Betapa bahagianya Sekar ketika dinikahi oleh dokter yang bernama Ilham Kaniago. Sekar yang bekerja sebagai perawat menyadari jika ia bukan gadis yang cantik. Kulit hitam gelap, wajah berjerawat tidak disangka jika akan dipinang oleh dokter tampan dan kaya raya. Tetapi dalam pernikahan itu, Sekar hanya mendapat nafkah batin malam pertama saja. Ilham selalu dingin dan cuek membuat hari-hari Sekar Ayu bersedih.
"Apa tujuan kamu menikah dengan aku, Mas?"
"Ya, karena ingin menjadikan kamu istri, Sekar."
Usut punya usut, Ilham menikah dengan Sekar karena ada maksud tertentu.
Tetapi walaupun hanya diberi nafkah sekali, Sekar akhirnya mengandung. Namun, sayangnya bayi yang Sekar lahirkan dinyatakan meninggal. Setelah bercerai dengan Ilham, Sekar bekerja kembali di rumah sakit yang berbeda membantu dokter Rayyan. Dari sekian anak yang Sekar tangani ada anak laki-laki yang menginginkan Sekar ikut pulang bersamanya.
Apakah Sekar akan menerima permintaan anak itu? Lalu apa Rahasia Ilham?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di tempat tidur, Sekar menutup tubuh Arka dengan selimut, hanya menyisakan wajahnya yang sudah terlelap. Dia pandangi wajah tampan itu, tidak ingin kehilangan Arka jika memang benar anaknya. "Semoga kamu memang anak Mama sayang..." Sekar mencium lembut pipi Arka.
Sekar beranjak dari tempat tidur, kemudian pindah ke meja kecil. Menyusun laporan kesehatan beberapa pasien hari ini. Besok harus ia serahkan kepada dokter Rayyan. Suasana kamar yang tenang tiba-tiba diterpa deru suara kaki berjalan, diikuti dengan bunyi 'Brak!' saat pintu kamar didorong dengan sangat kasar. Pintu yang terbentur kuat ke dinding membuat Sekar terkejut hingga kertas yang ada di tangannya jatuh ke lantai. Dia menoleh dengan mata membelalak, melihat Luna berdiri di depan pintu dengan wajah merah karena emosi, kedua tangannya dia lipat di dada.
"Ada apa Bu Luna?" Lirih Sekar melirik Arka yang hanya bergerak kecil ketika mendengar kemarahan Luna. Ia khawatir jika Arka kaget mendengar kegaduhan yang Luna buat.
Sekar beralih menatap Luna yang melangkah masuk dengan cepat. Ia tidak pernah bermimpi akan bertemu dengan artis yang akhir-akhir ini dihebohkan dengan operasi plastik karena wajahnya seperti boneka itu, bahkan berdiri berhadapan dengannya. Artis kondang itu selama ini disanjung-sanjung oleh penggemar karena aktingnya sebagai tokoh yang lemah lembut, sayangnya tidak diterapkan di dunia nyata.
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Sekar! Dimana kamu menyembunyikan Ilham?! Pasti dia di dalam sini bukan?"
Sekar terkejut, dahinya seketika berkerut, tapi ia masih bisa bertutur lembut. "Tuan Ilham tidak mungkin ke kamar Arka malam-malam begini, Bu."
Jangan bohong! Kamu pasti sudah merencanakan untuk merebut Ilham dariku. Sekar, ternyata belum puas kamu merebut Arka dari saya, dan sekarang akan merebut Ilham juga," Luna menggeram mengarahkan tangannya ke arah Sekar.
Wajah Sekar yang teduh pun akhirnya mulai berganti dengan kekesalan. Tuduhan yang Luna lontarkan tidak masuk akal. "Sebaiknya Ibu periksa kamar ini, tapi tolong pelan-pelan saja, khawatir tidur Arka terganggu," Sekar mengambil langkah minggir sedikit, memberi Luna jalan.
Luna mendengus, matanya melihat sekeliling kamar. Lalu bergerak membuka lemari, membuka kamar mandi. Setelah tidak ada siapa-siapa selain Sekar dan Arka ia keluar dengan wajah menunduk mungkin saja malu dengan Sekar.
"Astagfirullah..."
Sekar menarik napas panjang, lalu duduk di ranjang samping Arka. "Jika kamu benar-benar anak Mama, aku akan segera membawamu pergi dari sini sayang..." Sekar mencium tangan kecil itu. Arka tidak boleh hidup di keluarga seperti ini, akan mempengaruhi perkembangan psikologis nya.
************
"Kamu dari mana Sekar?" Tanya Rayyan ketika saat makan siang Sekar bukan makan, tapi menghilang.
"Saya baru saja menemui dokter Indra, Dok," Sekar menemui dokter forensik menyerahkan rambut Arka untuk melakukan tes DNA.
