Hidup Aulia Maheswari berubah dalam sekejap. Sebuah pengkhianatan merenggut kepercayaan, dan luka yang datang setelahnya memaksanya belajar bertahan.
Saat ia mengira hidupnya hanya akan diisi trauma dan penyesalan, takdir mempertemukannya dengan sebuah ikatan tak terduga. Sebuah kesepakatan, sebuah tanggung jawab, dan perasaan yang tumbuh di luar rencana.
Namun, bisakah hati yang pernah hancur berani percaya pada cinta lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HaluBerkarya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kenapa memilih orang lain...
Di sebuah taman yang indah, disempurnakan oleh warna-warna bunga, Aulia sedang duduk mengenakan pakaian putih dengan rok yang berpadu lembut membalut tubuhnya. Wanita cantik itu duduk di bawah pohon cemara besar. Di sana, dia menemani Leonel bermain di dalam Stroller bayi.
Suara riang bayi itu membuatnya ikut tertawa, apalagi saat sesekali bayi kecil itu mengoceh, “Mamamamamam,” membuat dadanya berdesir hangat.
Akan tetapi, Aulia sedikit tersentak saat melihat seorang bayi kecil yang duduk tak jauh dari tempat mereka. Bayi itu tak memiliki siapa-siapa yang menjaganya, hanya seorang diri di dalam stroller.
Bayi kecil itu kerap mencuri pandang ke arah mereka, dan Aulia menyadarinya. Ada tatapan cemburu yang tersirat. Bayi itu menatap Aulia dengan sendu, dan manik mata cokelatnya terlihat begitu familiar. Di sana ada genangan air mata yang membuat hati siapa pun terasa terenyuh.
Bayi itu tenang, tidak merengek seperti kebanyakan bayi lainnya, tetapi bagi Aulia, tatapan itu mengartikan kerinduan yang mendalam.
“Mama… mama…” ocehan lemah itu membuat dada Aulia berdesir halus. Ada kehangatan di sana, seolah sesuatu yang hilang perlahan kembali.
Tanpa sadar, dia meninggalkan Leonel. Langkahnya pelan menuju stroller bayi yang tidak ada orang yang menjaganya.
“Halo, sayang…” ujar Aulia lembut. Tangannya terulur hendak menyentuh pipi tembam sang bayi, namun bayi itu hanya melihatnya sekilas dengan tatapan sendu, kemudian memalingkan wajah.
Hati Aulia serasa diremas. Entah kenapa ada rasa sakit yang tak terkira saat bayi itu tidak menerima sapaannya.
“Kamu bersama siapa di sini, sayang? Astaga… orang-orang tega sekali meninggalkan anaknya sendirian di taman seluas ini,” ujarnya.
Namun saat kalimat itu terlontar, bayi yang tadinya terlihat tenang itu menangis — tanpa suara.
Dan itu membuat dada Aulia sesak tanpa sebab.
“Perasaan apa ini? Kenapa aku merasa sangat dekat dengan bayi ini?”
Tiba-tiba—
“Mama jahat, mama lebih memilih orang lain daripada aku… hiks…”
Aulia tersentak saat suara itu menggema di udara, terdengar seperti ilusi yang berputar-putar di sekelilingnya, seolah kalimat itu tidak ditujukan pada siapa pun selain dirinya.
Dia tidak tahu dari mana sumber suara itu. Yang jelas, kalimat tersebut terasa seperti menghakiminya. Wanita muda itu melirik sekitar — tidak ada siapa-siapa selain bayi itu dan stroller bayi Leonel. Tidak mungkin dari mereka ada yang bisa bicara.
Di tengah kebingungannya, Aulia tersadar oleh Leonel yang mulai merengek, mungkin tidak terima ditinggalkan. Namun saat wanita itu menoleh kembali, bayi kecil di depannya menatap tanpa berkedip.
“Aku lapar, Ma… aku kedinginan… tapi kenapa Mama memilih orang lain? Mama jahat… Emilia benci Mama…”
Deg.
Suara yang tak jelas asal-usulnya itu kembali terdengar, menggema di telinga Aulia hingga terasa berdenging.
Dan nama yang barusan terucap…
Nama itu begitu familiar. Bahkan sampai detik ini masih terpatri di sanubarinya.
“Emilia… anakku… kaukah itu?” ujar Aulia dengan mata berlinang. Tatapannya mencari ke segala arah, tetapi tetap saja tidak ada siapa pun selain sosok di dalam stroller yang kini menatapnya dengan tangis tak bersuara.
“Emilia…” panggil Aulia lagi.
Saat tatapannya berhenti beberapa detik pada bayi itu, hatinya berdesir cepat. Rasa bersalah membuncah tanpa aba-aba. Dengan tergesa, dia kembali menghampiri boks tersebut, bahkan melupakan Leonel yang masih merengek di belakangnya.
Namun saat jarak mereka tinggal sejengkal, tiba-tiba stroller bayi itu bergerak. Perlahan menjauh. Semakin cepat… hingga Aulia tak mampu menahannya.
“Anakku… kembali… jangan… jangan pergi, sayang… maafkan Mama… tolong jangan pergi…”
Teriakan Aulia pecah, mengejar bayangan boks yang semakin kecil, semakin jauh, lalu seketika menghilang bersama cahaya putih yang tiba-tiba muncul.
“Tidak… jangan ambil anakku… jangan… tolong kembalikan!” Pekiknya nyaring, tubuhnya jatuh di atas rumput hijau yang luas. Dia menangis sesenggukan, seolah ada bagian dari dirinya yang kembali direnggut paksa.
“Jangan… jangan pergi, sayang. Maafkan Mama…”
.
.
.
