Di dunia bawah yang kelam, nama Reggiano Herbert adalah eksekutor paling mematikan yang dikenal karena ketenangannya. Seorang pria yang akan memperbaiki kerah bajunya dan tidak mungkin menutup mata sebentar sebelum mengakhiri nyawa targetnya.
Baginya, hidup hanyalah rangkaian tugas yang dingin, hingga ia menemukan "Flower's Patiserie".
Toko itu sangat berwarna-warni di tengah kota yang keras, tempat di mana aroma Strawberry Tart yang manis berpadu dengan keharuman mawar segar. Sang pemilik, Seraphine Florence, adalah wanita dengan senyum sehangat musim semi yang tidak mengetahui bahwa pelanggan setianya yang selalu berpakaian rapi dan bertutur kata manis itu baru saja mencuci noda darah dari jas abu-abunya sebelum mampir.
Tetapi, apakah itu benar-benar sebuah toko biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# Bab 17: Metode penyembuhan
Reggiano menghela napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa seolah ia baru saja memikul seluruh beban bumi di pundaknya. Cahaya emas dari sabitnya perlahan memudar, merayap kembali ke dalam tanda mawar di pergelangan tangannya yang kini terasa berdenyut panas, namun penuh energi.
"Nona Florence," ucap Reggiano, suaranya kembali ke nada formalnya yang rendah dan tenang, meski ada gurat kelelahan yang tak bisa disembunyikan di matanya.
"Saya rasa... tubuh manusia saya telah mencapai batasnya untuk malam ini. Jika 'Gerbang' itu menuntut segalanya dari saya, saya ingin menghadapinya dengan kesadaran penuh, bukan dengan sisa-sisa tenaga yang meredup."
Seraphine menatap Reggiano dengan pandangan yang melembut. Ia mengangguk perlahan, seolah memang menantikan kalimat itu keluar dari mulut sang Penjaga.
"Baiklah, pilihan yang tepat, Tuan Herbert. Seorang Penjaga yang tidak tahu kapan harus meletakkan senjatanya adalah Penjaga yang akan segera patah," sahut Seraphine.
Seraphine melambaikan tangannya dengan gerakan anggun, dan seketika aroma teh chamomile bercampur melati menyeruak di ruangan itu, menenangkan saraf-saraf Reggiano yang tadi menegang.
Malam itu, toko roti tersebut berubah menjadi benteng kedamaian yang mutlak. Reggiano duduk di kursi kayu besar dekat jendela, menatap ke arah luar di mana hutan kecil buatannya di distrik apartemen lama mungkin sedang menjadi misteri bagi seluruh kota.
Elena telah tertidur lelap di sofa, memeluk bunga lili ibunya yang kini berpendar lembut seperti lampu tidur alami. Keberadaan bunga itu seolah-olah membawa aura perlindungan yang membuat tidur gadis kecil itu begitu tenang.
Reggiano merasakan tanda mawar emasnya mulai mendingin. Ia membiarkan Seraphine mengoleskan sejenis balsem dari sari kelopak mawar ke pergelangan tangannya.
Rasa perihnya hilang seketika, digantikan oleh sensasi sejuk yang menjalar ke seluruh aliran darahnya.
"Istirahatlah, Tuan Herbert," bisik Seraphine sambil merapikan selimut untuk Elena.
"Malam ini, biarkan akar-akar di bawah bangunan ini yang bekerja mengawasi musuh. Anda telah melakukan lebih dari cukup. Besok, anda akan membutuhkan setiap tetes kekuatan yang anda miliki."
Reggiano menyandarkan kepalanya, matanya perlahan menutup. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, sejak ia menjadi eksekutor hingga ia menjadi pelarian, ia tidak lagi merasa perlu tidur dengan satu tangan memegang pistol.
Di sini, di bawah atap Nona Florence, ia merasa benar-benar aman.
Reggiano Herbert menyandarkan punggungnya pada kursi kayu jati di sudut ruangan Flower’s Patisserie.
Keheningan malam itu terasa begitu asing bagi telinganya, biasanya, ia terbiasa dengan suara statis radio komunikasi, desis peluru yang diminyaki, atau deru mesin kendaraan taktis yang membuntuti. Namun malam ini, setelah manifestasi "Darah Bumi" dan transformasi sabit emasnya, dunia seolah berhenti berputar hanya untuk memberinya ruang bernapas.
