Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.
Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.
Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.
Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....
Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....
"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15 : Cerai atau Bertahan?
Di dalam ruangan itu Arinta dan Alena akhirnya duduk bersama meski berjarak. Keduanya terlihat serius dengan ketegangan intens yang terasa menyelimuti. Andini mendadak merasa seperti tamu tak diundang, tapi ia sudah janji akan menemani Alena.
Arinta tampak terdiam, ekspresinya benar-benar seperti penjahat yang tertangkap tahan. Ia tak mampu berbicara atau pun menghindar lagi setelah bukti sudah diletakkan di atas meja.
Itu adalah bukti pembelian dua buah cincin mewah tersebut atas nama Arinta. Alena menunjukkan data tersebut karena nama pembeli memang tercatat secara ekslusif.
"Cincin yang satu kamu kasih buat Melinda 'kan?" Alena menatap tajam ke arah sang suami yang masih tak mampu bersuara. "Bahkan pegawainya bilang, kalau kamu mengakui Melinda sebagai istri." Ia mencibir dengan gaya sinis. Rasanya Alena tertawa karena muak harus mengikuti permainan kebohongan Arinta.
"Sekarang aku tanya sama kamu, jawab jujur. Kamu, selingkuh apa enggak sama Melinda?" Alena memberi penegasan pada Arinta untuk memutuskan sikap. Jujur atau tetap berbohong demi mempertahankan ego.
Arinta sempat terdiam mendengar pertanyaan frontal itu dari Alena. Bibirnya seakan kaku untuk mengakui.
"Jawab, dong!" Sambar Alena yang gak sabar. "Kamu mau bohong hah?" Tanyanya dengan emosional.
"Oke, iya aku mengaku kalau semua itu benar! Puas?!" Karena sudah terdesak lelaki itu akhirnya pun mau gak mau menjawab jujur.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di wajah Arinta.
"Jahat kamu! Apa salah aku sampai kamu tega!" Air mata menggenang di pelupuk mata Alena. "Tujuh tahun kita nikah dan semuanya kamu rusak!!! Aku. Mau. Cerai!" Alena akhirnya meminta untuk bercerai dengan rasa kecewa yang luar biasa. "Ayo Din, kita pergi!"
Alena bergegas jalan keluar rumah dengan hati yang hancur bersama dengan Andini.
Arinta yang melihat sang istri keluar rumah bergegas berlari menyusul.
"Len, tunggu Len!" Teriaknya sambil berusaha menggenggam tangan wanita yang telah ia lukai.
"Lepasin aku!" Namun Alena dengan cepat menarik tangannya lagi.
"Aku akui kalau perbuatanku salah Len, tapi aku khilaf! Tolong kasih aku kesempatan." Arinta berusaha memberi penjelasan sekaligus memohon. Wajahnya pun tampak panik.
"Khilaf kamu bilang?" Sambar Alena yang menatap Arinta dengan penuh amarah. "Sekarang aku tanya, berapa lama kamu menjalin hubungan sama dia?!" Pertanyaan itu begitu tajam dan menusuk, seperti pisau yang siap membedah kebenaran lain.
"Aku... menjalin hubungan dengannya sudah..., 6 bulan...," ucapnya sambil menunduk lemah merasa bersalah.
"Enam bulan dan kamu bilang itu khilaf?! Sinting kamu!" Tentu saja pengakuan Arinta membuat Alena kembali meledak. "Minggir kamu, aku mau pergi!" Alena dengan kasar mendorong Arinta ke samping dan bergegas pergi menaiki mobil milik Andini.
"Tunggu dulu, Len!" Arinta berusaha mengejar tapi tertahan.
"Jangan dulu, biar Alena menenangkan diri. Untuk sementara lu jangan ganggu dia," ujar Andini sambil memegangi baju Arinta yang hendak keluar pagar rumah.
"Gua harus apa? Sungguh itu cuma khilaf, gua gak pernah ngapa-ngapain sama Melinda!" Arinta seakan meminta bantuan dari Andini sambil menjelaskan situasinya dengan Melinda yang sebenarnya enggak serius.
"Apapun itu, lu tetep salah, dan ini konsekuensi dari perbuatan lu," balas Andini dengan tegas. "Udah, lu kasih ruang dulu buat Alena sampai dia jernih, nanti gue coba omongin ke dia, tapi gue gak bisa maksain keputusan dia ya...," ucap Andini yang agaknya merasa kasihan dengan Arinta. Dia tampak benar-benar menyesal.
"Makasih, Din..., tolong ya... gue masih sayang sama keluarga gue...," ujar pria itu sudah pasrah.
"Iya, lu yang tenang pokoknya. Gue jalan dulu sama Alena," balas Alena mengangguk sambil menepuk pundak Arinta, kemudian berjalan melangkah keluar halaman rumah menuju ke arah mobil.
