"Sebuah nyawa yang dipinjam, sebuah pengabdian yang dijanjikan."
Leo Alistair seharusnya mati sebagai pahlawan kecil yang mengorbankan diri demi keluarganya. Namun, takdir berkata lain ketika setetes darah murni dari Raja Vampir,masuk ke dalam nadinya. Leo terbangun dengan identitas baru, bukan lagi serigala murni, melainkan sosok unik yang membawa keabadian vampir dalam insting predatornya.
Aurora adalah putri yang lahir dari perpaduan darah paling legendaris, keanggunan manusia dari garis keturunan Nenek nya, dan kekuatan abadi dari Klan Vampir. Dia memiliki kecantikan yang mistis, namun hatinya penuh kehangatan manusia yang dia warisi dari nenek moyangnya.
"Mereka bilang aku bangkit karena darah ayahmu, tapi bagiku, aku bangun hanya untuk menemukanmu. Dunia memanggilku monster, tapi aku adalah tawanan yang paling bahagia karena setiap napas ku adalah milikmu, Aurora."_Leo Alistair.
"Kamu bukan sekadar pelindung, tapi kamu adalah melodi jiwaku yang hilang."_Aurora Zuhaimi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAMA-SAMA PERDULI
"Duel dengan Raja Manusia yang kehebatan nya sangat legendaris itu? Hei, itu terdengar seperti kutukan daripada undangan!" ucap Leo, keras.
"Apalagi aku pernah mendengar cerita dari mendiang Nenek ku, katanya ada seorang manusia biasa, yang memiliki kekuatan dan kecerdasan di atas rata-rata manusia biasa, dia adalah Ratu dari kerajaan Wallace," lanjut Leo, teringat cerita dari mendiang Nyonya Kimberly.
"Itu Nenek buyut ku, Nenek Ivara, orang yang memiliki sejuta bakat dan pengetahuan," jawab Aurora, tersenyum kecil.
"A-apa Nenek dan Kakek buyut mu masih hidup?" tanya Leo, penasaran.
"Masih, mereka masih hidup, kata Ayah, Kakek Revan memberikan sedikit energi abadinya untuk mereka, karena tidak ingin membuat Nenek Alana bersedih, kalau harus kehilangan Kakek dan Nenek buyut," jawab Aurora, mengangguk kan kepala nya.
"Jadi mereka akan hidup abadi seperti kalian, Vampir?" tanya Leo, membelalakkan matanya.
"Tidak juga, tidak ada manusia biasa yang hidup abadi seperti bangsa Vampir Leo, hanya saja Kakek dan Nenek buyut ku memilik umur yang sedikit lebih panjang dari manusia biasa, karena energi yang diberikan oleh Kakek Revan," jawab Aurora, menjelaskan.
"Begitu? Jadi aku akan berhadapan dengan pasangan legendaris itu, matilah aku, Aurora..." gumam Leo, lemes.
"Yah, itu salahmu sendiri karena sudah bertingkah seperti pahlawan yang ingin mencuri perhatian," jawab Aurora tertawa kecil, menikmati wajah panik Leo.
"Kakek Revan bilang Kakek buyut tidak pernah mau kalah dengan lelaki mana pun kalau sudah menyangkut Ratu Ivara dan keturunannya. Jadi, bersiaplah, jika kamu benar-benar berani menginjakkan kaki di sana, kau mungkin akan disambut oleh aura kemarahan kakek buyutku," lanjut Aurora, tertawa kecil.
Leo terdiam sejenak, membayangkan sosok Raja Wallace yang diceritakan ayah nya, sebagai manusia dengan keberanian singa.
"Kedengarannya menarik, seorang Alistair melawan semangat Raja manusia yang agung. Setidaknya aku tahu sekarang dari mana sifat keras kepala dan galakmu itu berasal, ternyata itu warisan turun-temurun dari darah Wallace," ucap Leo, tersenyum kecil.
"Berhenti memanggilku galak, atau akan ku tambahkan satu sendok lagi ramuan pahit itu ke mulutmu!" ancam Aurora, meski matanya memancarkan rasa hangat yang tidak bisa ia sembunyikan lagi.
Leo terkekeh pelan, rasa sakit di tubuhnya seolah terlupakan sejenak.
"Ssstttt..."
tiba-tiba Leo, meringis.
"Mana yang sakit? Bagian punggung lagi?" tanya Aurora panik, tangannya melayang ragu di atas bahu Leo, takut sentuhannya justru memperparah luka.
Leo tidak menjawab, dia hanya terus memejamkan mata dengan dahi berkerut dalam, giginya tertutup rapat seolah menahan erangan yang hebat.
Melihat itu, Aurora segera mendekat, wajahnya kini hanya berjarak beberapa senti dari wajah Leo.
"Leo! Jawab aku! Apa ramuannya bereaksi buruk? Atau ada luka dalam yang terlewat?" cecar Aurora, suaranya naik satu oktaf karena cemas.
