"Lin Suyin mewarisi gelang giok dari neneknya—sebuah portal menuju dimensi ajaib tempat waktu berjalan 10x lebih cepat dan semua tanaman tumbuh sempurna. Tapi keajaiban ini membawa bahaya: ada yang memburu gelang tersebut. Bersama Xiao Zhen, CEO misterius dengan rahasia masa lalu, Suyin harus melindungi ruang ajaibnya sambil mengungkap konspirasi kuno yang menghubungkan keluarganya dengan dunia kultivator."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: Tiga Hari Sebelum Badai
Kamis pagi, villa Xiao Zhen terasa seperti markas operasi militer kecil.
Lima anggota Klan Xiao sudah bergerak sejak subuh. Wei Hao pergi ke lokasi reuni keluarga Lin di Menteng untuk survei lapangan dan mulai pasang formasi pelindung. Chen Ling melakukan pengintaian di sekitar kawasan—mencari tanda-tanda pergerakan Organisasi Bayangan. Liu Peng sudah menyusup ke katering yang akan melayani acara reuni sebagai karyawan baru. Zhang Wei bersiap sebagai cadangan luar.
Hanya Zhao Mei yang tinggal di villa—bersama Suyin untuk sesi produksi ramuan penyembuhan.
Suyin bangun jam empat subuh, sholat, lalu langsung masuk ke ruang dimensi tanpa sempat sarapan.
WUSH!
Di dalam Aula Penyembuhan, udara terasa lebih segar dari biasanya—seperti ruangan itu tahu bahwa hari ini akan ada kerja keras yang serius.
Suyin meletakkan perlengkapan yang dibawa—lebih banyak botol kosong, corong kecil, sarung tangan herbal yang dibeli online beberapa hari lalu—di atas meja kerja.
Lalu dia membuka buku petunjuk ramuan dan mulai.
Dua jam pertama dia habiskan hanya untuk memanen herbal dari rak-rak Aula Penyembuhan. Ginseng merah, jahe biru, daun lotus emas, akar bambu langit, bunga matahari api—nama-nama yang sebelumnya hanya ada di novel fantasi yang pernah dibacanya.
Di waktu nyata, dua jam di ruang dimensi hanya delapan menit.
Setelah herbal terkumpul cukup, Suyin mulai proses pembuatan. Menumbuk, mencampur, mengaduk—mengikuti petunjuk di buku dengan seksama. Setiap gerakan harus tepat, setiap takaran harus akurat.
Ramuan Pemulih Cepat—dua puluh botol.
Ramuan Penguatan Qi—sepuluh botol.
Ramuan Penghilang Racun Spiritual—delapan botol.
Dan satu ramuan baru yang ditemukan Suyin di halaman tengah buku yang belum sempat dibaca kemarin:
Ramuan Penguat Barrier.
"Bahan: 5 tetes embun pagi dari daun lotus emas, 3 gram serbuk kristal giok, 2 sendok air biru kolam penyembuhan. Cara: Campurkan semua bahan dalam urutan yang disebutkan, aduk berlawanan arah jarum jam tujuh kali. Efek: Meningkatkan kekuatan barrier spiritual sebesar dua ratus persen selama tiga jam. Sangat berguna sebelum menghadapi konfrontasi."
Dua ratus persen!
Suyin membuat lima botol Ramuan Penguat Barrier—cadangan untuk dirinya, Xiao Zhen, dan anggota Klan Xiao yang mungkin membutuhkannya.
Saat keluar dari ruang dimensi dengan tiga puluh delapan botol ramuan tersusun rapi di dalam kotak, jam di kamar baru menunjukkan pukul lima pagi. Baru empat puluh menit berlalu sejak masuk.
Zhao Mei sudah menunggu di kamar Suyin—wanita itu tampaknya juga bangun sangat pagi.
Begitu melihat kotak berisi botol-botol ramuan, Zhao Mei mengambil beberapa dan langsung memeriksa.
Hening selama hampir dua menit.
"Suyin." Suara Zhao Mei pelan tapi penuh dengan sesuatu yang terasa seperti kekaguman yang sangat terkontrol. "Ramuan Penguatan Qi yang kamu buat ini... ini dua kali lebih kuat dari yang biasa aku buat. Dan aku sudah delapan tahun mempelajari ramuan kultivator."
"Mungkin karena kualitas herbalnya," ucap Suyin rendah hati.
"Sebagian karena herbalnya. Tapi sebagian lagi karena caramu membuatnya." Zhao Mei meletakkan botol itu kembali dengan hati-hati. "Ada niat dan energi Qi yang tertanam dalam proses pembuatan ramuan. Aku bisa merasakannya di dalam ramuanmu—tulus, murni, dan sangat kuat."
