Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Awal yang sebenarnya
Cahaya fajar baru saja menyusup tipis di balik gorden, namun Dimas sudah membangunkan Zora. Suara baritonnya terdengar lembut namun tidak menerima bantahan, menyuruh wanita itu segera bersiap. Di sudut lain, Dimas tampak sibuk merapikan pakaian Safira yang masih setengah mengantuk.
"Mas, kita mau ke mana? Ini masih terlalu pagi untuk berdandan seperti ini," tanya Zora heran, tangannya masih sibuk merapikan rambut yang sedikit berantakan.
Dimas berbalik, menatap istrinya dengan senyum misterius yang sulit diartikan. "Rahasia, Sayang. Kau hanya perlu mengikutiku."
"Iya, tapi kenapa harus sepagi ini?"
"Karena momen ini tidak akan menunggu siapapun," jawab Dimas singkat sembari mengecup kening Zora sekilas. "Sudah, jangan banyak tanya. Kita berangkat sekarang."
Zora hanya bisa menghela napas, pasrah mengikuti langkah suaminya.
Mobil meluncur membelah jalanan pusat kota Bandung yang masih lengang, hingga akhirnya berhenti di lobi sebuah hotel mewah beraksen emas. Begitu pintu mobil terbuka, jajaran staf hotel sudah berdiri tegak. Mereka membungkuk hormat 90 derajat,sebuah pemandangan yang membuat jantung Zora sedikit berdegup kencang.
"Selamat pagi, Pak Dimas," sapa mereka serempak.
"Pagi. Semua sudah siap?" suara Dimas terdengar lebih tegas dan dingin, penuh aura kepemimpinan.
"Sudah, Pak. Tinggal menunggu kehadiran Anda," balas salah satu dari mereka dengan sikap profesional.
Dimas menoleh ke arah Zora, tatapannya melembut kembali. "Bagus. Kalau begitu, tolong ubah istriku menjadi wanita paling cantik di dunia hari ini."
"Baik, Pak."
Dua orang wanita berseragam hitam elegan mendekat, gerak-gerik mereka sangat terlatih. "Mari, Ibu Zora. Silakan ikut kami."
Zora menarik napas panjang, langkahnya tertahan. "Lho, mau ke mana?"
Dimas terkekeh kecil, memegang pundak istrinya untuk memberi ketenangan. "Sayang, ikut saja. Mereka tidak akan menggigitmu."
"Terus, Mas mau ke mana?" tanya Zora, matanya mencari kepastian.
"Aku ada urusan mendesak sebentar. Safira aku bawa bersamaku supaya tidak mengganggumu bersiap. Oke?" Dimas mengedipkan sebelah matanya, lalu berbalik pergi sebelum Zora sempat protes lagi.
Dengan keraguan yang masih menggelayut, Zora melangkah mengikuti para staf menuju sebuah penthouse di lantai teratas. Begitu pintu ganda besar itu terbuka, Zora terpaku di ambang pintu. Matanya membulat sempurna.
"Lho... ini apa?" gumam Zora tertahan
Beberapa jam kemudian...
Pintu ballroom yang menjulang tinggi terbuka perlahan. Zora melangkah dengan anggun, setiap gerakannya seolah diringi simfoni yang tak terdengar. Ia berjalan di atas karpet beludru yang diapit ribuan kelopak bunga segar,perpaduan warna pastel dan wangi mawar yang memenuhi udara.
Matanya mulai berkaca-kaca. Suasana di dalam sana bukan sekadar megah; itu adalah sebuah mimpi yang menjadi nyata. Begitu sosoknya muncul, ratusan tamu yang duduk serentak menoleh. Gemuruh tepuk tangan membubung, namun bagi Zora, suara itu seolah teredam oleh debar jantungnya sendiri.
Pandangannya mengabur oleh air mata bahagia saat melihat wajah-wajah familiar di barisan depan. Ada Kanaya, lalu Bumi yang menggendong Sasa dengan penuh kasih, hingga si sulung Alteza yang tampak tenang dalam penjagaan Nurul.
Bukan hanya keluarga, Zora tersenyum haru melihat para karyawannya dan ibu-ibu penjahit topi yang biasa membantunya. Mereka semua ada di sana, ikut merayakan titik balik hidupnya.
Namun, keningnya sedikit mengernyit saat tatapannya menyisir sisi lain ruangan. Di sana duduk Sisca bersama teman laki-lakinya yang tempo hari ditemuinya, juga Wulan dan Dimas Danureta. Safira, dengan gaun mungilnya, bertepuk tangan paling kencang dengan binar mata polos.
Hingga akhirnya, seluruh dunianya mengerucut pada satu titik. Satu sosok yang berdiri tegak di ujung sana, menunggunya dengan sabar.
Dimas.
Pria itu berdiri begitu gagah, memancarkan aura maskulin yang hangat. Di sisi kanannya, berdiri Wa Apud dan Wa Minah yang tampak bersahaja namun terhormat. Melihat kehadiran mereka, pertahanan Zora runtuh; isak tangisnya pecah dalam senyuman.
