NovelToon NovelToon
Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Dendam Baskara: Kembali Ke Awal

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kelahiran kembali menjadi kuat / Konflik etika / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: asep sigma

Rajendra Baskara, putra sulung keluarga konglomerat, dikhianati oleh adik angkatnya dan istrinya sendiri demi warisan keluarga. Setelah dibunuh, ia terbangun kembali di usia 20 tahun—sebelum pernikahan dan sebelum kehancuran hidupnya. Dengan ingatan masa depan, kecerdasan, dan pengalaman pahit, Rajendra memilih memutus hubungan keluarga dan membangun kerajaan bisnisnya sendiri, sambil menyiapkan balas dendam yang perlahan, menyakitkan, dan tak terhindarkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon asep sigma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekrut Tim

Rabu pagi, Rajendra bangun dengan mata perih—hasil begadang tiga hari berturut-turut menyelesaikan proposal bisnis.

Proposal itu sekarang ada di laptopnya—file PDF 47 halaman lengkap dengan proyeksi keuangan, analisis pasar, strategi pemasaran, roadmap pengembangan produk.

Semua ditulis dari ingatan kehidupan pertamanya—ingatan tentang bagaimana industri e-commerce berkembang dari 2010 sampai 2025, kesalahan yang dilakukan kompetitor, peluang yang terlewat.

Ia mengirim proposal itu ke email Anton Wijaya pukul lima pagi—lalu tidur dua jam sebelum bangun lagi.

Sekarang jam delapan.

Ponselnya berdering.

Rajendra meraihnya—masih setengah tidur—lalu mengangkat.

"Halo?"

"Rajendra, Anton." Suara di seberang terdengar bersemangat—terlalu bersemangat untuk jam segini. "Aku baru baca proposal kamu. Aku impresssed. Sangat impressed."

Rajendra duduk—mengusap wajahnya, mencoba fokus.

"Terima kasih, Pak."

"Kita ketemu lagi. Hari ini. Jam dua. Aku mau bicara soal angka."

"Oke."

"Dan bawa dokumen saham kamu. Asli. Aku perlu lihat langsung."

"Baik."

"Sampai jumpa."

Sambungan terputus.

Rajendra menaruh ponselnya di meja—menatap langit-langit kamar kos yang retak—lalu tersenyum kecil.

Langkah pertama: hampir selesai.

Pukul dua siang, Rajendra kembali duduk di kantor Anton Wijaya—kali ini dengan amplop coklat berisi dokumen asli kepemilikan saham.

Anton membuka amplop itu—membaca dokumen satu per satu dengan teliti—kadang berhenti untuk mengecek stempel, tanda tangan, detail legal.

Sepuluh menit kemudian, ia menutup amplop itu—menatap Rajendra dengan senyum puas.

"Semuanya legal. Semuanya bersih." Ia bersandar di kursinya. "Oke. Aku mau tawarkan deal ke kamu."

Rajendra mendengarkan—wajahnya tenang tapi fokus.

"Aku akan kasih kamu 200 juta—tidak pakai agunan saham."

Rajendra mengerutkan dahi sedikit—tidak pakai agunan berarti...

"Aku mau equity," lanjut Anton—langsung ke inti. "10 persen saham perusahaan kamu yang baru. LokalMart. Sebagai ganti modal 200 juta."

Rajendra diam—pikiran berputar cepat.

10 persen untuk 200 juta.

Artinya valuasi perusahaannya 2 miliar rupiah—sebelum perusahaan itu bahkan berdiri.

Itu... murah.

Atau mahal—tergantung dari sudut pandang mana.

"Aku tahu kamu mikir itu murah," kata Anton—seperti bisa membaca pikiran. "Tapi ini bukan cuma soal uang. Aku juga akan bantu kamu koneksi—investor lain, partner bisnis, vendor. Aku kenal banyak orang di industri ini."

Rajendra menatapnya—menilai.

Anton terlihat serius. Tidak ada nada manipulatif. Hanya bisnis murni.

"Berapa lama kontraknya?" tanya Rajendra.

