Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.
Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.
Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.
Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abah Punya Ide
Pagi menyapa Desa dengan kabut tipis.
Tari sudah duduk manis di beranda.
Mak Sari sedang menyisir rambut hitam cucunya, sementara Kinar sibuk membungkus adonan sate baso ikan.
"Sudah kenyang belum, Nduk?" tanya Mak Sari.
Ia paling senang melihat cucunya makan lahap.
Tari mengangguk mantap.
Setelah sarapan, tubuh mungilnya diangkat ke punggung Jantur, kuda hitam gagah, yang meski kakinya pernah pincang, kini tampak semakin kekar sejak dirawat di rumah keluarga Hidayat.
Mereka bertiga berangkat menuju pasar di kota kabupaten.
Sesampainya di lapak sederhana mereka, para pelanggan setia sudah berkerumun.
Ada yang memang mau beli kerupuk tulang ikan dan sate baso, ada juga yang penasaran menunggu kelanjutan drama kemarin.
Desas-desus tentang ramalan Tari soal "barang hilang" milik Pak Halim dan Bu Imah masih jadi topik hangat.
"Ah, rasanya nggak mungkin mereka datang lagi. Itu kan bayarnya mahal, enam puluh enam ribu! Kalau nggak ketemu, ya nggak bakal bayar," celetuk seorang ibu-ibu.
"Eh, jangan salah. Kalau beneran kejadian, bocah ini berarti 'orang pintar' beneran. Kalau nggak ditepati janjinya, bisa kualat setahun," sahut bapak-bapak yang sedang merokok kretek.
"Kita lihat saja nanti."
Melihat Tari yang duduk tenang sambil mengunyah sate, seseorang bertanya iseng,
"Dik Tari, kira-kira orangnya bakal datang nggak?"
Tari tersenyum, matanya menyipit jenaka.
"Datang kok, Pak."
Benar saja, tak lama kemudian, mobil pick-up tua milik Pak Halim terlihat merapat.
"Wah, beneran datang! Edan, bocah ini sakti!"
Tiba-tiba, seorang pria menyeruak dari kerumunan, napasnya memburu.
"Dik! Dik Tari! Saya mau diramal! Ini uang maharnya!"
Pria itu meletakkan beberapa lembar uang di meja lapak.
Matanya merah dan kantung matanya hitam.
Tari hanya melirik sekilas, lalu berkata datar,
"Tunggu sebentar ya, Om."
Pria itu mengangguk cepat, wajahnya memerah menahan antusiasme.
Ia merasa beruntung bisa menyalip antrean. Tarif pertama Rp 9.900,- masih terjangkau baginya.
Ia takut kalau nanti Tari sudah terkenal, tarifnya bakal naik gila-gilaan.
Sementara itu, Pak Halim dan Bu Imah melangkah mendekat dengan wajah penuh rasa bersalah dan syukur.
Pak Halim mengeluarkan amplop tebal.
"Dik Tari, ini... ini uang tanda terima kasihnya. Sembilan puluh sembilan ribu rupiah. Maafkan Bapak ya, kemarin sempat emosi dan nggak percaya."
"Dik Tari, tolong jangan diambil hati ya ucapan Bapak kemarin," tambah Bu Imah dengan mata berkaca-kaca.
Uang yang hilang itu jumlahnya jauh lebih besar dari ini, dan kalau bukan karena petunjuk anak ini, mungkin uang itu sudah lenyap selamanya.
Tari menerima amplop itu dengan tangan kecilnya.
"Nggak apa-apa, Pak, Bu. Saya terima uangnya, masalah Bapak dan Ibu sudah selesai. Impas."
Tari menyerahkan amplop itu pada ibunya.
"Bu, tolong simpankan ya."
Kinar menerima dengan tangan sedikit gemetar tapi berusaha tenang.
Ini uang halal, hasil kemampuan anaknya.
"Ngomong-ngomong, uangnya ketemu di mana sih?" tanya seorang pelanggan yang kepo.