Begitu Zora sampai di hadapannya, Dimas mengulurkan tangan dengan gerakan yang sangat lembut, seolah Zora adalah porselen paling berharga di dunia.
"Kamu cantik sekali, Pengantinku," bisik Dimas. Suaranya rendah, hanya untuk Zora, namun getarannya merasuk hingga ke jiwa.
"Ini... ini kejutan yang kamu maksud, Mas?" tanya Zora dengan suara bergetar di balik isaknya.
Dimas tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya mengangguk kecil dengan tatapan penuh pemujaan. Pria itu kemudian meraih mikrofon, membalikkan badannya menghadap para tamu, namun tetap menggenggam erat jemari Zora.
Dimas menarik napas panjang, suaranya yang menggema melalui mikrofon memenuhi setiap sudut ballroom yang tiba-tiba hening. Semua mata tertuju padanya, namun tatapan Dimas terkunci mati pada manik mata Zora.
"Zora Auliya Safana..." ucapnya lembut, menyebut nama lengkap wanita itu seolah itu adalah mantra paling sakral.
"Beberapa bulan lalu, kita telah terikat janji suci di hadapan Allah SWT. Namun hari ini, di hadapan semua saksi dan orang-orang yang kita cintai, aku ingin mengulang kembali janji itu. Aku ingin mengakuimu sebagai istriku,satu-satunya wanita yang sah di mata hukum, negara, dan seluruh duniaku. Maukah kau menikah denganku?"
Zora terpaku. Dadanya sesak oleh haru yang membuncah. Namun, kalimat Dimas selanjutnya membuat jantungnya seolah berhenti berdetak.
"Aku memintamu bukan karena rasa iba. Bukan pula semata-mata karena balas budi atas segala kebaikanmu pada ibuku," Dimas menjeda kalimatnya, suaranya sedikit serak karena emosi. "Aku memintamu karena aku mencintaimu. Sangat mencintaimu."
Zora tertegun, bibirnya sedikit terbuka namun tak ada kata yang sanggup keluar.
"Ya, Zora. Aku sudah jatuh cinta padamu jauh sebelum semua kerumitan ini dimulai. Sejak lima tahun lalu... saat kau masih menjadi mahasiswiku yang duduk di barisan belakang" Dimas tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan kerinduan lima tahun yang terpendam. "Jadi, Zora Auliya Safana, maukah kau memulai semuanya dari awal bersamaku? Maukah kau mengulang pernikahan ini sekali lagi?"
Air mata Zora luruh tak terbendung, membasahi pipinya yang dihiasi riasan pengantin Sunda yang sempurna. Siger yang melingkar di kepalanya tampak berkilau terkena lampu kristal, seanggun pemiliknya. Dengan isak yang tertahan namun penuh keyakinan, Zora mengangguk mantap.
"Iya, Mas... aku mau," bisik Zora.
Meskipun lirih, jawaban itu terdengar seperti simfoni kemenangan di telinga Dimas. Pria itu menutup jarak di antara mereka, seolah dunia di sekitar mereka menghilang, menyisakan hanya mereka berdua dan janji yang akhirnya lunas terbayar.
Bersambung...
Semoga tidak ada pelakor dalam rumah tanggamu ya Dim.Bahaya banget kalau ada.Soalnya Zora itu kuat didepan lemah di belakang.Betul tidak readers?
zora
*pergi (minggat) dari rumah tampa izin dan sepengetahuan suami kesalahan fatal
*lebih percaya orang lain dari pada suami, ingat asas kepercayaan wanita yang lebih berkoar2
*membuat suami cemas, bingung, khawatir,
*dia enakan tidur, suami tapi suami dia biarkan kayak orang bodoh, alasan HP mati, tinggal colok cas, hidupkan hubungi suami, ini malah enak2an tidur, kayak tidak ada beban sama sekali
*setelah melakukan banyak kesalahan dengan enteng dia merasa aman saja, zora pakai otak kau tidak mau memaafkan dengan mudah kesalahan suami tapi ketika kau salah kau semudah itu dimaafkan
thor mohon lah berlaku adil, jika sang suami buat salah tidak mudah dimaafkan dan dibuat berjuang dulu baru dimaafkan maka adil lah juga ketika sang istri melakukan kesalahan buat juga tidak semudah itu dimaafkan buat juga berjuang,
buang jauh jauh pemikiran yang selalu menormalisasi semua kesalahan pemeran utama wanita,
adil tidak membuat novel jelek tapi malah membuat novel bertambah berkelas
g bljr dr msalt kemarin
itu membuat Zora terlihat kekanakan dan selalu mendrama.
tapi entah peketjaan apa yg sudah di siapkan sandi, jadi tukang fotokopi atau malah jadi cleaning servis.
soalnya keduanya ada hubungannya dengan Dimas,
Nesa sepupunya Dimas,
sedangkan Wulan walaupun teman yg baik tapi teman lucnat juga🤭
tapi, jangan sampai keposesif an mu ,malah membuat pasangan mu ilfil.
ternyata paksu Dimas 😍
y Dimas persiapan 👍