NovelToon NovelToon
Greta Hildegard

Greta Hildegard

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Bullying dan Balas Dendam / Misteri
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: spill.gils

Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kapten Jarvis Memanas

Luca melakukan lemparan bebasnya dengan sangat dingin. Swish! Bola masuk tanpa menyentuh ring. Skor menjadi 46 - 48.

​Begitu pemain Northern melakukan in-bound pass, Luca tidak menunggu mereka sampai ke area pertahanan Jarvis. Ia melakukan Full Court Press sendirian.

​Swoosh!

Bola masuk sempurna. Skor berbalik: 49 - 48. Stadion meledak!

​Namun, aksi gila yang sebenarnya terjadi di 30 detik terakhir. Pemain Northern yang frustrasi mencoba melakukan serangan balik cepat. Luca mengejar dari belakang seolah-olah hidupnya bergantung pada lari itu.

​Saat pemain Northern melompat untuk melakukan dunk kemenangan, Luca melompat dengan ketinggian yang tidak manusiawi.

​"TIDAK DI SINI!" teriak Luca.

​PLAAAK! Luca melakukan chase-down block yang sangat keras hingga bola terpental ke barisan penonton. Setelah melakukan blok itu, Luca tidak merayakan aksinya dengan rekan setimnya. Ia berdiri diam di bawah ring, dadanya naik turun dengan napas memburu, dan pandangannya langsung tertuju ke arah Greta di tribun.

​Ia memberikan sebuah gestur menunjuk ke arah jantungnya, lalu mengarahkan telunjuknya ke arah Greta. Sebuah deklarasi di depan ribuan penonton bahwa kemenangan ini adalah miliknya untuk gadis itu.

​Di tengah sorak-sorai kemenangan yang memekakkan telinga, Greta hanya menatap Luca dengan senyum tipis yang hampir tidak terlihat. Ia terlihat bangga.

Suasana di ruang UKS terasa sangat tegang, jauh dari hingar-bingar stadion yang baru saja menyelesaikan Quarter 3. Aroma herbal yang tajam memenuhi ruangan kecil itu saat Ms. Alice dengan telaten mengoleskan minyak di pelipis Norah.

​Norah akhirnya mengerjapkan matanya yang masih tampak sayu. Napasnya pendek-pendek, dan ia terlihat sangat bingung melihat langit-langit ruangan yang putih.

​"Norah... kamu tidak apa?" tanya Revelyn dengan nada suara yang bergetar. Ia duduk di pinggir ranjang, meremas jemarinya sendiri yang masih sedikit gemetar.

​Norah tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak, memegang kepalanya yang terasa berdenyut hebat, lalu mengangguk pelan sekali di atas bantal. Ekspresinya sulit dibaca; ada kekosongan yang aneh di matanya saat ia menatap dinding kosong di depannya.

​Clara, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan dengan perasaan tidak tenang, memberanikan diri mendekat. Rasa penasarannya sudah di ujung tanduk. Ia meraih lengan Revelyn dan menariknya sedikit menjauh, lalu berbisik dengan nada mendesak.

​"Apa yang terjadi sebenarnya, Rev? Kenapa Norah bisa sampai seperti ini?"

​Revelyn tersentak, seolah bisikan Clara adalah sengatan listrik. Ia langsung melirik tajam ke arah Clara, matanya memancarkan kombinasi antara kemarahan dan ketakutan yang berusaha ia tutupi. Dengan kasar, ia menyentakkan lengannya hingga pegangan Clara terlepas.

​"Diam! Jangan bertanya!" desis Revelyn dengan ketus. "Pergi sana! Norah butuh istirahat, kamu hanya akan membuatnya pusing!"

​Clara tertegun. Wajahnya perlahan memerah karena kesal sekaligus merasa terhina setelah niat baiknya membantu memapah Norah tadi dibalas dengan ketidaksopanan. Ia menatap Revelyn dan Norah bergantian, merasa ada sesuatu yang sengaja disembunyikan oleh mereka berdua.

​"Baiklah kalau begitu," ucap Clara dingin. Ia berbalik dan berpamitan singkat kepada Ms. Alice. "Saya permisi dulu."

​Clara keluar dari UKS dengan langkah lebar. Begitu pintu tertutup, ia berdiri di koridor sejenak, mengepalkan tangannya. Ia harus segera kembali ke stadion untuk mencari Greta dan menceritakan sikap aneh Revelyn tadi.

