Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 1 "Zivaniel Maxton de luca"
Langit kota pelabuhan tampak kelabu, bukan karena hujan, melainkan oleh asap knalpot, kabut laut, dan bayangan dosa yang berlapis-lapis. Lampu-lampu jalan berpendar redup, memantulkan cahaya kuning pucat di aspal basah. Angin laut menyusup dingin, membawa bau asin bercampur aroma logam—bau yang terlalu sering dihirup oleh orang-orang yang hidup di antara hukum dan kejahatan.
Di sudut dermaga nomor tujuh, sebuah truk kontainer hitam melaju pelan. Terlalu pelan untuk kendaraan pengangkut barang legal, terlalu rapi untuk sesuatu yang kebetulan.
Di dalam kabin truk itu, seorang pria duduk tegak, kedua tangannya mantap di setir. Nafasnya stabil, nyaris tak terdengar. Wajahnya tertutup topeng hitam polos—tanpa corak, tanpa ekspresi. Hanya dua celah mata yang memperlihatkan sorot tajam dan dingin, seperti mata predator yang tak pernah ragu menerkam.
Zivaniel Maxton de Luca.
Nama itu tak pernah diucapkan malam ini.
Tak boleh.
Tak boleh ada satu pun jejak yang mengarah padanya.
Di balik topeng itu, rahangnya mengeras. Detak jantungnya teratur, bukan karena tenang, melainkan karena ia sudah terlalu terbiasa berada di ambang maut. Tiga puluh dua peti logam di belakang truk berisi paket-paket yang dibungkus rapat—narkoba murni, kualitas tertinggi, hasil penyelundupan lintas negara yang nilainya cukup untuk membeli sepuluh nyawa manusia tanpa sisa.
Satu kesalahan saja malam ini, dan semuanya runtuh.
“Konfirmasi jalur,” suara berat terdengar di earpiece kecil di telinganya.
“Jalur aman. Kamera pelabuhan sudah dibutakan selama tujuh menit,” jawab Zivaniel singkat.
Tak ada emosi di suaranya.
Tak ada keraguan.
Ia menginjak gas perlahan, membawa truk keluar dari area dermaga, menyatu dengan jalan utama yang sepi. Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari—waktu favorit bagi kejahatan besar. Saat sebagian besar manusia tertidur, dan sebagian lainnya berpura-pura tidak melihat.
Namun malam itu tidak semulus rencana.
Lampu biru-merah menyala tiba-tiba dari kejauhan.
Zivaniel menyipitkan mata.
Satu.
Dua.
Tiga mobil patroli.
“Sial,” desis salah satu anak buahnya di earpiece. “Polisi bergerak. Mereka menutup akses timur.”
Jari Zivaniel mengetuk setir sekali. Pelan. Terkontrol.
“Alihkan ke jalur barat,” perintahnya dingin. “Plan C.”
“Plan C berarti—”
“Aku tahu,” potongnya. “Lakukan.”
Lampu sirene semakin dekat, meraung memecah keheningan malam. Suara itu bukan sekadar peringatan—itu tantangan. Dan Zivaniel tidak pernah mundur dari tantangan.
Ia memutar setir tajam ke kanan, memasuki jalan sempit di antara gudang-gudang tua. Truk besar itu berdecit keras, bannya mencengkeram aspal basah. Tubuhnya sedikit terdorong ke samping, namun ia tetap tenang. Setiap belokan sudah terhitung di kepalanya.
“Berhenti! Polisi!” suara dari pengeras terdengar nyaring.
Zivaniel menekan pedal gas.
Mesin meraung, dan kejaran dimulai.
Mobil patroli mengejar dari belakang, lampu sorotnya menyapu punggung truk. Jalan semakin sempit, bangunan tua berdiri rapat seperti saksi bisu dosa yang tak terhitung. Nafas Zivaniel tetap stabil, namun pikirannya bekerja cepat—memetakan jalan, menghitung jarak, menimbang risiko.
Peluru pertama menghantam bodi truk.
Dentuman logam terdengar keras.
Anak buahnya panik. “Mereka menembak!”
“Aku tahu,” jawab Zivaniel dingin.
Tangannya bergerak cepat, menekan tombol di dashboard. Sebuah panel kecil terbuka, memperlihatkan rangkaian kontrol tambahan—bukan bawaan pabrik. Dengan satu sentuhan, lampu belakang truk mati mendadak, sementara lampu depan menyala penuh, menyilaukan.
Ia membanting setir ke kiri, masuk ke lorong sempit yang hanya cukup dilewati satu kendaraan. Mobil patroli terdepan terlambat bereaksi, menghantam dinding gudang dengan suara mengerikan.
Namun dua lainnya tetap mengejar.
Zivaniel tersenyum tipis di balik topeng.
Kejaran seperti ini bukan yang pertama.
Dan mungkin bukan yang terakhir.
Pelabuhan itu seperti labirin. Setiap sudut menyimpan kenangan darah dan uang. Zivaniel tahu tempat ini lebih baik daripada polisi mana pun. Ia melaju kencang, lalu tiba-tiba mengerem mendadak, membuat mobil patroli di belakang nyaris menabraknya.
Dalam sepersekian detik, ia membuka pintu, melompat turun dari truk yang masih melaju pelan, dan menghilang ke balik bayangan gudang.
Truk terus melaju tanpa pengemudi, langsung menuju jalan buntu.
“Target kabur!” teriak seorang polisi.
"Black wolf kurang ajar!" Salah satu polisi mengumpat Zivaniel.
Ya, black wolf nama terkenal oleh mereka, menyebut Zivaniel saat mengenakan topengnya. Tidak ada yang tau jika di balik topeng hitam itu, ada wajah tampan yang mempesona siapapun.
Brak
Dentuman keras terdengar saat truk menghantam tumpukan kontainer kosong.
Sementara itu, Zivaniel sudah berlari di antara bayangan, gerakannya ringan dan senyap. Topengnya tetap terpasang, menempel erat di wajahnya. Nafasnya sedikit memburu, bukan karena takut—melainkan karena adrenalin yang mengalir deras.
Ia memanjat pagar besi berkarat, melompat ke sisi lain, dan mendarat dengan mulus. Di kejauhan, sirene masih meraung, namun langkah-langkah itu semakin jauh.
Ia berhenti di bawah lampu jalan yang mati setengah. Hening menyelimuti sesaat.
Di balik topeng, Zivaniel memejamkan mata.
Sekilas, sebuah wajah muncul di benaknya.
Cherrin.
Gadis kecil dengan rambut kusut dan senyum canggung. Gadis yang pernah menarik ujung bajunya saat ia masih bocah, bertanya polos apakah ia akan pulang lebih cepat hari itu. Gadis yang tak pernah tahu bahwa bocah pendiam di depannya kelak akan tumbuh menjadi monster yang ditakuti dunia.
Rahangnya mengeras.
“Bodoh,” gumamnya pelan.
Ia tak boleh memikirkan itu sekarang.
Zivaniel membuka topengnya sedikit, cukup untuk menghirup udara malam lebih dalam. Wajah di balik topeng itu tampan—terlalu tampan untuk dunia sekejam ini. Namun mata hitamnya kosong, seolah tak ada ruang bagi penyesalan.
Ia memasang kembali topeng itu.
Malam belum selesai.
Perang belum usai.
Dan Zivaniel Maxton de Luca belum kalah.
Di kejauhan, polisi masih menyisir area, tak tahu bahwa target mereka sudah menghilang—menjadi bayangan yang akan terus menghantui kota ini.
Dan Zivaniel Maxton de luca lebih berbahaya dari siapapun!