"Tidak ada kontrak khusus. Tapi aku punya dua syarat."

"Apa?"

"Pertama: aku mau posisi sebagai advisor. Tidak aktif operasional, tapi aku mau tahu perkembangan perusahaan setiap bulan. Meeting minimal sekali sebulan."

Rajendra mengangguk—itu wajar.

"Kedua: kalau ada investor baru yang mau masuk, aku punya hak prioritas untuk nambah investasi dulu sebelum investor lain. Supaya sahamku tidak terlalu terdilusi."

Rajendra diam sebentar—memproses syarat itu.

Lalu ia mengangguk.

"Oke. Deal."

Anton tersenyum lebar—mengulurkan tangan.

"Deal."

Mereka berjabat tangan—pegangan erat, lama.

"Uang akan masuk ke rekening perusahaan kamu setelah PT-nya resmi berdiri," kata Anton. "Kamu sudah urus?"

"Belum. Baru mulai minggu ini."

"Oke. Aku bisa bantu. Aku kenal notaris yang cepat—biasanya dua minggu sudah jadi. Mau?"

"Mau. Terima kasih."

Anton meraih kartu nama dari laci—menulis sesuatu di belakangnya—lalu memberikannya ke Rajendra.

"Ini notaris langgananku. Namanya Bu Ratna. Bilang aja Anton yang suruh datang. Dia akan kasih harga spesial."

Rajendra menerima kartu nama itu—memasukkannya ke saku.

"Oh ya," kata Anton—seperti baru ingat sesuatu. "Kamu sudah punya tim?"

Rajendra menggeleng. "Belum."

"Kamu butuh siapa aja?"

Rajendra diam sebentar—pikiran kembali ke kehidupan pertamanya—mengingat orang-orang yang pernah bekerja dengannya, orang-orang yang bisa dipercaya, orang-orang yang punya skill tapi belum dikenal tahun 2010.

"Aku butuh tiga orang dulu," jawabnya pelan. "Satu programmer—yang bisa bikin platform dari nol. Satu marketing—yang paham digital marketing dan social media. Satu logistik—yang paham sistem distribusi."

Anton mengangguk—seperti mencatat mental.

"Aku kenal beberapa orang. Programmer fresh graduate dari ITB yang bagus tapi belum kerja. Marketing ada teman anakku yang baru resign dari agensi kecil. Logistik... hmm, itu agak susah. Tapi aku bisa tanya-tanya."

"Terima kasih, Pak. Tapi aku mau coba cari sendiri dulu. Ada orang-orang tertentu yang mau aku rekrut."

Anton menatapnya—sedikit penasaran.

"Orang yang kamu kenal?"

"Sesuatu seperti itu."

Anton tidak bertanya lebih lanjut—hanya tersenyum kecil.

"Oke. Tapi kalau kamu butuh bantuan, bilang aja."

Kamis sore, Rajendra duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Blok M—kafe murah dengan Wi-Fi gratis yang sering dijadikan tempat mahasiswa ngerjain tugas.

Di laptopnya, ia membuka Facebook—platform yang masih dominan tahun 2010—lalu mengetik nama di kolom pencarian:

Arief Budiman

Hasil pencarian muncul—beberapa orang dengan nama sama—tapi Rajendra langsung tahu mana yang ia cari.

Foto profil: pria muda dengan kacamata tebal, rambut gondrong, kaos hitam bertuliskan "I code therefore I am".

Arief Budiman. Mahasiswa Teknik Informatika ITB angkatan 2006—seharusnya lulus tahun 2010 ini.

Di kehidupan pertamanya, Arief adalah salah satu programmer terbaik yang pernah bekerja untuk Rajendra—tahun 2015, Rajendra merekrutnya sebagai CTO perusahaan teknologi yang ia bangun setelah keluar dari Grup Baskara. Arief bertahan sampai akhir—bahkan setelah Rajendra dibunuh, Arief mencoba menyelidiki sendiri dan hampir dibunuh juga.

Sekarang Arief masih mahasiswa—belum kerja, belum dikenal, mungkin masih bingung mau ngapain setelah lulus.

