Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 19
Ruang kantor yang biasanya terasa seperti takhta kekuasaan bagi Fajar, kini tak lebih dari sangkar kaca yang menyesakkan.
Bayangan Mutiara yang dulu dia anggap sampah dan kini bertahta sebagai ibu tirinya, kini terus menari-nari di pelupuk matanya.
Apalagi tadi pagi wanita itu berpenampilan dengan begitu seksi, rasanya Fajar ingin segera memeluk wanita itu dan menjalin hubungan kembali dengan mantan kekasihnya itu.
"Kenapa setelah putus dia malah terlihat cantik dan sangat menarik?"
Fajar menatap kosong ke arah jendela besar di belakang mejanya. Di jemarinya ada sebuah pena diputar-putar tanpa ritme.
Setiap kali ia memejamkan mata, ia tidak melihat angka-angka saham atau laporan bulanan. Ia melihat Mutiara. Ia melihat sorot mata wanita itu yang kini tenang, elegan dan sulit untuk dia sentuh.
Mutiara bukan lagi asisten yang lari-larian membawakannya kopi, bukan lagi kekasih yang manis dan penurut, kini dia adalah wanita yang kini berbagi ranjang dengan ayahnya.
"Sayang, kamu dengar aku nggak, sih? Dari tadi aku panggil kamu loh, tapi kenapa malah diam aja?"
Suara manja Rena memecah keheningan. Rena mendekat, lalu dia duduk di tepi meja kerja Fajar dengan rok pendeknya yang sengaja dia singkap.
Jemarinya merayap ke kerah kemeja Fajar, lalu mengelus rahang pria itu dengan gerakan yang ia pikir bisa menggoda pria itu. Jari-jarinya yang lentik berusaha untuk terus menggoda Fajar.
Fajar bergeming. Sentuhan Rena terasa hambar. Seperti memakan ampas sesaat setelah ia mencicipi inti sari.
Rena kesal, dia mencoba merayu pria itu lagi. Dia mendekatkan wajahnya pada wajah Fajar, mengusap bibir pria itu dan berusaha menyatukan bibir mereka. Sayangnya Fajar malah menghindar.
"Fajar!" teriak Rena sambil menarik dasi Fajar, dia memaksa pria itu untuk menoleh.
Dengan sangat terpaksa Fajar menolehkan wajahnya ke arah Rena, dia menatap wanita itu dengan tatapan yang begitu datar. Rena tentu saja kesal.
"Aku dari tadi bicara sama kamu loh, kamu itu kenapa sih kelihatan kaya orang ngelamun terus? Masih memikirkan masalah yang tadi malam tentang si Mutiara itu?" tebak Rena.
Rena berbicara dengan begitu ketus, tentu dia cemburu. Fajar melepaskan tangan Rena dari dasinya dengan gerakan pelan, tapi sangat dingin.
"Aku lagi banyak pikiran, Rena. Tolong jangan bahas Mutiara, jangan membuat masalah."
"Banyak pikiran atau banyak kenangan?"
Rena berdiri dan berkacak pinggang. Matanya menyipit tajam. Fajar hanya diam memperhatikan wanita itu, karena jujur memang di dalam hatinya dia masih memikirkan Mutiara. Namun, dia tidak mungkin berkata jujur.
"Jangan pikir aku nggak tahu ya, tadi malam ketika kita berada di rumah ayah kamu, kamu selalu curi-curi pandang kepada Mutiara. Kamu masih punya rasa sama dia? Kamu nyesel pisah sama dia dan memilih aku?"
Fajar bangkit dari kursinya, suaranya rendah tapi menusuk.
"Cukup. Aku capek. Aku lelah dengan drama ini dan aku harus berangkat ke luar kota sejam lagi. Bisa biarkan aku bernapas?"
"Capek? Kamu bilang capek? Memangnya kamu habis ngapain? Bukannya dari tadi kamu hanya bengong saja?"
Rena mulai meledak. Dia tidak tahan lagi diperlakukan secara acuh oleh Fajar, karena biasanya pria itu begitu hangat kepada dirinya. Memanjakan dirinya dan menuruti apa pun yang dia katakan.