​Sementara itu, di stadion, para pemain sedang berkumpul di bench untuk instruksi terakhir sebelum Quarter 4 dimulai. Luca sedang menenggak air mineralnya dengan cepat, matanya menyapu tribun dan menemukan Greta masih duduk di sana, menatap lurus ke arah lapangan.

Clara berlari kecil menaiki anak tangga tribun, napasnya sedikit memburu setelah menempuh jarak dari UKS yang cukup jauh. Di tengah kebisingan penonton yang sedang bersiap menyambut babak penentuan, ia melihat punggung Greta yang duduk tegak dengan tenang.

​"Greta!" teriak Clara dari arah belakang.

​Greta menoleh perlahan. Ia mengembangkan senyum tipis yang tampak tulus, lalu mengangkat tangannya dan melambai ke arah Clara dengan santai.

​"Oh, Clara. Kamu sudah kembali," ucap Greta saat Clara akhirnya sampai di sampingnya dan duduk dengan lemas.

​Clara menyeka keringat di dahinya, matanya menatap Greta dengan saksama. "Kamu dari mana saja tadi? Aku cari ke ruang guru tidak ada, lalu kamu malah lari ke toilet..." Clara menjeda kalimatnya, ia ingin menceritakan soal Norah, tapi suaranya tertelan oleh bunyi peluit wasit yang sangat nyaring.

​PRIIIIIT!

​Quarter 4 dimulai.

​Luca kembali masuk ke lapangan. Sebelum mengambil posisi, ia menyempatkan diri melirik ke arah tribun. Melihat Clara sudah kembali duduk di samping Greta, raut wajah Luca tampak sedikit lebih rileks, meski ketegangan pertandingan masih terlihat dari urat-urat di lengannya yang menonjol.

​"Pertandingannya makin panas, ya?" gumam Greta pelan, matanya terkunci pada sosok Luca di tengah lapangan.

​Clara hanya mengangguk pelan, masih merasa ada yang janggal dengan sikap Revelyn di UKS tadi, namun ia memutuskan untuk menunda ceritanya sampai pertandingan selesai. Ia tidak ingin merusak konsentrasi Greta yang terlihat sangat menikmati permainan.

​Skor 52 - 48. Northern High melakukan serangan pertama dengan sangat agresif. Mereka tidak lagi bermain bersih, kontak fisik antar pemain semakin sering terjadi. Luca harus menjaga pertahanan Jarvis High tetap solid sambil terus mencari celah untuk menambah poin.

Pertandingan Quarter 4 berlangsung dengan intensitas yang mencekam. Luca bergerak lincah di lapangan, memimpin serangan Jarvis High dengan presisi yang mematikan. Namun, di tengah sorak-sorai yang membahana, sebuah insiden terjadi di tribun penonton.

​Greta, yang sedang fokus memperhatikan pergerakan Luca, tiba-tiba tersentak.

​BYUUR!

​Cairan cokelat gelap yang masih mengeluarkan uap panas tumpah tepat di atas kepalanya. Kopi itu mengalir dari puncak kepalanya, membasahi rambut pendeknya, merembes ke kerah seragam, hingga membasahi bahunya.

​Clara berteriak kaget, "Greta! Ya ampun!" Ia segera menoleh ke belakang dengan wajah berang.

​Di sana berdiri Norah, yang entah sejak kapan sudah keluar dari UKS. Ia memegang gelas plastik kosong dengan wajah tanpa dosa, sementara Revelyn berdiri di sampingnya sambil bersedekap.

​"Aduh, maaf ya... tidak sengaja. Tanganku tiba-tiba lemas sekali," ucap Norah dengan nada yang dibuat-buat sedih. Ia mengeluarkan sapu tangan dan mengusap-usap rambut Greta dengan gerakan kasar yang lebih mirip seperti menekan-nekan noda, bukan mengelapnya.

​Beberapa murid di sekitar mereka yang memang pendukung Norah mulai berbisik-bisik lalu tertawa kecil melihat kondisi Greta yang basah kuyup dan berbau kopi. Tanpa rasa bersalah, Norah dan Revelyn kemudian berbalik dan berjalan kembali menuju kursi VIP mereka dengan langkah anggun, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

​Kejadian di tribun itu tidak luput dari pandangan Luca. Saat ia sedang mendribel bola menuju area lawan, ia melihat keributan di tempat Greta duduk. Ia melihat kepala Greta yang basah dan Norah yang sedang tertawa menjauh.

