Ikuti saya di:
FB Lina Zascia Amandia
IG deyulia2022
Setelah hatinya lega dan move on dari mantan kekasih yang bahagia dinikahi abang kandungnya sendiri. Letnan Satu Erlaga Patikelana kembali menyimpan rasa pada seorang gadis berhijab sederhana yang ia temui di sebuah pujasera.
Ramah dan cantik, itu kesan pertama yang Erlaga rasakan saat pertama kali bertemu dengan gadis itu. Namun, ketika hatinya mulai menyimpan rasa, tiba-tiba sang mama membawa kabar kalau Erlaga akan dikenalkan pada seorang gadis anak dari leting sang papa. Sayangnya, Erlaga menolak. Dia hanya ingin mendapatkan jodoh hasil pencariannya.
Apakah Erlaga pada akhirnya menerima perjodohan itu, atau malah justru berjodoh dengan gadis yang ia temui di pujasera?
Yuk, kepoin kisahnya di "Jodoh Sang Letnan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 Getaran Doa Dan Rasa Yang Sama
Malam itu, ruang makan di kediaman Dallas terasa lebih sunyi dari biasanya. Aroma semur daging masakan Syafana yang biasanya membangkitkan selera, kali ini hanya lewat begitu saja di indra penciuman Syafina. Ia hanya mengaduk-aduk nasi di piringnya, sementara pikirannya masih melayang pada tenggat waktu tugas kuliah yang kian menghimpit.
Di sudut ruangan, televisi tabung yang masih terawat rapi itu menyala, menampilkan siaran berita malam yang rutin ditonton Dallas. Suara pembawa berita yang tegas mengisi kekosongan suasana.
"Kita beralih ke informasi internasional. Terjadi serangan mendadak dari kelompok pemberontak bersenjata terhadap pasukan Satgas Garuda di wilayah Darfur, Sudan...."
Syafina yang tadinya fokus pada piring, mendadak menghentikan gerakan sendoknya. Nama "Sudan" entah mengapa selalu memiliki daya tarik aneh di telinganya akhir-akhir ini, meskipun ia selalu berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanyalah sebuah negara konflik yang jauh di sana, yang tidak ada hubungannya dengan hidupnya.
Dallas segera meletakkan sendoknya, matanya fokus ke arah layar televisi. Sebagai mantan komandan, insting militernya selalu bereaksi cepat jika mendengar kabar tentang prajurit di medan tugas.
"Ya ampun, Darfur lagi," gumam Dallas dengan nada berat.
"Dilaporkan beberapa prajurit TNI mengalami luka-luka akibat ledakan ranjau darat dan kontak senjata yang berlangsung selama dua jam. Identitas korban saat ini sedang dalam proses verifikasi, namun beberapa nama perwira lapangan dilaporkan berada dalam kondisi kritis...."
Syafina mencoba bersikap tak acuh. Ia kembali menyuapkan nasi, mencoba menulikan telinga. Itu bukan urusannya, batinnya. Namun, pertahanannya runtuh seketika saat pembawa berita membacakan daftar nama sementara yang dikonfirmasi oleh markas besar.
"...salah satu korban luka tembak di bagian bahu dan terkena serpihan ledakan adalah Lettu Inf. Erlaga Patikelana...."
Deg.
Jantung Syafina seolah berhenti berdetak selama satu detik. Nama itu. Nama yang selama enam bulan ini ia coba hapus dari memorinya dengan susah payah. Nama yang ia kira hanyalah kebetulan semata.
"Innalillahi! Erlaga!" Dallas berseru kaget, tangannya memukul meja makan dengan pelan. "Ma, itu kan anaknya Erkana! Si Laga yang tempo hari mau kita kenalkan sama Fina!"
Syafana pun menutup mulutnya dengan tangan, wajahnya pias. "Ya Allah, Pa... beneran Erlaga itu? Kasihan Jeng Zahira kalau sampai dengar kabar ini."
Syafina merasakan seluruh sendi di tubuhnya mendadak lemas. Getaran hebat merambat dari ujung jari kakinya hingga ke dada. Ia meremas pinggiran meja, berusaha keras agar tangannya yang gemetar tidak terlihat oleh kedua orang tuanya. Logikanya masih mencoba menyangkal.
"Itu pasti bukan Kak Erlaga yang aku temui di kedai bakso."
"Laga anak Om Erkana itu... memangnya bertugas di Sudan ya, Pa?" Syafina memberanikan diri bertanya dengan nada suara yang diusahakan sedatar mungkin, seolah itu hanya basa-basi biasa di meja makan.
Dallas menoleh pada putri sulungnya. "Iya, Fin. Papa pikir kamu sudah tahu dari cerita Mama tempo hari. Dia itu perwira muda yang hebat, persis abangnya. Aduh, kenapa bisa kena serangan begitu ya?"
Syafina terdiam. Dunianya serasa berputar. Jika Erlaga anak teman papanya sedang di Sudan, dan Erlaga pria di pujasera itu menghilang di saat yang bersamaan dengan keberangkatan Satgas... apakah mereka benar-benar orang yang sama?