Mesin mobil itu menderu, Alena yang berada di dalam mobil bahkan menutup kaca mobil dan sama sekali tak mau melihat ke arah Arinta. Setelah beberapa saat mobil itu pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa luka di dalam hati Alena. Sementara Arinta menatap kepergiannya dengan rasa bersalah.
.
.
Alena menatap ke arah luar jendela mobil dengan hati hancur. Wanita itu masih menangis sesegukan dengan mata memerah. Tak pernah bisa dia bayangkan, lelaki yang ia ia percayai berani mendua. Andini hanya meliriknya.
"Len, omongan lu soal cerai, itu serius...?" Tanya Andini seperti ingin memastikan.
"Gue gak tau, Din...." Alena pun tampaknya memberi jawaban yang tak pasti. Ia sepertinya hanya emosional saja tadi sama Arinta.
"Sebagai temen gue cuma bisa bilang, jangan gegabah Len...." Andini sebenarnya hanya bermaksud agar semua keputusan dilakukan dengan tenang bukan emosi sesaat.
"Gue gak habis pikir..., kok bisa sih selama enam bulan? Itu bukan khilaf lagi dong namanya! Selama itu dia nutupin kebohongan dan gue gak tau?" Alena kembali emosional.
"Gue no komen kalau soal itu..., lu tau kalau dulu gue cerai sama laki gue bukan karena selingkuh, tapi emang kita bentrok aja karakternya, gak ada titik temu...," balas Andini angkat bahu.
"Cuma kalau boleh saran lu pikirin lagi, terutama Alea, karena anak yang biasanya ngerasain kehancuran rumah-tangga...," lanjutnya dengan tatapan menerawang ke depan. Andini seolah sedang mengingat masa lalunya yang buruk.
Alena pun terdiam setelah mendengarkan ucapan Andini. Benar, yang harus dia pikirkan adalah Alea. Baru beberapa hari saja tak ketemu dengan Arinta, gadis kecil itu selalu merengek, menangis ingin ketemu, sekalipun ia sudah mencoba mengalihkan perhatian buah hatinya dengan bermain atau cemilan kesukaannya, tetap saja dia akan kembali menanyakan Arinta. Darah memang lebih kental dari air.
.
.
Sesampainya di apartemen Alea berlari kecil menghampiri Alena dengan senyum lebar. Yah, kondisi tangannya sudah sedikit membaik.
"Mamihh!!!" Ia berlari cepat sampai meninggalkan mainannya di lantai.
Alena tersenyum lalu menggendong Alea yang begitu bersemangat menyambut dirinya.
"Papih mana, Mih?" Tanya si kecil dengan polos. "Kok, Papih enggak ikut sama Mamih?" Ujarnya lagi dengan penasaran.
"Alea, kok nanyain Papih?" Balas Alena hati-hati. Dia tak ingin membuat putri kecilnya sedih atau menangis lagi seperti semalam.
"Kata Tante Nini, Mamih mau ke rumah..., Alea kira mau jemput Papih...," jawabnya dengan tulus. Si kecil benar-benar mengira kalau hubungan orangtuanya baik-baik saja.
"Papih Alea lagi sibuk, banyak kerjaan, nanti dia kemari kok," sambar Andini bantu memberi penjelasan.
"Tapi 'kan Mamih juga udah bilang gitu terus, masa Papih gak mau kemari?" Alea mengungkapkan kekecewaannya. "Kalau gitu, kita aja yang pulang yuk, Mamih. Alea kangen mau main sama Papih." Gadis itu kembali merajuk bahkan meminta untuk pulang sekarang yang membuat Alena kelimpungan.
"Alea, Mamih janji besok kita ketemu sama Papih, tapi sekarang jangan bahas-bahas Papih dulu, oke?" Alena pun langsung bersikap tegas.
"Beneran, Mih??" Binar mata putri kecilnya seolah ragu. Karena ia hanya terus diberi janji. tanpa bisa bertemu langsung dengan Arinta, ayahnya sendiri.
"Iya, Mamih janji besok kita ke kantor Papih, kamu mau?" Balas Alena cepat.
"Horeeee, ke kantor Papih!!!!" Alea langsung bersorak kegirangan. Wajah murungnya seketika berubah ceria.
"Sekarang kamu main gih, Mamih mau ganti baju dulu...." Alena menurunkan Alea kembali.
"Len, lu serius mau ke kantornya Arinta besok?" Tanya Andini.
"Ya, sekalian gue juga mau tau, kayak gimana sih Melinda selama di kantor?"
Bagaimana pertemuan Alena nanti dengan Arinta dan Melinda di kantor?
.
.
Bersambung....
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang