Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Hidup Baru di Atas Puing Kenangan
Suara beeeeeeep yang panjang dan datar itu seolah menjadi lonceng kematian bagi seluruh harapanku. Aku melihat tubuh Mas Fikar yang kaku, sementara para dokter mulai meletakkan peralatan mereka dengan helaan napas berat yang menyakitkan. Ibu Sofia meraung, suara tangisnya memenuhi setiap sudut ruang ICU, meratapi kehilangan yang sebenarnya ia ciptakan sendiri. Namun, tepat saat dokter hendak mencatat waktu kematian, sebuah keajaiban yang tidak masuk akal terjadi di depan mataku.
Garis datar di monitor itu melompat. Sekali, dua kali, lalu kembali membentuk irama lemah yang tak stabil namun nyata. Mas Fikar tidak jadi pergi. Dia kembali dari ambang maut, seolah Tuhan sengaja memberinya satu kesempatan terakhir untuk memperbaiki kehancuran yang ia tinggalkan di belakang.
Enam Bulan Kemudian...
Aku berdiri di depan jendela sebuah rumah mungil di pinggiran Yogyakarta. Bukan mansion mewah dengan lampu kristal yang menyilaukan, melainkan rumah sederhana dengan halaman yang kini dipenuhi bunga kamboja yang wangi. Aku memilih untuk pergi dari Jakarta tak lama setelah Mas Fikar keluar dari masa kritisnya. Aku butuh ruang untuk bernapas. Aku sadar, aku tidak akan pernah bisa membangun masa depan di atas tanah yang masih basah oleh air mata pengkhianatan.
Mas Fikar selamat, namun kecelakaan itu meninggalkan bekas yang permanen di tubuhnya. Dia sempat mengalami kelumpuhan sementara pada kaki kirinya dan harus melewati sesi terapi bicara yang melelahkan setiap harinya. Ibu Sofia? Dia berubah total, seolah jiwanya ikut hancur bersama mobil itu. Dia menyerahkan seluruh kendali perusahaan kepada dewan direksi dan memilih hidup menyendiri di rumah tua keluarga, menjauh dari ingar bingar sosialita yang dulu ia puja setengah mati. Dia sering mengirimiku surat permohonan maaf yang panjang, namun jujur, aku belum sanggup membalasnya.
Tiba tiba, suara mobil berhenti di depan pagar kayu rumahku. Aku melihat seorang pria turun dengan bantuan tongkat penyangga. Dia tidak lagi mengenakan jas custom made seharga ratusan juta, hanya kemeja flanel sederhana dan celana kain biasa. Wajahnya yang dulu angkuh kini tampak jauh lebih teduh, meski garis garis kelelahan dan bekas luka kecelakaan masih terlihat jelas di sana.
Itu Mas Fikar.
Aku membuka pintu, membiarkan angin sore Yogyakarta yang sejuk masuk ke dalam rumah. Kami berdiri berhadapan dalam keheningan yang cukup lama. Hanya ada suara jangkrik yang mulai bersahut sahutan dan desir angin yang menemani kecanggungan pertemuan ini.
Kiki, suaranya masih sedikit parau, sisa dari cedera pita suara saat kecelakaan hebat itu. Aku tidak datang untuk memintamu kembali ke Jakarta. Aku tahu tempat itu hanya memberimu luka yang mendalam.
Aku menyilangkan tangan di dada, mencoba tetap tenang menatap pria yang dulu kusebut suami itu. Lalu untuk apa kamu di sini, Mas? Jarak ini kupikir sudah cukup jauh untuk kita saling melupakan.
Mas Fikar tersenyum pahit, ia melangkah tertatih mendekati teras rumahku dengan bantuan tongkatnya. Melupakanmu adalah satu satunya hal yang tidak mampu aku lakukan, bahkan saat aku berada di ambang maut sekalipun. Aku ke sini hanya ingin memberikan ini.
Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah map kecil. Bukan surat cerai, melainkan dokumen pembubaran seluruh kontrak lama kami secara hukum dan pembersihan nama baik Ayahku secara total. Di dalamnya juga ada akta kepemilikan rumah ini atas namaku, yang ternyata ia beli tanpa sepengetahuanku.
Aku sudah menyelesaikan semuanya, Ki. Clara sudah divonis sepuluh tahun penjara atas penipuan dan percobaan pembunuhan. Ibuku, dia sudah menerima hukumannya sendiri dalam kesunyian yang dia pilih. Dan aku? Aku hanyalah pria cacat yang sedang belajar bagaimana caranya menjadi manusia yang jujur, ucapnya dengan mata yang mulai berkaca kaca.
Aku mengambil map itu, merasakannya di jemariku yang sedikit gemetar. Kenapa baru sekarang, Mas?
Karena dulu aku pengecut. Aku pikir uang dan martabat bisa melindungimu, padahal yang kamu butuhkan hanyalah kejujuranku, ia menunduk, air mata jatuh ke atas punggung tangannya yang masih memiliki bekas luka jahitan. Aku tidak memintamu menerimaku lagi hari ini. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa mulai detik ini, kamu bebas. Tidak ada kontrak, tidak ada hutang, tidak ada kewajiban apa pun. Kamu adalah Kiki, wanita merdeka.
Aku menatapnya lama, menyaksikan sendiri keruntuhan ego seorang Fikar Dirgantara. Ada rasa sesak yang kembali muncul di dadaku, namun kali ini bukan karena benci, melainkan karena rasa haru yang terasa menyakitkan. Aku menyadari bahwa di atas puing puing kenangan pahit kami, ada sesuatu yang baru mulai tumbuh, sebuah kejujuran yang harganya jauh lebih mahal daripada emas murni di jariku.
Mas, panggilku lirih.
Ia mendongak, menatapku dengan tatapan penuh harap yang terasa sangat rapuh.
Maukah kamu mampir untuk minum teh? Hanya sebagai tamu, kataku pelan.
Senyum kecil muncul di bibirnya yang pucat. Itu adalah langkah kecil pertama kami. Kami belum sembuh, dan mungkin luka ini tidak akan pernah benar benar hilang tanpa bekas, tapi setidaknya di bawah langit Yogyakarta yang tenang ini, kami tidak lagi perlu saling bersandiwara.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.