Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. The Fragile Hope
Setelah badai pengadilan dan runtuhnya The Shadow Syndicate, kehidupan Julian dan Alice perlahan memasuki ritme yang lebih tenang. Mereka kini menetap di sebuah rumah baru yang lebih privat di pinggiran New York, sebuah rumah yang mereka bangun dengan konsep "Sanctuary"—sebuah tempat suci di mana tidak ada kamera yang diizinkan masuk.
Pagi itu, sinar matahari menembus jendela dapur yang besar. Julian, yang kini jauh lebih terampil dalam urusan rumah tangga, sedang menyiapkan jus hijau untuk Alice. Ia masih tetap menjadi "permen karet"—begitu Alice berbalik, Julian sudah ada di sana, melingkarkan lengannya di pinggang sang istri.
"Julian, aku baru saja mencuci piring," tawa Alice saat Julian mengecup tengkuknya berkali-kali.
"Biarkan saja piringnya, Al. Aku ingin menikmati pagi ini tanpamu jauh-jauh dariku," bisik Julian, suaranya kini terdengar sangat stabil dan penuh kedamaian. "Kau tahu, aku sedang berpikir... rumah ini terlalu besar jika hanya untuk kita berdua."
Alice terhenti. Ia memutar tubuhnya, menatap mata cokelat suaminya. "Apa yang sedang kau rencanakan, Tuan Reed?"
Julian membawa tangan Alice ke dadanya. "Aku ingin kita mulai membangun keluarga kita sendiri. Aku ingin ada suara tawa anak kecil di lorong rumah ini. Aku ingin menjadi ayah yang baik, tidak seperti ayahku dulu. Aku ingin memberikan segalanya untuk anak-anak kita nanti."
Mata Alice berbinar. "Kau serius? Kau sudah siap?"
"Sangat siap. Aku sudah berbicara dengan Papa Samuel semalam. Beliau sangat antusias," Julian terkekeh. "Dia bilang dia sudah tidak sabar ingin menggendong cucu."
Namun, rencana manusia tidak selalu sejalan dengan kenyataan. Selama tiga bulan mereka mencoba, tanda-tanda kehamilan itu tak kunjung datang. Alice mulai merasa ada yang tidak beres. Stres bertahun-tahun saat menghadapi Sean dan tekanan media ternyata meninggalkan bekas di tubuhnya.
Minggu pagi, mereka memutuskan untuk mengunjungi dokter spesialis di New York. Di ruang tunggu yang elegan, Julian tidak melepaskan genggaman tangannya dari Alice.
"Nyonya Reed," panggil perawat.
Di dalam ruangan, Dokter Sarah menatap hasil tes Alice dengan wajah yang sangat hati-hati. Ia melirik Julian, lalu kembali ke Alice.
"Berdasarkan hasil pemeriksaan, ada sedikit kendala medis pada Nyonya Alice," ujar Dokter Sarah lembut. "Tingkat hormon stres di masa lalu dan beberapa kondisi fisik menunjukkan bahwa Alice mungkin akan mengalami kesulitan untuk hamil secara alami dalam waktu dekat. Ada beberapa penyumbatan yang dipicu oleh kelelahan mental kronis yang dialami Nona Alice selama bertahun-tahun."
Ruangan itu mendadak sunyi. Alice merasakan hatinya mencelos. Ia menunduk, menatap cincin pernikahannya dengan mata yang mulai menggenang. "Jadi... aku tidak bisa memberikan Julian anak?"
Julian langsung memegang bahu Alice, menariknya ke dalam pelukan pelindungnya. "Dokter, apa ada jalan keluarnya? Apapun akan saya lakukan."
"Tentu saja ada, Tuan Reed. Kita bisa mencoba terapi hormon atau program bayi tabung. Namun yang terpenting sekarang adalah ketenangan mental Nona Alice. Dia butuh penyembuhan total dari trauma masa lalunya."
Saat mereka berjalan menuju mobil, Alice terus terdiam. Begitu pintu mobil tertutup, pertahanannya runtuh. Ia menangis tersedu-sedu di dada Julian.
"Maafkan aku, Julian... Maafkan aku. Kau sudah berubah menjadi pria yang sangat baik, kau sudah meninggalkan duniamu demi aku, tapi aku bahkan tidak bisa memberimu keluarga yang kau impikan," isak Alice.
Julian memegang wajah Alice dengan kedua tangannya, memaksa Alice menatap matanya yang penuh cinta—bukan kekecewaan.
"Al, dengarkan aku baik-baik," ujar Julian dengan suara yang sangat dalam dan tegas. "Aku menikahimu bukan untuk menjadikannya mesin penghasil anak. Aku menikahimu karena aku mencintaimu, karena jiwamu yang menyelamatkanku. Jika Tuhan belum mengizinkan kita punya anak sekarang, maka itu artinya Dia ingin aku lebih lama memilikimu hanya untuk diriku sendiri."
"Tapi kau sangat menginginkannya..."
"Aku menginginkannya, tapi aku lebih menginginkanmu sehat," Julian mengecup dahi Alice lama. "Kita akan melewati ini bersama, seperti kita melewati Sean dan para elit itu. Kita akan berdoa lebih keras lagi. Ingat apa yang dikatakan Papa Samuel? Karunia Tuhan tidak pernah terlambat, ia hanya datang di waktu yang paling tepat."
Malam harinya, mereka mengundang Samuel dan Elizabeth untuk makan malam. Setelah Alice menceritakan kondisinya, Elizabeth langsung memeluk putrinya dengan hangat.
"Alice, dengar Mama," ucap Elizabeth lembut. "Anak adalah titipan, tapi suami dan istri adalah satu daging. Jangan biarkan hal ini menjadi celah bagi iblis untuk merusak kebahagiaan kalian. Banyak wanita di luar sana yang menunggu bertahun-tahun, dan saat mereka menyerahkan segalanya pada Tuhan, mukjizat itu terjadi."
Samuel mengangguk, menepuk bahu Julian. "Julian, ini adalah ujian kesabaranmu yang baru. Kau sudah menang melawan musuh dari luar, sekarang kau harus menang melawan rasa putus asa di dalam rumahmu sendiri. Jadilah pilar yang kuat untuk Alice."
Julian menatap mertuanya dengan penuh rasa hormat. "Saya akan, Pa. Saya tidak akan membiarkan Alice merasa sendirian dalam hal ini."
Malam itu, sebelum tidur, Julian berlutut di samping tempat tidur bersama Alice. Mereka tidak lagi berdoa untuk popularitas atau perlindungan dari musuh. Mereka berdoa untuk sebuah kehidupan baru.
"Tuhan," bisik Julian, suaranya bergetar dalam doa. "Jika Engkau mempercayakan sebuah nyawa pada kami, kami berjanji akan membesarkannya dalam jalan-Mu. Tapi jika belum, ajari kami untuk tetap bersyukur atas cinta yang kami miliki hari ini."
Alice memeluk Julian dari samping, merasakan ketulusan suaminya. Di tengah ketidakpastian medis itu, Alice menyadari bahwa Julian bukan lagi pria yang butuh "pelampiasan". Dia adalah pria yang sudah benar-benar menjadi imam bagi keluarganya.
cemburu bilang /CoolGuy/
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/