NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1

SMA Garuda jam tujuh pagi itu kayak panggung sandiwara. Di tengah hiruk-pikuk siswa yang lari-larian takut telat, ada satu titik yang selalu jadi pusat perhatian: area parkir depan. Di sana, Lian baru saja turun dari motor sport hitamnya yang harganya setara rumah subsidi.

​Lian nggak langsung masuk kelas. Dia berdiri dulu di samping motornya, ngelepas sarung tangan kulitnya satu-persatu sambil matanya keliling nyari mangsa buat dijadiin bahan seru-seruan pagi ini. Lian itu tipe cowok yang kalau lo liat sekilas, lo bakal bilang, "Ganteng banget." Tapi kalau lo liat lebih lama, lo bakal sadar ada sesuatu yang gelap di matanya—tipe cowok yang bakal bikin lo nangis tiap malem tapi tetep lo maafin karena gombalannya maut. Itu red flag terbesarnya: dia tau dia ganteng, dan dia pake itu buat manipulasi semua orang.

​"Li, ada anak baru tuh. Manis banget, gila," bisik Jojo sambil nyikut lengan Lian.

​Lian nengok. Di deket gerbang, ada seorang cewek yang lagi senyum ramah banget ke arah satpam sekolah. Namanya Mori. Dia kelihatan kayak definisi "Gadis Manis" yang keluar dari novel romantis. Rambutnya hitam sebahu, matanya bulat bersinar, dan senyumnya itu lho... tulus banget. Dia bahkan sempet berhenti buat bantuin siswi lain yang naruh mukena jatuh di aspal.

​"Boleh juga," gumam Lian. Senyum miringnya muncul. "Tipe-tipe yang gampang baper nih. Gue kasih waktu dua hari buat bikin dia nanyain nomor WA gue."

​Lian mulai jalan. Dia sengaja ngambil rute yang bakal bikin dia papasan langsung sama Mori. Dia pengen bikin kesan pertama yang kuat.

​Mori lagi jalan sambil nenteng beberapa buku perpustakaan. Dia lagi nanya jalan ke kantin sama temen barunya lewat telepon. "Iya, aku udah di deket aula, bentar lagi sampe..."

​BRAKK!

​Lian sengaja nggak ngerem langkahnya. Dia nabrak bahu Mori cukup keras sampe cewek itu limbung. Buku-buku di tangan Mori jatuh, berantakan di lantai koridor yang masih bersih.

​"Aduh!" Mori memekik pelan.

​Lian diem di tempat. Bukannya bantuin, dia malah masukin tangan ke saku celana dan masang muka sok keren yang biasanya bikin cewek-cewek langsung minta maaf meskipun mereka yang ditabrak.

​"Lain kali jalan pake mata, ya," ucap Lian suaranya berat, nyoba buat intimidasi. "Lo hampir ngerusak jaket mahal gue."

​Mori diem sebentar. Dia narik napas panjang, terus ndongak. Detik itu juga, pandangan mereka ketemu.

​Lian udah siap-siap. Dia pikir Mori bakal mukanya memerah, terus minta maaf sambil malu-malu karena liat muka Lian yang emang di atas rata-rata. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya.

​Begitu mata Mori liat muka Lian—liat cara Lian berdiri, liat senyum ngeremehin di bibirnya, dan liat gimana sombongnya cara dia natap—ekspresi manis Mori langsung ilang. Ilang total. Kayak saklar lampu yang tiba-tiba dimatiin.

​Mori nggak takut. Dia justru ngerasa... jijik?

​"Lo yang nabrak, lo yang galak?" suara Mori tiba-tiba berubah dingin. Nggak ada lagi nada manis kayak pas dia ngobrol sama satpam tadi.

​Lian kaget. "Eh? Gue bilang, lo yang nggak liat jalan."

​Mori jongkok buat ambil bukunya dengan gerakan cepet. Pas Lian nyoba buat sok baik dengan cara ngulurin tangan (buat nyentuh tangan Mori pas ambil buku—trik klasik Lian), Mori langsung narik tangannya menjauh seolah Lian itu virus berbahaya.

​"Nggak usah sentuh-sentuh," ketus Mori. Dia berdiri, melotot ke arah Lian. "Dan satu lagi, jaket lo nggak lebih mahal daripada adab lo yang kayaknya ketinggalan di rumah."

​Jojo yang berdiri di belakang Lian sampe keselek ludah sendiri. "Waduh..."

​Lian ngerasa harga dirinya ditonjok. "Lo tau nggak gue siapa? Anak baru jangan sok asik lo."