Tanda mawar emas di pergelangan tangannya masih berpendar redup, memancarkan denyut panas yang stabil. Reggiano menatap tangannya sendiri, memperhatikan bagaimana sulur-sulur emas itu kini telah merayap hingga ke pangkal lengannya, membentuk pola yang menyerupai ukiran pada gereja. Ia merasakan kelelahan yang luar biasa, bukan hanya kelelahan fisik, melainkan kelelahan spiritual. Menjadi wadah bagi kekuatan aneh bukanlah tugas yang ringan bagi raga manusia yang fana.
"Nona Florence," panggil Reggiano dengan suara yang hampir menyerupai bisikan.
"Saya merasa seolah-olah seluruh sel di tubuh saya sedang disusun ulang. Apakah ini yang dirasakan oleh setiap Penjaga?"
Seraphine yang sedang merapikan beberapa toples herbal di rak bawah menoleh. Ia berjalan mendekat dengan keanggunan yang selalu berhasil menenangkan kegelisahan Reggiano. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan perak dengan dua cangkir teh yang mengeluarkan uap beraroma kayu cendana dan madu hutan.
"Tuan Herbert," sahut Seraphine sambil meletakkan nampan itu di meja kecil di depan Reggiano. "Apa yang anda alami adalah Transmutasi. Tubuh anda sedang beradaptasi untuk menampung energi 'Tuan Bumi'. Cairan itu bukan hanya sekadar ramuan, itu adalah memori dunia yang dikumpulkan. Wajar jika anda merasa kelelahan."
Reggiano meraih cangkir teh itu. Tangannya yang biasanya stabil seperti mesin penembak jitu, kini sedikit bergetar.
"Saya melihat kematian ibu saya bukan sebagai akhir, melainkan sebagai sebuah rencana yang sangat panjang. Mengapa ia harus memikul beban sebesar ini sendirian, Nona? Mengapa ia harus merahasiakan segalanya dari saya selama bertahun-tahun?"
Seraphine duduk di kursi seberangnya, menatap Reggiano dengan mata yang seolah bisa melihat menembus waktu.
"Karena cinta seorang ibu sering kali berbentuk sebuah perisai yang tak terlihat, Tuan Herbert. "
"Bagaimana kebenarannya?."
"Jika anda mengetahui kebenaran ini saat anda masih menjadi anak kecil yang penuh kemarahan, kekuatan ini mungkin akan menghancurkan anda. Anda harus dibentuk oleh dunia luar lebih dulu, anda harus tahu apa itu kehilangan dan kesetiaan, sebelum anda siap menjadi Penjaga."
Reggiano menyesap tehnya.
Rasa hangatnya langsung menjalar, meredakan nyeri di persendiannya. Ia melirik ke arah Elena yang tertidur pulas di sofa panjang. Gadis kecil itu memeluk bunga lili putih yang tadinya mati namun kini mekar abadi. Pemandangan itu adalah satu-satunya alasan mengapa Reggiano masih sanggup menanggung beban di pergelangan tangannya.
"Dia adalah masa depan saya, Nona Florence," bisik Reggiano. "Tapi saya takut... jika musuh-musuh diluar sana itu tahu bahwa saya telah membangkitkan Sabit Emas, mereka tidak akan hanya mengincar saya. Mereka akan mengincar Elena sebagai titik lemah saya."
"Itulah sebabnya kita akan turun ke kedalaman besok pagi, Tuan Herbert," jawab Seraphine serius. "Namun untuk malam ini, saya memerintahkan anda untuk melepaskan peran anda sebagai Penjaga. Jadilah manusia sejenak. Tutup mata anda, dan dengarkan detak jantung taman ini yang memberikan anda perlindungan."
Beberapa jam berlalu. Toko roti itu kini sepenuhnya tenggelam dalam kegelapan yang menenangkan. Seraphine telah menyalakan beberapa lilin aromaterapi yang terbuat dari lemak bunga melati yang hanya tumbuh di bawah sinar bulan. Reggiano tetap berada di kursinya, namun ia membiarkan kesadarannya meluas secara pasif.
Melalui indranya yang kini terhubung dengan sistem akar bangunan, Reggiano bisa merasakan,
Akar-akar di bawah lantai yang bergerak pelan, menyingkirkan batu-batu tajam agar fondasi bangunan tetap kokoh. Duri-duri mawar di jendela yang menajamkan dirinya sendiri, siap menusuk siapa pun yang mencoba mengintip dengan niat buruk. Udara di sekitar Elena yang disaring oleh bunga lili, menciptakan pelindung udara murni yang menjauhkan segala jenis ppolusi.
Mereka bekerja cukup baik.
