Arga Maheswara, mengira bahwa kepindahannya ke rumah tua peninggalan keluarga, akan menyembuhkan luka akibat pengkhianatan istri. Namun sejak malam pertama, sosok wanita cantik bergaun putih selalu muncul di bawah sinar bulan tersenyum sendu, seolah telah lama menunggunya.
Safira Aluna. Kehadirannya yang lembut perlahan mengobati hati Arga yang hancur. Untuk pertama kalinya, ia merasakan cinta yang tulus. Tapi ketika kebenaran terungkap, Arga terkejut Safira bukan manusia. Ia adalah jin muslimah yang terikat kutukan masa lalu, menunggu puluhan tahun untuk menemukan cinta sejatinya.
Meski menakutkan, Arga tak sanggup melepaskan Safira. Mereka menikah dalam ikatan dua alam yang terlarang. Namun cinta mereka adalah kutukan itu sendiri semakin dalam Arga mencintai Safira, semakin cepat nyawanya terkikis.
Akankah cinta mereka bertahan melawan takdir?
Atau salah satu harus berkorban untuk yang lain?
Selamat menyaksikan kisah cinta beda alam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sepupu yang Tak Diundang
Arga baru saja terlelap di sofa ruang tamu, tubuhnya remuk setelah semalam tidak tidur, ketika suara klakson memekakkan telinga membangunkannya.
Tiiit! Tiiit! Tiiiiiiiiiiit!
"Sialan..." gumam Arga sambil mengusap wajahnya yang kusut. Matanya masih perih, kepalanya pusing. "Siapa sih pagi-pagi..."
Tiiiiit! Tiiit! Tiiit!
Klakson itu tidak berhenti. Malah semakin keras dan semakin sering. Arga bangkit dengan kesal, berjalan tertatih ke pintu depan. Kakinya masih lemas, kepalanya serasa mau pecah.
Saat ia membuka pintu, cahaya matahari pagi langsung menyilaukan matanya yang merah bengkak. Ia menyipitkan mata, mencoba melihat siapa yang datang pagi-pagi begini.
Dan di depan gerbang, ia melihat seseorang dengan motor bebek tua berwarna merah yang catnya sudah mengelupas di mana-mana. Di jok belakang motor itu ada dua kantong plastik besar yang sepertinya penuh dengan sesuatu.
Orang itu melambaikan tangan dengan antusias sambil berteriak, "ARGAAAA! BUKA PINTUNYA, BEGO!"
Arga mengernyit. Suara itu... suara itu familiar.
"Bagas?" gumamnya tidak percaya.
"IYA! SIAPA LAGI! BUKA GERBANGNYA, GOBLOK! GUE CAPEK BAK INI!"
Bagas. Sepupu Arga yang satu tahun lebih muda darinya. Anak bungsu dari paman yang tinggal di Solo. Mulutnya ember, tingkahnya absurd, tapi hatinya tulus.
Dengan langkah gontai, Arga berjalan ke gerbang dan membukanya. Engselnya berbunyi nyaring, berkarat parah.
Bagas langsung masuk dengan motornya, parkir sembarangan di halaman, lalu turun sambil merentangkan tangan. "TADAAA! Superman datang menyelamatkan!"
Arga hanya menatapnya dengan pandangan datar. Lelah. Terlalu lelah untuk bereaksi.
Bagas mengernyit, menatap Arga dari atas sampai bawah. "Anjir, lo kelihatan kayak zombie yang habis dihajar preman. Mata lo bengkak gitu, rambut acak-acakan, baju kusut. Kapan terakhir lo mandi?"
"Bagas, gue lagi nggak mood," Arga berbalik, berjalan kembali ke dalam rumah.
"Eh, tunggu! Gue bawa makanan nih! Dari Solo! Emak gue yang nyuruh bawain!" Bagas mengambil dua kantong plastik besar dari motornya, lalu mengikuti Arga masuk ke dalam rumah.
Saat Bagas masuk, ia langsung bersiul panjang. "Wih, rumah nenek masih megah juga ya. Tapi kok serem banget sih? Gelap, apek, kayak rumah di film horor gitu."
Arga menjatuhkan dirinya lagi di sofa, menutup wajahnya dengan lengan. "Kalau takut ya pulang aja."