Perlahan, Leo membuka satu matanya, lalu melirik ke arah tangan Aurora yang gemetar di depannya, bibirnya yang pucat tiba-tiba tertarik membentuk seringai nakal yang sangat menyebalkan.
"Sakitnya... di sini, Putri," bisik Leo pelan, sambil menunjuk ke arah dadanya dengan telunjuk.
"Hatiku rasanya perih sekali karena kamu terus-menerus mengancam akan mencekoki ku ramuan kaos kaki itu, teganya kamu pada pahlawanmu sendiri," lanjut Leo, menarik garis senyum tipis nya.
Aurora tertegun, matanya berkedip beberapa kali sebelum menyadari bahwa dia baru saja dikerjai.
Rasa khawatir yang sempat memuncak di dadanya mendadak berubah menjadi letupan kekesalan yang panas.
"Leo Alistair! Kamu benar-benar...!" ucap Aurora mengangkat tangannya, bersiap untuk memukul bantal di samping kepala Leo, namun dia segera mengurungkan niatnya saat melihat perban di dada pria itu sedikit merembes merah karena gerakan tertawanya.
"Aduh, aduh! Jangan dipukul, nanti aku benar-benar mati konyol karena amukan Putri Vampir," goda Leo sambil tertawa kecil, meski wajahnya tetap meringis menahan nyeri yang nyata di sela tawanya.
Aurora mendengus keras, mencoba menyembunyikan rona merah di pipinya yang muncul karena malu sekaligus lega.
"Kamu pikir itu lucu? Aku hampir saja memanggil tabib istana dan membuat seluruh pelayan panik!" ucap Aurora, kesal.
"Tapi itu bekerja, kan? Kamu terlihat sangat cantik kalau sedang khawatir begitu," goda Leo tiba-tiba.
Suaranya yang tadi penuh canda kini berubah menjadi berat dan tulus.
Kamar yang tadinya bising oleh perdebatan mendadak senyap, tatapan cokelat keemasan Leo yang hangat mengunci manik perak Aurora yang dingin namun jernih.
Aurora terdiam, tangannya yang tadi terkepal perlahan rileks, dia tidak memalingkan wajah, justru memberanikan diri menatap balik pria serigala yang baru saja mempertaruhkan nyawa demi menjemput jiwanya di dimensi gelap itu.
"Jangan katakan hal seperti itu lagi," gumam Aurora pelan.
"Itu membuatku sulit untuk membencimu," lanjut Aurora, menatap Leo.
"Siapa bilang kamu boleh membenciku? Kita punya kontrak panjang, ingat? Kamu harus melatihku sampai aku bisa mengalahkan mu, atau sampai aku cukup kuat untuk melindungi mu tanpa harus digendong Ayahku lagi," jawab Leo lembut.
Leo mengulurkan tangannya, kali ini bukan untuk menggoda, tapi hanya untuk menyentuh ujung jari Aurora yang masih terasa sedingin es.
"Tanganmu dingin sekali, Aurora. Apa kamu masih takut?" tanya Leo, khawatir.
Aurora menatap jemari mereka yang bertautan di atas sprei ranjang, perbedaan suhu tubuh mereka sangat kontras, Leo yang selalu panas seperti api, dan dirinya yang dingin seperti salju abadi.
"Sedikit," aku Aurora jujur.
"Di dimensi itu, aku merasa seolah-olah perlahan menghilang, aku lupa siapa namaku, aku lupa di mana rumahku, tapi kemudian, aku mendengar raungan mu. Itu sangat berisik, kasar, dan sama sekali tidak sopan. Tapi entah kenapa, itu adalah suara terindah yang pernah kudengar," jawab Aurora, pelan.
Leo tersenyum lebar, jemarinya menggenggam tangan Aurora sedikit lebih erat, menyalurkan kehangatan tubuh kaum Werewolf yang dia miliki.
"Tentu saja terindah, suara Raja Serigala masa depan memang punya frekuensi khusus untuk memanggil Tuan Putrinya yang tersesat," ucap Leo, mengedipkan sebelah matanya.
"Cih, sombong sekali," cibir Aurora, menahan senyum nya, membiarkan tangannya di genggam Leo.
Aurora membiarkan kehangatan dari tangan Leo merayap masuk ke nadinya, mengusir sisa-sisa trauma dari kegelapan dimensi cermin.
"Leo, terima kasih, untuk segalanya, untuk tetap tinggal meski aku selalu mendorongmu menjauh, padahal kita hanya orang asing yang baru kenal, tapi kamu bahkan rela berjuang sekeras itu, sampai tujuan tubuh mu penuh luka seperti ini, karena aku," ucap Aurora menundukkan kepalanya sedikit, membiarkan rambut peraknya jatuh menutupi sebagian wajahnya.
Leo terdiam sejenak, menikmati momen langka di mana Aurora menjatuhkan dinding pertahanannya, dia bisa mencium aroma mawar dan salju dari rambut gadis itu, aroma yang selalu membuatnya tenang.
"Sama-sama, Putri Galak," bisik Leo, dengan suara berat nya.