NovelToon NovelToon
Ternyata, Bukan Figuran

Ternyata, Bukan Figuran

Status: tamat
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Percintaan Konglomerat / Kencan Online / Cintapertama / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Daena

Julius Randle Seorang Laki-laki yang Memiliki aura yang mampu membekukan ruangan, namun seketika mencair hanya oleh senyum satu wanita.
Jane Mommartre, Seorang Gadis Yang menganggap dirinya Hanya Figuran Dan Hanya Debu yang tidak Terlihat Dimata Julius Randle, Dengan segala kekaguman dari jarak Tiga Meter, Dia Sudah menyukai Julius Randle Sejak Lama.
Dibalik Layar seorang Mr A dan Ms J sebagai pelengkap, yang ternyata Mr A adalan Julius Yang Tak tersentuh, Dan Ms J adalah Jane Si gadis Tekstil.
Cinta mereka tumbuh di antara jalinan Kerja sama Tekstil. Julius yang kaku perlahan mencair oleh Jane si Ms J, menciptakan momen-momen manis yang puncaknya terjadi di malam penuh kenangan.
Kekuatan cinta mereka diuji oleh manipulasi kejam Victoria Randle, Yang merupakan ibu Dari Julius Randle . Fitnah mendorong ibu, pesan singkat palsu, hingga tuduhan perselingkuhan membuat Julius buta oleh amarah. Jane diusir dalam keadaan hancur, membawa rahasia besar di Rahimnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jarak Tiga Meter

Di Universitas New Zealand yang megah ini, kasta tidak tertulis dalam buku panduan mahasiswa, tapi semua orang tahu di mana mereka berdiri. Dan aku, Jane Montmartre, tahu persis di mana posisiku, tepat tiga meter di belakang punggung Immanuel Julius Randle.

Tiga meter. Itu adalah jarak rata-rata tempat dudukku dari kursinya di kelas Teori Ekonomi Makro. Dari sini, aku punya pemandangan eksklusif untuk menatap tengkuknya yang tegap, rambutnya yang tertata sempurna tanpa satu helai pun yang berani membangkang, dan aura dingin yang seolah menciptakan lapisan es di sekelilingnya.

Julius adalah definisi tidak tergapai. Dia pintar, jenis kepintaran yang membuat dosen sekalipun tampak ragu saat mendebatnya. Dia luar biasa, ganteng, dan merupakan pewaris tunggal dinasti Randle.

Ayahku memang pengusaha tekstil yang cukup terpandang di kota kami, tapi di sini? Di antara anak-anak pemilik bank dunia dan bangsawan Eropa? Aku hanya butiran debu. Apalagi jika dibandingkan dengan Grace Liberty. Nama itu saja sudah terdengar seperti melodi yang indah. Grace adalah mahasiswi cantik yang kabarnya sudah menjadi tunangan Julius sejak kecil. Mereka adalah pasangan dewa-dewi, sementara aku hanyalah penonton di barisan paling belakang.

"Woi, Julius! Lo denger nggak sih? Cewek di kafe tadi nanyain nomor lo lagi!"

Suara cempreng itu membuyarkan lamunanku. Itu Henry. Aku benar-benar tidak habis pikir kenapa Julius yang sedingin kutub utara mau berteman dengan manusia seperti Henry. Henry itu brengsek, terkenal sebagai si tukang coblos yang mengganti pacar semudah mengganti kaos kaki.

Di sekitar Julius, selalu ada geng somplak itu. Ada Clark yang selalu sibuk dengan gadget-nya, Patrick yang atletis tapi konyol, Henry si pengacau, dan satu-satunya perempuan di lingkaran mereka, Lucia, yang auranya hampir sama mengintimidasinya dengan Julius.

Anehnya, meski Grace Liberty adalah tunangannya, aku hampir tidak pernah melihat Grace bergabung dengan kerumunan berisik ini. Grace selalu terlihat anggun di tempat lain, menjaga jarak yang elegan, seolah ia dan Julius hanya butuh bersatu saat kamera media menyorot mereka.

"Jane! Ngapain bengong? Ayo pindah kelas!" bisik sahabatku sambil menyenggol bahuku.

Aku tersentak, segera merapikan buku-bukuku. Saat aku berdiri, tanpa sengaja pulpen kesayanganku menggelinding ke depan.

Tepat ke arah sepatu kulit mahal milik Julius.

Jantungku rasanya mau copot. Aku membeku. Julius berhenti berjalan. Ia menunduk, melihat pulpen plastik murah itu berada di dekat kakinya. Henry dan yang lainnya ikut berhenti, mulai berbisik-bisik sambil tertawa kecil.

"Pulpen siapa nih? Murah banget, tapi nekat deket-deket Julius," celetuk Henry sambil menyeringai.

Julius tidak tertawa. Dia diam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Dia membungkuk sedikit, mengambil pulpen itu dengan jemarinya yang panjang dan bersih. Kemudian, matanya yang tajam beralih ke arahku.

Hanya tiga detik. Tapi bagiku, itu terasa seperti selamanya. Di bawah tatapan dingin itu, aku merasa benar-benar menjadi figuran yang salah masuk ke panggung utama.

"Punya kamu?" suaranya rendah, dingin, dan tidak tersentuh.

Aku hanya bisa mengangguk kaku, bahkan tidak mampu mengeluarkan suara. Dia berjalan mendekat, menyerahkan pulpen itu tanpa menyentuh tanganku, lalu pergi begitu saja melewati aku seolah aku memang hanya udara kosong.

"Ayo, cabut! Keburu telat nonton Henry ditampar cewek baru!" seru Patrick sambil merangkul bahu Julius.

Mereka pergi. Wangi parfum Julius campuran kayu cendana dan dinginnya salju masih tertinggal di indra penciumanku. Aku meremas pulpen itu erat-erat.

Bagi Julius, itu mungkin hanya insiden pulpen jatuh. Tapi bagiku, itu adalah pengingat betapa jauhnya jarak antara debu dan matahari.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading Dear 😍

1
Endang Sulistia
bagus...
Endang Sulistia
🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Endang Sulistia
clark...🤪🤦🤦
Endang Sulistia
mantap hery
Endang Sulistia
sukurin kau jules
Endang Sulistia
🤪🤣🤣🤣
Endang Sulistia
🤭🤣🤣
Lismawati Salam
bagus
Endang Sulistia
😊😊
Endang Sulistia
suka
Endang Sulistia
mampir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!