Skor yang tadinya 52 - 48 mulai goyah karena fokus Luca yang hancur berantakan. Matanya terus terpaku pada tribun, melihat cairan cokelat yang mengotori rambut dan seragam Greta. Ia bisa melihat Norah dan Revelyn tertawa sinis dari kursi VIP mereka setelah melakukan aksi "tumpahan kopi" itu.

​Amarah Luca meluap, namun justru itu yang membuat permainannya menjadi ceroboh.

​Luca terlalu keras mendribel bola hingga bola memantul mengenai kakinya sendiri dan keluar lapangan. Bola berpindah ke tangan Northern High.

​Northern High memanfaatkan kondisi mental Luca. Mereka mencetak angka lewat lemparan jarak jauh. Skor berubah menjadi 52 - 51.

​Saat pemain Northern mencoba melewatinya, Luca melakukan foul yang terlalu keras karena rasa frustrasinya. Lawan mendapatkan dua lemparan bebas dan berhasil mengeksekusinya dengan sempurna.

​Papan skor berkedip, menunjukkan kenyataan pahit: 52 - 53. Jarvis High yang tadinya unggul kini tertinggal satu poin di menit-menit akhir pertandingan.

​Di tribun, Clara sibuk membantu Greta mengeringkan rambutnya dengan tisu, sementara Greta hanya menatap lurus ke arah lapangan. Ia bisa melihat betapa hancurnya fokus Luca saat ini.

​Norah dari kursi VIP-nya sesekali melirik ke arah Greta dengan senyum kemenangan, seolah luka di kepalanya yang baru saja diobati tadi sudah tidak terasa sakit lagi karena berhasil membalas perbuatan Greta lewat cara ini.

​Sisa waktu di papan skor menunjukkan 0:45 detik. Jarvis High memiliki satu kesempatan terakhir untuk melakukan serangan.

Di tengah kebisingan stadion yang meragukan kemenangan Jarvis High, Greta tiba-tiba berdiri tegak. Gerakannya yang mendadak membuat Clara tersentak hingga tisu di tangannya terlepas. Rambut Greta masih lepek oleh sisa kopi, dan bau tajam kafein menguar dari seragamnya, namun aura yang terpancar dari tubuhnya sangat kuat.

​Ia menarik napas panjang, lalu berteriak dengan suara yang melengking, menembus riuh rendah ejekan pendukung lawan.

​"KAMU PASTI BISA, KAPTEN..!"

​Suara itu bagaikan dentuman lonceng di telinga Luca. Di tengah lapangan yang hiruk-pikuk, Luca seolah kehilangan pendengaran terhadap suara lain. Ia terdiam mematung selama satu detik, bola basket masih di genggamannya. Ia menoleh ke arah tribun, melihat Greta berdiri di sana dengan kondisi berantakan namun menatapnya dengan keyakinan penuh.

​Kemarahan Luca yang tadinya liar mendadak mendingin, berubah menjadi fokus yang tajam dan mematikan.

​Sisa waktu di papan skor: 0:03... 0:02...

​Pemain Northern High mengepungnya, menutup semua jalur lay-up atau umpan pendek. Luca tidak punya pilihan. Ia masih berada di area tengah lapangan, sangat jauh dari ring.

​Dengan satu hentakan kaki yang kuat, Luca melompat tinggi. Tubuhnya melayang di udara, otot-otot lengannya menegang saat ia melakukan gerakan menembak dari jarak yang mustahil.

​WUSH!

​Bola terlepas dari jarinya tepat saat lampu merah di papan skor menyala. Buzzer berbunyi panjang.

​Seluruh stadion mendadak hening. Ribuan pasang mata mengikuti jalannya bola yang melambung tinggi, membentuk busur sempurna di bawah lampu sorot stadion yang terang. Bola itu meluncur di udara seolah waktu sedang melambat.

​SWISH!

​Bola masuk dengan bersih tanpa menyentuh ring sedikit pun.

​Stadion meledak dalam kegemparan yang luar biasa. Skor berubah: 55 - 53. Jarvis High menang di detik terakhir berkat tembakan jarak jauh Luca yang gila.

​Luca mendarat di lantai dengan napas yang tersengal. Ia tidak melihat ke arah papan skor. Ia kembali menatap Greta di tribun. Di tengah kerumunan pemain yang menyerbunya untuk merayakan kemenangan, mata Luca terkunci pada satu-satunya gadis yang baru saja mengembalikan jiwanya ke lapangan.

​Sementara itu, di kursi VIP, senyum kemenangan Norah lenyap seketika. Ia meremas pinggiran kursi dengan wajah pucat, tak menyangka bahwa aksi tumpahan kopinya justru menjadi pemantik semangat yang menghancurkan tim Northern.

