Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Ngarai Penyergapan dan Beruang Guntur
Udara di Pegunungan Sepuluh Ribu Binatang terasa berat dan lembap, seolah-olah setiap tarikan napas mengandung serbuk besi. Pohon-pohon purba menjulang tinggi menutupi langit, hanya membiarkan sedikit cahaya matahari menembus ke lantai hutan yang tertutup lumut tebal.
Ye Chen bergerak melintasi akar-akar raksasa dengan kecepatan stabil. Mata terus mengamati langit di sela-sela d
Kweeek!
Suara pekikan elang terdengar samar dari ketinggian.Elang Darah itu masih di sana, berputar-putar seperti malaikat ma
"Mereka tidak saya"
Di dekatnya, medan hutan mulai berubah. Tanah datar tergantikan oleh bebatuan tajam yang menanjak menuju sebuah celah sempit di antara dua tebing curam. Itu adalah Ngarai Tulang Putih, satu-satunya akses darat menuju Lembah Gema Hantu tempat taksi itu berada.
Ngarai itu sunyi. Terlalu sunyi.
Tidak ada suara burung. Tidak ada suara serangga. Bahkan angin pun seolah menahan napas saat melewati celah tebing itu.
“Penyergapan,” simpul Ye Chen. insting Asura-nya meneror bahaya.
Dia bisa merasakan rahang Qi yang samar namun banyak di balik bebatuan tebing. Setidaknya ada dua puluh orang. Dan aura mereka jauh lebih kuat dan terorganisir daripada bandit gunung yang dia temui sebelumnya.
“Han Feng mengerahkan pasukan elitnya,” pikir Ye Chen.
Jika dia masuk begitu saja, dia akan terkena panah, jaring perangkap, dan serangan gabungan. Meskipun dia memilikinya Pedang Pemecah Gunung dan tubuh yang kuat, dikeroyok dua puluh keahlian tingkat Pemadatan Qi Menengah di medan sempit adalah bunuh diri.
Ye Chen mengubah tipis. Dia tidak akan masuk ke dalam perangkap. Dia akan membawa bencana ke dalam perangkap itu.
Ye Chen berbalik ke arah. Dia tidak lari menjauh, melainkan bergerak menyamping, mendaki bukit terjal di sisi kiri ngarai.
Tujuannya adalah sebuah gua besar yang dia lewati setengah jam yang lalu. Gua yang memancarkan bau amis dan dengkuran yang menggetarkan tanah.
Di dalam Ngarai Tulang Putih.
Komandan Hei Lang (Serigala Hitam), pemimpin Unit Serigala Darah, bersembunyi di balik celah batu di atas tebing. Dia mengenakan baju zirah hitam ringan dan memegang sepasang belati melengkung yang dilapisi racun kelabang.
Tingkat keparahannya berada diRanah Pemadatan Qi Tingkat 6. Dia adalah salah satu algojo terbaik Sekte Pedang Darah.
"Target berhenti bergerak," bisik wakilnya di sebelahnya. "Elang memberi sinyal dia ada di dekat mulut sempit. Kenapa dia tidak masuk?"
"Dia curiga," jawab Hei Lang dingin. "Bocah itu licik seperti rubah. Tapi dia tidak punya pilihan. Jika dia memutar, dia akan memakan waktu dua hari. Tuan Muda Han sudah menunggu di freezer. Dia pasti akan—"
GROOOAARRRR!
Ucapan Hei Lang terpotong oleh auman mengerikan yang mengguncang tebing. Bebatuan kecil jatuhan dari dinding ngarai.
Tanah bergetar hebat.Dum... Dum... Dum...
Suara langkah kaki raksasa mendekat dengan kecepatan tinggi dari arah hutan, menuju mulut leher tempat pasukan Hei Lang bersembunyi.
"Suara apa itu?" tanya seorang anggota unit dengan wajah pucat.
Dari balik tikungan leher, muncullah sesosok makhluk setinggi empat meter. Bulunya hitam legam dengan garis-garis petir biru yang menyala di punggungnya. Matanya merah menyala karena kemarahan.
Beruang Guntur Punggung Besi (Beruang Guntur Berpunggung Besi).
