wanita sederhana dari desa kecil di Jawa Tengah. Ia menikah muda dengan ayah Raka, seorang buruh pabrik yang keras dan suka main tangan.

Raka kecil tumbuh dalam bayang-bayang kekerasan. Ayahnya sering memukul ibunya, kadang memukulnya juga. Ibunya bertahan demi anak-anaknya—Raka dan adik perempuannya, Wulan.

Tapi saat Raka berusia 12 tahun, ibunya pergi. Pergi dengan pria lain, meninggalkan Raka dan Wulan bersama ayah yang kejam.

"Aku benci dia," kata Raka dengan mata kosong. "Bertahun-tahun aku benci. Dia tinggalkan kami. Wulan waktu itu baru 5 tahun. Dia nggak inget apa-apa soal ibu. Aku yang harus jadi kakak sekaligus orang tua buat dia."

Aira meraih tangannya. Memberi kekuatan.

"Lalu?"

"Wulan... dia meninggal waktu umur 8 tahun. Demam. Ayah nggak bawa ke dokter, katanya nggak punya uang. Padahal mabuk setiap malam. Wulan meninggal di pelukanku."

Air mata Raka jatuh. Aira memeluknya.

"Aku janji waktu itu. Aku akan sukses. Aku akan keluar dari kemiskinan. Aku akan jadi orang penting. Dan aku lakukan. Tapi luka itu tetap ada."

"Dan ibumu?"

"Dia muncul beberapa kali. Mau minta maaf. Tapi aku nggak bisa maafkan. Aku usir. Aku bilang aku nggak punya ibu. Lalu dia hilang lagi. Sampai sekarang."

Aira diam. Memproses semua informasi.

"Jadi, dia mau ke sini?"

Raka mengangguk. "Tadi dia telepon. Katanya lewat teman, dia tahu aku sudah nikah, punya anak, dan isteriku hamil. Dia mau ketemu. Mau minta maaf sekali lagi. Dan... mau lihat calon cucunya."

Aira merasakan kompleksitas perasaan Raka. Antara dendam lama dan ikatan darah.

"Kamu mau terima dia?"

Raka menggeleng. "Aku nggak tahu. Aira, aku benci dia. Tapi... dia ibuku."

Aira memegang wajah Raka. "Dengar, Sayang. Apa pun keputusanmu, aku dukung. Tapi mungkin ini kesempatan. Kesempatan untuk menyembuhkan luka lama. Nggak harus langsung maaf, tapi setidaknya dengar dulu."

Raka menatapnya. "Kau pikir aku harus terima dia?"

"Aku pikir kamu harus dengar ceritanya. Setelah itu, baru putuskan."

Raka diam lama. Lalu menghela nafas.

"Aku... aku akan coba. Tapi kalau dia sakiti kamu atau Arka, aku akan usir dia."

Aira tersenyum. "Aku tahu. Aku percaya padamu."

---

Tiga hari kemudian, seorang wanita tua tiba di apartemen.

Aira membuka pintu. Wanita di hadapannya kecil, kurus, dengan rambut putih hampir seluruhnya. Wajahnya keriput oleh usia dan mungkin penyesalan. Matanya sembab, seperti baru menangis.

"Non... Nona Aira?" suaranya bergetar.

"Iya, Bu. Silakan masuk."

Wanita itu masuk dengan ragu. Matanya memandang sekeliling apartemen mewah itu dengan takjib.

"Rumahnya bagus sekali," bisiknya.

Aira mempersilakan duduk. Raka belum keluar dari kamar. Masih berusaha menguatkan diri.

Ibu Rosmini duduk di sofa. Tangannya gemetar di pangkuan. Arka yang penasaran, mendekat.

"Mama, ini siapa?"

Aira memeluk Arka. "Ini... nenek. Neneknya Bapak."

Arka mengernyit. "Nenek? Tapi Bapak bilang nenek udah nggak ada."

Ibu Rosmini menunduk. Air matanya jatuh.

Aira mengusap rambut Arka. "Ark, permaian sama Bi Inah dulu ya. Mama mau ngobrol sama nenek."

Arka menurut, meski masih penasaran. Ia pergi ke dapur.

Aira duduk di hadapan ibu Rosmini.

"Bu, maafkan sikap Raka. Dia... masih butuh waktu."

Ibu Rosmini mengangguk. "Saya ngerti, Nona. Saya tahu dia benci saya. Tapi saya nggak menyalahkan dia. Saya memang salah."

