Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Kehilangan
Kilatan lampu studio menyilaukan mata. Seorang wanita cantik berpose di depan kamera, tubuhnya meliuk lentur mengikuti arahan sang fotografer. Gaun rancangan desainer ternama melekat sempurna di tubuhnya yang tinggi semampai. Rambutnya ditata sedemikian rupa, wajahnya dipoles dengan make-up yang membuatnya tampak semakin memukau. Wanita cantik itu adalah Nancy Feriawan, seorang model papan atas yang menjadi idola banyak orang.
Sesi pemotretan telah selesai. Nancy melepas high heelsnya dengan lelah, tetapi wajahnya tersenyum puas. "Sesi yang melelahkan, Thom. Tapi kurasa hasilnya akan luar biasa. Ini akan jadi sampul majalah terbaikku," katanya lalu duduk di sofa dan menyesap minuman yang telah tersedia.
Thomas menaruh gelas anggurnya kemudian mendekat ke arah Nancy, matanya berbinar penuh kekaguman. "Hasilnya selalu luar biasa jika kamu yang menjadi modelnya, Nancy. Kamu punya aura yang tidak dimiliki model lain. Kamu terlahir untuk menjadi bintang."
Pria itu lantas berhenti tepat di depan Nancy, mengangkat tangannya dan membelai rambut wanita itu dengan lembut. Mereka saling bertukar tatapan penuh makna. Mereka bukan hanya rekan kerja, mereka adalah partner dalam meraih kesuksesan. Mereka memiliki rahasia bersama, ambisi yang sama, dan hasrat yang terpendam.
Nancy tertawa kecil, merasa bangga dengan pujian Thomas. "Kamu memang tahu bagaimana cara memujiku, Thom. Tapi aku tidak akan bisa sampai di sini tanpamu. Kamu yang membimbingku, kamu yang memberiku kesempatan."
Thomas mendekatkan wajahnya ke wajah Nancy. "Karena aku tahu kamu punya potensi yang luar biasa. Dan aku akan melakukan apapun untuk membantumu meraih puncak kesuksesan!" Setiap kata yang diucapkan oleh Thomas seolah bagaikan sihir yang mampu menghipnotis Nancy.
Selanjutnya Thomas meraih tangan Nancy dan menariknya berdiri. Mereka lantas berciuman dengan penuh gairah. Ciuman yang penuh nafsu dan ambisi, bukan cinta. Mereka menggunakan satu sama lain untuk mencapai tujuan masing-masing. Nancy membutuhkan Thomas untuk mendongkrak karirnya, dan Thomas membutuhkan Nancy untuk meningkatkan prestise agensinya.
Thomas melepaskan ciumannya dengan enggan, matanya berbinar penuh semangat. "Nancy, ada tawaran yang akan mengubah hidupmu. Brand perhiasan mewah menawarkan kontrak eksklusif dengan bayaran yang tidak masuk akal. Kamu akan menjadi ikon global."
Mata Nancy membulat sempurna, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa? Kamu serius? Ini... ini benar-benar impianku, Thomas!" Senyum Nancy merekah dengan sempurna.
Thomas memegang kedua bahu Nancy, menatapnya dengan intens. "Tapi ada syarat yang harus kamu penuhi jika kamu ingin meraih impianmu."
"Apa syaratnya?" tanya Nancy dengan nada khawatir. "Aku pasti akan melakukan apapun, asalkan aku bisa mendapatkan kontrak itu, Thom."
Thomas tersenyum tipis sambil menatap Nancy. "Kamu harus sepenuhnya fokus pada karirmu. Tidak boleh ada gangguan, ataupun skandal. Kamu harus menjadi representasi sempurna dari brand mereka. Dan... kamu harus tetap menjadi single."
Nancy terdiam, Thomas menyuruhnya untuk mengabaikan pernikahannya. Ia harus memilih antara karirnya yang gemilang atau keluarganya.
"Aku mengerti, Thom," ucap Nancy dengan nada dingin. Aku akan melakukannya. Aku akan melakukan apapun untuk meraih impianku!"
Nancy lantas memeluk Thomas dengan erat, tetapi tidak ada kehangatan dalam pelukannya. Ia hanya memikirkan tentang karirnya, tentang bagaimana caranya menjadi bintang yang bersinar. Ia tidak peduli dengan mereka hanya menjadi penghalang dalam perjalanannya menuju kesuksesan.
Thomas tersenyum licik, dibalik pelukan Nancy. Dia merasa sangat puas dengan jawaban wanita tersebut dan merasa telah berhasil mempengaruhinya. Dia tahu Nancy adalah wanita yang ambisius dan rela melakukan apapun untuk mencapai tujuannya. Untuk itu dia akan memanfaatkan Nancy sepenuhnya, tanpa mempedulikan perasaannya.
Mereka adalah dua orang yang terobsesi dengan kesuksesan, rela mengorbankan apapun demi meraih impian mereka.
.
.
.
Malam itu, Nancy menunggu Darrel hingga selesai menidurkan anak-anak. Ia sudah memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan ini, meskipun dirinya sadar akan menyakiti perasaan suaminya.
Kata-kata Thomas bagaikan secawan madu yang mampu membangkitkan semua keraguan dan ketidakpuasan yang selama ini dipendamnya. Ia harus membuat pilihan yang akan mengubah hidupnya.