Pak Halim tersenyum canggung.
"Maaf ya, Mas. Itu rahasia dapur. Nggak boleh dibilang."
Bu Imah mengangguk setuju.
"Iya, pamali."
Mereka tertawa lega.
Beban berat di pundak serasa diangkat.
"Ya sudah, saya paham. Yang penting ketemu," sahut warga.
Memang wajar, tempat penyimpanan rahasia kalau diumbar ya bukan rahasia lagi namanya.
"Bu Kinar, saya borong sate baso ikannya lima kilo ya. Besok saya mau melamar gadis untuk anak bujang saya, bawa oleh-oleh ini biar pantas," kata Bu Imah ceria.
Uang ketemu, rencana lamaran anak pun lancar.
Kinar dengan sigap membungkus pesanan.
"Siap, Bu. Semoga lancar ya lamarannya."
Tari memperhatikan bungkusan itu, lalu diam-diam menyelipkan dua tusuk sate ekstra ke dalamnya.
"Buat cemilan di jalan, Bu."
Bu Imah tersenyum lebar.
"Makasih ya, Nduk Cah Ayu."
Setelah pasangan suami istri itu pergi, pria bermata merah tadi langsung maju lagi.
"Dik Tari, giliran saya kan?"
"Om mau tanya apa?" tanya Tari polos.
Pria itu menaruh uang Rp 9.900 di depan Tari, lalu berbisik tapi terdengar jelas,
"Saya mau tanya... hari ini saya bakal menang nggak?"
Dia adalah penggila judi kartu dan togel.
Kebiasaan buruk ini sudah mendarah daging.
Melihat keajaiban Pak Halim, dia berpikir untuk menggunakan jasa 'dukun cilik' ini. Kalau ramalannya bilang menang, dia akan pasang taruhan besar. Kalau kalah, dia libur dulu.
Tari menatap uang itu, lalu mendorongnya kembali ke arah si pria.
Pria itu bengong.
"Lho? Kenapa?"
"Kenapa nggak mau ngeramal saya?"
Pria itu mengerutkan kening, nada suaranya mulai naik karena tersinggung.
Tari menatap pria itu dengan sorot mata yang anehnya terasa tua dan dalam untuk ukuran bocah lima tahun.
"Saya nggak melayani penjudi, Om," katanya tenang namun tegas.
"Saya ramal pun nggak ada gunanya. Meja judi itu angin-anginan, nasib di sana berubah tiap detik. Saya nggak bisa pastikan, dan saya nggak mau bantu orang buang uang di meja judi. Uangnya diambil saja, Om."
Pria itu melongo.
Ia sudah membayangkan akan menang besar, tapi malah ditolak mentah-mentah.
Ia menekan uangnya di meja, otak judinya berputar cepat.
"Oke, kalau gitu... ramal ini saja! Usaha saya! Saya ini pedagang juga. Kira-kira dagangan saya bakal untung apa buntung?!"
Dia ngotot.
Kesempatan bertanya pada 'anak sakti' ini terlalu sayang dilewatkan.
Kali ini, Tari tidak menolak uangnya.
Ia memandang wajah pria itu lamat-lamat.
Di mata batin Tari, ia melihat aura rezeki pria ini sebenarnya cukup bagus, seperti aliran air yang deras. Tapi, 'kantong' penampung rezekinya bolong besar.
Kantong rezeki itu terhubung dengan aura istrinya di rumah.
"Om ini sebenarnya pintar cari duit," ucap Tari pelan.
"Tapi uangnya kayak air di saringan, lewat doang. Rezeki Om makin hari makin tipis. Kalau bocornya nggak ditambal, nanti tua Om bakal melarat. Nggak punya apa-apa."
Wajah pria itu pucat pasi.
"Waduh... terus, nambalnya gimana, Nduk? Saya nggak mau jadi gelandangan! Saya mau jadi juragan!"
Kata-kata anak kecil ini menohok tepat di jantung masalahnya.