Ini adalah bentuk istirahat yang tidak pernah Reggiano bayangkan. Ia tidak perlu lagi siaga satu dengan jari di pelatuk.
Alam di sekitarnya adalah pelindungnya.
Namun, di tengah kondisi setengah sadar itu, Reggiano mengalami sebuah visi. Ia melihat ibunya berdiri di sebuah padang bunga yang luas, namun di kejauhan, ia melihat sebuah pohon raksasa yang layu dengan pedang emas tertancap di akarnya. Ibunya menunjuk ke arah pohon itu dan membisikkan satu kata, "Pulihkan".
Reggiano tersentak bangun. Keringat dingin membasahi keningnya. Tanda mawar di tangannya berpendar emas sesaat sebelum kembali redup.
"Ada apa, Tuan Herbert?" tanya Seraphine yang ternyata masih terjaga di dekat tungku roti, seolah ia memang sedang mengawasi proses pemulihan Reggiano.
"Pohon... yang layu dengan pedang emas," gumam Reggiano.
"Apa itu, Nona Florence?"
Seraphine menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan campuran antara rasa hormat dan kekhawatiran. "Itu adalah Yggdrasil Minor, jantung dari Gerbang Eden yang ada di bawah kaki kita. Pedang itu adalah simbol kutukan dari Taman Belati yang telah menyegel kehidupan di bawah sana selama tiga dekade. Jika anda melihatnya dalam mimpi, berarti pohon itu sudah merasakan kehadiran anda. Ia sedang memanggil Penjaganya yang baru."
Reggiano menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan hatinya yang berdebar. "Jadi, istirahat ini bukan hanya untuk raga saya, tapi juga untuk mempersiapkan jiwa saya menghadapi apa yang telah menyiksa ibu saya selama ini."
"Tepat, Tuan Herbert," sahut Seraphine. "Sekarang, tidurlah. Benar-benar tidur. Saya akan menjaga gerbang malam ini. Besok, fajar tidak akan hanya membawa cahaya, tapi juga kunci menuju takdir anda yang sebenarnya."
Reggiano akhirnya menyerah pada rasa kantuk yang berat. Ia menyandarkan kepalanya, dan dalam hitungan detik, sang Eksekutor yang kini menjadi Penjaga Taman itu terlelap dalam tidur paling nyenyak dalam hidupnya. Di pergelangan tangannya, kuncup mawar emas itu perlahan menutup, menyimpan energi besar untuk badai yang akan datang saat matahari terbit nanti.
......................
Cahaya matahari pagi mulai merayap masuk melalui celah-celah tirai Flower’s Patisserie. Aroma roti yang baru dipanggang mulai memenuhi ruangan, sebuah rutinitas normal yang diciptakan Seraphine untuk menyeimbangkan suasana mistis di tempat itu.
Reggiano terbangun dengan perasaan segar yang luar biasa. Seluruh luka-luka lama di tubuhnya, bekas-bekas peluru dan sayatan pisau dari masa lalunya di Organisasi, tampak memudar, digantikan oleh kulit yang sehat namun memiliki pola-pola hijau samar yang hanya terlihat jika diperhatikan dengan seksama.
Ia berdiri, meregangkan tubuhnya, dan merasakan kekuatan yang mengalir di pembuluh darahnya jauh lebih jernih daripada semalam. Ia bukan lagi pria yang sekarat, ia adalah puncak dari evolusi manusia dan alam.
"Selamat pagi, Nona Florence," ucap Reggiano, suaranya terdengar jernih dan penuh wibawa.
Seraphine yang sedang menyajikan sarapan sederhana berupa roti gandum dan selai mawar tersenyum.
"Selamat pagi, Tuan Herbert. Anda tampak... lebih selaras hari ini."
Elena berlari ke arah Reggiano dan memeluk kakinya. "Kak Reggi! Lihat, bunganya makin cantik pagi ini!"
Reggiano mengelus kepala adiknya, lalu menatap Seraphine dengan serius. "Saya sudah siap, Nona Florence. Istirahat saya sudah cukup. Mari kita buka gerbang itu dan selesaikan apa yang harus diselesaikan."
Seraphine mengangguk, lalu ia berjalan ke tengah ruangan dan menyingkirkan sebuah karpet besar, menyingkap sebuah lingkaran kayu dengan simbol yang identik dengan kunci perak milik Reggiano.
"Waktunya telah tiba, Tuan Herbert. Gunakan kunci anda, dan biarkan bumi menyambut tuannya."
