Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makam Kuno
Kicau burung terdengar di pagi yang begitu cerah.Matahari yang menyilaukan mata itu membuat silau mata seorang gadis bermata coklat itu.
“Dania!Lihat! Aku dapat keong yang besar!”
Suara imut itu meneriaki temannya yang berada di seberang sawah.
“Mia!aku juga dapat!”
Masing-masing dari mereka memamerkan keong sawah yang mereka dapatkan dari genangan air di area persawahan.
Kedua gadis berusia 21 tahun itu kegirangan saat menemukan keong dengan ukuran yang besar.Mereka mencari kesana kemari,keringat mereka menetes.
“Haduh,panas…”
Dania mengeluh,matahari sudah mulai tinggi.Panas matahari itu membuatnya merasa sangat gerah.
“Mia! Ayo kita berteduh!”
“Baiklah!”
Kedua teman baik itu berteduh di sebuah pondok petani yang ada di sawah.Mereka duduk di pondok tanpa dinding itu sambil melihat pemandangan sekitar yang sangatlah hijau.Sawah terbentang sejauh mata memandang, ada bukit tinggi yang menambah keindahan tempat itu. Angin meniup lembut rambut mereka, angin pagi yang sejuk dan menyegarkan.
Mia tersenyum pada Dania.
“Nia,tempat ini sangat bagus. Lain kali kita pergi kesini lagi,yuk!”
“Okeee!”
Mereka berdua bercanda gurau.Sebelumnya mereka tidak pernah ke tempat itu karena dirasa terlalu jauh dari rumah mereka.Namun, setelah sampai disana mereka merasa terlalu nyaman sehingga mereka berdua duduk bersantai hampir selama satu jam hanya untuk melihat pemandangan itu.
“Mia,keong mu sudah cukup belum?”
“Belum,kita nyari lagi,yuk!”
“Ayooo kita gaskan!”
Mereka turun dari pondok itu dan berlari berlomba menuju tempat yang belum mereka singgahi.
Mereka kembali mencari keong itu, kali ini mereka mencari di dekat hutan.
“Nia! Disini keongnya besar-besar!”
“Benarkah?!”
“Iya! Kau cepat kemarilah!”
“Okeeee!”
Dania lari dengan cepat, walaupun ember yang dibawanya sangat berat karena berisi keong, namun dia tetap dapat berlari dengan cepat.
Mereka berlomba-lomba mencari keong,mereka bertanding, keong dengan ukuran yang paling besar yang akan menang.
“Aku menang!”
Dania menunjukan keong sebesar kepalan tangan itu pada Mia.
“Baiklah, aku menerima kekalahanku!”
Mereka berdua naik ke tanggul, dan duduk di tanggul tepi sawah itu.
“Itu apa?”
Nia menunjuk ke sebuah batu besar yang ada di tepi hutan yang telah ditebangi pohonnya itu.
Dania menyipitkan matanya. Dia mencoba mencari apa yang Mia tunjuk.
“Dimana?”
“Itu,di dekat pohon yang di tebang itu…”
Suara Mia ia kecilkan.
“Yang itu?”
Dania menunjuk ke sebuah makam yang telah terbengkalai.
“Iya…”
“Sepertinya itu kuburan…”
Dania menyebutnya dengan sedikit memelankan suaranya.
“Apakah itu kuburan orang China?”
“Sepertinya sih… iya…”
Mereka menemukan sebuah kuburan,kuburan itu terletak di tepi hutan di dekat persawahan.Aura magis dari kuburan itu sangat terpancar.
“Hmmm Mia… sekarang aku sedikit takut. Semakin dilihat, kuburan itu semakin menyeramkan.”
Dania berbisik pada temannya.
“Kau benar…”
“Apakah kuburan itu, kuburan dari peristiwa pengusiran warga Tionghoa yang pernah terjadi dahulu?”
“Entahlah, aku tak tau… tapi… jika ku lihat, sepertinya kuburan itu sudah lama berada disana.”
“Kau benar, mungkin saja itu adalah kuburan dari nenek moyang orang China disini.”
“Mungkin saja…”
Mereka berdua terus memandangi kuburan itu.Ada sedikit rasa takut di diri mereka, namun karena saat ini adalah siang hari mereka menjadi sedikit berani.
“Ayo, kita pulang.”
“Ayo…”
Mereka berdua melangkahkan kaki mereka, mata mereka masih saja melirik ke arah kuburan itu walaupun mereka sedikit ketakutan.
