NovelToon NovelToon
Gerhana Sembilan Langit

Gerhana Sembilan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Masuk ke dalam novel / Fantasi Timur
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kokop Gann

Seorang pembaca muak dengan novel bacaannya yang dimana para antagonis jenius dengan latar belakang tragis selalu kalah konyol oleh Long Tian, protagonis yang menang hanya bermodal "Keberuntungan Langit".

Saat bertransmigrasi ke dalam novel, dia menjadi Han Luo, NPC tanpa nama yang ditakdirkan mati di bab awal, ia menolak mengikuti naskah. Berbekal pengetahuan masa depan, Han Luo mendirikan "Aliansi Gerhana". Ia tidak memilih jalan pahlawan. Ia mengumpulkan para villain yang seharusnya mati dan mengubah mereka menjadi senjata mematikan.

Tujuannya satu: Mencuri setiap peluang, harta, dan sekutu Long Tian sebelum sang protagonis menyadarinya.

"Jika Langit bertindak tidak adil, maka kami akan menjadi Gerhana yang menelan Langit itu sendiri." Ini adalah kisah tentang strategi melawan takdir, di mana Penjahat menjadi Pahlawan bagi satu sama lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun di Dalam Madu

Malam itu, Ruang Alkimia No. 7 diterangi oleh cahaya merah redup dari Api Bumi. Han Luo duduk di depan meja batu, menatap kotak kayu yang diberikan oleh Peri Lin.

Di dalamnya, Pil Pondasi berwarna biru cerah tergeletak di atas bantalan sutra. Aromanya manis dan memikat, menjanjikan kekuatan bagi siapa saja yang menelannya.

Bagi 99% murid luar, ini adalah berkah dari surga. Mereka akan langsung menelannya dan bersujud terima kasih pada Peri Lin.

Tapi Han Luo adalah Han Luo.

"Tidak ada makan siang gratis di dunia ini," gumamnya. "Apalagi dari wanita yang menjadikan protagonis sebagai kelinci percobaan."

Han Luo tidak menyentuh pil itu dengan tangan kosong. Dia menggunakan jepit perak.

Dia mendekatkan pil itu ke Anggrek Wajah Hantu.

Tanaman hitam itu, yang biasanya pasif, tiba-tiba bereaksi agresif. Kelopak bermata satu-nya terbuka lebar, dan tentakel akarnya mendesis ke arah pil tersebut.

"Reaksi terhadap aura asing," analisis Han Luo.

Dia mengaktifkan Mata Roh (teknik dasar yang diperkuat Qi Tingkat 6).

Di permukaan pil yang halus itu, dia melihat sesuatu yang sangat tipis, hampir tak kasat mata. Sebuah ukiran Rune (Huruf Kuno) mikroskopis yang berkedip dengan irama yang sama dengan detak jantung Peri Lin yang dia ingat.

Segel Pelacak Jiwa

"Bajingan," Han Luo tertawa dingin. "Ini bukan hadiah. Ini kalung anjing."

Jika Han Luo menelan pil ini, segel itu akan menempel di dantian-nya. Peri Lin (atau siapa pun tuannya) akan bisa melacak lokasi Han Luo ke mana pun dia pergi, bahkan jika dia bersembunyi di ujung dunia. Dan mungkin, segel itu juga bisa diledakkan dari jarak jauh.

"Mereka ingin memastikan 'investasi' mereka tidak lari."

Han Luo tidak marah. Dia justru merasa tertantang.

Dia mengambil pil itu dengan hati-hati, lalu meletakkannya tepat di atas pot Anggrek Wajah Hantu.

"Makanlah bagian luarnya saja. Jangan makan esensinya."

Anggrek itu menjulurkan tentakel halusnya, membungkus pil tersebut. Cahaya biru dari segel pelacak itu berkedip-kedip, melawan, tapi akhirnya meredup saat disedot oleh tanaman pemakan karma itu.

Sepuluh menit kemudian, tentakel itu mundur.

Pil itu masih utuh, tapi kilaunya sedikit berbeda. Segelnya hilang. Sekarang, itu benar-benar hanya Pil Pondasi murni.

Han Luo menyimpan pil itu kembali ke kotaknya, lalu memasukkannya ke dalam Cincin Penyimpanan. Dia tidak akan menggunakannya sekarang. Dia baru saja naik ke Tingkat 6; menelan obat keras lagi akan merusak fondasinya.

"Sekarang, persiapan ekspedisi."

Reruntuhan Lembah Naga adalah zona berbahaya. Di novel, tempat itu berisi Binatang Roh purba, jebakan mekanis, dan tentu saja... konflik antar manusia.