Suyin tidak tahu harus merespons apa. Ini pertama kali dia mendapat penilaian dari seorang ahli kultivator yang berpengalaman.
"Bagaimana dengan Ramuan Penguat Barrier ini?" tanya Suyin mengalihkan.
Zhao Mei membuka botol kecil berwarna biru itu, mencium aromanya, lalu mencelupkan ujung jarinya dan menunggu beberapa detik.
Reaksinya langsung terlihat—barrier spiritual Zhao Mei berkilauan lebih terang bahkan dari hanya setetes di ujung jari.
"Astaga." Zhao Mei menutup botol dengan cepat. "Ini berbahaya kalau sampai jatuh ke tangan yang salah." Dia menatap Suyin serius. "Kamu harus jaga botol-botol ini dengan sangat hati-hati. Ramuan sekuat ini bisa disalahgunakan."
"Aku mengerti."
"Bagus." Zhao Mei duduk, mulai membagi-bagi botol ramuan ke dalam tas kecil sesuai fungsinya—seperti kit P3K tapi versi kultivator. "Ini aku siapkan satu set untuk kamu bawa, satu set untuk Tuan Muda Xiao, satu set untuk aku, dan satu set cadangan yang disimpan di lokasi strategis selama acara nanti."
"Kamu sudah mikir sedetail itu?"
"Itulah pekerjaanku." Zhao Mei tersenyum tipis.
Setelah urusan ramuan selesai, Suyin turun ke dapur untuk sarapan yang sudah terlambat hampir dua jam. Nyonya Qin—juru masak villa yang sudah seperti nenek galak tapi baik hati—langsung menyodorkan semangkuk bubur hangat begitu melihat Suyin.
"Makan dulu sebelum latihan! Kamu kurus sekali akhir-akhir ini!" omel Nyonya Qin.
"Terima kasih, Nyonya Qin." Suyin duduk, menyendok bubur yang terasa lezat luar biasa—mungkin karena lapar baru terasa sekarang.
Xiao Zhen sudah duduk di meja yang sama dengan secangkir kopi, membaca dokumen. Begitu Suyin duduk, dia mendorong piring berisi lauk ke arah Suyin tanpa mengangkat mata dari dokumen.
Gestur kecil yang sederhana.
Tapi entah kenapa membuat hati Suyin hangat.
"Ada berita baru?" tanya Suyin sambil menyendok bubur.
"Wei Hao sudah selesai pasang formasi lapis pertama semalam. Hari ini dia akan lanjutkan lapis kedua." Xiao Zhen meletakkan dokumen. "Chen Ling laporan ada tiga orang asing yang sudah mulai memantau area sekitar rumah keluarga Lin sejak kemarin malam."
"Mereka sudah bergerak?"
"Pengintaian awal. Mereka belum tahu kita juga sudah ada di sana." Mata Xiao Zhen tajam. "Ini bagus—berarti rencana kita belum bocor."
"Berapa orang total yang akan datang dari Organisasi Bayangan?"
"Perkiraan Chen Ling, antara tujuh sampai sepuluh. Termasuk kemungkinan satu kultivator tingkat menengah yang memimpin." Xiao Zhen menyeruput kopinya. "Tingkat menengah masih bisa kami tangani dengan baik."
"Tapi kalau ada yang tingkat tinggi?"
"Tidak akan ada. Organisasi Bayangan tidak akan kerahkan kultivator tingkat tinggi untuk operasi pengambilan artefak rutin. Terlalu mahal dan terlalu berisiko terbuka." Nada suaranya meyakinkan.
Suyin mengangguk. Mencerna informasi sambil makan bubur.
"Suyin."
"Ya?"
Xiao Zhen menatapnya langsung. "Bagaimana kondisimu? Bukan fisik—tapi mental."
Pertanyaan yang tidak terduga. Suyin meletakkan sendok, mempertimbangkan jawaban yang jujur.
"Tegang," akunya. "Tapi bukan jenis tegang yang melemahkan. Lebih seperti... tegang sebelum ujian yang sudah kamu persiapkan dengan baik. Kamu tahu kamu sudah belajar keras. Tapi tetap deg-degan."
Xiao Zhen mengangguk pelan. "Itu normal. Bahkan sehat."
"Kamu sendiri?"
Giliran Xiao Zhen yang diam sebentar. "Aku lebih khawatir dari yang kuperlihatkan."
"Khawatir tentang apa?"
"Tentang kemungkinan yang tidak terprediksi." Pandangannya turun ke meja sebentar. "Dalam pertarungan, selalu ada variabel yang tidak bisa dikontrol. Dan variabel itulah yang paling berbahaya."
"Kamu khawatir tentang aku."
Bukan pertanyaan—tapi pernyataan.
Xiao Zhen tidak membantah. "Kamu adalah tanggung jawabku. Tentu aku khawatir."
