NovelToon NovelToon
Terjerat Sumpah Tuan Muda

Terjerat Sumpah Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:36k
Nilai: 5
Nama Author: Hazard111

Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.

Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.

Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.

Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.

"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Mahkota yang Tercuri

​Lampu taman di sepanjang jalan masuk Adhitama Estate mulai menyala secara otomatis, memberikan pendaran cahaya kuning keemasan pada deretan pohon cemara yang berdiri tegak. Mobil limousine hitam yang membawa Raga dan Nala bergerak sangat pelan, seolah sedang menikmati setiap inci aspal yang mereka lalui menuju gerbang mansion yang megah. Di dalam kabin mobil yang senyap, Nala merasakan genggaman tangan Raga yang semakin mengerat di atas pangkuannya. Genggaman itu terasa hangat, sebuah pegangan yang memberikan rasa aman yang belum pernah Nala rasakan seumur hidupnya.

​Raga menatap ke luar jendela dengan pandangan yang tenang namun sarat akan wibawa. Wajahnya kini tidak lagi tersembunyi di balik topeng perak yang selama lima tahun ini menjadi penjara sekaligus perlindungannya. Cahaya lampu jalan yang masuk ke dalam kabin secara bergantian memperlihatkan garis rahangnya yang tegas dan kulitnya yang halus hasil dari mukjizat medis pasca kecelakaan hebat di gedung terbengkalai itu. Meskipun secara visual ia tampak sudah pulih sempurna, Raga masih harus bertumpu pada tongkat kayu hitam dengan hulu perak untuk membantunya melangkah. Saraf tulang belakangnya masih membutuhkan waktu untuk benar-benar kembali ke kekuatan penuh.

​"Sudah sampai di rumah, Mas," bisik Nala pelan saat mobil berhenti tepat di depan tangga lobi utama.

​Raga menoleh dan memberikan senyum tipis yang tulus. "Rasanya sangat berbeda kembali ke sini tanpa harus merasa perlu bersembunyi, Nala. Mari kita masuki rumah ini sebagai diri kita yang sesungguhnya."

​Pintu mobil dibuka oleh Pak Hadi dengan gerakan yang sangat halus. Pria tua itu membungkuk sangat dalam, matanya tampak berkaca-kaca saat melihat tuannya melangkah keluar dengan bantuan tongkat, bukan lagi di atas kursi roda. Keheningan yang penuh rasa hormat menyelimuti lobi utama saat Raga dan Nala masuk. Para pelayan yang berbaris menunduk dalam, namun Nala bisa merasakan tatapan terkejut dan kagum mereka melihat wajah asli Raga yang sangat tampan. Tidak ada lagi monster yang mereka bicarakan dalam bisik-bisik di dapur. Yang ada hanyalah seorang pria berwibawa yang memancarkan aura pemimpin yang sangat kuat.

​Nala membantu Raga menuju lantai dua menggunakan lift pribadi. Suasana di dalam mansion terasa jauh lebih hangat sekarang. Ada beberapa lukisan Nala yang sudah mulai dipajang di koridor, memberikan sentuhan seni dan kehidupan pada dinding-dinding yang dulunya kaku. Begitu sampai di kamar utama, Raga tidak langsung menuju tempat tidur untuk beristirahat. Ia justru menuntun Nala menuju ruang kerjanya yang luas, yang terletak di sudut ruangan yang menghadap ke arah danau buatan.

​"Nala, duduklah. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus aku berikan padamu sekarang, sesuai janjiku ke dirimu saat di rumah sakit," ucap Raga sambil perlahan mendudukkan dirinya di kursi kerja besarnya.

​Nala menarik kursi kayu di depan meja kerja Raga, jantungnya berdebar tidak menentu.

​Raga membuka laci meja yang terkunci rapat dengan sistem pengaman digital. Pria itu mengeluarkan sebuah map kulit berwarna cokelat tua yang tampak sudah berumur namun terjaga dengan sangat baik. Map itu diletakkan di tengah meja, tepat di hadapan Nala.

​"Kamu sudah berhasil mengambil kembali rumah itu dengan tanganmu sendiri, Nala. Dan aku sangat bangga melihat kekuatanmu," Raga memulai bicaranya dengan nada yang sangat serius. "Tapi aku ingin kamu tahu, bahwa rumah itu memang sudah seharusnya menjadi milikmu sejak dulu. Rumah itu bukan milik Bramantyo, dan tidak pernah benar-benar menjadi milik Aristha."

​Nala mengerutkan kening, jarinya meremas ujung gaunnya dengan cemas. "Apa maksudmu, Mas? Bukankah itu rumah warisan keluarga Ayah yang dibangun sejak lama?"

​Raga mendorong map itu ke arah Nala. "Bukalah, dan lihatlah kebenaran yang selama dua puluh satu tahun ini mereka kubur di bawah penderitaanmu."

