NovelToon NovelToon
The Fault In Our Secrets

The Fault In Our Secrets

Status: tamat
Genre:Ketos / Duniahiburan / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:10
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Di dunia yang penuh sandiwara, kebenaran adalah satu-satunya hal yang paling berbahaya."
Bagi semua orang di SMA Garuda, Jenny adalah definisi kesempurnaan. Sebagai ketua pemandu sorak yang ceria dan ramah, hidupnya tampak lengkap dengan kehadiran Jonathan, ketua OSIS yang kaku namun romantis, serta Claudia, sahabat yang selalu ada di sisinya. Jenny memiliki segalanya—atau setidaknya, itulah yang ia percayai.
Namun, di balik pintu ruang OSIS yang tertutup dan senyum manis para sahabat, sebuah pengkhianatan sedang tumbuh subur. Jonathan yang ia puja dan Claudia yang ia percaya, menyembunyikan api di balik punggung mereka.
Hanya satu orang yang berani mengusik "gelembung" bahagia milik Jenny: Romeo. Sang kapten tim voli yang kasar, red flag, dan rival bebuyutan Jenny sejak hari pertama. Romeo benci kepalsuan, dan ia tahu betul bahwa mahkota yang dipakai Jenny sudah retak sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

Pagi itu, sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kelas 12 IPA 3 terasa lebih panas dari biasanya bagi Jenny. Di sudut kelas, Claudia tampak begitu tenang, jemarinya lincah menari di atas kertas tugas Kimia seolah tidak terjadi apa-apa semalam. Ketenangan itu justru membuat Jenny merasa sesak.

Pikirannya terus berputar pada gantungan kunci perak dan ucapan Jonathan yang terlalu masuk akal untuk dipercayai begitu saja. Dengan langkah tegas, Jenny berjalan melewati meja Claudia yang sempat menyapanya dengan senyum manis—yang kali ini hanya dibalas Jenny dengan anggukan singkat—menuju barisan belakang, tempat sang pembuat onar duduk.

Romeo sedang menyandarkan kepalanya di atas meja, tangan kanannya memainkan pulpen, sementara telinganya disumpal earphone. Ia tampak tidak peduli dengan dunia sekitar sampai sebuah bayangan menutupi meja kerjanya.

Jenny berdiri di sana, matanya berkilat marah. Tanpa aba-aba, ia menarik sebelah earphone Romeo.

"Gue mau tanya sama lo," desis Jenny. Suaranya rendah tapi penuh penekanan, cukup untuk membuat beberapa teman sekelas mereka menoleh penasaran. "Maksud lo apa di restoran kemarin malem? Jangan buat gue bingung, Romeo!"

Romeo tidak langsung menjawab. Ia menegakkan duduknya, menyugar rambutnya yang berantakan, dan menatap Jenny dengan tatapan malas yang mematikan. "Wah, si Princess lagi marah pagi-pagi. Napas dulu, Jen. Nanti make-up lo luntur."

"Gue nggak bercanda!" Jenny menggebrak meja Romeo pelan. "Kalo lo nggak suka hubungan gue sama Jo, ngomong langsung. Nggak usah bikin gosip murahan soal 'rahasia di bawah meja' atau apalah itu. Lo itu atlet, kan? Harusnya punya sportivitas, bukan main cara kotor buat ngerusak hubungan orang."

Romeo terkekeh sinis. Ia melirik sekilas ke arah depan kelas, di mana Claudia masih tampak sibuk dengan tugasnya, namun Romeo bisa melihat bahu gadis itu sedikit menegang. Claudia mendengarkan, meski dia pura-pura tuli.

"Gosip murahan?" Romeo mengulangi kata-kata itu dengan nada mengejek. Ia berdiri, membuat Jenny harus sedikit mendongak karena perbedaan tinggi badan mereka yang cukup jauh. "Lo pikir gue kurang kerjaan banget sampai harus ngurusin drama percintaan lo yang ngebosenin itu? Gue punya latihan voli, punya pacar yang posesifnya minta ampun, dan punya hidup yang jauh lebih seru daripada dengerin Jonathan baca teks proklamasi tiap kali dia ngomong."

"Terus kenapa lo selalu nyerang dia di depan gue?" tanya Jenny, suaranya sedikit bergetar karena emosi.

"Karena gue benci liat orang bego," jawab Romeo jujur, tepat di depan wajah Jenny. "Lo terlalu sibuk jadi orang baik sampai lo lupa kalau dunia ini isinya nggak cuma pelangi. Gue nggak bikin gosip. Gue cuma ngasih lo kacamata supaya lo bisa liat apa yang sebenernya ada di depan mata lo."