"Takut apaan. Gue kan jagoan." Bagas meletakkan kantong-kantong itu di meja, lalu duduk di sofa sebelah Arga. Ia mengamati sepupunya dengan seksama. "Lo... lo beneran nggak baik-baik aja ya, Ga?"
Arga tidak menjawab.
Bagas menarik napas panjang. "Ibu gue cerita sih. Tentang... tentang Ratih. Dan Dimas."
Mendengar nama-nama itu, tubuh Arga menegang. Rahangnya mengeras.
"Gue nggak percaya awalnya," lanjut Bagas dengan nada yang lebih serius, yang jarang sekali ia gunakan. "Gue pikir Ratih itu... ya, kayaknya cewek baik-baik gitu. Tapi ternyata..." Ia menggantung kalimatnya, tidak tahu harus bilang apa.
"Ternyata dia jalang," Arga melanjutkan dengan suara datar. Dingin. "Ternyata dia pelacur yang tidur dengan sahabatku sendiri di ranjangku sendiri."
"Ga..."
"Apa?!" Arga mengangkat lengannya, menatap Bagas dengan mata yang memerah. "Kau mau bilang aku salah? Mau bilang aku yang bikin dia selingkuh karena aku sibuk kerja?!"
"Nggak, bukan gitu..." Bagas menggeleng cepat. "Gue cuma... gue cuma nggak ngerti aja kenapa lo malah ngungsi ke sini. Ke rumah tua yang katanya angker ini. Sendirian pula. Lo nggak takut?"
"Takut apa? Takut hantu?" Arga tertawa sinis. "Hantu lebih baik daripada manusia, Gas. Hantu cuma nakutin. Tapi manusia? Manusia bisa menghancurkan hidupmu total."
Bagas terdiam. Ia menatap Arga dengan tatapan prihatin. Ini pertama kalinya ia melihat sepupunya yang biasanya tegar dan ceria jadi sehancur seperti ini.
"Lo udah makan?" tanya Bagas pelan.
"Belum."
"Udah mandi?"
"Belum."
"Udah shalat subuh?"
Arga tidak menjawab. Ia menutup wajahnya lagi dengan lengan.
Bagas menghela napas panjang. "Oke, sekarang dengerin gue. Gue tahu lo lagi patah hati. Gue tahu lo sakit banget. Tapi lo nggak bisa kayak gini terus, Ga. Lo masih hidup. Lo masih punya masa depan. Dan yang paling penting..." Ia berdiri, berjalan ke arah kantong plastik, mengeluarkan kotak nasi dan lauk-pauk. "Lo harus makan! Emak gue masak nasi liwet, ayam goreng, tempe bacem, sambal terasi. Kesukaan lo kan?"
Bau makanan itu langsung menyeruak ke hidung Arga. Dan entah kenapa, perutnya tiba-tiba berbunyi keras. Ia baru sadar sudah dua hari tidak makan apa-apa selain minum air putih.
"Ayo makan dulu," Bagas menyodorkan kotak nasi itu ke depan wajah Arga. "Habis itu lo mandi, ganti baju, terus kita ngobrol. Gue nggak akan pulang sebelum lo sedikit lebih baikan."
Arga menatap kotak nasi itu. Perutnya keroncongan. Tubuhnya lemas. Ia butuh makan. Ia tahu itu.
Dengan tangan gemetar, ia menerima kotak nasi itu. "Makasih, Gas."
"Makasih apaan. Kita kan sodara. Sodara ya gitu, saling bantuin."
Mereka makan dalam diam. Bagas sesekali melirik Arga yang makan dengan pelan, seperti orang yang kehilangan selera hidup. Tidak ada komentar kocak seperti biasanya. Bagas tahu ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda.
Setelah selesai makan, Bagas membereskan sampah-sampah makanan, lalu duduk lagi di depan Arga. "Lo tadi bilang rumah ini angker. Emang kenapa? Lo liat sesuatu?"
Arga terdiam sebentar. Ia ragu mau cerita atau tidak. Tapi akhirnya ia mengangguk pelan. "Semalam... aku lihat... lihat sosok wanita."
Bagas langsung tegak. Matanya membulat. "Wanita? Wanita gimana?"
"Wanita bergaun putih. Rambut panjang. Muncul di koridor