​Nala membuka map itu dengan jari-jari yang sedikit gemetar. Hal pertama yang ia lihat adalah sebuah foto tua yang sudah agak memudar. Di foto itu, seorang wanita cantik dengan kebaya yang sangat anggun sedang duduk di sebuah taman yang penuh dengan bunga melati. Wanita itu tersenyum dengan sorot mata yang persis sama dengan milik Nala, mata yang dalam namun menyimpan sebuah rahasia besar yang pilu.

​"Dyah Rahayu," gumam Nala membaca nama yang tertera di bawah foto tersebut. Suaranya bergetar, seolah nama itu memanggil memori yang sangat jauh di dalam alam bawah sadarnya.

​"Benar. Dyah Rahayu adalah ibu kandungmu," ucap Raga pelan. "Dokumen-dokumen di bawah foto itu adalah bukti kepemilikan aset asli. Dyah Rahayu adalah putri tunggal dari seorang bangsawan sekaligus tuan tanah besar di Jawa Tengah yang menguasai seluruh lahan tempat rumah Aristha berdiri sekarang. Bramantyo awalnya hanyalah seorang asisten yang dipercaya oleh kakekmu. Dia memikat hati ibumu hanya untuk menguasai hartanya. Setelah kakekmu meninggal, Bramantyo secara licik memindahkan semua aset itu ke namanya sendiri melalui serangkaian pemalsuan tanda tangan dan dokumen pernikahan."

​Nala mulai membaca lembaran dokumen medis dan surat wasiat yang ada di dalam map. Air matanya mulai jatuh membasahi dokumen tersebut saat ia sampai pada bagian yang menceritakan tentang kelahirannya di paviliun belakang.

​"Selama ini Ayah dan Siska bilang Ibu melarikan diri ke luar kota karena tidak tahan hidup susah," isak Nala.

​"Itu adalah kebohongan yang sangat keji untuk menutupi jejak mereka," potong Raga dengan nada suara yang mengeras karena amarah. "Ibumu tidak pernah pergi. Setelah Bramantyo berhasil menguasai harta, dia membawa Siska masuk ke rumah itu sebagai wanita simpanan. Saat itu ibumu sedang mengandung dirimu. Mereka mengurung Dyah Rahayu di paviliun belakang rumah itu, diisolasi dari dunia luar agar rahasia tentang kepemilikan aset tidak terbongkar kepada keluarga besar Rahayu. Ibumu meninggal hanya beberapa jam setelah melahirkanmu karena pendarahan hebat yang sengaja dibiarkan tanpa bantuan medis yang layak oleh mereka."

​Nala menutup mulutnya dengan tangan, isakannya kini memenuhi ruangan yang sunyi itu. Ia teringat kembali pada memori samar masa kecilnya tentang aroma bunga melati yang sangat kuat di paviliun belakang yang selalu dikunci rapat oleh Siska. Bau melati itu ternyata bukan hanya imajinasi, melainkan sisa-sisa aroma minyak aromaterapi yang selalu dipakai ibunya untuk menenangkan diri di tengah siksaan batin.

​"Dan alasan kenapa Ibu dimakamkan di Bogor..." Nala menggantung kalimatnya, menatap Raga dengan pandangan penuh tanya, teringat makam sunyi yang pernah mereka pugar beberapa waktu lalu.

​"Bramantyo membuang jenazah ibumu ke Bogor secara diam-diam untuk menghilangkan jejak dari keluarga besar Rahayu yang ada di Jawa Tengah," jelas Raga. "Dia ingin dunia mengira Dyah Rahayu menghilang atau meninggal karena kecelakaan di tempat yang jauh sehingga tidak ada yang akan menuntut hak waris aset Aristha. Makam yang kita kunjungi di Bogor itu adalah saksi bisu kejahatan mereka yang terkubur selama dua dekade. Itulah sebabnya saat itu aku bersikeras membeli tanah pemakaman itu atas namamu, karena itu adalah satu-satunya tempat yang benar-benar menjadi milikmu dan ibumu."

​Nala membelai foto Dyah Rahayu dengan ujung jarinya. Rasa sakit di hatinya kini bercampur dengan kemarahan yang sangat dalam terhadap ayahnya sendiri. Selama dua puluh satu tahun ia hidup sebagai pelayan di rumah yang sebenarnya adalah milik ibunya sendiri. Ia diperlakukan seperti noda, padahal dialah sang pemilik sah dari setiap jengkal tanah yang diinjak oleh Siska dan Bella selama ini.

​Raga bangkit perlahan dari kursinya, berjalan menggunakan tongkatnya menuju sisi meja Nala. Ia menarik kepala istrinya ke dalam pelukannya yang hangat, membiarkan Nala menumpahkan seluruh rasa sakitnya di bahunya. Nala menangis sejadi-jadinya, melepaskan segala beban rasa bersalah karena mengira dirinya adalah anak yang tidak diinginkan.

​Setelah beberapa saat, isakan Nala mulai mereda. Raga melepaskan pelukannya perlahan, namun kedua tangannya masih memegang bahu Nala dengan mantap. Ia menatap mata istrinya yang sembab dengan tatapan yang sangat tajam dan serius.