"Hanya tanggung jawab?"
Momen hening yang singkat tapi berat.
"Bukan hanya tanggung jawab," ucap Xiao Zhen akhirnya, suaranya pelan. "Kamu tahu itu."
Suyin tersenyum kecil dan kembali menyendok buburnya.
Nyonya Qin yang kebetulan lewat sambil membawa nampan melirik ke arah mereka berdua, lalu menggeleng-gelengkan kepala dengan senyum yang sangat jelas artinya.
Suyin pura-pura tidak melihat.
Pukul sembilan pagi, latihan dimulai.
Kali ini bukan hanya Wei Hao dan Xiao Zhen yang melatih Suyin—Zhang Wei juga ikut serta. Ternyata pria muda yang tampak paling polos di antara anggota Klan Xiao itu adalah spesialis kecepatan gerak—dia bisa bergerak hampir tidak terlihat oleh mata.
"Langkah kilat yang kamu pelajari dari Tuan Muda sudah cukup bagus," ucap Zhang Wei sambil berjalan melingkar di sekitar Suyin dengan santai. "Tapi ada teknik lanjutannya—Langkah Bayangan. Kamu tidak hanya bergerak cepat, tapi juga meninggalkan afterimage yang bisa mengecoh musuh."
"Afterimage?"
"Bayangan semu. Musuh melihat kamu masih di posisi lama sementara kamu sudah di posisi lain." Zhang Wei mendemonstrasikan—dia berlari, dan untuk sepersekian detik, Suyin melihat bayangan samarnya masih berdiri di tempat semula sementara Zhang Wei sudah lima meter jauhnya. "Teknik ini butuh kontrol Qi yang lebih halus dari langkah kilat biasa."
"Itu kelihatan sulit."
"Sulit. Tapi kamu tidak perlu sempurna—cukup bisa melakukannya dua atau tiga kali kalau dalam situasi darurat." Zhang Wei mengambil posisi. "Coba."
Suyin mencoba. Gagal. Mencoba lagi. Gagal. Mencoba lagi.
Pada percobaan ke dua belas, ada sedikit bayangan yang muncul—samar, hampir tidak terlihat, tapi ada.
"ITU!" Zhang Wei menunjuk girang. "Itu dia! Lagi!"
Suyin mencoba lagi dengan lebih fokus. Kali ini bayangannya lebih jelas—bertahan hampir setengah detik.
"Bagus sekali!" seru Zhang Wei.
Di pinggir lapangan, Xiao Zhen mengamati dengan tatapan yang sulit dibaca. Tapi Chen Ling yang berdiri di sebelahnya berbisik sesuatu, dan Xiao Zhen mengangguk pelan sambil sedikit tersenyum.
Siang harinya, sesi ganti dengan latihan formasi pertahanan kelompok bersama Wei Hao.
"Dalam situasi reuni nanti, kalau ancaman muncul, kita akan bergerak dalam formasi," jelas Wei Hao sambil menggambar di papan tulis portable yang entah dari mana dia keluarkan. "Suyin di tengah, dilindungi dari empat sisi. Aku di depan sebagai tameng utama, Tuan Muda di belakang sebagai serangan balik, Chen Ling dan Zhang Wei di kanan-kiri untuk flanking."
"Dan Liu Peng?"
"Liu Peng bergerak bebas—dia yang paling fleksibel dan bisa bertindak di luar formasi untuk kejutan." Wei Hao menggambar panah-panah di papannya. "Zhao Mei di posisi aman untuk siapkan ramuan dan tangani korban kalau ada."
Suyin mempelajari diagram itu dengan serius. "Bagaimana kalau mereka menyerang dari luar dulu—mengganggu tamu yang tidak tahu apa-apa untuk memecah konsentrasi kita?"
Wei Hao terdiam. Lalu menatap Suyin dengan respek yang baru. "Pertanyaan bagus. Itu kemungkinan yang harus kita antisipasi."
"Kalau mereka menyakiti tamu sipil dulu untuk memancing kita keluar dari formasi, kita harus bagaimana?" desak Suyin.
Xiao Zhen yang tadinya hanya mendengarkan ikut bicara. "Itu pertimbangan yang perlu kita bahas ulang dalam rencana kita." Dia menatap Wei Hao. "Kita perlu tambahan protokol untuk proteksi sipil."
Diskusi berlanjut hampir satu jam lebih—Suyin aktif memberikan masukan tentang tata letak ruangan yang sudah dia ketahui dari cerita nenek, tentang kebiasaan keluarga Lin yang dia pahami, dan tentang cara orang awam biasanya bereaksi kalau ada situasi tak terduga.
Pengetahuan yang terlihat tidak berguna ternyata sangat berharga untuk perencanaan strategis.