Fajar telah menyingsing sepenuhnya, namun alih-alih membuka gerbang kuno menuju kedalaman bumi, Seraphine memutuskan bahwa rutinitas adalah cara terbaik untuk menyeimbangkan energi besar yang baru saja bangkit dalam diri Reggiano.
Bagi seorang Penjaga Taman, memahami kehidupan sehari-hari sama pentingnya dengan menguasai senjata mematikan.
"Tuan Herbert," panggil Seraphine sambil mengenakan celemek linen nya yang berwarna hijau lumut.
"Sebelum kita menghadapi kegelapan di bawah sana, kita memiliki tanggung jawab terhadap mereka yang mencari perlindungan di permukaan. Hari ini, kita akan membuka toko seperti biasa. Namun, perlu anda ketahui, pelanggan Flower’s Patisserie bukanlah warga sipil biasa. "
Reggiano mengangguk, mencoba menyesuaikan setelan jas hitamnya yang kini terasa lebih nyaman, seolah kain itu sendiri telah beradaptasi dengan otot-ototnya yang diperkuat oleh energi mawar. Ia mengambil posisi di belakang meja kasir, sementara Elena dengan riang membantu menata mawar-mawar di etalase depan.
"Saya mengerti, Nona Florence. Pelanggan kita... adalah mereka yang tersisih oleh nalar manusia," gumam Reggiano.
Papan nama di depan pintu dibalik menjadi "OPEN". Tak butuh waktu lama hingga denting lonceng pintu berbunyi, menandakan kedatangan tamu pertama.
Seorang pria paruh baya dengan pakaian kantoran yang kusut masuk ke dalam toko. Sekilas, ia tampak seperti pegawai bank biasa, namun indra Penjaga Reggiano segera menangkap sesuatu yang janggal.
Saat pria itu berdiri di bawah sinar matahari yang masuk dari jendela, lantai di bawah kakinya tetap terang benderang. Pria itu tidak memiliki bayangan.
"Selamat pagi," ucap pria itu dengan suara yang gemetar.
"Saya... saya mendengar Nona Florence bisa membantu mereka yang kehilangan 'bagian' dari dirinya."
Seraphine menoleh ke arah Reggiano, memberi isyarat agar sang Penjaga melihatnya. Seraphine melangkah maju, tangannya seketika mengeluarkan serbuk cahaya.
Melalui penglihatan batin Reggiano sendiri, ia melihat sulur-sulur hitam dari Taman Belati telah memotong bayangan pria ini, sebuah cara untuk perlahan-lahan menghapus keberadaan seseorang dari dunia nyata.
"Tuan," ucap Seraphine formal, "Bayangan anda tidak hilang. Ia hanya 'dipenjara' oleh parasit. Mohon letakkan tangan anda di atas meja kayu ini."
Seraphine menyentuh meja tersebut, menyalurkan energi yang kuat. Ia tidak hanya memulihkan, melainkan memanggil akar halus dari bawah lantai untuk melilit pergelangan tangan pria itu dengan lembut.
"Kembalilah," perintah Seraphine rendah.
Seketika, dari balik bayangan tanaman di pojok ruangan, sebuah gumpalan hitam merayap cepat di lantai dan menyatu kembali ke kaki pria itu. Pria itu menghela napas lega saat bayangannya kembali muncul, mengikuti setiap gerakannya.
"Terima kasih... oh, terima kasih banyak!" pria itu meletakkan beberapa keping koin perak kuno, mata uang dunia bawah, dan segera pergi dengan langkah yang lebih ringan.
Tamu berikutnya adalah seorang wanita tua yang mengenakan topi lebar. Namun, bunga-bunga di topinya bukanlah hiasan plastik, melainkan bunga asli yang tumbuh langsung dari serat topi tersebut. Masalahnya, bunga-bunga itu berwarna kelabu dan mengeluarkan aroma kematian.
"Penjaga..." bisik wanita itu, menatap Reggiano dengan mata yang penuh kesedihan. "Putra saya... dia terjebak di dalam mimpi yang tidak mau berakhir. Bunga-bunga di topi saya adalah cerminan jiwanya. Mereka layu, dan saya takut jika mereka rontok, dia tidak akan pernah bangun lagi."
Reggiano mendekat, mencium aroma busuk yang sama dengan energi Kaelen yang ia hadapi kemarin. Ini adalah kutukan dari faksi Utara.
"Nona Florence, apakah saya boleh menggunakan 'Sari pati Mawar Emas'?" tanya Reggiano.
"Gunakanlah, Tuan Herbert. Tapi ingat, jangan berlebihan" jawab Seraphine.