​"Nala, sekarang kau sudah tahu segalanya," ucap Raga. Suaranya rendah namun menggema di ruangan itu. "Kebohongan mereka, pengkhianatan mereka, hingga kematian tragis ibumu yang mereka sembunyikan demi kekayaan. Kamu sudah mengambil rumah itu kembali, tapi keadilan belum sepenuhnya tegak."

​Raga menjeda ucapannya sejenak, memberikan waktu bagi Nala untuk meresapi setiap katanya.

​"Sekarang katakan padaku, apa yang ingin kau lakukan setelah mengetahui kebenaran ini? Apakah kau ingin tetap membiarkan keluarga Aristha hidup tenang di apartemen kecil yang kau berikan itu, membiarkan mereka membawa rahasia ini sampai mati tanpa pengakuan?" tanya Raga dengan intonasi yang mendesak.

​Nala terdiam, matanya masih terpaku pada foto Dyah Rahayu.

​"Atau," lanjut Raga, "apakah kau ingin aku mengantarmu menemui mereka sekarang juga? Menghadapi Bramantyo dan Siska secara langsung, menyeret mereka keluar dari lubang persembunyian mereka, dan menuntut mereka untuk menceritakan kebenaran yang sesungguhnya dari mulut mereka sendiri di hadapanmu? Katakan padaku, Nala. Aku akan menjadi pedangmu jika kau ingin menyerang, atau aku akan menjadi bentengmu jika kau ingin mengabaikan mereka. Keputusan ada di tanganmu."

​Nala mengangkat wajahnya. Sorot matanya yang tadinya penuh dengan air mata kesedihan, perlahan-lahan berubah menjadi sebuah tatapan dingin yang belum pernah dilihat Raga sebelumnya. Ada api dendam yang baru saja tersulut dari abu penderitaan dua puluh satu tahun.

​"Aku tidak ingin mereka mati dalam keadaan tenang dengan membawa rahasia ini, Mas," jawab Nala dengan suara yang kini terdengar sangat stabil dan tajam. "Aku ingin melihat mata Ayah saat dia menyadari bahwa penderitaanku adalah pengingat harian akan dosanya pada Ibu. Aku ingin mendengar pengakuan itu langsung dari mulutnya sebelum hukum yang sesungguhnya menyeret mereka ke penjara."

​Raga menyeringai puas, sebuah seringaian yang menandakan bahwa Tuan Muda Adhitama siap untuk kembali ke medan perang demi istrinya.

​"Kalau begitu, bersiaplah. Kita akan memberikan kunjungan kejutan ke apartemen mereka malam ini juga. Sudah saatnya Aristha merasakan bagaimana rasanya menghadapi kebenaran yang selama ini mereka coba bunuh," tegas Raga.

​Malam itu, Adhitama Estate kembali menjadi saksi persiapan sebuah pembalasan dendam yang elegan namun mematikan. Nala berdiri tegak, merapikan gaunnya, dan menyisipkan foto ibunya ke dalam tas kecilnya. Ia bukan lagi Nala yang takut pada bayang-bayang. Ia adalah putri dari Dyah Rahayu yang kembali untuk mengambil apa yang dicuri darinya.

1
Blu Lovfres
next thor, ku tunggu selalu updated nya💪💪❤️❤️
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Mampir dan dukung karyaku, yuk!

‎- TRUST ME

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
Blu Lovfres
is the amazing novel
Blu Lovfres
bahagia selalu untuk keluarga adihtama
Blu Lovfres
bahagia selalu untuk keluarga adihtama
Blu Lovfres
ohh pantas,,novel ini
sangat bagus thor ,sangat bagus,,
Blu Lovfres
kembar jagoan
Blu Lovfres
wahh selamat untuk keluarga adihtama❤️❤️
Blu Lovfres
❤️❤️❤️💪💪
Blu Lovfres
g tau kedepannya 🙄
Blu Lovfres
kok ga ada,mlm pertama ,atw siang pertana😂🤣🙏
Blu Lovfres
🥰🥰🥰❤️❤️❤️
Blu Lovfres
❤️❤️❤️🥰
Blu Lovfres
💪💪💪❤️❤️🥰
Blu Lovfres
setiap bab,kata" mu sangat bagus thor
qu dulu ,fans garis besar ,fredy S, penulis novel di aera 80 an, karyanya" sangat bagus ,dn novel mu sangat bagus
Blu Lovfres
lanjut membaca 💪
novel yg sangat bagus
Blu Lovfres
good job nalla,dn ilmu yg kau pelajari jangan di siakan"
Blu Lovfres
💪💪💪masih semangat utk membaca🥰
Blu Lovfres
knpa ga oplas dari dlu,
anga,seorang melyeder, ceo kya
ga mampu oplas🙄🤦‍♀️
Blu Lovfres
💪💪💪best novel ❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!