Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reset
Puncak Menara Nexus bergetar di bawah amukan energi. Kenji, yang kini telah berubah menjadi entitas raksasa dari kabel dan baja, melayangkan ribuan tentakel digitalnya ke arah Genta. Setiap hantaman menciptakan retakan pada realitas, memperlihatkan kekosongan hitam di balik langit digital Neo-Jakarta.
"Kamu tidak bisa menang, Genta!" suara Kenji bergema seperti petir. "Aku adalah sistem ini! Menghancurkanku berarti menghancurkan seluruh kesadaran manusia yang tersimpan di sini!"
Genta terdesak ke pinggir menara, napasnya tersengal. Di belakangnya, Aki dan Sarah sedang berjuang menahan gelombang pasukan Deb. ger yang tidak ada habisnya. "Aki! Sarah! Berikan aku waktu satu menit saja!" teriak Genta.
Aki menghantamkan tongkat emasnya ke lantai, menciptakan gelombang pelindung terakhir. "Lakukan, Genta! Jangan lihat ke belakang! Selesaikan apa yang kita mulai di bawah laut!"
Genta menutup matanya. Dia tidak lagi melihat Kenji sebagai monster, melainkan sebagai sebuah sistem yang mengalami 'loop' kesalahan yang parah. Dia menempelkan tangannya ke lantai menara, mencari aliran data utama yang terhubung langsung ke Source Code.
"Akses Root: Deep System Analysis," bisik Genta.
Di dalam pikirannya, Genta melihat struktur dunia ini bukan sebagai kota, melainkan sebagai sebuah lift raksasa yang terjebak di antara lantai. Kenji adalah rem yang terkunci, sementara kehendak bebas manusia adalah beban yang mencoba turun.
"Kenji... kamu tidak mengerti," Genta bangkit berdiri, tubuhnya mulai berpendar dengan cahaya putih yang meluap. "Dunia ini bukan rusak karena manusia tidak sempurna. Dunia ini rusak karena kamu mencoba menghentikan waktu."
Genta berlari kencang menuju jantung raksasa baja Kenji. Dia tidak menghindar dari serangan tentakel; dia membiarkan tubuh digitalnya terluka untuk mendapatkan kecepatan. Dengan satu lompatan terakhir, Genta menancapkan obeng magnetiknya tepat ke pusat Source Code yang ada di dada Kenji.
"Akses Root: TOTAL FACTORY RESET!"
Cahaya putih murni meledak dari titik kontak tersebut. Suara jeritan Kenji perlahan berubah menjadi suara statis yang memudar. Genta merasakan kesadarannya mulai menguap. Dia melihat Sarah tersenyum padanya untuk terakhir kali, dan Aki yang memberikan hormat dengan bangga.
"Reset System..." sebuah suara lembut terdengar di telinga Genta. "Menghapus simulasi... Mengembalikan data ke inang fisik... 3... 2... 1..."
***
Genta tersentak bangun. Hal pertama yang ia rasakan adalah bau oli, debu, dan udara pengap. Ia tidak lagi berada di menara neon yang cantik. Ia berada di lantai dasar Menara Sembako, terjepit di antara kabel-kabel lift yang baru saja diperbaikinya.
Ia merayap keluar dari lubang lift dengan napas terengah-engah. Di sekelilingnya, orang-orang tampak bingung, seolah baru saja bangun dari mimpi panjang yang sama. Petugas keamanan, karyawan kantor, hingga tukang ojek di luar gedung terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan aktivitas mereka—kali ini dengan binar mata yang lebih hidup.
Genta meraba sakunya. Ia menemukan sebuah kunci inggris tua yang sudah berkarat, namun di gagangnya ada goresan kecil berbentuk simbol [ROOT].
"Mas Genta! Mas nggak apa-apa?" seorang wanita berlari menghampirinya.
Genta menoleh. Itu Sarah. Dia tidak memakai jubah peretas, hanya kemeja kantor biasa dengan noda kopi di lengannya. Namun, saat mata mereka bertemu, Genta tahu bahwa Sarah ingat semuanya.
"Kita... kita kembali?" tanya Genta dengan suara serak.
Sarah tersenyum, matanya berkaca-kaca. "Iya. Ke dunia yang berantakan, macet, dan tidak pasti. Tapi ini milik kita, Genta."
Di kejauhan, di atas sebuah bangku taman, Genta melihat seorang pria tua sedang asyik memperbaiki radio transistor sambil menyeruput teh botol. Pria itu menoleh ke arah Genta dan mengedipkan sebelah matanya sebelum kembali sibuk dengan obengnya. Aki juga kembali.
Genta berdiri tegak, menyeka keringat di dahinya, dan menatap gedung-gedung Jakarta yang berdiri kokoh di bawah sinar matahari sore yang asli. Dunia memang tidak sempurna, tapi sebagai seorang teknisi, Genta tahu bahwa selama ada sesuatu yang bisa diperbaiki, harapan akan selalu ada.
Genta memasukkan kunci inggrisnya ke dalam tas. "Ayo, Sarah. Masih banyak lift di kota ini yang butuh diservis."
Mereka berjalan pergi meninggalkan Menara Sembako, menyatu dengan jutaan manusia lainnya yang kini bebas menentukan takdir mereka sendiri.
TAMAT.....