"Mudah-mudahan dugaan kita benar Sekar, tapi setelah yakin jika Arka anak kamu, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Rayyan, ia yakin Ilham tidak semudah itu menyerahkan Arka kepada Sekar. Sekuat apapun Sekar ingin memiliki Arka tidak akan berhasil, karena keluarga Kaniago orang yang kuat.
"Itu akan saya pikirkan nanti, Dok," ucap Sekar, tapi dalam hatinya sudah mempunyai rencana akan melaporkan Ilham bila tidak menyerahkan Arka kepadanya, karena Ilham telah menculik bayinya sendiri, padahal ketika masih dalam perut dia sia-siakan.
"Ya sudah... kamu makan dulu, Sekar," ucap dokter Rayyan perhatian.
Sekar mengangguk lalu menyempatkan diri untuk makan siang sebelum melanjutkan tugas hingga sore hari.
Tidak cukup hanya melakukan tes DNA yang masih menunggu, sore itu juga Sekar ke rumah sakit di mana dulu ia melahirkan untuk mencari tahu apakah benar bayinya dulu sudah meninggal. Sekar membawa tas yang berisi dokumen dan surat keterangan kelahiran dan kematian anaknya yang dulu ia terima dari rumah sakit ini.
Di rumah sakit tersebut, Sekar menutup wajahnya dengan masker hanya kelihatan mata saja, ia khawatir Ilham kebetulan datang ke rumah sakit di mana mereka dulu menghabiskan waktu membantu ibu-ibu melahirkan.
"Permisi..." ucap Sekar ketika tiba di ruangan seorang wanita, ternyata petugas itu bukan yang dulu. Tentu sulit bagi Sekar, apakah ia akan semudah itu mendapatkan data kelahiran yang sudah cukup lama. Apa lagi ini rumah sakit Ilham sendiri.
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya wanita yang masih seusia Sekar. Sekar menceritakan tujuannya lalu mengeluarkan sebuah kotak tempat dia menyimpan data bayinya tanpa nama tiga tahun yang lalu lahir di rumah sakit itu. Tapi akhir-akhir ini ia mencurigai sebuah nama, yaitu Arka.
"Tiga tahun yang lalu saya melahirkan di rumah sakit ini, tapi bayi saya tidak bisa bertahan dan dinyatakan meninggal," ucapnya lirih sambil menyentuh permukaan surat itu dengan jari yang gemetar. "Saya ingin melihat data rekam medis anak saya yang lahir di sini dan di tangani oleh dokter Siska," lanjut Sekar dengan suara yang tetap tenang meskipun hatinya berdebar kencang.
Maya mengerutkan kening dan membuka buku registrasi lama. "Maaf bu, saya cari dulu ya. Tapi biasanya untuk mengakses data lama seperti itu perlu surat izin dari dokter atau pihak keluarga, dan juga proses yang cukup panjang," ujarnya sambil mencermati data yang dicari Sekar.
Namun ketika Maya mengetikkan bayi yang lahir dengan nama Arka dan tanggal lahir yang disebutkan Sekar ke dalam sistem komputer, layar monitor menunjukkan pesan "DATA TIDAK DITEMUKAN ATAU TELAH DIPINDAHKAN"
Sekar kebingungan, apa mungkin Ilham tidak mencantumkan nama bayinya agar tidak bisa ia lacak? "Kurang ajar! Ilham," Batin Sekar menunjukkan wajah kecewa yang mendalam.
Maya segera menarik Sekar ke sudut yang lebih sepi. "Ibu Sekar, mungkin saya bisa bantu hubungi kepala administrasi yang lebih tahu tentang data lama. Mohon tunggu sebentar ya," katanya dengan nada yang menunjukkan bahwa dia juga merasa ada yang aneh.
Saat menunggu, Sekar melihat seorang perawat muda yang sedang melewati lorong, dia mengenali wajah wanita itu sebagai salah satu orang yang ada di ruang bersalin saat dia melahirkan. Tanpa berpikir panjang, Sekar mendekatinya dan bertanya dengan penuh harap. "Suster, Anda ingat saya kan? Saya Sekar, yang melahirkan anak laki-laki tiga tahun yang lalu. Dokter Siska bilang anak laki-laki saya meninggal, tapi apakah itu benar-benar terjadi?"
"Sekar?" Wanita itu mencoba mengingat, tapi mana mungkin ingat, karena ibu yang melahirkan banyak sekali.
"Sus, kamu pasti tidak lupa Istri dokter Ilham yang bernama Sekar bukan?" Tanya Sekar.
Wajah perawat itu seketika pucat, terpaku sejenak, lalu melihat sekeliling dengan penuh waspada sebelum menjawab pelan. "Suster Sekar... saya tidak bisa banyak bicara di sini. Tapi kalau Anda sungguh ingin tahu kebenarannya, datanglah lagi setelah jam kerja saya berakhir."
"Baiklah," Sekar mengangguk. Hatinya sedikit lega, setelah mendapat celah.
...~Bersambung~...
dia ada di dekat mu tau...bhkn sbntr lgi bikin idup mu jungkir balik Luna.....