Chen Ling yang awalnya paling skeptis dengan kemampuan Suyin bahkan mengatakan sesuatu yang membuat semua orang di ruangan sedikit kaget.
"Suyin, kamu seharusnya ada di sini dari awal briefing pertama. Kamu tahu detail yang kami tidak tahu."
Pujian sederhana dari orang yang biasanya sedikit bicara. Tapi bobotnya besar.
Suyin hanya tersenyum dan mengangguk.
Sore harinya, Suyin sempatkan diri untuk menelepon Meifeng.
Telepon diangkat setelah dua nada sambung.
"Suyin?" Suara Meifeng pelan dan tegang.
"Kak, aku telepon untuk kasih tahu beberapa hal." Suyin menarik napas. "Acara reuni lusa sudah kami persiapkan dengan sangat matang. Kamu dan keluargamu akan aman."
"Kamu sudah... sudah ada persiapan?"
"Ya. Tapi aku butuh Kakak melakukan beberapa hal."
"Apa saja?"
"Selama acara, jangan keluar dari area utama sendirian. Selalu bersama suami atau di dekat kerumunan tamu. Kalau ada orang yang tidak dikenal mengajakmu ke tempat sepi—tolak dan langsung cari aku atau orang yang aku tunjuk." Suyin berbicara dengan nada yang lebih dewasa dari biasanya—lebih seperti seseorang yang sudah punya rencana, bukan gadis yang kebingungan. "Juga, kalau ada yang bertanya tentang gelang ini atau tentang warisan nenek—tidak tahu dan alihkan topik."
Diam sebentar dari seberang telepon.
"Kamu... kamu sudah berubah, Suyin." Suara Meifeng terdengar aneh—antara kagum dan sedih.
"Keadaan yang mengubah aku, Kak."
"Aku minta maaf." Kata-kata itu keluar pelan, hampir seperti bisikan. "Aku sungguh menyesal. Aku seharusnya tidak—"
"Kak." Suyin memotong dengan lembut. "Kita bicara tentang itu nanti. Setelah semua ini selesai. Sekarang fokus ke keselamatan keluarga Kakak."
"Iya. Baik." Tarikan napas panjang dari seberang. "Terima kasih, Suyin. Untuk segalanya."
Suyin menutup telepon.
Dia duduk di tepi tempat tidur kamarnya, menatap gelang giok yang kini berwarna hijau zamrud lebih dalam.
Dulu, hubungannya dengan Meifeng adalah sumber stres dan rasa tidak adil. Tapi sekarang—mungkin setelah semua ini—hubungan itu bisa diperbaiki perlahan.
Mungkin.
Cukup satu hal dalam satu waktu.
Malam itu, latihan malam bersama Xiao Zhen berlangsung lebih singkat dari biasa—karena Xiao Zhen bilang Suyin perlu istirahat cukup sebelum dua hari terakhir persiapan.
Tapi sebelum Suyin naik ke kamar, Xiao Zhen memanggilnya.
"Suyin."
Dia berbalik. Xiao Zhen berdiri di koridor dengan ekspresi yang lebih terbuka dari biasanya—lebih manusiawi, seperti kata Suyin beberapa hari lalu.
"Ada apa?"
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang lusa nanti. Aku sudah melalui situasi yang jauh lebih sulit dari ini." Dia berjalan mendekat. "Tapi aku ingin kamu tahu satu hal."
"Apa?"
Xiao Zhen berdiri di hadapan Suyin, jarak di antara mereka cukup dekat untuk Suyin bisa melihat detail wajah yang biasanya tidak terlihat—garis kelelahan yang tersembunyi di balik ketenangan itu, dan sesuatu yang lebih hangat di kedalaman matanya.
"Apapun yang terjadi di hari reuni—aku akan selalu di sampingmu. Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian menghadapi apapun itu." Suaranya rendah, tulus. "Aku berjanji."
Suyin menatap matanya lama.
"Aku percaya padamu," jawab Suyin akhirnya. Sederhana. Tapi penuh.
Sesuatu di wajah Xiao Zhen—ketegangan yang sudah ditahan entah berapa lama—sedikit mengendur.
Dia mengangkat tangan, menyentuh pipi Suyin sebentar dengan punggung jarinya—gestur lembut yang berlangsung kurang dari dua detik tapi terasa sangat lama.
"Selamat malam, Suyin."
"Selamat malam, Xiao Zhen."
Suyin berjalan ke kamarnya dengan detak jantung yang lebih cepat dari semestinya.
Di dalam kamar, dia berbaring di tempat tidur dan menatap langit-langit.
Dua hari lagi.
Dua hari lagi semuanya akan terjadi.
Dan di balik rasa takut yang masih ada—tersimpan keyakinan yang makin menguat setiap harinya.
Bahwa apapun yang Akan datang, dia siap.