Binatang Buas Tingkat 2 Puncak! (Setara dengan Pemadatan Qi Tingkat 8-9). Kekuatan fisiknya mampu meruntuhkan benteng kecil, dan dia bisa memanggil petir.
Tapi yang lebih mengejutkan adalah apa yang ada di depan beruang itu.
Seorang pemuda hitam sedang berlari secepat kilat di kejar oleh beruang itu. Pemuda itu sesekali menoleh dan melemparkan batu ke arah hidung beruang tersebut untuk memicunya lebih jauh.
"Hei! Anjing-anjing Han Feng! Aku bawakan mainan untuk kalian!" teriak Ye Chen sambil tertawa gila.
Saat Ye Chen mencapai titik penyergapan, dia tiba-tiba melompat tinggi, kakinya menginjak dinding tebing, dan dengan Langkah Kilat Hantu, dia melesat ke atas, melewati kepala pasukan penyergap yang bersembunyi di bawah.
Beruang Guntur itu kehilangan target utamanya. Mata yang rabun namun peka terhadap gerakan langsung menangkap dua puluh sosok manusia berbaju zirah yang bersembunyi di balik batu.
Bagi yang menanggungnya, mereka semua adalah sekutu si pelempar batu.
GRAAAARR!
Beruang itu membuka mulutnya. Sebuah bola petir biru terbentuk dan ditembakkan.
BLARRR!
Tabrakan petir menghantam tengah formasi Unit Serigala Darah. Tiga anggota unit langsung hangus menjadi abu. Batu-batu tempat persembunyian mereka hancur berantakan.
"Sialan! Itu jebakan! Serang beruang itu atau kita mati!" teriak Hei Lang panik.
Kekacauan pecah seketika. Rencana penyergapan yang cepat berubah menjadi pertarungan bertahan hidup melawan monster gila.
Anak panah dan serangan pedang menghujani tubuh beruang itu, tapi kulitnya sekeras besi. Serangan itu hanya membuatnya semakin marah. Beruang itu mengamuk, cakar raksasanya menghempaskan dua prajurit hingga tubuh remuk mereka seperti bubur.
Di atas tebing, Ye Chen mendarat dengan mulus di dahan pohon yang menjorok. Dia menatap kekacauan di bawah dengan dingin.
"Sekarang, giliranku."
Ye Chen mencabut Pedang Pemecah Gunungdari perlindungan.
Dia melompat turun dari ketinggian dua puluh meter, lurus menuju yang sedang panik.
Targetnya bukan beruang. Targetnya adalah manusia.
Teknik Pedang Asura: Jatuhnya Meteor Hitam!
Ye Chen menggunakan gravitasi dan berat pedangnya.
BOOM!
Dia mendarat tepat di punggung seorang prajurit Tingkat 4yang sedang sibuk memanah beruang. Prajurit itu tidak sempat berteriak. Tubuhnya seketika hancur di bawah hantaman pedang raksasa dan kaki Ye Chen.
Gelombang kejut itu membuat prajurit di sekitar terhuyung.
"Itu Asura! Dia di sini!"
"Bunuh dia!"
Tiga anggota Unit Serigala Darah Menyerang Ye Chen.
“Kalian terlalu lambat,” desis Ye Chen.
Dia mengayunkan pedang besarnya secara horizontal. Jangkauan pedang itu hampir dua meter.
WUUUNG!
Tiga kepala terbang sekaligus. Darah menyembur, bercampur dengan kilatan petir dari amukan beruang di sisi lain.
Ye Chen seperti ikan di dalam air. Di tengah kekacauan ini, Indra Asura-nya memberikan keunggulan mutlak. Dia bergerak antara kaki beruang dan serangan prajurit, membiarkan musuh saling membunuh, lalu menghabisi sisa.
Hei Lang melihat pasukannya dibantai. Matanya merah karena marah.
"Asura! Kau pengecut licik!"
Hei Lang mengabaikan beruang itu dan melesat ke arah Ye Chen. Kecepatannya sebagai penerimaan Tingkat 6 luar biasa. Belatinya yang beracun mengincar leher Ye Chen.
"Mati!"
Ye Chen baru saja menebas seorang musuh. Posisi pedangnya sedang di bawah. Dia tidak sempat mengangkat pedang berat itu untuk menangkis serangan secepat kilat Hei Lang.