"Dari tadi aku memang bengong, tapi otak aku terus memikirkan masalah pekerjaan."
Pria itu memalingkan wajahnya, lalu dia memejamkan matanya. Tetap saja yang terlintas di otaknya hanyalah Mutiara, dia merasa tidak bisa berpaling dari wanita itu.
"Beneran masalah pekerjaan? Tidak ada masalah lain?"
"Ya, hanya pekerjaan. Tak ada masalah lain," jawab Fajar berbohong.
Rena tetap saja merasa tidak percaya, dia memaksa Fajar untuk melihat dirinya. Kini mereka saling menatap.
"Dulu kamu nggak pernah begini, tau! Walaupun aku membuat kesalahan kamu selalu memaafkan aku, walaupun aku tidak bisa bekerja dengan baik tapi kamu selalu mau menuntunku. "
Fajar menghela napas berat, dulu dia berpikir jika memilih Rena sebagai pendamping hidupnya, maka hidupnya akan sangat baik.
Namun, pada kenyataannya pikirannya salah. Justru perusahaannya semakin kacau balau, dulu dirinya tidak pernah mempekerjakan asisten pribadi. Hanya bekerja bersama dengan sekretaris, sekaligus kekasihnya saja.
Namun, kini setelah dia memilih Rena, justru perusahaannya kacau balau. Wanita itu hanya tahu cara berbelanja, hanya tahu cara membeli makanan yang enak, hanya tahu memilih barang yang mewah.
Namun, setiap pekerjaan yang dilakukan oleh wanita itu selalu saja kacau balau. Akhirnya dia meminta temannya untuk merekomendasikan orang yang bisa membantu dirinya, beruntung temannya merekomendasikan Andre, pria yang berkompeten yang kini menjadi asisten pribadinya.
"Maaf, Sayang. Sungguh aku sibuk dengan pekerjaanku, tolong jangan memperumit masalah."
"Aku nggak percaya, kamu pasti bohong. Kamu pasti lagi mikirin Mutiara, kamu----"
Tok! Tok!
Belum juga Rena menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu. Fajar merasa terselamatkan, pria itu cepat-cepat menyuruh orang itu untuk masuk.
Pintu terbuka, Fajar semakin senang saja karena ternyata yang datang adalah Andre. Pria itu kini melangkah masuk dengan langkah tegap dengan map di tangan.
"Maaf mengganggu, Tuan Fajar. Mobil sudah siap di bawah. Berkas tender untuk proyek di Surabaya sudah saya verifikasi ulang dan saya selipkan catatan tambahan mengenai risiko vendornya," ujar Andre dengan nada profesional yang tenang.
Fajar menghela napas panjang, sebuah perasaan lega yang jarang ia rasakan belakangan ini menyergapnya. Andre adalah satu-satunya keputusan waras yang ia ambil setelah kehilangan Mutiara.
"Terima kasih, Andre. Kamu penyelamat saya hari ini," ucap Fajar tulus, tanpa memedulikan wajah Rena yang merah padam karena diabaikan.
Fajar menyambar jasnya, dia melewati Rena begitu saja. Dia takut akan bertengkar hebat jika terus berada di sana lama-lama, karena sikap Rena dirasa semakin hari semakin menyebalkan saja.
"Fajar!" teriak Rena sambil menyusul pria itu.
"Kita bicara lagi setelah aku pulang. Tolong jangan sentuh berkas-berkas di mejaku selama aku pergi. Aku nggak mau Andre harus kerja dua kali untuk memperbaiki kesalahan yang nggak perlu."
"Maksud kamu apa? Maksud kamu aku nggak bisa kerja gitu? Kalau aku pegang ,nanti kerjaan itu kacau gitu?"
"Nggak gitu, aku nggak ngomong gitu. Aku hanya berpesan tolong jangan dipegang semua berkas itu, aku pergi dulu. Kamu baik-baik di sini.''
Fajar mengusap puncak kepala wanita itu, kemudian dia pergi dari sana. Rena menghentakkan kedua kakinya dengan kesal melihat kepergiannya Fajar.
"Ini pasti gara-gara kamu tadi malam bertemu dengan Mutiara, makanya kamu bersikap dingin seperti ini kepadaku."