Jenny tertawa hambar. "Kacamata? Lo cuma mau gue benci sama Jo supaya lo ngerasa menang, kan? Jo itu Ketua OSIS IPA 1, dia punya integritas. Dia udah jelasin soal gantungan kunci itu ke gue. Semuanya masuk akal."

Romeo menaikkan sebelah alisnya. "Oh ya? Terus kenapa lo sekarang di sini? Kalau lo udah percaya sama penjelasan 'logis' si robot itu, harusnya lo lagi mesra-mesraan di kantin, bukan malah nyamperin cowok red flag kayak gue buat minta konfirmasi."

Skakmat. Jenny terdiam. Romeo benar. Jika dia benar-benar percaya pada Jonathan, dia tidak akan merasa segelisah ini.

"Denger ya, Little Miss Sunshine," Romeo merendahkan suaranya, masuk ke mode serius yang jarang ia tunjukkan. "Gue nggak suka sama Jo. Itu fakta. Tapi gue juga nggak punya alasan buat bohong soal apa yang gue liat. Kemarin di parkiran, gue liat mobil Jonathan goyang bukan karena gempa bumi pas lo lagi ada di ruang latihan cheers. Dan di restoran tadi malem... kalau gue jadi lo, gue bakal cek kenapa tangan kiri cowok lo nggak pernah lepas dari kolong meja padahal tangan kanannya lagi motong steak."

Jenny mengerutkan kening. "Maksud lo..."

"Gue nggak bilang apa-apa," potong Romeo cepat sambil kembali memasang earphone-nya. "Gue cuma bilang, jangan jadi satu-satunya orang yang nggak tahu apa-apa di saat semua orang di sekolah ini udah mulai ngetawain lo di belakang."

"Romeo!"

"Sana balik ke meja lo. Sahabat 'tercinta' lo mulai ngeliatin kita tuh. Jangan sampai dia curiga kalau lo mulai pinteran dikit," Romeo kembali menidurkan kepalanya di meja, mengakhiri percakapan sepihak itu.

Jenny berbalik dan benar saja, Claudia sedang menatapnya dengan raut wajah penuh tanya yang sangat "polos".

"Jen? Ada masalah sama Romeo? Dia gangguin kamu lagi?" tanya Claudia dengan suara lembut saat Jenny kembali ke bangkunya.

Jenny menatap Claudia. Ia mencari celah, mencari tanda-tanda kebohongan di mata sahabatnya itu. Tapi Claudia terlalu profesional. Wajahnya hanya menunjukkan kekhawatiran seorang sahabat.

"Nggak apa-apa, Claud. Dia cuma cari gara-gara seperti biasa," jawab Jenny, berusaha sekuat tenaga agar suaranya tetap stabil.

"Sabar ya, Jen. Romeo emang gitu. Mungkin dia iri karena kamu dapet undangan makan malam formal sama keluarga Jonathan. Dia kan tipenya yang cuma bisa makan di warung pinggir jalan," Claudia tertawa kecil sambil mengelus lengan Jenny.

Sentuhan itu biasanya terasa menenangkan bagi Jenny, tapi kali ini, ada sensasi dingin yang merambat di kulitnya. Jenny teringat ucapan Romeo: jangan jadi satu-satunya orang yang nggak tahu apa-apa.

Tiba-tiba, ponsel Jenny bergetar. Sebuah pesan masuk dari Jonathan (12 IPA 1).

Jonathan: Jangan lupa istirahat kedua nanti kita ke perpustakaan untuk bahas materi olimpiade kimia. Aku sudah siapkan catatannya.

Jenny mengetik balasan dengan ragu. Oke, Jon.

Saat Jenny meletakkan ponselnya, ia melirik ke arah Claudia. Gadis itu juga sedang memegang ponselnya di bawah kolong meja, jemarinya bergerak cepat dengan senyum tipis yang tertahan di sudut bibirnya.

Jenny menarik napas panjang. Ia belum akan meledak sekarang. Ia belum punya bukti kuat. Jika ia menuduh tanpa bukti, Jonathan yang kaku pasti akan mematahkan argumennya dengan logika, dan Claudia akan menangis seolah dia adalah korban fitnah.

Main cantik, ya? batin Jenny. Oke, gue bakal ikutin mainnya kalian.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Jenny yang ceria dan sopan mulai belajar cara menyimpan rahasia. Ia tidak tahu bahwa di belakang sana, Romeo diam-diam memperhatikannya melalui celah lengannya yang bertumpu di meja.

Romeo tersenyum tipis. "Selamat datang di permainan, Jenny."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!