Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Format Ulang Jiwa
Gideon menatap ngeri pada sosok di depannya. Bimo—atau apa pun yang tersisa dari dirinya—berdiri dengan kaku. Kulitnya pucat keabu-abuan, dan bor listrik yang menyatu dengan tulang lengannya mulai berputar dengan suara lengkingan yang memuakkan.
Bab 34: Format Ulang Jiwa
"Bim, sadar! Ini gue, Gideon!" teriak Gideon sambil mencoba mundur, namun punggungnya membentur pipa besi.
Sosok mayat Bimo tidak menjawab. Dari lubang di tenggorokannya, keluar suara statis radio yang sangat kasar. "Target: Gangguan Sistem. Status: Eliminasi."
Bor itu menerjang. Gideon menghindar di detik terakhir, membuat bor itu menembus dinding seng hingga hancur. Di sisi lain ruangan, Maya sedang dalam kondisi kritis. Tubuhnya melayang beberapa senti dari lantai, ditopang oleh pilar-pilar cahaya biru yang keluar dari punggungnya. Matanya memutih, dan pembuluh darah di pelipisnya berdenyut kencang seolah-olah akan meledak.
[PROSES FORMAT: 45%] muncul di semua layar HP yang masih menyala di lantai.
"Gid... petak... nomor... 4..." rintih Maya. Suaranya bukan lagi suara manusia, melainkan suara yang terdistorsi digital.
Gideon tahu dia tidak punya waktu. Dia meraih kunci Inggris besar dari rak perkakas dan melemparkannya tepat ke arah kepala Bimo. PANG! Kepala mayat itu miring ke samping, tapi dia tidak merasakan sakit. Kabel-kabel di lehernya justru menarik kembali kepalanya ke posisi semula dengan bunyi krak yang mengerikan.
Gideon nekat. Dia tidak melawan Bimo, melainkan meluncur di antara kaki mayat itu menuju panel lantai nomor 4. Dia mencongkel penutup besi bawah tanah itu dengan seluruh tenaganya.
Di bawah sana, terdapat jalinan kabel fiber optik raksasa yang bercahaya kuning—urat nadi internet yang melintasi wilayah itu.
"Sial, banyak banget! Yang mana yang harus gue potong?!" teriak Gideon.
Tiba-tiba, suara @anatomi_maut terdengar dari speaker di langit-langit gudang.
@anatomi_maut: Jika kamu memotong kabel yang salah, kamu akan memicu ledakan elektromagnetik yang akan menghanguskan otak Maya seketika. Pilih dengan bijak, Teknisi.
Gideon bimbang. Bimo merangkak mendekatinya, bornya kembali berputar.
Sementara itu, di dalam kesadaran Maya, dia sedang mengalami siksaan yang luar biasa. Dia melihat memori hidupnya dihapus satu per satu. Kenangan tentang ibunya, masa kecilnya, impiannya menjadi jurnalis—semuanya berubah menjadi kode binari 0 dan 1 yang kemudian pecah menjadi abu digital.
"Berhenti..." tangis Maya dalam ruang hampa itu. "Jangan ambil ingatan gue..."
@anatomi_maut: Ingatan adalah sampah data. Untuk menjadi server yang sempurna, kamu harus kosong. Kamu harus menjadi murni.
Di dunia nyata, Gideon melihat kabel yang paling besar di tengah. Kabel itu bergetar seirama dengan denyut jantung Maya. Dia tahu, itu adalah kabel backbone yang dibajak oleh parasit itu.
"May, kalau lo denger gue... maafin gue!" Gideon mengangkat kapak pemadam api yang ada di dinding.
"Gideon, JANGAN!" Mayat Bimo melompat menerjang Gideon.
SLASSSHH!
Kapak Gideon mengayun, bukan ke arah Bimo, tapi ke arah kabel utama itu tepat saat bor Bimo hampir menembus dada Gideon.
Percikan cahaya biru dan putih meledak hebat. Seluruh gudang berguncang seolah-olah dihantam gempa bumi berkekuatan 8 skala Richter. Gelombang kejut elektromagnetik (EMP) lokal tercipta, mematikan semua perangkat elektronik dalam radius 500 meter.
Mayat Bimo mendadak lumpuh. Kabel-kabel yang menggerakkannya kehilangan daya, membuatnya jatuh menimpa Gideon seperti tumpukan daging busuk yang berat.
Maya jatuh berdebum ke lantai semen. Pilar-pilar cahaya itu lenyap. Pandangannya kembali normal, tapi dia merasa ada bagian besar dari dirinya yang hilang—kosong.
Sunyi. Benar-benar sunyi.
Gideon mendorong mayat Bimo ke samping dan merangkak menuju Maya. "May? Lo masih hidup?"
Maya membuka matanya. Dia melihat Gideon, tapi tatapannya terasa asing. "Gideon?"
"Iya, ini gue. Kita berhasil?"
Maya bangun dengan kaku. Dia melihat tangannya. Luka sirkuit itu masih ada, tapi redup. Namun, kesunyian itu tidak berlangsung lama. Dari saku celana Gideon yang robek, terdengar suara kecil.
Bzzz... Bzzz...
Gideon meraba sakunya. Dia lupa. Dia membawa ponsel cadangan milik Maya yang rusak untuk diperbaiki. Ponsel yang baterainya seharusnya sudah mati.
Layar ponsel itu menyala merah. Hanya satu baris kalimat yang muncul, tapi itu cukup untuk membuat jantung mereka berhenti berdetak:
"Sistem gagal berfungsi. Memulai Protokol Pembersihan: PEMBAKARAN MASSAL. Lokasi: Koordinat Saat Ini."
Di kejauhan, terdengar suara mesin jet yang mendekat. @anatomi_maut telah membajak sistem pertahanan udara atau drone militer untuk menghancurkan lokasi mereka—cara terakhir untuk "menghapus" data yang tidak bisa dikendalikan.
ini kayanya ada dalangnya deh
tapi Vanya ya kali masa jadi zombie kak
🤔
ni cerita masuk genre system???
untung baca nya lampu nyala rame coba kalo sendirian 😭😭😭
cukup seru sih terlihat menjanjikan