Tubuh Aulia bergerak gelisah di atas ranjang. Napasnya tersendat-sendat, berat, seolah ada sesuatu yang menekan dadanya. Di sudut matanya, air mata jatuh perlahan, membasahi bantal tanpa ia sadari. wanita itu terus meracau di alam bawah sadarnya.
“Aulia… hei… kamu kenapa?”
Archio, yang tadinya hendak menidurkan Leonel ke dalam boks bayi, langsung mengurungkan niatnya. Bayi itu ia letakkan lebih dulu di atas ranjang dengan hati-hati, lalu pria itu beralih mendekat.
Tangannya menyentuh bahu Aulia pelan, mengguncangnya sedikit — sangat lembut, seakan takut mengejutkannya.
“Bangun, Aulia… bangun…”
Kelopak mata Aulia perlahan terbuka. Tatapannya lurus ke langit-langit kamar, kosong, seolah jiwanya belum sepenuhnya kembali. Napasnya yang masih tak teratur berusaha ia redakan. Wanita itu menyeka air matanya, lalu meremas jemarinya sendiri yang terasa jauh lebih dingin.
“Ini, minum dulu.”
Archio menyodorkan segelas air padanya. Aulia melirik sekilas, lalu tanpa berkata apa pun meraih gelas itu dan meminum habis isinya.
Setelah merasa wanita itu cukup tenang, Archio duduk di sampingnya.
“Kamu mimpi?” tanyanya dengan suara rendah.
“Bapak kenapa di si— ah… aku ketiduran ya? Maaf, Pak. Astaga… Leonel masih bangun?”
Pandangan Aulia jatuh pada bayi di sebelahnya. Leonel terlihat mengantuk, tetapi belum juga terlelap, tubuh kecilnya bergerak gelisah seolah mencari sesuatu.
“Bukan kamu yang ketiduran, memang sudah jamnya tidur. Tadi saya lihat sebentar, ternyata Leonel kembali terbangun, kata pengasuhnya. Saya suruh dia istirahat, biar saya yang menjaga Leonel,” jelas Archio.
...****************...
Aulia mengangguk pelan, lalu beralih mendekat saat melihat Leonel semakin gelisah.
“Dia pasti lapar,” ujar Archio.
Aulia hendak menggendong tubuh bayi mungil itu, bersiap memberinya ASI. Namun seketika, suara dalam mimpinya seolah berputar ulang di telinganya — suara kecil yang menuntut kehangatan, menagih kasih sayang, dan menghakiminya karena tak mampu memberikan semua itu pada darah dagingnya sendiri… justru kepada anak orang lain.
Gerakannya terhenti.
Tangannya menggantung di udara.
Rasa bersalah tiba-tiba menyeruak, menyesakkan.
Aulia tertegun, niatnya untuk menggendong Leonel pun urung. Perubahan itu tak luput dari perhatian Archio, meski pria itu salah menafsirkan diamnya.
“Kenapa?” tanyanya.
Seketika Aulia menangis pecah. Tubuhnya bergetar, membuat Archio tanpa sadar langsung merengkuhnya.
“Kamu kenapa, Aulia? Mimpi apa?” tanyanya lagi, tangannya mengusap punggung wanita itu perlahan. Aulia menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria tersebut, tangisnya semakin menjadi.
“Anakku… anakku pergi… dia tidak terima, Pak. Dia ada di sana, menangis penuh kerinduan di saat aku tertawa bersama Leonel. Salah ya aku? Salah karena aku… aku…”
Kalimat itu terhenti di tenggorokannya. Suaranya pecah, tak sanggup melanjutkan.
“Shhht… bukan salah kamu. Aulia, dengarkan saya — itu cuma mimpi. Mimpi itu datang karena pikiran kamu masih dipenuhi rasa tak terima dan kamu terus menyalahkan dirimu sendiri atas kejadian yang sudah berlalu. Semua hanya mimpi,” ujar Archio pelan.
“Tapi itu terasa nyata, Pak… sesak sekali dada ini. Aku… aku mau pulang… boleh ya, Pak?”
Deg.
Jantung Archio berdetak jauh lebih cepat saat mendengar kalimat wanita itu. Ia tidak segera menjawab. Ada rasa berat yang mengguncang jiwanya, sesuatu yang sulit ia jelaskan bahkan pada dirinya sendiri.
Namun pria itu berusaha tetap tenang. Ia menarik napas panjang.
“Kamu mau pulang? Lalu bagaimana dengan Leonel… kamu tidak mau lagi ya sama Leonel?” tanyanya pelan.
Aulia menggeleng cepat. Tanpa ragu, ia meraih tubuh mungil bayi itu dan mendekapnya posesif, seolah takut seseorang akan mengambilnya.
“Dia tetap anak saya, Pak.”
Melihat itu, senyum tipis terukir di bibir Archio.
“Kalau begitu, kamu bisa pulang. Tapi… boleh menunggu saya? Beberapa minggu lagi saya juga akan ke Surabaya, ada urusan pekerjaan. Kita bawa Leonel sekalian… bagaimana?”
Aulia mengangguk cepat, lalu memberi isyarat halus pada Archio agar segera keluar kamar setelah dirinya sudah benar-benar tenang.
Wanita itu kemudian berbaring di sisi Leonel. Dengan gerakan pelan, ia membuka kancing piyamanya satu per satu, lalu menarik tubuh bayi mungil itu mendekat ke dekapannya, siap memberinya sumber kehidupan yang sejak tadi ia cari.
Leonel langsung tenang begitu berada dalam pelukannya, sementara Aulia menatap bayi itu lama, ada kehangatan yang mengalir, namun di sudut matanya masih tersisa jejak kesedihan yang belum sepenuhnya pergi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
buruan jual Aulia, biar mereka ga bisa balik ...jadi gelandangan sekalian