Reggiano memetik sekuntum mawar kecil yang tumbuh dari tanda di pergelangan tangannya, sebuah tindakan yang sedikit menyakitkan namun perlu. Ia memeras kelopak mawar itu hingga mengeluarkan setetes cairan emas murni ke atas topi wanita tersebut.
Dalam sekejap, bunga-bunga kelabu itu berubah menjadi merah merona, dan aroma busuknya berganti menjadi wangi padang rumput musim semi. Wanita itu menangis bahagia, melaporkan bahwa ia baru saja merasakan detak jantung putranya kembali stabil melalui ikatan batin bunga tersebut.
......................
Menjelang siang, seorang pria dengan jaket kulit hitam yang robek masuk dengan tergesa-gesa. Reggiano segera mengenalinya, dia adalah Vince, informan lamanya dari Organisasi yang sempat ia dengar suaranya melalui indra tajamnya kemarin.
Vince tampak pucat, dan dari telinganya keluar cairan berwarna hijau neon, tanda bahwa ia telah terpapar zat kimia pemusnah tumbuhan milik Organisasi yang telah dimodifikasi untuk membunuh manusia yang berhubungan dengan "Taman".
"Reggiano... syukurlah kau masih hidup..." Vince jatuh berlutut di depan meja kasir.
"Petinggi Organisasi... dia tahu aku mencoba menghubungimu. Mereka mau menyuntikkan racun ke dalam tubuhku."
Wajah Reggiano mengeras.
Amarahnya memuncak, dan tanda sabitnya hampir saja termanifestasi. Namun, Seraphine meletakkan tangan di bahunya.
"Tuan Herbert, amarah tidak akan menyembuhkannya. Gunakan kekuatan regenerasi anda untuk menyaring darahnya. Jadilah tameng bagi teman anda," ucap Seraphine tenang.
Reggiano menarik napas dalam-dalam. Ia membawa Vince ke ruang belakang. Ia memerintahkan tanaman merambat di dinding untuk melilit tubuh Vince, berfungsi sebagai selang alami. Reggiano memegang dada Vince, dan melalui telapak tangannya, ia mulai menarik racun hijau itu keluar.
Prosesnya menyakitkan.
Reggiano merasakan racun itu mencoba menyerang tangannya sendiri, namun mawar emas di kulitnya bertindak sebagai pemurni. Cairan hijau itu ditarik keluar, masuk ke dalam tanah melalui akar-akar di lantai, di mana bumi akan menetralkannya menjadi pupuk.
Setelah sepuluh menit yang tegang, warna kulit Vince kembali normal. Ia terbatuk, namun matanya kini jernih.
"Kau berubah, Reggiano," bisik Vince sambil menatap tanda mawar di tangan sahabatnya.
"Istirahatlah di sini, Vince," jawab Reggiano. "Nona Florence akan memberimu roti yang akan memulihkan energimu. Jangan kembali ke Organisasi. Mereka bukan lagi duniamu."
Sore mulai menjelang, dan toko mulai sepi.
Reggiano berdiri di belakang meja, membersihkan sisa-sisa tepung sambil merenungkan apa yang baru saja terjadi. Menjalankan toko ini bukan hanya soal menjual roti, tapi soal menjaga keseimbangan antara dunia yang terlihat dan yang tersembunyi.
Setiap kasus yang ia selesaikan hari ini memberikan pemahaman baru baginya, Penjaga Taman bukanlah seorang alat, melainkan seorang penyembuh yang membawa senjata.
"Bagaimana perasaan anda, Tuan Herbert? Menjadi pelayan bagi mereka yang menderita?" tanya Seraphine sambil menuangkan teh sore mereka.
"Ini jauh lebih sulit daripada membunuh, Nona Florence," jawab Reggiano jujur. "Membutuhkan kendali yang luar biasa agar tidak menghancurkan subjek yang ingin kita selamatkan. Namun... saya merasa lebih 'hidup' hari ini daripada sepuluh tahun saya di Organisasi."
Seraphine tersenyum puas. "Bagus. Karena setelah matahari terbenam, pelanggan terakhir kita akan datang. Dan dia tidak akan meminta bantuan, melainkan membawa tantangan terakhir sebelum kita turun ke Gerbang Eden."
Reggiano menatap pintu toko, tangannya secara insting meraba pergelangan tangannya.
"Siapa dia, Nona?"
"Seseorang yang sangat mengenal ibu anda," jawab Seraphine misterius. "Dan dia ingin melihat apakah Sabit Emas di tangan anda benar-benar layak untuk membuka Gerbang itu."