Rajendra mengklik tombol "Kirim Pesan".

    "Halo Arief, saya Rajendra. Saya lagi cari programmer untuk project startup e-commerce. Saya lihat            profile kamu—kamu pernah bikin project apa aja selama kuliah? Bisa kita ngobrol?"

Pesan terkirim.

Rajendra menutup tab Facebook—lalu membuka tab baru—mengetik nama kedua:

Dina Kartika

Hasil pencarian muncul lagi—beberapa orang—tapi Rajendra langsung tahu mana yang benar.

Foto profil: wanita muda dengan rambut pendek sebahu, senyum lebar, background foto di depan gedung agensi iklan.

Dina Kartika. Lulusan Komunikasi UI 2009—bekerja di agensi iklan kecil tahun 2010—di kehidupan pertamanya, ia jadi salah satu marketing director terbaik di perusahaan Rajendra tahun 2017. Kreatif, agresif, tidak takut eksperimen.

Rajendra mengklik "Kirim Pesan".

    "Halo Dina, saya Rajendra. Saya lagi bangun startup e-commerce dan butuh orang marketing yang      paham digital. Tertarik ngobrol?"

Pesan terkirim.

Rajendra menutup laptop—menyeruput kopi dinginnya yang sudah hambar—lalu menatap jendela kafe.

Di luar, Jakarta sibuk seperti biasa—mobil, motor, orang berlalu-lalang.

Dunia bergerak.

Dan ia ikut bergerak.

Jumat pagi, Rajendra bangun dengan notifikasi Facebook—dua pesan masuk.

Yang pertama dari Arief:

"Halo mas Rajendra, wah thanks udah liat profile aku. Aku baru lulus bulan lalu, sekarang lagi nganggur haha. Project kuliah aku banyak sih—sistem informasi perpustakaan, aplikasi inventory, website marketplace sederhana. Boleh kok ngobrol, kapan?"

Rajendra tersenyum kecil—mengetik balasan:

"Besok, Sabtu jam 10 pagi. Kafe Anomali Coffee Senopati. Bisa?"

Balasan datang cepat:

"Bisa banget. See you!"

Rajendra membuka pesan kedua—dari Dina:

"Hai Rajendra, wah menarik. Sekarang aku kerja di agensi kecil, tapi jujur aku bosen. Gajinya kecil, kerjaan monoton, bos-nya kaku. Kamu mau bikin startup apa? E-commerce yang kayak gimana?"

Rajendra mengetik:

"LokalMart—platform e-commerce khusus produk lokal Indonesia. Fokus ke sistem pembayaran COD dan logistik terintegrasi. Bisa kita ketemu buat diskusi lebih detail? Besok, Sabtu jam 2 siang, tempat yang sama—Anomali Coffee Senopati?"

Balasan datang:

"Deal. Aku datang."

Rajendra menaruh ponselnya di meja—menatap langit-langit kamar kos.

Dua dari tiga.

Tinggal satu lagi—logistik.

Dan untuk yang satu itu, ia tahu persis siapa yang harus ia cari.

Sabtu pagi, pukul sepuluh tepat, Rajendra duduk di Anomali Coffee Senopati—kafe dengan desain industrial minimalis, meja kayu, kursi besi, aroma kopi kental di udara.

Ia memesan americano—duduk di meja pojok—menunggu.

Sepuluh menit kemudian, pintu kafe terbuka—seorang pria muda masuk—rambut gondrong diikat ke belakang, kacamata tebal, kaos hitam, tas ransel besar di punggung.

Arief Budiman.

Rajendra mengangkat tangan—memberi tanda.

Arief melihatnya—tersenyum lebar—lalu berjalan mendekat.

"Mas Rajendra?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.

"Iya. Arief, kan? Duduk."

Mereka berjabat tangan—Arief duduk di seberang Rajendra—menaruh ranselnya di lantai.

"Wah kafe keren nih," komentar Arief sambil melihat sekeliling. "Aku baru pertama kali ke sini."

Rajendra tersenyum kecil. "Mau pesan apa?"

"Eh... cappuccino aja deh."