"Mari kita bercerai...!" ucap Nancy dengan penuh kesadaran. Begitu datar dan lugas, tetapi mampu membuat Darrel yang saat itu baru saja keluar dari kamar anaknya membeku dalam sekejap. Ucapan Nancy bagaikan ujung tombak yang menyayat jantungnya.
"A-apa...apa maksudmu, Nancy? Kamu pasti bercanda, kan?" tanya Darrel seraya menatap Nancy dengan pandangan tak percaya, berharap ini hanyalah mimpi buruk.
"Aku tidak sedang bercanda, Rel! Aku serius, bahkan aku sangat sadar saat ini," jawab Nancy sembari memalingkan muka, enggan membalas tatapan Darrel.
"Tapi...bukankah kamu sangat mencintaiku, Nan?" tanya Darrel lagi. Dia mencoba mencari celah harapan, dan berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua ini hanyalah salah paham.
Nancy tersenyum sinis, seakan meremehkan. "Dulu aku memang mencintaimu. Tapi sekarang, cinta itu sudah terkikis, Rel!"
"Jujur saja, aku sudah bosan hidup bersamamu. Kamu tahu kan, aku ini seorang model. Aku punya penghasilan sendiri, bahkan aku bisa membeli apa pun yang aku mau. Sementara kamu, hanya karyawan biasa dan penghasilanmu tak sebanding dengan apa yang aku dapatkan."
"Ditambah lagi, aku sudah muak mendengar celotehan anak-anak, juga capek melayani keinginan mereka. Seolah mereka menganggap aku ini seorang pembantu. Ini bukan kehidupan yang aku inginkan," desahnya, nada bicaranya dipenuhi kekecewaan.
"Aku ingin bebas dan kembali pada duniaku yang dulu melambungkan namaku. Aku ingin meraih impianku yang tertunda karena aku menikah denganmu!" lanjut Nancy berapi-api, matanya berkilat penuh ambisi dan egoisme.
Darrel terkesiap, kemudian perlahan dia mendekati Nancy, tetapi wanita itu justru melangkah mundur seakan sengaja ingin menghindarinya.
"Nancy, kumohon pikirkan lagi. Anak-anak masih kecil dan pastinya mereka sangat membutuhkan kasih sayang seorang ibu," ucap Darrel lirih, suaranya tercekat. Dia berusaha meraih tangan Nancy, tapi wanita itu menghempaskannya dengan kasar.
"Anak-anak? Kenapa aku harus memikirkan mereka? Kan, ada kamu, papanya!" sergah Nancy, nada bicaranya meninggi, dan kali ini terdengar jelas kekesalannya.
"Aku lelah, Rel! Lelah menjadi istrimu dan ibu dari anak-anakmu. Aku sudah lelah dengan semua ini!" Nancy berteriak histeris, air mata mulai membasahi wajahnya. Darrel bisa melihat, air mata itu bukan air mata penyesalan, melainkan air mata kemarahan dan frustrasi.
"Aku tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada mereka setelah ini!" ucap Nancy, tatapannya dingin dan tanpa empati. "Yang penting, aku bisa bebas! Aku bisa mengejar impianku yang sudah lama terkubur! Aku bisa menjadi diriku sendiri, tanpa harus memikirkan orang lain!"
Darrel tertegun, selama ini dia berpikir bahwa Nancy adalah ibu yang penyayang, yang rela berkorban demi anak-anaknya. Namun, apa yang didengarnya sekarang benar-benar membuatnya syok. Dia terlalu dibutakan oleh cinta Nancy padanya, tetapi tidak menyadari bahwa wanita itu hanya menganggap dirinya dan anak-anak sebagai beban yang menghalangi impiannya.
Darrel menggelengkan kepalanya, mencoba menolak kenyataan yang seakan menamparnya begitu keras. Dia tidak percaya Nancy bisa berkata seolah mereka adalah orang asing.
"Kamu... kamu bukan lagi Nancy yang kukenal," ucapnya dengan hati yang hancur berkeping-keping.
"Ya, itu jauh lebih baik!" jawab Nancy dingin, ia sudah terlanjur memilih jalannya sendiri, jalan yang membawanya menuju impiannya. Dan ia tidak akan menyesali keputusannya. Entah nanti, yang pasti tidak untuk saat ini.
Nancy lalu berbalik dan masuk ke kamarnya. Ia meraih koper yang sudah disiapkannya. Kemudian keluar lagi dan melenggang pergi begitu saja meninggalkan Darrel yang terpaku di tempatnya berdiri.
"Tunggu, Nancy! Jangan lakukan ini!" teriak Darrel putus asa, mencoba menahan langkah istrinya.
Namun, Nancy tidak menghiraukannya. Ia membuka pintu dan melangkah keluar, menghilang dalam kegelapan malam bersama taksi yang membawanya pergi.
Darrel menatap kepergian Nancy dengan air mata mengalir di pipinya. Dia merasa kecewa, terluka, dan sendirian. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang dia tahu bahwa hidupnya kini akan berubah selamanya.
Darrel memejamkan matanya, mencoba menahan air mata yang terus mendesak untuk keluar. Dia telah kehilangan Nancy separuh dari hidupnya dan mungkin rumah tangganya akan segera berakhir.
"Papa...!"
.
.
.
Salam sehat selalu.
Jumpa lagi dengan Moms TZ di sini di karya baru, semoga kalian menyukainya.
Masih dalam suasana tahun baru, semangat baru, harapan baru. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Tuhan YME. Aamiin 🫰🫶