"Ceritakan, Bu. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Ibu Rosmini bercerita. Tentang pernikahan yang penuh kekerasan. Tentang suami yang tak pernah puas. Tentang bagaimana ia bertahan demi anak-anak, sampai suatu hari ia bertemu pria lain yang memberinya kebaikan.

"Saya bukan ninggalin mereka karena enggak sayang. Tapi karena saya hampir mati tiap hari dipukul. Pria itu—Bambang—dia baik. Dia bantu saya keluar dari situ. Tapi saya nggak bisa bawa anak-anak. Suami saya ancam akan bunuh saya kalau bawa mereka."

Aira diam. Mendengar dengan seksama.

"Saya pikir nanti, setelah keadaan aman, saya bisa jemput mereka. Tapi ternyata suami saya pindah, nggak kasih kabar. Saya cari ke mana-mana, nggak ketemu. Bertahun-tahun. Sampai akhirnya Bambang meninggal, saya sendiri. Baru setahun lalu saya tahu Raka sudah sukses di Jakarta. Tapi saya takut. Takut dia tolak. Akhirnya saya nekat telepon."

Aira menghela nafas. "Bu, saya turut sedih. Tapi Raka juga punya luka. Adiknya, Wulan, meninggal. Dan dia anggap itu karena ibu pergi."

Ibu Rosmini terisak. "Wulan... cucuku... saya nggak tahu. Saya nggak tahu dia meninggal. Kalau saya tahu, pasti saya cari."

Dari balik pintu, Raka muncul. Wajahnya basah.

"Ibu," panggilnya lirih.

Ibu Rosmini menoleh. Melihat Raka, ia langsung berlutut.

"Raka... Nak... maafkan Ibu... maafkan..."

Raka mendekat. Membantu ibunya berdiri.

"Ibu, duduklah."

Mereka duduk berhadapan. Ibu Rosmini masih menangis. Raka menunduk.

"Aku benci Ibu bertahun-tahun. Karena Ibu pergi, karena Wulan meninggal. Tapi tadi aku dengar cerita Ibu. Aku... aku nggak tahu soal kekerasan itu. Aku nggak tahu kalau Ayah sejahat itu ke Ibu."

Ibu Rosmini menggeleng. "Bukan salahmu, Nak. Kau masih kecil."

"Aku marah, Bu. Tapi mungkin... mungkin aku juga harus dengar cerita Ibu."

Ibu Rosmini meraih tangan Raka. "Raka, Ibu nggak minta maaf biar diampuni. Ibu cuma ingin kau tahu, Ibu nggak pernah berhenti sayang kalian. Setiap hari Ibu ingat. Setiap malam Ibu nangis."

Raka diam. Air matanya jatuh.

Aira mendekat. Duduk di samping Raka.

"Raka, mungkin ini saatnya. Memaafkan bukan berarti melupakan. Tapi melepaskan beban."

Raka menatap Aira. Lalu menatap ibunya.

"Ibu... aku... aku maafkan Ibu."

Ibu Rosmini menangis keras. Memeluk Raka. Raka diam, lalu perlahan membalas pelukan itu.

Aira menangis melihatnya. Arka muncul dari dapur, melihat semua, lalu lari memeluk Aira.

"Mama, kenapa nangis?"

Aira mengusap air matanya. "Mama bahagia, Nak. Bahagia."

---

Malam itu, mereka makan malam bersama. Ibu Rosmini duduk di meja makan, masih tak percaya bisa bersama anaknya lagi. Arka dengan polosnya bertanya macam-macam.

"Nenek, kenapa baru datang sekarang?"

Ibu Rosmini tersenyum getir. "Nenek... nenek sibuk, Nak."

"Sibuk apa?"

"Nek... nek kerja."

"Kerja di mana?"

Raka memotong. "Ark, jangan banyak tanya. Nenek capek."

Arka cemberut. "Arka mau kenal nenek."

Ibu Rosmini tersenyum. "Nggak apa-apa, Nak. Nenek senang Arka mau kenal."

Ia mengelus rambut Arka. Arka tersenyum.

Malam itu, setelah Arka tidur, mereka bertiga duduk di ruang tamu.

"Ibu, rencananya tinggal di mana?" tanya Raka.

"Saya... saya ada tempat kost dekat sini. Sementara ini."

"Tinggal di sini saja, Bu. Ada kamar kosong."

Ibu Rosmini terkejut. "Boleh? Nggak ganggu?"

Aira tersenyum. "Tentu boleh, Bu. Ini rumah Ibu juga."

Ibu Rosmini menangis lagi. "Terima kasih, Nak. Terima kasih."

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, keluarga itu utuh.

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!