Rajendra memanggil pelayan—memesan cappuccino untuk Arief—lalu menatap Arief dengan tatapan serius tapi tidak menekan.

"Jadi begini, Arief. Aku lagi bangun startup e-commerce namanya LokalMart. Konsepnya marketplace untuk produk lokal—UMKM, pengrajin, produsen kecil—yang mau jual online tapi belum punya platform sendiri."

Arief mengangguk—mendengarkan serius.

"Masalah utama e-commerce sekarang apa?" tanya Rajendra—seperti menguji.

Arief diam sebentar—mikir.

"Kepercayaan?" jawabnya ragu.

"Benar. Kepercayaan. Orang takut bayar online, takut barang tidak sampai, takut ditipu. Jadi solusinya?"

"COD?"

"Tepat. Cash on delivery. Tapi bukan cuma itu—kita juga harus bangun sistem logistik yang reliable, sistem rating dan review yang transparan, dan customer service yang responsif."

Arief mengangguk—matanya mulai berbinar.

"Dan kamu butuh platform yang bisa handle semua itu?"

"Iya. Aku butuh platform web—nanti bisa expand ke mobile app—yang punya fitur: catalog produk, shopping cart, payment gateway tapi tetap support COD, tracking pengiriman real-time, rating dan review, dashboard untuk seller."

Arief bersiul pelan—seperti menghitung kompleksitas di kepala.

"Itu... besar. Butuh waktu."

"Berapa lama?"

"Kalau sendirian... mungkin enam bulan sampai satu tahun untuk MVP—minimum viable product. Tapi kalau ada tim—dua tiga orang programmer—bisa tiga sampai enam bulan."

Rajendra mengangguk—sudah mengantisipasi jawaban itu.

"Kamu mau jadi lead programmer?"

Arief menatapnya—matanya melebar sedikit.

"Serius?"

"Serius. Kamu yang handle semua technical—arsitektur sistem, development, testing. Aku akan bantu rekrut programmer lain untuk support kamu."

Arief diam—wajahnya berubah serius sekarang—tidak lagi excited tapi mulai kalkulasi.

"Gajinya berapa?" tanyanya hati-hati.

"Berapa yang kamu mau?"

"Ehm... standar fresh graduate biasanya 3-4 juta per bulan. Tapi kalau startup—"

"Aku kasih kamu 6 juta per bulan," potong Rajendra. "Plus equity—1 persen saham perusahaan setelah satu tahun kerja."

Arief menatapnya—mulut sedikit terbuka—tidak percaya.

"Serius?"

"Serius. Tapi ada syaratnya."

"Apa?"

"Kamu harus all in. Full time. Dedicated. Tidak boleh kerja sambilan di tempat lain. Dan kamu harus siap kerja keras—kadang lembur, kadang weekend, kadang harus debug sampai pagi. Bisa?"

Arief diam—menatap Rajendra dengan tatapan serius.

Lalu ia tersenyum—senyum lebar, excited.

"Bisa. Kapan mulai?"

"Dua minggu lagi—setelah PT-nya resmi berdiri."

"Deal."

Mereka berjabat tangan lagi—kali ini lebih erat.

Pukul dua siang, Rajendra masih duduk di kafe yang sama—kali ini menunggu Dina.

Pintu kafe terbuka—seorang wanita muda masuk—rambut pendek sebahu, jaket jeans, tas selempang kecil, senyum percaya diri.

Dina Kartika.

Rajendra mengangkat tangan.

Dina melihatnya—tersenyum—lalu berjalan mendekat.

"Rajendra?" tanyanya sambil mengulurkan tangan.

"Iya. Dina, kan? Duduk."

Mereka berjabat tangan—pegangan singkat tapi tegas—lalu Dina duduk di seberang Rajendra.

"Jadi," kata Dina langsung—tanpa basa-basi. "Ceritakan startup kamu. Aku penasaran."

Rajendra tersenyum kecil—suka dengan energi Dina yang langsung to the point.

Ia menjelaskan konsep LokalMart lagi—kali ini lebih fokus ke strategi marketing.