Han Luo menghabiskan sisa malamnya untuk meracik ulang persediaannya:

Bom Asap: Stok diperbanyak menjadi 20 butir.

Penawar Racun Umum: Wajib dibawa.

Jarum Beracun: Dia melumasi 50 jarum baja dengan Cairan Korosi.

Dan yang terpenting: Dia menyiapkan satu set pakaian cadangan dan topeng Sarjana Mo. Di dalam reruntuhan, hukum sekte tidak berlaku. Di sana, Sarjana Mo bisa berburu.

Tiga Hari Kemudian.

Pagi yang cerah menyambut sepuluh murid luar terpilih. Mereka berdiri berbaris, tas punggung besar menggantung di bahu masing-masing.

Wajah-wajah familiar terlihat.

Liu Feng berdiri paling depan, tangannya diperban tebal (akibat luka bakar Tarian Naga Merah), menatap Han Luo dengan kebencian yang tak ditutupi.

Guo Lanying (si wanita cambuk) berdiri angkuh.

Dan... Long Tian.

Dia ada di sana. Wajahnya agak pucat, tapi dia berdiri tegak.

"Dia pulih secepat itu?" Han Luo terkesan. "Penyimpangan Qi biasanya butuh sebulan istirahat. Peri Lin pasti memberinya obat tingkat tinggi lagi."

Long Tian melihat Han Luo, lalu tersenyum lemah dan mengangguk. Tidak ada dendam di matanya, hanya rasa hormat. "Selamat atas juara pertamamu, Saudara Han. Kau memang kuat."

Han Luo membalas dengan anggukan kaku. "Kau juga... ulet."

Tiba-tiba, bayangan besar menutupi lapangan.

Sebuah Bahtera Roh raksasa turun dari langit. Kapal kayu terbang sepanjang lima puluh meter itu mendarat dengan guncangan halus.

Dari atas kapal, turunlah rombongan Murid Dalam yang akan memimpin ekspedisi.

Ada lima orang. Dan pemimpin mereka membuat Han Luo menyipitkan mata.

Liu Ming.

Kakak Liu Feng. Musuh yang pernah Han Luo rampok di Ngarai Ular.

Wajah Liu Ming sudah sembuh (tampaknya dia berhasil membeli Bunga Matahari pengganti dengan harga mahal), tapi matanya jauh lebih dingin dari sebelumnya.

"Dengar, sampah-sampah sekte luar!" teriak Liu Ming dari atas geladak. "Tugas kalian di dalam reruntuhan adalah sebagai Pencari Jalan dan Pengangkut Barang. Jangan berharap mendapat harta utama. Harta utama adalah milik Murid Dalam!"

Liu Ming menatap Liu Feng, adiknya, lalu beralih menatap Han Luo.

Tatapannya berhenti lama di Han Luo. Ada kecurigaan di sana.

"Dan kau, Han Luo," tunjuk Liu Ming. "Juara keberuntungan. Aku akan mengawasimu secara khusus."

Han Luo membungkuk, memasang wajah takut. "Baik, Kakak Senior."

Dalam hati, Han Luo tertawa.

"Kau mengawasiku? Bagus. Karena saat kita masuk ke dalam kabut Lembah Naga nanti... akulah yang akan mengawasimu, Liu Ming. Dan kali ini, aku tidak hanya akan mengambil kargomu."

"NAIK KAPAL!"

Para murid naik satu per satu.

Bahtera itu perlahan naik, menembus awan, menuju Utara. Menuju Lembah Naga.

Di sudut geladak, Han Luo berdiri sendirian, menatap pegunungan yang menjauh. Angin kencang menerpa rambutnya.

Babak pembuka di sekte telah selesai. Sekarang, panggung berpindah ke alam liar.

Di saku bajunya, Ulat Sutra Es-Api bergetar pelan, seolah merasakan panggilan dari tanah leluhurnya.

"Mari kita lihat," bisik Han Luo. "Siapa yang akan menjadi naga, dan siapa yang akan menjadi cacing."

1
adib
satu kata.. BAGUS
Jeffie Firmansyah
👍👍👍👍👍💪💪💪💪💪
Budi Andrianto
g8
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Hentooopz 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Cerdik🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Iyeeeees 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Njoooooost 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
Ahhhh.... lagi seru seru nya .... abis cerita nya... tunggu update.. terimakasih Thor 💪💪💪💪
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🌽🔥
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yup yup yup 🔥🌽
Jeffie Firmansyah
jadi tdk sabar tunggu update nya 😄👍💪
Jeffie Firmansyah
kasian amat Han luo..... pendekar miskin ,dan terpaksa menjarah kekayaan cincin orang 2 kaya🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!