Rasa sesak yang selama ini ia kubur mendadak meluap. Namun, egonya masih berdiri tegak. Syafina tidak ingin terlihat peduli. Ia tidak ingin papanya tahu bahwa ia pernah menangisi seorang pria dengan nama yang sama.
"Ya Allah... kasihan. Semoga cepat sembuh," ucap Syafina singkat. Ia segera bangkit, membawa piringnya yang belum habis ke tempat cucian.
"Fina ke kamar dulu ya, Pa, Ma. Masih ada tugas kuliah yang harus dikumpul besok pagi."
Ia berjalan dengan langkah cepat, tidak ingin terpengaruh lebih jauh oleh kepanikan Dallas yang mulai sibuk mencari nomor telepon Pak Erkana. Begitu sampai di dalam kamar, Syafina mengunci pintu dan menyandarkan tubuhnya. Jantungnya berdebar hebat. Nama "Erlaga Patikelana" terus berdengung di kepalanya.
***
Sementara itu, di sebuah rumah sakit lapangan darurat di pinggiran Darfur, Sudan, bau antiseptik dan aroma darah memenuhi udara yang pengap. Suara rintihan prajurit yang terluka dan derap langkah paramedis yang terburu-buru menjadi latar belakang yang mencekam.
Erlaga terbaring di atas brankar besi dengan bahu kiri yang dibalut perban tebal. Wajahnya pucat pasi, peluh dingin membasahi dahinya. Kesadarannya naik turun akibat pengaruh obat penahan sakit dan kehilangan cukup banyak darah.
Serangan tadi benar-benar di luar dugaan. Kelompok pemberontak menyergap pasukan mereka di jalur yang seharusnya aman.
Di tengah rasa nyeri yang menusuk-nusuk bahunya, tangan kanan Erlaga yang masih bebas meraba ke dalam kerah bajunya. Ia mencari sesuatu yang selalu ia simpan di sana. Dengan gerakan lemah, ia menarik keluar kalung dog tag-nya. Di sana, di antara lempeng logam namanya, masih terselip liontin hati yang patah itu.
Erlaga menggenggam liontin itu kuat-kuat, seolah benda kecil itu adalah satu-satunya nyawa yang menahannya agar tidak hanyut dalam ketidaksadaran yang lebih dalam.
"Syafina...." gumamnya lirih, nyaris tak terdengar di tengah kebisingan rumah sakit.
Bayangan kejadian di kedai bakso kembali berputar seperti film tua di kepalanya. Ia ingat wajah Syafina yang tersenyum saat masuk kedai, lalu ia ingat betapa pengecutnya dirinya saat itu karena memilih kabur.
Di ambang maut seperti ini, cemburu yang dulu ia rasakan terasa sangat konyol. Harga diri dan ego yang ia agung-agungkan di tanah air kini terasa tidak berarti dibandingkan dengan keinginan untuk sekadar meminta maaf.
Erlaga meringis saat perawat mencoba membersihkan luka di lengannya yang lain. Matanya menatap langit-langit tenda putih yang remang-remang.
"Jika aku tidak selamat malam ini," batinnya dengan napas yang satu-satu, "aku akan membawa separuh hati ini bersamaku. Biarlah ia terkubur di tanah Sudan sebagai saksi kalau aku adalah pria paling bodoh yang pernah mencintaimu, Dik."
Namun, di sela doa-doa pasrahnya, ada sepercik semangat yang muncul. Erlaga teringat janjinya sendiri saat pertama kali menginjakkan kaki di tanah Afrika ini. Jika kita berjodoh, maka kalung hati sebelah ini tidak akan pernah hilang selama aku bertugas.
Ia masih memegang liontin itu. Berarti ia masih punya harapan.
Erlaga menutup matanya perlahan, membiarkan tubuhnya beristirahat sejenak dari pertempuran fisik dan batin. Di tengah mimpinya yang random, ia melihat Syafina berdiri di tengah padang sabana Sudan yang gersang, mengenakan gamis sage green kesukaannya, tersenyum dan melambaikan tangan ke arahnya.
"Kak, kamu di mana? Fina masih menungu Kak Laga di sini."
"Tunggu aku pulang, Syafina," bisik batinnya sebelum kegelapan benar-benar merenggut kesadarannya.
***
Di saat yang sama, di Bandung, Syafina sedang membuka laci bawah lemarinya. Ia mengambil kotak cokelat itu, mengeluarkan liontin hati yang patah miliknya. Ia menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada ketakutan yang luar biasa jika pria di berita tadi benar-benar pria yang sama dengan pemilik liontin ini.
Syafina tidak lagi peduli pada gengsi. Malam itu, untuk pertama kalinya setelah enam bulan, ia menggenggam liontin itu erat-erat dan berdoa dengan tulus untuk keselamatan seorang pria bernama Erlaga, siapa pun dia sebenarnya.