​Luca berhasil melepaskan diri dari kerumunan rekan timnya. Ia berjalan cepat menuju tribun tempat Greta berada, bahkan sebelum upacara pemberian selamat dimulai.

Luca bergerak cepat. Alih-alih merayakan kemenangan bersama rekan setimnya yang tengah bersorak, ia justru berlari ke bangku pemain, menyambar jersey cadangannya yang masih bersih, lalu bergegas menuju area tribun tempat Greta berada.

​Tanpa mempedulikan ribuan pasang mata yang masih tertuju padanya, Luca menaiki anak tangga tribun dengan langkah lebar. Begitu sampai di depan Greta, ia langsung membentangkan jersey bernomor punggung kebanggaannya itu dan memakaikannya ke tubuh Greta yang mungil. Jersey itu menutupi seragam putih Greta yang kini dipenuhi bercak cokelat kehitaman akibat tumpahan kopi.

​"Pakai ini. Jangan sampai kamu kedinginan," bisik Luca, meski napasnya masih terengah-engah dan wajahnya memerah karena sisa adrenalin pertandingan.

​Clara yang berdiri di samping mereka hanya bisa menutup mulut dengan tangan, tersenyum malu-malu melihat perlakuan manis Luca yang begitu spontan. Sontak, seluruh stadion yang tadinya bersorak karena kemenangan, kini berubah menjadi sorakan godaan yang menggema.

​"CIIIIEEEE...!"

"KAPTEN KITA ROMANTIS BANGET!"

​Suasana berubah seketika menjadi seperti adegan puncak di film remaja. Greta yang baru menyadari bahwa mereka menjadi pusat perhatian seluruh sekolah, langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan, menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya.

​Luca, yang baru tersadar betapa beraninya ia melakukan itu di depan umum, mendadak salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berlari kecil kembali ke lapangan dengan wajah yang tak kalah merah dari wajah Greta.

​Pemandangan itu bagaikan racun bagi Norah. Di kursi VIP, ia berdiri dengan tangan mengepal hingga kuku-kukunya memutih. Wajahnya yang tadi pucat kini berubah menjadi merah padam karena murka. Rencananya untuk mempermalukan Greta justru berakhir dengan membuat gadis itu menjadi "ratu" di tengah stadion.

​"Brengsek... ini tidak seharusnya terjadi! ..Lihat saja nanti. Aku tidak akan membiarkannya lolos. Kali ini, aku benar-benar akan menghabisinya!"

1
watno antonio
ayo lanjut thor
spill.gils: terimakasih atas dukungannya, mohon di tunggu 🙏
total 1 replies
claire
ayo Leon ungkapkan identitasmu yang sebenarnya
claire
hahaha situasi yang bisa dibayangkan
claire
sejauh ini Ravelyn masih memegang karakter paling menyebalkan no 1
claire: atur se-ngeselin mungkin thor
total 2 replies
Mbu'y Fahmi
apa itu suruhannya ibu norah, tapi gak mungkin sih.. aah penasaran banget..
Mbu'y Fahmi
apa itu obat yang selalu diminum greta... ah masih banyak teka teki... lanjut thor
spill.gils: terimakasih sudah meluangkan membaca, saya harap Kamu suka dengan ceritanya.
total 1 replies
claire
bab yang sangat baguss
claire
hoooo akhirnya
claire
Ceritanya bagus, membuat penasaran dengan kelanjutan kisahnya. Setiap bagian disajikan dengan sangat baik, dan tentu saja tata bahasanya sangat nyaman untuk dibaca.
spill.gils: terimakasih 🙏
total 1 replies
claire
oh my weak heart
claire
kompor banget kocag
Mbu'y Fahmi
greta ... masih menjadi misteri..
oke lanjut thor.. seru ceita nya
spill.gils: terimakasih🙏 semoga suka ya
total 1 replies
ninoy
wahh gaya penulisannya apik, seperti baca novel luar.. keren thor, semangat sampai selesai yaa. Saya baru mampir, sudah mau kebut aja bacanya.
spill.gils: terimakasih sudah mau coba Baca, kebetulan memang bikin nya di luar,.. rumah. hehe
total 1 replies
claire
hey Luca, teman mana yang seperti itu
claire
wkwk sesingkat itu
claire
sependapat dengan Eleanor, semakin menarik
claire
inilah saatnya
claire
yaelah keduluan leon😌
claire
wkwkwk kannn batu sih
claire
alamak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!