Tapi Ye Chen tidak panik.
Dia melepaskan tangan kirinya dari gagang pedang, membiarkan pedang itu jatuh menancap ke tanah.
Tangan kirinya yang bebas mengepal. Qi merah dan biru (Es dan Asura) berputar di tinjunya.
Tinju Ganda Yin-Yang Asura!
Ye Chen meninju... bukan ke arah Hei Lang, tapi ke arah sisi pedang raksasanya sendiri yang tertancap di tanah.
DONG!
Hantaman tinju itu membuat bilah pedang Pemecah Gunung yang lebar bergetar hebat dan memantul ke samping dengan kecepatan tinggi seperti pegas raksasa.
Sisi datar pedang itu menampar tubuh Hei Lang yang sedang melayang di udara.
"Apa—?!"
BAMM!
Hei Lang merasa seperti ditabrak tembok benteng yang runtuh. Tulang rusuknya remuk. Dia terpental sepuluh meter ke samping, menabrak dinding tebing hingga menciptakan retakan jaring laba-laba di batu.
"Uhuk!" Hei Lang memuntahkan darah hitam berisi potongan organ dalam.
Ye Chen mencabut pedangnya lagi dengan santai.
Di sisi lain, Beruang Guntur akhirnya tumbang setelah menerima ratusan serangan. Tapi Unit Serigala Darah sudah habis. Dari dua puluh orang elit, hanya tersisa Hei Lang yang sekarat dan dua prajurit yang kini gemetar ketakutan melihat Ye Chen.
Ye Chen berjalan mendekati Hei Lang. Langkah kakinya berat, setiap jejak meninggalkan noda darah.
"Pengecut?" ulang Ye Chen, menatap Hei Lang yang terkapar. "Dalam perang, tidak ada pengecut atau pahlawan. Hanya ada pemenang dan mayat."
"K-Kau... Tuan Muda Han... tidak akan mengampunimu..." Hei Lang mencoba merangkak mundur. "Kakaknya... Han Yun... dia ada di sini..."
Mata Ye Chen menyipit. "Han Yun? Si Jagal dari sekte utama?"
"Hehe... benar... kau akan mati lebih mengerikan dari kami..."
Ye Chen mengangkat pedang raksasanya tinggi-tinggi.
"Terima kasih informasinya. Tapi aku tidak suka menunggu."
SPLAT!
Pedang itu jatuh, mengakhiri riwayat Komandan Hei Lang.
Ye Chen segera menggeledah mayat Hei Lang dan mengambil Kantong Penyimpanan-nya. Dia juga berjalan ke bangkai Beruang Guntur, membedah dadanya, dan mengambil Inti Binatang yang masih berdenyut dengan listrik.
"Inti Tingkat 2 Puncak elemen petir..." Ye Chen tersenyum puas. "Ini akan sangat berguna untuk teknik Tubuh Guntur-ku nanti."
Dua prajurit terakhir yang masih hidup menjatuhkan senjata mereka dan lari terbirit-birit ke arah hutan.
Ye Chen membiarkan mereka pergi. Dia butuh saksi mata untuk menyebarkan ketakutan. Ketakutan adalah senjata yang ampuh untuk mengacaukan mental musuh sebelum pertempuran dimulai.
Ye Chen menatap ke ujung ngarai yang gelap. Angin dingin berhembus dari sana, membawa suara gema yang aneh dan mendirikan bulu roma.
Lembah Gema Hantu.
"Han Feng, Han Yun... nikmatilah waktu kalian menunggu," bisik Ye Chen.
Dia duduk bersila di tengah mayat-mayat itu.
"Mutiara Penelan Surga, waktunya makan besar."
Ye Chen mengaktifkan mutiaranya. Kabut darah dari dua puluh kultivator elit dan satu binatang buas raksasa mulai terangkat, berputar mengelilingi tubuhnya seperti badai merah.
Sebelum masuk ke lembah terlarang itu, Ye Chen berniat menerobos ke Ranah Pemadatan Qi Tingkat 3. Dan darah para musuhnya adalah bahan bakar terbaik.
(Akhir Bab 19)