NovelToon NovelToon
Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Ambisi, Cinta, Dan Ulah Si Kembar

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Eireyynezkim

Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.

Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membuat Masalah

Ale yang saat ini sudah di bawa Arlo ke pantai syok dengan apa yang di katakan oleh Arlo.

Wajahnya nampak memucat dan kedua tangannya saling menaut. Dia gugup dan bingung dengan apa yang akan terjadi padanya nanti. Di tambah terlihat pantai ini sedang sepi pengunjung karena termasuk hari biasa.

"Astaga, apa Arlo akan melakukannya di sini? Tapi ini kan pantai, nanti kalau ada orang yang kesini bagaimana?" batin Ale dengan gelisah.

Arlo yang sejakt tadi diam melirik ke arah Ale dan sudah bibirnya tertarik ke atas tapi Ale tak akan bisa melihat itu semua.

Ctakkk...

"Awwww....."

"Sakit..." rengek Ale pada Arlo.

Wajah Ale sudah cemberut dan bibirnya sudah maju ke depan karena Arlo baru saja menyentil keningnya.

"Kamu mikirin apa hmmm? Kamu mikirin kalau aku beneran bakal ngajak kamu bikin dedek bayi di sini?" goda Arlo pada Ale.

Blushhh....

Arlo terkekeh dan segera menarik tangan Ale untuk di ajaknya jalan jalan di pinggiran pantai. Arlo menggenggam tangan Ale dengan lembut dan itu membuat Ale merasa di sayangi.

Ale terus memerhatikan tangan mereka berdua yang bertautan dan Arlo terus membawa Ale sampai tiba di sebuah tempat di mana ada beberapa penjual di sana.

"Duduk di sini dulu, aku beli minuman buat kita," ucap Arlo sambil pergi dari hadapan Ale.

Ale sendiri masih memandangi punggung Arlo yang nampak menjauh dari pandangannya dan beralih kepada tangan yang baru saja di genggam oleh Arlo tadi.

"Hangat, aku nggak akan pernah rela jika dia di ambil orang lain," gumam Ale pelan.

Dan Ale kembali mengangkat kepalanya berbarengan dengan Arlo yang sudah membawa dua buah kelapa muda untuk mereka berdua.

"Jangan mikirin yang aneh aneh, aku nggak akan macam macam," ucap Arlo yang sudah duduk di sebelah Ale.

Ale mengerutkan keningnya saat mendengar perkataan Arlo.

"Kok kamu tahu? Kamu bisa baca pikiranku ya?" tanya Ale dengan wajah polosnya.

Arlo yang gemas mencubit pipi Ale pelan dan membuat Ale memajukan bibirnya.

Cup...

Arlo mencium bibir Ale sekilas dan membuat Ale mengerjapkan matanya lucu.

"Lucu banget sih kamu,"

"Jangan gemes gemes gitu, nanti malah bikin aku pengen bikin dedek bayi di sini," goda Arlo lagi.

"Arlooo....." teriak Ale keras.

Ale sudah memukul pelan lengan Arlo dan membuat Arlo terbahak, tapi kemudian Arlo menangkap tangan Ale dan mengusapnya pelan.

"Jangan mukul, nanti tangannya yang malah sakit,"

Arlo mengatakan itu dengan lembut dan malah membuat hati Ale menghangat. Dia merasa benar benar di cintai oleh Arlo dengan cara Arlo yang menunjukkannya spontan.

Ale masih menatap Arlo dengan kagum, tapi Arlo hanya diam saja bukan berarti Arlo tak tahu tapi Arlo membiarkan Ale melakukan apa pun yang Ale mau.

"Arlo, jangan tinggalin aku ya, hidupku udah lama bergantung sama kamu. Gimana jadinya kalau kamu ninggalin aku?" ucap Ale lirih.

Arlo langsung menghentikan kegiatannya yang sedang mengusap tangan Ale, dia nampak diam mencerna perkataan Ale yang tiba tiba.

Dia kemudian mendongak dan melihat mata Ale yang sudah berkaca kaca. Tiba tiba satu tetes air mata jatuh dari pelupuk mata Ale tanpa bisa di cegah.

Arlo menampung air mata yang jatuh itu dengan tanganya dan kemudian dia mengusap air mata Ale yang akan menetes lagi.

"Aku nggak akan kemana mana sayang, dan lagi pula aku mau kemana? Bukannya dari dulu aku selalu sama kamu?" tanya Arlo lembut.

Ale menunduk tak berani menatap Arlo lagi, entah kenapa hatinya gundah kali ini dan merasa akan ada yang terjadi kepadanya dan juga Arlo.

Arlo mengulurkan tangannya ke pipi Ale dan mengusapnya pelan.

"Jangan mikirin yang aneh aneh sayang, aku nggak akan kemana mana. Lagian kamu mikirin apa sih sampai segininya? Dan kalau memang ada yang macam macam bukan aku aja yang akan bertindak, tapi kakak kembarmu dan mami gilamu itu yang akan bertindak," ucap Arlo berusaha untuk mencairkan suasana.

Tapi sepertinya suasan hati Ale memang sedikit memburuk dan Arlo bingung kenapa Ale bisa pesimis seperti ini.

"Kamu nggak yakin sama hubungan kita?" tanya Arlo lagi.

Ale menggeleng cepat, "Tadi di cafe aku ketemu sama cewek anak pengusaha berlian dan permata,"

Akhirnya Ale mengatakan apa yang sejak tadi mengganggunya dan Arlo hanya diam menyimak menunggu apa yang akan di katakan oleh sang kekasih padanya.

"Terus?" tanya Arlo pada Ale.