Dia memang sering menang atau untung dagang, tapi uangnya selalu habis entah kemana.
"Yang bisa nambal dompet Om itu orang yang tidur di sebelah Om," kata Tari serius.
"Istri Om?"
"Iya. Kalau Om mau nurut sama istri, uang Om bakal awet dan numpuk. Tapi kalau Om bandel terus, nanti istri Om nggak kuat, dia pergi, dan rezeki Om ikut pergi sama dia. Om bakal sendirian dan miskin."
Tari menyerahkan uang Rp 9.900 itu ke ibunya.
"Bu, simpan."
Pria itu terdiam lama.
Namanya Mardi. Ia teringat istrinya yang pagi tadi menangis karena uang belanja dipakai Mardi untuk modal judi.
Mardi menelan ludah, lalu menangkupkan kedua tangannya di dada, memberi hormat gaya orang tua.
"Dik Tari... terima kasih diingatkan. Nama saya Mardi. Saya janji... saya bakal ingat omongan Dik Tari."
Mardi kemudian menoleh ke Kinar.
"Bu, kasih saya sate baso ikannya sekilo. Saya... saya mau tobat judi. Mending duitnya buat beli makan enak sama istri."
Mengingat sejarahnya di lapak judi, Mardi sadar dia lebih sering kalah.
Peringatan bocah ini terasa seperti tamparan kasih sayang dari Tuhan.
Warga yang menonton bertepuk tangan riuh.
"Mantap! Dengerin tuh, judi itu pangkal melarat!"
"Hebat Si Nduk, kecil-kecil bijak bener!"
Reputasi Tari makin meroket.
Bukan cuma sakti, tapi juga lurus.
Dia tidak mau uang panas.
Karena tarif ramalan berikutnya dianggap terlalu mahal bagi warga pasar biasa, tidak ada lagi yang bertanya soal nasib hari itu.
Mereka hanya membeli kerupuk dan sate.
Setelah dagangan habis, mereka bersiap pulang.
Sepanjang jalan di atas punggung Jantur, Tari tampak berpikir keras.
"Bah, Bu... gimana ya caranya biar yang nanya bisa lebih banyak tapi nggak bikin orang keberatan bayar?" gumamnya.
Ia butuh interaksi itu.
Setiap kali ia membantu orang dan orang itu tulus berterima kasih, ada hawa hangat yang mengalir ke tubuhnya, energi yang membuatnya merasa lebih hidup dan sehat.
"Nduk, Ibu bakal kerja lebih keras. Nanti Ibu bikin variasi baru. Dendeng ikan atau abon mungkin?" sahut Kinar semangat.
Ia pikir anaknya khawatir soal uang.
Abah Kosasih tertawa pelan.
Ia tahu cucunya bukan memikirkan uang semata.
"Tari... Abah punya ide, mau dengar nggak?"
Mata Tari berbinar.
"Mau! Ide apa, Bah?"
Kosasih mengelus jenggotnya yang mulai memutih.
"Setiap hari kan banyak yang beli sate sama kerupuk Ibu. Nah, kita bikin semacam 'undian' atau nomor antrian keberuntungan. Siapa pembeli ke-99, 199, 299, dan seterusnya... boleh tanya satu pertanyaan gratis sama Tari."
"Wah!" Tari menepuk tangan girang.
"Abah jenius! Kayak doorprize jalan santai 17-an!"
Dengan cara ini, dagangan ibunya makin laris karena orang mengejar nomor cantik, dan Tari tetap bisa mendapatkan energi kebaikan tanpa harus memeras uang orang kecil.
Yang mau jalur VIP bayar mahal, yang rakyat jelata bisa lewat jalur keberuntungan.
"Asyik! Besok kita coba ya, Bah!"
Kinar menatap ayah dan anaknya dengan pandangan penuh kasih.
"Apapun yang bikin Tari senang, Ibu dukung."
Keluarga itu meninggalkan kota kabupaten dengan hati riang.