"Target market kita adalah kelas menengah Indonesia—usia 25-40 tahun—yang mulai belanja online tapi masih ragu. Mereka butuh edukasi, butuh kepercayaan, butuh testimoni."

Dina mengangguk—matanya fokus.

"Jadi strategi marketing-nya harus fokus ke trust-building?"

"Tepat. Bukan cuma iklan produk, tapi iklan cerita—cerita di balik produk, cerita seller, cerita customer yang puas. User-generated content. Testimoni video. Social proof."

Dina tersenyum—senyum excited.

"Aku suka. Dan platform-nya apa? Facebook? Blog? Website?"

"Semua. Facebook untuk community building. Blog untuk SEO dan content marketing. Website untuk conversion. Nanti kalau budget lebih besar, bisa pakai Google Ads dan Facebook Ads."

Dina mengangguk cepat—seperti sudah ada banyak ide di kepala.

"Aku mau," katanya tegas. "Kapan mulai?"

Rajendra tersenyum. "Dua minggu lagi. Gaji 6 juta per bulan, plus 1 persen equity setelah satu tahun."

Dina menatapnya—matanya melebar.

"6 juta? Serius? Sekarang gajiku cuma 3,5 juta."

"Serius. Tapi kamu harus siap kerja keras. Tidak ada jam kerja fix—kadang harus lembur, kadang harus weekend."

Dina tertawa—tertawa percaya diri.

"Sekarang aja aku udah kerja sampai malam tiap hari. Tapi buat project yang aku suka? Easy."

Mereka berjabat tangan lagi.

"Welcome to the team," kata Rajendra.

"Thanks, boss," jawab Dina dengan senyum lebar.

Malam itu, Rajendra kembali ke kamar kos dengan perasaan lega.

Dua dari tiga sudah dapat.

Tinggal satu—logistik.

Dan untuk yang satu itu, ia harus ke tempat yang tidak ingin ia kunjungi.

Tapi tidak ada pilihan.

Ia harus menemui seseorang dari masa lalunya—masa lalu kehidupan pertamanya.

Seseorang yang pernah membantunya—sebelum semuanya hancur.

Ia meraih ponselnya—mengetik nama di kontak lama yang masih tersimpan:

Bambang Setiawan

Nomor masih sama—atau setidaknya ia harap masih sama.

Ia menekan tombol panggil.

Nada sambung berbunyi—satu, dua, tiga—

Lalu suara di seberang—suara berat, kasar, tapi familiar.

"Halo?"

"Pak Bambang. Saya Rajendra. Rajendra Baskara."

Hening di seberang.

Lalu suara itu—nadanya berubah jadi waspada.

"Rajendra Baskara? Anak Julian Baskara?"

"Cucu Dimas Baskara."

Hening lagi—lebih lama.

Lalu suara itu—nadanya sedikit melunak.

"Apa maumu, nak?"

"Saya butuh bantuan, Pak. Soal logistik. Bisa kita ketemu?"

Hening lagi.

Lalu jawaban—pelan tapi tegas.

"Besok. Jam 9 pagi. Gudang lama di Cakung. Kamu tahu tempat?"

"Saya akan cari."

"Datang sendiri. Jangan bawa orang."

"Oke."

Sambungan terputus.

Rajendra menaruh ponselnya di meja—menatap layar gelap dengan pikiran penuh.

Bambang Setiawan—mantan kepala logistik Grup Baskara yang dipecat tahun 2008 karena "ketidaksesuaian operasional"—padahal sebenarnya karena ia menolak manipulasi data pengiriman yang diminta ayahnya.

Di kehidupan pertamanya, Rajendra baru kenal Bambang tahun 2016—setelah Bambang bangun bisnis logistik sendiri dan jadi salah satu partner terpercaya.

Sekarang Bambang masih kecil—mungkin masih sakit hati—mungkin masih benci keluarga Baskara.

Tapi Rajendra harus coba.

Karena tanpa Bambang, sistem logistik LokalMart tidak akan jalan.

[ END OF BAB 5 ]

1
aidios
ror
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!