"Awalnya aku nggak kenal siapa dia, karena yang aku tahu jika dia hanya anak pengusaha berlian dan permata. Tapi kakak bilang padaku jika dia terobsesi sama kamu dan sudah menyuruh kedua orang tuanya untuk melamar kamu," kata Ale lagi.

Arlo menyimak semua yang di katakan Ale dan dia paham dengan apa yang menjadi kegelisahan Ale saat ini. Arlo kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku jaketnya. Dan itu membuat Ale yang ada di depannya bingung.

"Kamu mau ngapain?" tanya Ale penasaran.

Arlo tak menggubris pertanyaan Ale dan dia malah sibuk dengan ponselnya sehingga tak lama terdengar nada sambung dari sana.

Saat Ale ingin bertanya dari seberang terdengar suara Mahessa papanya Arlo.

"Hallo Arlo, ada apa nak?" tanya Mahessa langsung.

"Papa, Arlo mau tanya sesuatu dan papa harus jawab dengan serius karena menantu papa sedang menangis dan insecure saat ini," balas Arlo langsung.

Mahessa yang sedang beristirahat langsung terduduk dan meneggakan badannya apalagi saat ini Arlo sedang bersama dengan Mischa sang istri.

"Apa yang terjadi? Kamu ngapain Ale? Jangan macam macam Arlo!" tuduh Mahessa pada anaknya.

Arlo berdecak kesal dengan perkataan sang papa dan Ale masih tak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh Arlo kali ini.

"Ck, di kira papa yang sering banget bikin mama nangis dari dulu." sindir Arlo pada Mahessa.

Mahessa terdiam dan menggaruk kepalanya yang tak gatal dan melirik Mischa yang sudah terkikik geli saat ini.

"Jangan mengolok papa lagi, katakran apa yang terjadi pada kalian berdua." gerutu Mahessa.

"Pa, apa pernah ada yang datang melamar Arlo ke kantor atau ke mansion?" tanya Arlo mulai serius.

Mahessa menaikkan sebelah alisnya lalu saling pandang dengan Mischa yang sudah mengangkat kedua bahunya bingung tanda tak tahu menahu maksud putranya itu.

"Kenapa tiba tiba kamu bertanya begitu? Seingat papa nggak ada, dan lagi ngapain di lamar orang lain kalau kamu udah jadi tunangan Ale? Emang kamu mau selingkuh?" tuduh Mahessa lagi.

"Astaga papa, kenapa malah kemana mana sih." omel Arlo pada papanya.

Mahessa mendengus kesal karena Arlo terlalu berbelit belit saat bicara.

"Katakan pada papa, kenapa kamu bertanya seperti itu?"

Kali ini Mahessa sudah mulai serius dan tak ada lagi nada bicara bercanda di omongannya. Pada akhirnya Arlo segera menceritakan pada sang papa tentang info yang di dapat oleh Valen mengenai gadis yang mengincarnya itu yang membuat Ale tak tenang dari tadi.

"Jadi gitu, setahu papa nggak ada dan jika ada pun papa pasti akan langsung menolaknya. Katakan pada Ale untuk tak khawatir dengan hal hal yang tak penting seperti itu. Dan jika ada yang macam macam Altezza serta Zurra pasti akan langsung bertindak," jawab Mahessa pada pertanyaan Arlo yang terakhir.

Di sisi Arlo, Ale nampak mengembangkan senyumannya dan dia seketika lupa kalau dia putri kembar milik siapa. Harusnya dia tak pernah takut dengan apapun mengingat siapa dirinya sebenarnya.

"Baiklah pa, aku matikan dulu, dan jika ada hal itu katakan secepatnya karena aku akan mengurusnya langsung. Aku nggak akan biarin siapapun ganggu hidup dan pasanganku!"

Biip....

Arlo segera mematikan sambungan telfonnya dan dia menatap Ale yang terlihat sudah tenang. Dia merangkul pundak Ale dan memeluknya erat. Tak lupa juga Arlo mencium puncak kepala Ale dengan lembut.

"Jangan biarin orang lain mengganggu pikiranmu, ingat mereka tidak akan pernah puas dengan apa yang akan mereka rebut. Tapi aku janji nggak akan biarin orang lain masuk ke dalam hubungan kita." ucap Arlo menenangkan Ale.

Ale mengangguk di dalam pelukan Arlo, dia juga membalas pelukan Arlo dengan erat.

Di sisi lain, Mahessa segera mencari tahu tentang identitas perempuan yang di katakan oleh Arlo itu. Dia tak mau kecolongan dengan apa yang akan terjadi dan dia akan berjaga jaga.

"Siapa lagi mereka? Kayaknya gue nggak pernah punya kenalan tukang batu," gumam Mahessa pelan.

Plak...

"Aw.... sakit sayang kenapa di pukul sih? KDRT banget kamu tuh," omel Mahessa pada Mischa.

"Tukan batu tukang batu? Pengusaha berlian dan permata kaaakkk..." balas Mischa cepat.

"Lah, tapi kan aku bener itu sama aja batu dan lagi kayaknya kita baru kali ini tahu itu. Atau aku kelewatan sesuatu?" tanya Mahessa bingung.

Mischa juga nampak berpikir dengan siapa yang di maksud oleh Arlo tadi. Apa mungkin itu dari kenalannya arisan atau ornag lain Mischa masih mengingat ingat siapa pengusaha berlian dan permata itu.

"Kak, apa mungkin ya jika itu dari kenalan arisan berlianku? Kayaknya kemarin ada perempuan yang baru saja bergabung dnegan kelompok ku dan gencar banget nanyain Arlo," ucap Mischa saat mulai mengingat kemungkinannya siapa orangnya.

"Aku akan cari tahu dulu, dan jika dia benar benar membuat masalah aku sendiri yang akan turun tangan."

To be continued...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!