Kuburan itu sebenarnya memang sudah ada sejak lama disana, namun jarang ada orang yang mengetahuinya.Makam itu dulunya tertutupi semak dan juga di tempat itu banyak pohon dulunya.Kini pemilik tanah itu ingin menanam pohon sawit, jadi dia membabat hutan dan semak-semak itu.Maka dari itu kuburan itu baru terlihat. Kuburan itu berada disana sudah lebih dari seribu tahun,entah misteri apa yang terkubur di dalamnya.
“Bye bye!”
“Bye!”
Dania telah sampai di rumahnya,mereka berdua berpisah.Kini tinggal Mia yang harus kembali ke rumahnya. Di perjalanan dia melihat tanaman yang dia dan Dania tanam tumbuh dengan sangat subur. Dia berdiri cukup lama disana,dia tersenyum puas melihat tanaman yang mereka rawat dengan susah payah dapat tumbuh dengan baik.
Mia kembali berjalan, tak lupa dia menyapa ayahnya yang sedang membersihkan rumput di sawahnya.
“Pa!”
Dia melambaikan tangannya pada ayahnya. Ayahnya membalas lambaian itu.
“Darimana, teh?!”
“Nyari keong, pa!”
“Ohh”
Mia melanjutkan perjalanannya.Akhirnya tibalah ia di rumahnya.Dia merendam keong itu di air bersih agar lumpurnya berkurang.Setelah itu dia berbaring, dia memegang smartphone nya.Dia menonton reels di Facebook nya.
“Ganteng nya!”
Dia melihat video aktor drama China dan terlihat sangat tergila-gila dengan aktor itu.
“Su Mu Yu!!”
Dia berteriak-teriak sambil joget kegirangan saat melihat idolanya itu.
“Hah! Kenapa ini?!”
Layar HP nya meloading.
“Ala… kuota internet aku habis…”
“Padahal mau liat Gong Jun…”
Dia tampak kecewa.
Dia pun berbaring telentang.Dia memperhatikan langit-langit rumahnya. Tiba-tiba dia terpikir dengan kuburan yang tadi ia lihat.
“Aku penasaran, siapa yang dikuburkan di sana…”
Dia bergumam, rasa ingin tahunya benar-benar tak tertahankan.Namun, dia bingung harus mencari informasi dari mana.
Sudah tengah hari, ayahnya telah kembali dari sawah.
“Teh, udah masak?”
“Udah, pa.”
Ayahnya lalu membersihkan dirinya dan pergi mandi. Setelah selesai mandi, ayahnya mengambil piring ia pun makan. Mia menghampirinya.
“Pa, di hutan itu ada kuburan, pa!”
Dia memberitahukan ayahnya tentang kuburan yang ia dan Dania temui.
“Dimana?”
“Di sawah sana dekat hutan itu.Yang di dekat rumah om Arman tu pa…Tadi pagi teteh sama Dania kan nyari keong disana, terus kami ngelihat kuburan itu, pa. Kaya kuburan orang China, pa.”
“Oooh, yang di dekat bambu itu ‘kan?”
“Iya, pa!”
“Jangan main disitu,teh.Disitu angker.”
Mendengar itu wajah Mia yang awalnya penasaran kini sedikit takut.
“Iya kah, pa?”
“Iya, teh. Dulu di tempat itu pernah ada yang kerasukan.Bapak juga dulu pernah diganggu disitu.”
“Emangnya, itu kuburan siapa, pa? Apa kuburan bekas pembantaian jaman dulu itu?”
“Endak…papa disini dari tahun 70-an dan kuburan itu memang udah ada disitu.”
“Berarti udah lama lah pa kuburan itu disana?”
“Iya, udah lebih dari seratus tahun kuburan itu.”
“Oalah… pantes serem…”
“Jangan main dekat sana ya, teh”
“Iya, pa.. Oh iya pa,itu kuburan siapa sih pa?”
“Dulu itu ada yang meneliti kesana, itu katanya kuburan jenderal.Bapak lupa namanya kalau ndak salah… Zhang… Zhang… bapak lupa nama belakangnya. Yang jelas ada Zhang Zhang nya.”
“Ogheylah!”
Mia langsung berhenti menanyakan tentang kuburan itu. Dia sekarang merasa semakin penasaran dengan siapa yang terkubur di sana.