​Mori masang muka datar banget. "Gue nggak peduli lo siapa. Entah lo anak kepala sekolah atau anak presiden sekalipun, kalau lo nggak punya sopan santun, buat gue lo cuma polusi udara. Minggir, lo ngalangin jalan gue."

​Mori nabrak bahu Lian balik dengan keras pas dia lewat. Lian sampe terhuyung dikit karena nggak siap dikonfrontasi kayak gitu.

​Lian berdiri kaku di koridor. Dia denger beberapa murid di sekitar situ mulai bisik-bisik. "Gila, si Lian baru aja disemprot sama anak manis itu."

​"Li, lo nggak apa-apa?" Jojo nyamperin. "Sangar juga ya cewek itu. Padahal tadi senyumnya manis banget pas sama Pak Satpam."

​Lian ngepalin tangannya. Matanya masih ngikutin punggung Mori yang menjauh. "Dia... dia beda."

​"Iya, beda karena dia satu-satunya cewek yang nggak mau lo pegang tangannya," ledek Jojo.

​Lian nggak jawab. Dia ngerasa ada perasaan aneh yang campur aduk. Marah, iya. Tapi ada rasa penasaran yang gede banget. Kenapa Mori bisa ramah banget ke orang lain tapi langsung berubah jadi es batu pas liat dia? Padahal mereka baru ketemu hitungan detik.

​"Dia sengaja jual mahal, Jo," kata Lian, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. "Cewek kayak gitu biasanya cuma pengen dapet perhatian lebih. Dia tau kalau dia jutek, gue bakal makin ngejar dia. Strategi klasik."

​Tapi, jauh di dalem lubuk hatinya, Lian tau itu bukan akting. Tatapan Mori tadi bener-bener tatapan orang yang nggak suka.

​Pas jam pelajaran pertama dimulai, Lian baru tau kalau Mori ternyata masuk di kelas yang sama dengannya. Mori duduk di barisan tengah, udah akrab banget sama cewek-cewek di sekitarnya. Dia ketawa, bagi-bagi permen, dan dengerin cerita temennya dengan antusias. Dia balik lagi jadi "Mori yang manis".

​Lian yang duduk di pojok belakang terus-terusan merhatiin dia. Dia nunggu momen pas Mori nengok ke belakang, biar dia bisa kasih kedipan mata atau senyum tipis.

​Akhirnya, Mori nengok. Tapi pas mata mereka nggak sengaja ketemu, senyum di muka Mori langsung ilang. Dia cuma ngasih tatapan tajam, terus balik badan lagi ke depan sambil ngebuang napas kasar, seolah-olah ngelihat Lian itu bikin mood-nya rusak.

​Lian makin panas. Red flag-nya makin berkibar. Dia nggak terbiasa ditolak. Baginya, penolakan Mori adalah sebuah penghinaan yang harus dibayar tuntas.

​Pas istirahat, Lian sengaja nyamperin meja Mori. Dia naruh satu kaleng kopi dingin di depan Mori.

​"Buat lo. Biar nggak jutek-jutek amat pagi ini," kata Lian dengan gaya sok perhatian.

​Mori ngelihat kaleng kopi itu, terus ngelihat Lian. Dia nggak nyentuh kaleng itu sama sekali.

​"Gue nggak minum kopi pemberian orang asing. Apalagi yang aromanya kayak masalah," jawab Mori tenang tapi nusuk.

​"Aroma masalah?" Lian ketawa ngeremehin. "Gue ini idola di sekolah ini, Mori. Lo seharusnya bangga gue kasih kopi."

​Mori berdiri, dia ngambil kaleng kopi itu, terus naruh di meja temen sebelahnya yang emang lagi pengen minum. "Nih, buat lo aja. Gue nggak level sama 'idola' yang ngerasa dirinya paling oke."

​Terus Mori natap Lian lurus-lurus. "Lian, denger ya. Gue punya radar buat orang-orang kayak lo. Orang yang ngerasa bisa beli segalanya pake muka dan harta. Jadi, mending lo cari korban lain, karena gue nggak bakal masuk ke perangkap lo."

​Mori jalan keluar kelas buat ke kantin, ninggalin Lian yang jadi tontonan satu kelas.

​Lian cuma bisa diem, tapi di kepalanya udah nyusun rencana lain. Dia nggak bakal berenti sampe Mori bertekuk lutut. Dia belum tau aja, kalau Mori itu bukan cewek lemah yang bisa dia mainin perasaannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!